Carilah Jalan Terang dalam Hidayah-Nya

(Sungguh keniscayaan) yang dicari adalah orang yang dapat menunjukkan perihal “hidayah” supaya berada di dalam shiratal mustaqiim-NYA.

 

 

Tempatkan kami pada jalan shiratal mustaqiim Engkau.
Inilah yang selalu dimohon pada setiap kali kita (sebagai umat islam) dalam menjalankan sholat.

Shirat, petunjuk dari Guru kami dalam sebuah sanad silsilah kait mengikat sambung “gulowentah” sama sekali tidak terputus dan tanpa jeda, maknanya adalah tempat atau jalan yang jalurnya jelas menuju kepada tempat lapang, bagai aliran sungai yang mengalir menuju kepastian ke LAUTAN.

Jadi shiratal mustaqima adalah jalan lurus dalam makna hidayah cahaya terang yang menerangi hidup dan kehidupan (berdunia) sehingga dalam tempat istiqomah, bertempat tinggal di dalam INGATAN rasa hati kepada Diri Tuhannya – yang ditetapkan di dalam rasa hati nuraninya adalah DIA Dzatullah, tempat bergantungnya, tempat tujuan hidupnya, karena telah mengenali-Nya, IMANNYA TIDAK DALAM KEPRASANGKAAN DAN KIRA-KIRA.

Sehingga menjadi orang yang dalam kelapangan dada, nyegara, pikiran positif, sikap terbuka, jauh dari watak perilaku dan sikap-sikap tertutup, jumud kaku, beku dan fanatik akibat berbangga-bangga pada diri/ kelompok/ golongan.

SELALU MEMOHON BELAS KASIH DAN PERTOLONGAN-NYA, SADAR SEBAGAI HAMBA YANG FEQIR.

Sebab jelas Allah tidak suka kepada mereka yang berbangga-bangga pada kelompok dan golongan yang mengakibatkan tertutup.

Dan shiratal ladziina ‘amta alaihim, jalannya orang yang telah jelas dan pasti berada di dalam anugerah Engkau (yakni kepastian dalam butiran keimanan) berarti jelas adanya “seseorang”- bi-idznillah atau bi-idzni Rabbika, yang jelas-jelas berada di antara kita yang berada di dalam shiratal mustaqim itu. – dengan sanad yang jelas dan terang dalam hujatul mubin.

Maka “wattabi’ sabila “MAN” anaaba ilaiya” carilah jalan ORANG, (ayatnya adalah “man” yakni orang, sedang kalau masa lalu namanya adalah mayyit).

Maka akan terbuka dan berfungsi rasa hati nurani kepada kasunyatan hidup, makna dan nilai-nilai kehidupan, tidak diliputi oleh keragu-raguan, tidak diliputi oleh katanya-katanya dari katanya, tidak diliputi oleh prasangka-prasangka.

SESUNGGUHNYA KEADAAN YANG CARUT MARUT, DAN AKAN TERUS MENGGEROGOTI DAN TERJADI DEKADENSI MULTI DIMENSIONAL DISEBABKAN KARENA TIDAK TERIDENTIFIKASINYA UNSUR-UNSUR PENCIPTAAN, SEHINGGA ADALAH KEMUSKILAN MELAKUKAN PENATAAN, SEBAB PENATAAN DIMULAI DARI MENGENAL…. APAPUN ITU.
INTI KEBENARAN ADALAH MENGENAL

Sehingga banyak retorika adalah alih-alih keraguan dan keprasangkaannya..

#pangestu_Guru
#kyaitanjung
#pemurnian_kemurnian_paradigma
#JAPO
#kajianbpkkyaitanjung
#makmurkanbumiAllah
#jatayutv
#keselamatan_penyelamatan
#jaal_haq_wa_zahuqal_batil
#nusantara_bangkit

TETAP BERBUAT BAIKLAH, BERFASTABIQUL KHOIRATLAH

Kami lanjutkan sebagian kecil wasiat dari Guru kepada kami,
“Biarlah manusia penduduk bumi ribut dengan dunianya akibat keduniawiannya, biarkan terombang-ambing di dalam ketidakpastiannya, sebab akan ada saat titi wanci “sangat” bahwa mereka akan tersadarkan baik dalam keterpaksaan atau ketertundukannya”.

“Tetap jalani dalam aktifitas barfastabiqulkhoiratlah.
Jagalah ikatan kekeluargaan, kebersamaan, keguyubrukunan dengan ikatan mahabbah bi-rauhillah, saling memaklumi, saling menghargai, saling menghormati”

“Bemasyarakatlah semampu yang bisa dilakukan dengan terus berbuat kebaikan dan kesalehan serta kemaslahatan. Jangan berbuat karena pamrih dan riya’ apalagi untuk memperoleh pujian dan penghargaan yang menjadikan kemudian putus-asa akibat ada pamrih”.

“Baik pamrih bangsa dunia dan apalagi pamrih bangsa akherat. Sebab meminta ngilmu kemudian di dalam hidayah yang berkaitan dengan keimanan itu mutlak hak wilayah Allah, Allah Sendiri yang memilih dan memilah dan siapa yang dimaukan nyuwun ngilmu itu adalah mutlak Kehendak Allah, siapa yang akan ditunjukkan ke dalam jalan Shiratal Mustaqim”.

Dimulai dari sikap dan watak bahkan keberanian mengubah dan mentranformasi watak, (jw. malik watek).

“Tetaplah berbuat baik kepada siapapun, terlepas menerima penjelasan atau menolak penjelasan, terlepas akan nyuwun ngilmu ataupun menolak untuk nyuwun ngilmu, WALAU SEMUA SEBENARNYA MENGETAHUI BAHKAN MENYADARI INTI PENATAAN BERAGAMA ADALAH PERIHAL KETAUHIDAN YANG DIIKAT DALAM KETATAAN YANG DIKENAL OLEH ILMU TAUHID YANG TIDAK HANYA BERHENTI PADA LISAN NAMUN PADA PEMBUKTIAN FAKTA RASA HAMBA TERHADAP MENGADANYA TUHANNYA”,

“Namun tetap berbuat baiklah kepada siapapun, jangan membedakan suku bangsa, agama, ras, warna kulit dan bahasa”

“Sebab tatanan syareat yang lahiriyah adalah tatanan berdunia, sudah kewajiban kita sebagai makhluk hidup di dunia untuk berbuat baik kepada siapapun, selama dia juga berbuat baik kepada masyarakat, kepada bangsa dan negara, dan menjaga melestarikan kesatuan dan persatuan NKRI. Berbuat baiklah. Percayalah hal itu tetap bernilai ibadah. Jangan kotori hatimu dengan iri, dengki, kebencian dan dendam”

Jadi kami mohon dimaafkan dan dimaklumi, manakala di dalam kami menyampaikan ada atau banyak yang tampak menyakitkan, tidak berkenan, saya berharap untuk tidak timbul perpecahan dan kebencian, sebab ketetapan Kebenaran Al-haq adalah mutlak dari Allah. Lebih baik memohonlah pada Allah (masing-masing keyakinannya, dengan keikhlasan dengan kepasrahan atas ketetapan Allah), “ihdinash-shiratal mustaqim” hidayahi kami pada jalan mustaqim Engkau, jalan dengan hidayah yang menuju kepada Engkau sehingga di dalam keselamatan lahir dan batin, keselamatan kedamaian kebahagiaan dunia akhirat.

Sekali lagi kami hanya “nuhoni Dhawuh aguru-guru” jika kami menyampaikan kemudian mengaku dalam ego keakuan, apalagi mengaku Guru maka saya berada di dalam kesesatan yang jauh, maka saya masuk jahanam paling dulu, dan tidak menunggu waktu maka hancur luluh lantaklah saya, sebab saya juga murid (orang yang berada di dalam niat tujuan dan tekad bersungguh menyatakan keselamatan lahir dan batin) yang menjalankan dhawuh Guru saya dalam prosesi sanad rante-marante sambung gulowentah kait mengikat tidak terputus sama sekali dan tanpa jeda.

 

Oleh : Bpk. Kyai Tanjung

 

MENYAMPAIKAN KARENA PERINTAH

HANYA SAK DERMO MENYAMPAIKAN DHAWUH DALAM DASAR “HUJAH” SISTEM DAN MEKANISME AGURU-GURU. GURU DARI GURU SEBELUMNYA, GURU KAMI DARI GURUNYA DAN GURUNYA DARI GURUNYA PULA DALAM SILSILAH “SANNAT” SAMBUNG KAIT MENGIKAT SILSILAH RANTE-MARANTE SAMBUNG GULOWENTAH SAMA SEKALI TIDAK TERPUTUS DAN TANPA JEDA HINGGA SAMPAI KEPADA KN. MUHAMMAD SAW.
(BAHKAN SESUNGGUHNYA SAMPAI NABI ADAM AS)

Sehingga saat menyampaikan kebenaran AlHaqNya atas perilaku iman dan islam dalam realisasi konteks kehidupan adalah hanya sak dermo menyampaikan, bukan karena kapandaian saya, bukan karena bisa saya (sebab faktanya saya bodoh dan tidak bisa apa-apa).

Saya hanya sak dermo Menjalankan (jw. nuhoni) dhawuh Guru, jika saya menjalankan dhawuh Guru kemudian saya aku, dan dalam pengakuan apalagi untuk kepentingan hawa-nafsu ego keakuan kepentingan apalagi ngaku Guru maka hal ini adalah saya terjerumus kedalam sebesar-besarnya dosa, dan jika hal ini saya lakukan maka saat ini detik ini saya hancur karena telah berani berlaku murtad dan dalam kemusyrikan, dosa terbesar sehingga jika meninggal dunia maka masuk jahanam paling dulu.

Namun jika kami tidak menyampaikan maka juga salah dan kami khawatir juga berdosa, setelah memperhatikan dhawuh sebagai wasiat dari Guru kami, bahwa, “jika fenomena-fenomena alam dengan berbagai anomali dan kerusakan moral dan krisis-krisis telah menunjukkan tanda-tandanya, maka sampaikan untuk penyelamatan dan saat untuk melakukan kemurnian-pemurnian”.

Walau sangat melekat dalam rekaman memori dalam catatan sejarah, pun yang tertulis di dalam al-Qur’an juga di dalam alkitab, betapa dahsyatnya permusuhan, pertentangan, olok-olokan dan fitnah sampai pada pembunuhan-pembunuhan yang diterima oleh para nabi dan para rasul. Saat di zamannya.

Memang dalam sejarahnya di zaman para Nabi para Rasul setiap disampaikan atas kebenaran AlHaqNya selalu dicurigai, selalu diprasangkai, dan selalu dikira akan “menendang” eksistensi mereka yang telah mapan.
Utamanya oleh kemapanan status, kemapanan kedudukan sosial, belum lagi perihal keyakinan kepercayaan, padahal sebelumnya mereka-mereka yang menolak itu sangat memohon kedatangan utusan supaya lebih berada di dalam petunjuk.

Dan diutusnya para Rasul sesungguhnya adalah menggenapi, menyempurnakan amal-perbuatan baiknya supaya di dalam maghfirah ampunan Allah dan di dalam ridha-Nya.
Padahal keberanian semua utusan Allah menyampaikan karena sekedar (jw. sak dermo) menyampaikan, bukan karena kehendak dan kemauannya sendiri, bukan karena keinginan hawa-nafsunya, bukan untuk status keduniaan dan materialnya.

Siapa yang sesungguhnya lebih berhak menyampaikan. 10. Yunus: 35

قُلۡ هَلۡ مِن شُرَكَآئِكُم مَّن يَهۡدِيٓ إِلَى ٱلۡحَقِّ قُلِ ٱللَّهُ يَهۡدِي لِلۡحَقِّ أَفَمَن يَهۡدِيٓ إِلَى ٱلۡحَقِّ أَحَقُّ أَن يُتَّبَعَ أَمَّن لَّا يَهِدِّيٓ إِلَّآ أَن يُهۡدَىٰۖ فَمَا لَكُمۡ كَيۡفَ تَحۡكُمُونَ ٣٥

Apakah sekutu-sekutu kamu (benda-benda, orang-orang, jabatan-jabatan, material-material) dapat menjadi YANG wenang yang berhak dan sah menyampaikan dalam otoritas ketuhanan sehingga wenang memberi petunjuk dalam cahaya terang menuju Al-Haq-Nya.

Maka apakah orang-orang yang (berhak dan sah dalam dasar hujah ikatan persaksian) yang menunjuki kepada kebenaran itu yang seharusnya lebih berhak diikuti ataukah orang yang tidak dapat memberi petunjuk kecuali (bila) diberi petunjuk? Mengapa kamu (berbuat demikian)? Bagaimanakah kamu mengambil keputusan?

Padahal prasangka tidak akan dapat menyentuh kebenaran AlHaqNya.

وَمَا يَتَّبِعُ أَكۡثَرُهُمۡ إِلَّا ظَنًّاۚ إِنَّ ٱلظَّنَّ لَا يُغۡنِي مِنَ ٱلۡحَقِّ شَيۡ‍ًٔاۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمُۢ بِمَا يَفۡعَلُونَ

36. Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran Al-HaqNya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.

Sungguh ketakutan kami adalah berada di dalam pengakuan ego keakuan hawa-nafsu, kami tidak berani dan sangat-sangat takut dan khawatir jika sewaktu-waktu masa pakai jasadnya habis di dunia, tidak menyatakan keselamatan, tidak kembali kepada asal-usul kejadian, tidak kembali kepada Dzatullah lagi. SUNGGUH..!! HAL YANG MENJADI KETAKUTAN TERBESAR KAMI.

Namun setelah memperhatikan dhawuh, ‘atas fenomena-fenomena anomali alam dan fenomena-fenomena kerusakan yang terus meningkat dan merajalela, dan saat ini tanda-tanda atau fenomena yang telah sesuai dengan wasiat dhawuh untuk menyampaikan keberadaan kebenaran Al-Haq min Rabbika, walaupun sangat berat terasa maka, kami menyampaikan akan hal adanya Kebenaran al-Haq min Rabbika dengan ajaran Dzikr. Hal ini sungguh sebagai ajaran risalah kerasulan’.

Dan di Al-Mukminuuna 24 disebutkan bahwa orang-orang yang mengingkari itu mengatakan, “Orang ini (hanya mengaku-ngaku) tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, yang bermaksud hendak menjadi seorang yang lebih tinggi dari kamu. Dan kalau Allah menghendaki, tentu Dia mengutus beberapa orang malaikat. Belum pernah kami mendengar (seruan yang seperti) ini pada bapak-bapak kami dan di masa nenek moyang kami yang dahulu.

Inilah fakta-fakta itu !!!

Saya sadar sesadar-sadarnya bahwa perihal keimanan berkaitan dengan hidayah, total penuh hak wilayah Allah siapa yang akan diberi petunjuk dan siapa yang disesatkan. Kami hanya menyampaikan selanjutnya terserah kepada yang bersangkutan, menerima ataupun tidak.

Dan perihal kehidupan berdunia dalam menjalani tatanan lahiriyah syareat dalam kehidupan bersosial bermasyarakat dan bertata negara, sama sekali tidak mengurangi rasa hormat. Dan menghargai bahkan mencintai. Tidak mengurangi interaksi komunikasi kepada siapapun, apapun keyakinannya, apapun agamanya, apapun suku bangsa dan bahasanya, kami tetap dalam penghargaan yang setinggi-tingginya. Tidak sekedar toleransi dan maklum, namun kami tetap memberdayakan.

Karena hal ini adalah dhawuh yang ditekankan oleh Guru kami yang sungguh dari Gurunya dan sesungguhnya terus ke atas dalam sannat silsilah rantai sambung gulowentah sama sekali tidak terputus dan tanpa jeda sejak KN. Muhammad SAW. Bahwa posisi tatanan lahir dengan menjalankan tatanan keislaman dengan bersyareat, baik yang mahdhoh pun yang ghoiru mahdhoh. Termasuk membagusi akhlak adab, bersosial dan bermasyarakat, bahkan memberdayakan lingkungan berbangsa dan bernegara. Yang semuanya adalah perilaku syareat, sungguh hal ini adalah ibadah.

Sungguh kami tidak berani jika tanpa dasar bi amrina “yahduuna bi-amrina”, jika tanpa dasar dhawuh dan sangat-sangat takut dan khawatir jika sewaktu-waktu masa pakai jasad habis masa pakai di dunia, tidak menyatakan keselamatan. Inilah ketakutan terbesar kami.

Di saat fenomena-fenomena kerusakan, kedzaliman, kelaliman, merajalela dan disaat fenomena alam mulai bergolak, kerusakan yang diakibatkan oleh tangan-tangan manusia yang dalam kungkungan nafsu, dan intensitasnya semakin meningkat dengan cepat maka, atas kehendak-Nya petunjuk dari aguru-guru maka ini adalah sangat titi wanci untuk menyampaikan untuk penyelamatan, dan berkaitan erat dengan Jaa-al Haq wa Zahuqol Bathil.

Selanjutnya beliau Guru kami juga menyampaikan, “Dan jika tatanan berbangsa dan bernegara juga sudah pada titi wanci kebingungan, “mentok atau judeg” dalam memahami, menyadari dan merealisasikan untuk mengkontekskan kebhinnekaan dan garuda pancasila dalam kehidupan sehari-hari, maka sampaikan. Namun harus dengan terus berlaku hati-hati dan waspada”.

Masih melanjutkan dhawuhnya, “namun jika mereka-mereka belum kateg, belum judek dan masih merasa bisa, biarkan saja mereka, berserah dan bertawakkallah kepada Allah, tetap berlakulah sebagai warga negara yang baik, bangun kebersamaan dan kekeluargaan, bangun kemaslahatan, berpartisipasilah menjaga kesatuan dan persatuan berbangsa dan bernegara. Berdo’alah untuk kebaikan semua, semoga Allah mengampuni kita semua.

Part 1

Part 2

Part 3

 

 

 

 

 

Part 3

 

Bagaimana Seharusnya Kita Bersyukur

Kontekstualisasi kehidupan dalam terapan syukur.

Bagaimana syukur diterapkan di kehidupan sehari-hari. Syukur yang tidak hanya berbicara “Alhamdulillah”. Syukur yang tidak hanya berbicara perihal setelah mendapatkan anugerah (contoh: kondangan). Mengundang tetangga, mengundang orang lain untuk diajak makan-makan atau kita menunjukan bahwa kita telah memiliki rezeki. Syukur lebih dari hal itu.

Di dalam QS An-Nahl 78, Allah telah memberikan suatu gambaran dalam sebuah perspektif untuk dapat diterapkan di kehidupan yang keterangan ini untuk dapatnya diterapkan oleh hambanya. Bagi mereka yang memang menyiapkan diri dan menempatkan diri sebagai hambanya.

Disebutkan (diterangkan) bahwa sejak kita di dalam kandungan, kemudian kita terlahir di muka bumi “مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ” (dari perut ibu). Kita dilahirkan tidak tahu apa-apa sedikitpun, kita dilahirkan dalam keadaan sama sekali belum bisa apa-apa. Hal ini diterangkan menjadi sebuah perilaku yang utuh untuk dapat memiliki perilaku syukur. Karena sesungguhnya SYUKUR memiliki makna TERBUKA, makna MEMBUKA. Sehingga, diharapkan semoga diberikan hidayah oleh Allah dengan jiwa terbukanya itu, yang di sisi lain akan kita bicarakan tentang syukur dalam perspektif yang lain.

Kemudian diterangkan bahwa syukur itu saat manusia dilahirkan tidak tau apa-apa, tidak bisa apa-apa maka Allah menyertakan dalam kelahiran itu organ dan indra serta fikiran. Pada saat Allah menyertakan, bukan mengatakan “اُذُنٌ” telinga dalam pengertian fisik, “عَيْنٌ” mata dalam pengertian fisik, juga bukan dalam pengertian kepala “رَأْسٌ” bukan sekedar otak. Akan tetapi fa’idah mengambil manfaat dan hikmah di balik penciptaan atas adanya fikiran ini

Ini memberikan satu gambaran bahwa perilaku syukur harus dimiliki oleh hamba yang terus dalam memproses diri, dalam menekankan menjadi hamba, dalam menjadi satu perilaku-perilaku hamba. Sehingga syukur ini sesungguh nya adalah Perilaku dan Karakter TERBUKA, MEMBUKA, dan DIBUKA.

Telinga tidak hanya sekedar fisik. Akan tetapi menjadi penyimak yang baik, pemerhati  yang baik.

Bukan sekedar Mata atas ciptaanya “عَيْنٌ” akan tetapi mata untuk ditetapkan sebagai  “اَبْصَر”.

Bukan sekedar Otak  akan tetapi untuk dapat menyelami, mencermati, atas apa yang didengar, apa yang dilihat. Apa yang dikatakan itu adalah hasil dari apa yang didengar dan yang dilihat, kemudian hasil dari sebuah pemikiran yang mengambil manfaat dan faedah-faedah yang harus dikembangkan.

Hal ini harus dikembangkan dalam bentuk potensi. Potensi yang ada untuk dapat dikembangkan untuk menjadi motor (penggerak) memberdayakan diri. Dirinya sendiri atau keluarganya, lingkungannya, masyarakatnya, bahkan bangsa dan negaranya.

Ini adalah hal-hal atau perilaku-perilaku syukur yang seharusnya dapat ditempatkan menjadi hamba. Sehingga seorang yang syukur akan jauh dari watak, sikap dan perilaku kaku, jumud, beku, merasa diri paling benar, merasa diri paling suci.

Orang yang syukur adalah orang yang dapat menerima perbedaan. Walaupun tetap berpegang pada prinsip-prinsip, tatanan-tatanan atas ketetapan dan ketentuan yang diyakini (menurut) dari Tuhannya. Namun hal ini tidak menutup untuk berinteraksi, bertoleransi. Ini adalah syukur.

Tapi yang mendasar bukan sekedar toleransi, bukan sekedar menghormati dan menghargai. Akan tetapi untuk terbuka dalam mengembangkan potensi lahir, potensi batin.

Seharusnya orang yang bersyukur itu seperti halnya anak kecil. Karena dia terbuka, membuka diri, dia terus belajar tanpa mengenal lelah, dia belajar tanpa putus asa. Saat seandainya anak kecil itu putus asa, marah dan kecewa karena belajar jalan gak bisa-bisa jalan, maka saat ini tidak ada orang yang dapat berjalan, berbicara dengan baik. Semuanya berangkat dari meniru.

Orang syukur jauh dari perilaku gengsi, membatasi diri karena jaga image (JAIM). Seseorang yang syukur akan memberikan nuansa pengembangan, perkembangan yang berfikir.

Kemudian di QS Az Zumaar ayat 66. Allah telah berfirman “tempatkan menjadi hamba dalam perilaku penghambaan” itu adalah dengan perilaku syukur untuk terbuka, menerima lapang dada, menerima secara utuh tentang perbedaan-perbedaan. Disitu jelas sekali untuk dapat memiliki perilaku “syukur” yang maknanya adalah terbuka, dapat diterapkan sehari-hari walau dalam prinsip-prinsip keimanan. Bahkan bekal syukur inilah yang pada akhirnya untuk mencari kebenaran yang sesungguhnya, iman pada tempatnya dalam pengertian persaksian.

Ini mungkin dapat menjadi satu pembelajaran bagi saya, Anda, dan kita semua

Semoga dalam ridho Allah dan terus di dalam permohonan Ihdina Shirotol Mustaqim.

Orang Yang Dapat Menerima Kebenaran

Perihal siapa yang dapat menerima penjelasan kebenaran Al-Haq adalah Min Robbik (kebenaran itu adalah dari Tuhan). Hal yang mendasar yang kita perlu sadari, kita ketahui adalah saat seseorang itu menempatkan untuk Wa Ilallahi Al-Mashiir (hanya kepada Allah segala sesuatunya kembali). Sebab, fakta bahwa segala sesuatunya berproses, semuanya kembali kepada Allah. Semuanya kembali kepada asal-usul kejadian. Yang dari tanah untuk dapat kembali kepada tanah, yang dari air kembali kepada air, yang asalnya dari laut kembali kepada laut.

Pada saat segala sesuatunya tidak kembali kepada asal-usulnya, ataupun jika dia hadir di lautan tapi asalnya tidak menjadi lautan maka dikatakan tercemari (lingkungan itu tercemari). Sehingga datangnya/ kehadirannya menjadi pencemar, menjadi sesuatu yang tidak indah, tidak membahagiakan, tidak baik. Jika pada saat banyak hal yang salah tempat berada di laut, sehingga menjadi sampah. Tapi kalau air yang mengalir kembali ke laut maka menyatu ini menjadi baik itu berarti kembali. Saat kita menempatkan bagaikan air sungai, kemudian berproses menuju kepada laut, maka itu adalah Ilallahi Al-Mashiir (kepada-Nya segala sesuatunya akan kembali).

Pada saat kita berpikir bahwa yang dapat diberi peringatan (itu yang pertama, yang saya sampaikan di depan) yakni orang yang sadar. Kita semuanya pasti berproses kembali kepada Allah, tidak bisa tidak, setiap manusia ada batasan umur, ada batasan hidup di dunia ini yang disebut dengan “UMUR”. Sesunguhnya orang-orang yang dapat memahami penjelasan, memahami keterangan kebenaran, kemudian menerima penjelasan dan kebenaran itu, adalah kebenaran Al-Haq Min Robbik (kebenaran dari Tuhan), adalah mereka yang Yakhsyauna Robbahum Bil Ghoib, mereka yang hati-hati/ takut/ waspada kepada Tuhan mereka/ Tuhannya.

Rob itu tidak hanya sekedar makna dalam pengertian Robb (Tuhan), dalam pengertian Tuhan untuk diri sendiri. Tapi Robb itu adalah sebuah sistem/ cara/ metode menuju kepada Tuhan. Orientasi apapun yang dilakukan adalah berproses menuju kepada Tuhan, sehingga nanti Wallahul Mashir kepadaNya Yakhsyauna Robbahum. Sehingga kita sebagai apapun, sebagai siapapun, dimanapun, dalam keadaan apapun kita selalu waspada bahwa semuanya kembali kepada Allah.

Yakhsyauna Robbahum bil Ghoib, mereka yang takut kepada Tuhannya (Bil Ghoib) dan mereka itu mengetahui secara jelas/ fakta mengenali keberadaan diri Tuhan. Atau paling tidak bahwa ada otoritas yang menjelaskan kebenaran, sehingga kita tidak berani mengklaim bahwa  diri kita yang paling benar kemudian menyalahkan orang lain yang tidak sekeyakinan dengan kita. Sekali lagi, orang yang takut (yang dapat diberi peringatan) adalah orang yang takut jika dirinya itu tidak selamat, sehingga tidak kembali kepada Al-GhoibNya Tuhan, tidak kembali kepada keberadaan diri Tuhan.

 

Kemudian yang kedua adalah mereka yang Wa AqiimusSholah. Mereka yang menegakkan sholat (dalam pengertian sholat tidak sekedar ritual). Karena kalimatnya adalah “AQIM”. Walaupun kita nanti akan bahas pada sesi yang lain mengenai makna sholat, tapi secara sekilas bahwa AqiimisSholah, tegaknya sholat itu bukan masalah ritualitas (mulai takbiratul ikhrom, takhiyat sampai salam). Akan tetapi aqim (terjaga). Terjaganya sholat, bertempat tinggal di sholat, dalam keadaan apa saja, dimana saja, kita selalu terjaga untuk kondisi sholat. Karena inti sholat adalah Dzikir. Inti sholat itu adalah hadirnya hati kepada Tuhan, Tuhan yang dikenali dijadikan tujuan, dijadikan tempat kembali, itu adalah keberadaan diri Tuhan. Inilah yang dikatakan bahwa yang takut adalah mereka yang berimannya dengan Al-Ghoib. Sehingga akan berusaha untuk terus bergerak (mencari) yang dapat menunjukkan keberadaan Al-GhoibNya Diri Tuhan. Sehingga supaya dalam kepastian, orang yang takut, orang yang bisa menerima penjelasan, orang yang dapat menerima secara penuh, itu adalah yang sadar bahwa dirinya kembali kepada Allah. Kemudian mereka untuk dapat mencari, yang dapat menunjukkan Al-GhoibNya Diri Allah, sehingga keyakinan tidak dalam keprangsangkaan.

Kemudian mereka yang selalu terjaga sholat, mulai dari takbiratul ikhrom, itu sesungguhnya karakter-karakter kehidupan. Kemudian mereka yang selalu membersihkan dan mensucikan dirinya untuk dapat di dalam ridho dan ampunan Allah, akan selalu mensucikan. Sehingga tidak berani menilai orang lain, tidak berani menjatuhkan orang lain, tidak berani membit’ahkan orang lain, tidak berani mengolok-olok dan melecehkan orang lain. Ini adalah bagian orang yang berproses, khawatir jika apa yang dilakukan tidak dalam ridho Allah.

Kita membutuhkan kepastian dalam menjalani hidup dan kehidupan, kita memerlukan kepastian secara nyata, supaya apa yang kita jalani tidak dalam prasangka/ kira-kira. Juga bukan karena pendapat Si A atau Si B, tapi kita memerlukan kepastian dalam keselamatan. Sehingga kita menjalankan program, menjalankan kegiatan, semuanya dalam koridor kepastian menuju kepada Tuhan. Sungguh-sungguhnya kita lakukan adalah merupakan media atau alat kepastian menuju kepada Diri Tuhan yang Al-Ghoib.

Kesimpulannya, orang yang bisa menerima penjelasan, menerima saran utuh adalah orang yang:

  • Pertama, sadar bahwa dirinya harus kembali kepada Allah, semuanya proses kembali kepada Allah;
  • Kedua, waspada terhadap menyusupnya ego keakuan;
  • Ketiga, untuk selalu bertempat tinggal pada sholat, yakni selalu dalam orientasi kepada Tuhan, ingat kepada Tuhan, karena intinya sholat adalah Dzikir kepada Tuhan.
  • Keempat, orang yang selalu berusaha untuk mensucikan dirinya, dari penyakit-penyakit pikiran, penyakit-penyakit hati. Kita jalani kebenaran, tapi bukan berarti kita sok benar dan merasa benar.

Demikian, semoga Allah selalu meridhoi kita, selalu memberi ampunan kepada kita, dan menjaga kita.

KYAI TANJUNG

Apa itu Kebenaran yang Menyelamatkan

Kita berbicara tentang kebenaran, saat kebenaran kita fahami secara utuh, saat kebenaran kita tempatkan pada posisinya, saat kebenaran akan terhubung dengan dayanya, maka akan memiliki tentram dan damai.

Pada saat kita berbicara tentang kebenaran, kebenaran yang memiliki perspektif (kebenaran siapa, dari mana asal kebenaran itu). Karena selama ini, apakah kebenaran menurut sudut pandang diri sendiri atau kebenaran menurut khalayak (orang banyak) atau kebenaran menurut konstitusi (pemerintah)???

Keadaan dan situasi yang kita ciptakan tergantung dari mindset (pikiran) yang kita buat/ kita bangun/ kita tempatkan.

Saat pikiran ditempatkan pada kebenaran, maka memungkinkan untuk mencapai kedamaian dan ketentraman itu. SEKALI LAGI, masalahnya adalah kebenaran menurut siapa.

Pada saat pemikiran yang sebaliknya, saat pemikiran tidak terhubung dengan kebenaran yang seharusnya maka yang terjadi adalah pembiasan, penyimpangan. Pada saat terjadi penyimpangan, akibatnya adalah keadaan/ situasi menjadi tidak nyaman, tidak membahagiakan.

Kalau kita berbicara tentang daya kebenaran, mindset (pemikiran) merupakan dasar hal yang utama, sebagai pondasinya berpegang kepada kebenaran Al-Haq. Kebenaran inilah yang akan menjadikan seseorang berada di dalam ranah menuju pada tentram atau tidak.

Sehingga setiap diri kita akan membentuk suatu lingkungan yang rusak (fasad) tergantung dari kebenaran yang kita ambil, pemikiran yang kita jalankan, pemikiran yang dijalankan oleh sebuah tindakan.

Dalam suatu ayat (QS Al-Mu’minun: 71) disebutkan dengan jelas bahwa segala sesuatunya manakala kebenaran diletakkan di atas hawa nafsu, maka akan rusak langit, bumi dan orang-orang yang berada di dalamnya. Sungguh sebenarnya Allah telah memberikan Al-Haq/ kebenaran itu dengan dzikir.

Allah telah memberikan kebenaran bersama adanya dzikir. Adanya ingatan hati, posisi dimana hati supaya ingat kepada sesuatu. Hal ini adalah tentang HUWA. Tentang Dia. Maka kebenaran itu akan menempatkan hamba terhadap Ma’bud nya, sehingga apapun yang dilakukan itu dalam kesadaran (fakta) sadar sebagai hamba. Dapat menjadi ekperien/ pengalaman hidup. Sadar batin, sadar secara fakta

Makanya, orientasi menuju kebenaran adalah suatu pencarian tentang kebenaran itu.

(Lanjutan ayat) Pada saat segala sesuatunya (kebenaran) yang tidak diletakkan pada Al-Haq nya, maka mengakibatkan segala sesuatunya itu akan ada batasan, titik balik menjadi kerusakan, saat dimarahi kelompok atau seseorang.

Ayat yang lain mengatakan (QS Al-Hajj: 46) tampaknya manusia berjalan di muka bumi, rasanya di muka bumi, perjalanan yang dilakukan di atas muka bumi. أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ  akan tetapi sesungguhnya berhenti, tidak melakukan aktifitas apapun. Karena kebenaran sesungguhnya berada di dalam bukan berada di luar. Sehingga فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ karena sesungguhnya yang buta melihat kebenaran itu adalah yang berada di dalam dada, bukan mata yang tampak lahir (yang digunakan sebagai fungsi melihat). Melainkan fungsi mencermati tentang diri. وَلَٰكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ pada saat kehidupan yang dijalani harus memfungsikan hati nurani.

Sehingga saat kita mencari kebenaran akan memacu/ memicu/ mensupport/ mendukung/ membentuk kedamaian dan ketentraman baik yang lahir ataupun yang batin.

Kita hidup memang harus mencari kebahagiaan dan ketentraman yang sebenarnya. Menanggalkan segala hal yang hanya menggunakan sudut pandang duniawi dan material. Walaupun secara fakta kita hidup di dunia.

Demikian. Semoga kita dalam ridho Allah, dalam maghfirah-Nya dan semoga ditarik dalam fadhal dan rahmat-Nya, mendapatkan syafa’at Rasulullah S.A.W

Puasa Mencetak Generasi Tangguh

Pada bulan ramadhan, pada bulan puasa ini, kami mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa. Semoga ibadah puasa kita diterima oleh Allah dan menjadi sesuai dengan apa yang telah diperintahkan oleh Allah.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Kita ini diperintahkan untuk berpuasa supaya menjadi hamba yang bertakwa. Namun kami tegaskan disini bahwa kalimatnya di dalam perintah, di dalam surat Al Baqoroh itu bukan kalimat perintah. Tapi “kutiba” bukan “amaro”. Artinya bahwa kutiba itu kewajiban bagi hamba atas kesadaran dalam penghambaannya memproses kembali kepada Allah untuk menjadi hamba yang bertakwa. Sehingga siang tidak hanya sekedar dalam makna ritual formalitas semata, hanya menahan lapar dan dahaga masalah selesai. Artinya tidak hanya sekedar orang-orang itu kemudian berpuasa, tidak makan dan tidak minum, kemudian langsung menjadi ahli surge. Disini ayat ini menerangkan dengan sangat jelas bahwa untuk menjadi ahli jannah, ahli surga itu diperintahkan supaya menjadi bertakwa. Tidak mungkin bertakwa tanpa dengan puasa. Dan tidak mungkin seseorang itu akan menjadi orang-orang yang bertakwa tanpa menjalankan ibadah puasa. Bukan dalam pengertian ibadah dalam pengertian ritual semata. Sebab semuanya telah sepakat, semuanya telah mengetahui bahwa pada saat orang bisa menahan lapar dan dahaga, akan tetapi manakala tidak bisa mengendalikan diri, kemudian mengumbar hawa nafsunya, mengumbar emosinya, suka mengolok, menjatuhkan, maka ini secara puasa sah. Akan tetapi secara nilai ibadah batal.

Pada saat kita berbicara tentang ini, kenapa Allah memerintah kita-kita untuk berpuasa di bulan Romadhon. Romadhon itu makannya pembakaran. Segala sesuatu untuk menjadi masak. Supaya kita makan, bukan makan beras tapi makan nasi. Harus diproses, harus dilakukan adanya satu proses yang kita lakukan, ngonceki (mengupas) kulit sampai kita menjadi beras kemudian ditanak. Artinya bahwa apa yang kita lakukan ini, romadhon supaya hamba ini menjadi dewasa. Dewasa berfikirnya, dewasa bertindaknya, dewasa perilakunya, dewasa komunikasinya, dewasa apapun dalam pengertian dewasa mandiri dan tanggung jawab dan kemampuan pengendalian diri. Maka di dalam hadits disebutkan bahwa orang tidak dikatakan puasa jika tanpa mengendalikan diri. Dan akan sia-sia pada saat apa yang puasanya tidak makan, tidak minum, tanpa mengendalikan diri atau masih dikungkung oleh emosi dan tidak mengendalikan amarah sehingga pada saat kita ini berpuasa, sesuatu yang menjadi indikator seseorang itu puasanya diterima oleh Allah atau tidak (seperti halnya haji, untuk menjadi mabrur itu juga ada indicator, ada tanda-tandanya), demikian juga puasa ada indikator, ada tanda-tandanya. Pada saat kita berpuasa, sesungguhnya kita lakukan tidak hanya di bulan Romadhon tapi di semua kehidupan yang kita lakukan ini seharusnya adalah semuanya bernilai puasa. Artinya mengendalikan diri. Karena “asshiyaam” itu “junnatun” (puasa itu adalah mengendalikan diri).

Kalau kita berbicara tentang la’allakum tattaquun, untuk menjadi hamba Allah yang bertakwa, ada sebuah tatanan yang Allah kehendaki untuk menjadi hamba yang wadah (berupa jasad) ini adalah untuk mengendalikan hawa nafsu. Karena hakekat nafsu itu adalah wujud jasad ini. Sehingga apapun yang kita lakukan dalam menjalani kehidupan ini supaya tidak dalam kendali keinginan-keinginan dan kebutuhan hawa nafsu. Sebab saat seseorang itu tidak terbiasa mengendalikan, maka tidak akan dapat membedakan antara keinginan dan kebutuhan. Pada saat seseorang itu tidak pernah mengendalikan diri, dia tidak melakukan satu wujud pada saat kita menjalankan perintah Allah dengan mengumbar ego dan keakuannya. Berarti itu adalah hanya menuruti hawa nafsunya dengan perilaku arogan. Inilah puasa supaya kita menjadi lebih bersih dan suci. Tapi bukan sok bersih dan bukan berarti sok suci. Itu adalah mutlak wilayah Allah supaya kita menjadi hamba yang disucikan. Maka di dalam ayat إِنَّا أَخْلَصْنَاهُمْ بِخَالِصَةٍ ذِكْرَى الدَّارِ. Miliki sebuah akhlak yang tersucikan dengan bikholishotin, dengan sucinya perilaku-perilaku batin, yang ditunjukkan dengan perilaku-perilaku lahir.

Puasa itu adalah untuk tazkiyyatun nafs (yang pertama). Supaya bersih keberadaan raga kita, yang dimakan (adalah) makanan halal dan yang diminum (adalah) minuman halal. Kemudian tazkiyyatul qolbi (hatinya bening)-yang kedua. Dengan beningnya hati, maka tidak tercampur dengan kotoran-kotoran nafsu kepentingan ego (merasa darah biru, melecehkan dan menjatuhkan orang lain). Kemudian yang ketiga adalah bersihnya, benarnya perilaku akhlak. Membangun bebarengan, kebersamaan dan kekeluargaan. Ini semuanya adalah puasa. Sebab kita tidak mungkin membangun kebersamaan, kekeluargaan manakala tanpa kemampuan mengendalikan diri. Seperti di dalam ashiyaamu junnatun, shiyaam itu adalah perisai karena mampu mengendalikan diri.

Semoga ibadah puasa kita dalam ridho Allah, semoga benar-benar menjadi hamba-Nya yang bertakwa dengan perilaku yang lapang dada, pikiran jernih, pikiran rasional. Menjadi hamba yang didekatkan dengan perilaku-perilaku yang memang menunjukkan mendekat kepada-Nya. Dengan kearifan-kearifan berbicara, kearifan perilaku, kearifan komunikasi, kearifan kita bersosial dan berhubungan dengan yang lain. Semoga Allah meridhoi kita.

KYAI TANJUNG