Juni 19, 2021

KENAPA MANUSIA LEBIH SUKA TERKEKANG OLEH GEJOLAK-GEJOLAK KETIDAKPASTIAN, AMBIGU DAN KOMPLEKSITAS PERMASALAHAN

Manusia Cenderung Lebih Suka tetap Dalam Situasi Ketidakpastian, Ambigu, Fatamorgana dan Janji-janji. Walau sesungguhnya tidak mengenali, sehingga sesungguhnya tidak mengetahui dan tidak mengerti, DARIPADA Menghadapi Fakta Kehidupan dengan jujur dan lapang dada demi kedamaian, ketentraman dan keselamatan.

Bahwa ayat-ayat nyata Tuhan telah dipampangkan di hadapan kita, seharusnya kita tidak abai terhadap ayat-ayatNya.

Dunia akan mengalami penyelarasannya sebagai perwujudan SUNNATULLAH, sebuah sistem keseimbangan kehidupan di alam jagat raya, yang sekaligus ”ja’al haq wa zahuqal batil, innal batila kaana zahuqa”

Dan kembalinya SUNNATUR RASUL, sistem tatanan kehidupan sosial masyarakat dengan tatanan dalam ridha, fadhal rahmatNya dan dalam maghfirahNya.

Semoga kita menjadi hamba yang sadar, bahwa kehidupan berdunia itu bukan semata-mata tatanan yang lahiriyah semata namun ada tatanan hakekat BI-ALHAQ.

Beragama dengan model sejarah dan legenda serta cerita masa lalu maunya kebanyakan manusia adalah model instanisasi untuk memperoleh hadiah surga.

Demikian pula melafalkan do’a dan wirid tanpa aktifitas berkepedulian, berkemandirian dan tanpa ada ikhtiyar bahkan tanpa dengan akhlak dan adab namun memiliki kepercayaan bahwa bacaan-bacaan, lafal-lafal serta wirid-wirid yang dibaca akan menghantarkan kepada rezki dari Allah dan dimasukkan ke dalam surgaNya.

Seperti di QS Al Fath 29: saat ada ungkapan tegas kepada orang-orang kafir kita mungkin akan lebih senang dengan penjelasan, yang mengarah kepada (semata-mata) kelompok lain atau orang lain yang kafir, DARIPADA bahwa ini juga berlaku terhadap diri kita sendiri, kita harus tegas, jelas berani jujur mengakui terhadap kekafiran di dalam diri kita sendiri, berupa perilaku tertutup, bisu, tuli, buta, jumud, kaku, fanatik, beku.

Demikian pula saat ada kalimat “atsar sujud”, bekas sujud dengan warna hitam di jidat, lebih disenangi dan ditempatkan sebagai cap atau stempel ahli surga, DARIPADA atsar sujud dimaknai dalam konteks memakmurkan bumiNya, tata kelola kehidupan, membuat bekas-bekas kesan dan pesan perilaku kebaikan, uswah atau teladan di kehidupan sosial masyarakat.

Kehidupan beragama sesungguhnya adalah kontekstual kebersaksian terhadap fakta rasa hati nurani atas mengadaNya keberadaan Nurullah, Cahaya TerpujiNya, Cahaya Kerasulan dan fakta rasa hati atas MengadaNya Dia Dzatullah Yang Al-Ghayb Yang Allah NamaNya.

Supaya beragamanya tidak dalam kategori agama NENEK MOYANG dan AGAMA BUDAYA serta AGAMA HASIL PEMIKIRAN AKAL PIKIRAN DAN KESEPAKATAN ATAU KONSPIRASI.

Sumber:

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1415410792146069&id=100010314840715

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *