Bincang-Bincang AnNubuwwah

Kebenaran sebagai AlHAq min Robbika, kebenaran Rasul dengan Risalahnya telah terbiaskan sebegitu jauh, seperti halnya jarak waktu antara Keberadaan Kebenaran Nabi-Rasul dengan waktu saat ini – telah ribuan tahun.

Semakin lama semakin jauh semakin dalam, semakin menjadi bias. Percepatan penyimpangannya sesuai dengan perspektif dari masing-masing pemilik keyakinan yang berangkat dari anggapan dan hasil dari tafsir-tafsir dan praduga-praduga yang membentuk hasil pemikiran serta kesepakatan-kesepakatan.

Dan Kebenaran Rasul dengan Risalah-Nya, semakin tidak dikenal, dan semakin dianggap aneh dan asing. Saat awalnya sudah diabaikan, kemudian memilih kebenaran relatif, kebenaran hasil pemikiran dan kesepakatan serta kebenaran kira-kira dan tafsir-tafsir kemudian dianggapkan sebagai kebenaran mutlak. Dan umat manusia mengenal kebenaran yang seperti ini yang lebih dikenal, dan dipedomi.

Maka akan terjadi akumulasi yang memuncak pada keterjebakan Situasi ketidakpastian; terombang-ambing dalam perubahan Dinamisasi kehidupan; kehidupan yang membingungkan akibat Ambiguitas yang sangat tinggi dan semakin tinggi; yang berpengaruh terhadap tatanan atau tatakelola kehidupan pada semua ranah dan dimensi pada sendi-sendi kehidupan dan menjadi permasalahan yang Kompleks, satu dengan yang lainnya saling mempengaruhi.

Faktor, elemen dan variabel untuk dapat menerima Kebenaran Rasul dengan Risalahnya dengan lapang dada, dengan akal rasional dan bernalar, dengan jujur, tulus, dan ikhlas akan semakin berat.

SAAT SEGALA SESUATUNYA, AWALNYA TIDAK TEPAT (JIKA TIDAK BISA DIKATAKAN SALAH), MAKA MEMBENAHINYA, MELURUSKANNYA AKAN SENGAT SULIT DAN TERASA BERAT.

Mindset yang menggerakkan aksi aktifitas berdunia telah terbentuk, dan terbangun salah, maka aksi perilakunya membangun dan membentuk mindset, demikian pula mindset yang berjalan  membangun perilaku. Mindset membangun dan membentuk perilaku dan perilaku membangun mindset, sudah menjadi roda berputar, roda berputar telah membangun lingkaran setan, menghentikanya dan merubah haluan akan sangat berat dan sulit. Maka kiyamat dalam pengertian pemurnian akan diberlakukan.

Saat naratif aksentuasi condong pada kebenaran relatif, maka kebenaran akan selalu dihubungkan dari relasi koneksi dengan parameter kecocokan pemikirannya saja, dan yang menguntungkan bagi keberlangsungan kehidupannya, hal demikian menjadikan tidak berpihak kepada kebenaran Rasul dengan risalahnya, sehingga kebenaran hakiki sama sekali tidak tersentuh kecuali hanya wawasan dan wacananya saja.

Saat “sesuatu” diserahkan oleh yang bukan ahlinya  (ahli sebagai yang hak, sah serta wenang, bertempat tinggal dan maqom pada tempatnya, mengenal dengan sebenar-benarnya mengenal. Ahli bukan perihal wacana dan wawasannya, serta juga bukan fenomenanya), maka tunggu kehancurannya.

Surut, mundur, rusak dan menuju kehancuran secara pelan dan pasti akan ditemuai, dan ada waktu keadaan situasi percepatannya dan bergerak dengan cepat. Tidak lagi ber-revolusi namun ber-evolusi. PEMURNIAN SANGAT CEPAT – orang-orang menyebutnya kiyamat. Jika hal demikian maka bisa jadi sudah terlambat.

Maka dipandang perlu membangun perilaku Uswah-Budi-Darma.

Perilaku Keteladanan melalui bidang-bidang, perilaku yang mengedepankan aksentuasi: Aguru-guru – hakekat dan kebenaran Rasul dengan ajaran risalahnya; Uswah atau keteladanan perilaku akhlak dan adab yang mewujudkan kecondongan pada akal rasional yang berhati nurani; Perilaku menebar kebaikan, kepedulian, kebersamaan.

Maka dipandang perlu menebarkan, menyebarkan berita Kebenaran Rasul dengan Risalah-Nya, melalui media-media yang terjangkau oleh kita.

Cita-cita Guru Wasithah, Gumelarnya Ilmu Tauhid, Ilmu Nubuwah, Ilmu yang menunjukkan pintu mati selamat, menyatakan kembali kepada Diri TuhanNya lagi. KembaliNya Hak Mutlak Allah dan hak-hak Rasulullah adalah keniscayaan ditengah kehidupan yang penuh dengan situasi ketidakpastian, dinamis, ambugi dan kompleks saat ini.

Pertama, berkaitan dengan cita-cita ditampakkan AlHaqNya.

Kedua, JATAYU melakukan tata kelola kehidupan bersosial dan bermsyarakat dengan perilaku Uswah, Budi, Darma yang mandiri dan berdaulat, melakukan pemberdayaan dan berbudidaya.

Ketiga, Penyelamatan. Bagi mereka yang berkehandak selamat jika sewaktu-waktu masa pakai habis masa di dunianya, dapat menyatakan selamat kembali pulang kepada Tuhan-Nya. Mereka yang masih bisa menerima keterangan, penjelasan dan berita Kebenaran Rasul dengan Risalah-Nya dengan lapang dada, dengan akal rasional dan nalar serta obyektif, yang tidak kaku dan beku serta tidak kultus dan fanatik terhadap kelompok dan golongannya.

Kemudian juga melalui media-media yang dapat dijangkau, dengan membuat KONTEN-KONTEN dan menyebarkan dan menebarkan opini.

Yang salah satunya adalah bincang-bincang AnNubuwah:

Tema:

  • Pro-kontra kehidupan beragama
  • Imam mahdi, satriyo piningit, ratu adil.
  • Budidaya, pemberdayaan kemandirian dan kedaulatan.
  • Hubungan Chaos Alam yang bergolak dengan kebenaran beragama.
  • Apakah semua Nabi dan Rasul berhubungan-berkaitan.
  • Antara Agama, budaya-kebiasaan
  • Kehidupan beragama bukan perihal kenangan indah legenda sejarah masa lalu.
  • Beragama menghalangi kemajuan.
  • Kebenaran yang tersembunyi yang saatnya diungkap.
  • Jaal haq wa zahuqal batil.
  • Apakah ada kemungkinan pola beragama yang sekarang ada terjadi pembiasan dari sumber aslinya oleh para Nabi-Nya dan Rasul-Nya.

Dan seterusnya dan sebagainya.

Tema dan judul-judul diatas bukan sebagai PAKEM harga mati, sangat mungkin judul atau tema berubah atau diganti dengan judul atau tema yang lain, yang mungkin dianggap labih memiliki dampak positif.

Perihal Waktu; Tempat lokasi: kondisional.

JATAYU, 1 Januari 2022.

Permasalahan-permasalahan:

Terbatasnya informasi dan berita.

  • Gejolak – chaos, alam, sosial, politik.
  • Para Rasul dan Nabi dengan ajaran Risalah-Nya dianggap berdiri sendiri-sendiri.
  • Sekedar ucapan lahiriyah kepada beda keyakinan sudah menjadi polemik
  • Polemik berbagai aliran dan mazab
  • Tashabuh, menyerupai perilaku orang kafir
  • Definisi dan deskripsi yang bias akibat dari tafsir yang diselaraskan dengan intuisi dan anggapan, yang berakibat polemik.
  • Polemik gambar dan patung-patung
  • Polemik doktrinal dengan rasional
  • Polemik antara agama dan budaya.
  • Polemik Islam Arab, islam-Nusantara.
  • Polemik pemimpin dengan al-waliyu.
  • Antara pakaian ritual keagamaan dengan pakaian adat istiadat dan kebiasaan
  • Dan masih banyak lagi…

Bertasbihlah dan Menghambalah hingga hadir Al-Yaqin 15. Al-Hijr 99

فَسَبِّحۡ بِحَمۡدِ رَبِّكَ وَكُن مِّنَ ٱلسَّٰجِدِينَ ٩٨  وَٱعۡبُدۡ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأۡتِيَكَ ٱلۡيَقِينُ ٩٩

  1. maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan jadilah kamu di antara orang-orang yang bersujud (shalat)
  2. dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).

وَهُوَ ٱلَّذِي يَبۡدَؤُاْ ٱلۡخَلۡقَ ثُمَّ يُعِيدُهُۥ وَهُوَ أَهۡوَنُ عَلَيۡهِۚ وَلَهُ ٱلۡمَثَلُ ٱلۡأَعۡلَىٰ فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۚ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡحَكِيمُ ٢٧

  1. Dan Dialah yang menciptakan (manusia) dari permulaan, kemudian mengembalikan (menghidupkan)nya kembali, dan menghidupkan kembali itu adalah lebih mudah bagi-Nya. Dan bagi-Nya-lah sifat yang Maha Tinggi di langit dan di bumi; dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana

Karena takut terhadap diri sendiri terhadap rezki yang telah anugerhkan melalui potensi dari Allah. ArRuum 28

ضَرَبَ لَكُم مَّثَلٗا مِّنۡ أَنفُسِكُمۡۖ هَل لَّكُم مِّن مَّا مَلَكَتۡ أَيۡمَٰنُكُم مِّن شُرَكَآءَ فِي مَا رَزَقۡنَٰكُمۡ فَأَنتُمۡ فِيهِ سَوَآءٞ تَخَافُونَهُمۡ كَخِيفَتِكُمۡ أَنفُسَكُمۡۚ كَذَٰلِكَ نُفَصِّلُ ٱلۡأٓيَٰتِ لِقَوۡمٖ يَعۡقِلُونَ

  1. Dia membuat perumpamaan untuk kamu dari dirimu sendiri. Apakah ada diantara hamba-sahaya yang dimiliki oleh tangan kananmu, sekutu bagimu dalam (memiliki) rezeki yang telah Kami berikan kepadamu; maka kamu sama dengan mereka dalam (hak mempergunakan) rezeki itu, kamu takut kepada mereka sebagaimana kamu takut kepada dirimu sendiri? Demikianlah Kami jelaskan ayat-ayat bagi kaum yang berakal

Orang yang disesatkan adalah orang yang berperilaku hawa nafsu itulah orang yang dhalim Ar-Ruum 29

بَلِ ٱتَّبَعَ ٱلَّذِينَ ظَلَمُوٓاْ أَهۡوَآءَهُم بِغَيۡرِ عِلۡمٖۖ فَمَن يَهۡدِي مَنۡ أَضَلَّ ٱللَّهُۖ وَمَا لَهُم مِّن نَّٰصِرِينَ ٢٩

  1. Tetapi orang-orang yang zalim, mengikuti hawa nafsunya tanpa ilmu pengetahuan; maka siapakah yang akan menunjuki orang yang telah disesatkan Allah? Dan tiadalah bagi mereka seorang penolongpun

Selengkapnya:

FB: https://fb.watch/ag_vqf5GR8/

About Post Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.