Juli 30, 2021

Gadget, Mencerdaskan atau Menjerumuskan?

Sebagai sebuah media komunikasi, Gadget hampir menjadi barang wajib yang dimiliki oleh semua orang. Siapa sih yang gak tau gadget? Bahkan balita zaman sekarang pun sudah bermain gadget. Gadget memang mempermudah kita dalam mendapatkan informasi. Tidak hanya sebagai media komunikasi, tapi juga sebagai media hiburan. Seiring dengan berjalannya waktu fungsi gadget saat ini sudah bertambah luas. Semakin meluasnya fungsi dari gadget, akan menambah tinggi pula resiko yang ada. Majunya sebuah teknologi, harus diimbangi dengan kesiapan para penggunanya. Jika tidak, mereka tidak akan mampu melawan dampak negatif yang ditimbulkan dari penggunaan gadget. Untuk itu mengapa anak-anak di bawah umur harus ada pendampingan dalam penggunaannya.

Sebut saja dengan screentime. Screentime adalah waktu yang dihabiskan oleh seseorang di depan layar komputer atau gadget. Setiap anak memiliki batas waktu screentime. Screentime yang terlalu lama pasti akan membuat anak menjadi malas gerak, mengalami obesitas, pengembangan emosional dan mental yang tidak terkontrol serta resiko dengan kesehatan mata. Lalu berapa lama screentime ideal bagi anak?
Berdasarkan rekomendasi IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) dari artikel kompas.com, batasan anak melihat layar gadget dan teknologi lainnya dikategorikan berdasarkan usia.

Usia kurang dari satu tahun (bayi)
Diusia ini anak tidak dianjurkan memiliki waktu screentime. Lebih baik habiskan waktu dengan membacakan dongeng atau buku sebagai gantinya.

Usia 1 sampai 3 tahun (toddler)
Pembatasan screentime maksimal hanya satu jam diusia ini. Ingat ya bund, screentime di sini tidak hanya berlaku untuk handphone saja, tapi menonton tv, video maupun layar komputer juga termasuk dalam kategori screentime gadget. Alih-alih bermain gadget, ajak anak untuk aktivitas fisik untuk melatih kemampuan kognitifnya.

Usia 3-6 tahun (pra sekolah)
Batas screentime di usia pra sekolah sama dengan saat usia todller yakni maksimal satu jam. Masa tidur saja yang membedakan keduanya. Semakin bertambahnya usia anak maka semakin berkurang masa tidurnya. Seperti di usia ini, masa tidur yang berkualitas pada usia pra sekolah yaitu 10-13 jam, sudah termasuk tidur siang, dengan pola tidur dan waktu bangun yang reguler.

Usia 6-12 tahun (anak usia sekolah dasar)
90 menit merupakan batas ideal screentime di usia ini. Lalu bagaimana dengan adanya pembelajaran jarak jauh (PJJ Daring)? Orang tua bisa mendiskusikan dengan pihak sekolah, agar PJJ daring tidak melebihi 90 menit. Dampingi anak saat melakukan daring. Ajak diskusi anak serta buat kesepakatan mengenai waktu screentimenya. Berikan tambahan waktu jika batas screentimenya habis digunakan untuk PJJ daring, agar anak tetap memiliki screentime untuk bermain. Atau jika bisa, alihkan screentime di luar daring dengan kegiatan yang bisa memacu kreatifitas dan aktivitas fisik. Dan jangan lupa, selalu konsisten dalam penerapan batas screentime.

Usia 12-18 tahun (Anak usia menengah)
Saat di usia ini, anak kita sudah bisa untuk diajak berfikir mengenai konsep keseimbangan waktu. Batasi screentimenya tidak lebih dari dua jam. Dan biarkan dia mengatur pemilihan waktunya.

Nah, apakah kita sudah menerapkan disiplin screentime ini pada anak kita? Kita coba yuk..! Awal-awal pasti berat sih, apalagi bagi kita yang bekerja di luar rumah. Jangan patah semangat, pembatasan screentime ini memang penting kita terapkan demi masa depan anak kita.


Eiittss… Kita punya cara jitu nih bagaimana agar anak kita terhindar dari kecanduan gadget dan disiplin dengan screentime. Mungkin cara ini bisa menjadi pilihan alternatif bagi para orang tua.

Di kabupaten Nganjuk, ada sekolah berasrama yang bernama Pondok Modern Sumber Daya Attaqwa atau biasa disebut dengan POMOSDA. Semenjak pandemi masuk ke Indonesia, di POMOSDA sudah menerapkan protokol kesehatan yang ketat hingga sekarang. Para santri diwajibkan untuk berasrama untuk meminimalisir adanya kontak langsung dengan orang luar. Asupan nutrisinya pun juga menjadi perhatian khusus di Pondok modern ini.

Bahan makanan yang merupakan hasil dari pertanian sendiri dan ditanam secara organik, menjadi sebuah kunci dalam menjaga imunitas tubuh santri agar tetap kuat. Sehingga kegiatan belajar tatap muka pun berjalan lancar tanpa adanya rasa was-was. Gimana? Tertarik dengan sistem pendidikan di POMOSDA? Cek langsung disini, untuk informasi lebih lanjut.[SN]

Website: http://pomosda.id/

Artikel ini sudah terbit di website pomosda.id dengan judul yang sama

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *