Maret 19, 2021

STRATEGI KEBERUNTUNGAN

37 views

Kehidupan berdunia ini memang penuh dengan daya tarik dan tolak dan sejak kita dilahirkan sudah menghadapi akan hal ini. Tidak semua yang kita inginkan dapat terpenuhi.

Ada senang dan ada susah; ada keburukan ada kebaikan. Susah-senang; menangis-tertawa; sedih-bahagia, nyaman atau congkrah; tertata atau carut marut; maju atau mundur; menjadi dewasa atau sebaliknya; alibi atau argumen; kebenaran atau pembenaran; kebutuhan atau hanya keinginan; kebahagiaan atau sekedar kesenangan atau sebenarnya pelampiasan.

Selama kehidupan seseorang dalam kosong berakibat ketidak-pastian arah dan tujuan maka dikuasai oleh diri yang jasad nafsiyah, maka kita akan masih terus merasakan daya tarik dan tolak, dan kita harus memilihnya, hidup adalah pilihan.
Menjadi manusia yang mampu menghadapai berbagai permasalahan hidup dan menjadi manusia solutif atau sebaliknya, menjadi manusia sampah, manusia sia-sia. Terpuruk sesungguhnya perihal kenal tidaknya arah dan alamat tujuan hidup dan kehidupannya, namun hal inipun adalah pilihan.

Bangunan komunikatif-musyawarahan, kebersamaan-kekeluargaan, terkoneksi, konsisten dan bersungguh-sungguh; menyiapkan diri bagai media tanah yang subur yang siap ditanami biji, kemudian pemberian nutrisi, menyiram, menjaga dan merawat, berbunga, berbuah dan panen, maka hal ini disebut “siklus produktifitas”. PRODUKTIF. Siapa yang nanam maka dia yang memanen dan yang menghasilkan.

Siklus menjadi manusia yang produktitif demikian, inilah disebut  KEBERUNTUNGAN. Jadi keberuntungan itu bukanlah perilaku instan atau tiba-tiba, juga bukan perilaku kira-kira dan prasangka bagai gambling dengan kehidupan akibat ketidakpastian arah dan tujuan.

Ketidakpastian akan menimbulkan keambiguan, gejolak-gejolak, dan jiwa seseorang dalam cengkeraman otak yang tertambat dalam cengkeraman pikiran-pikiran dan tindakan-tindakan hati sanubari, hati yang kosong dari kehadiran Dia Dzat Tuhan Yang AlGhayb kecuali hanya nama-nama dan simbol-simbol belaka.
Saat ketidakpastian arah, tujuan yang menjadi orientasi tanpa mengenali kepastiannya maka aktifitasnya dalam pola energi negatif yang dapat merusak dirinya sendiri dan lingkungannya, aksi yang dilakukan hanya memenuhi kepentingan dan pemenuhan keinginan dan kesenangan.

Diri yang berada di dalam jiwa terjajah, terkoyak oleh angan-angan, imajinasi dan hayalan, dalam perilaku pembenaran-pembenaran tanpa kepastian arah dan tujuan.
Menjadi jiwa yang labil yakni mudah tergoncang, mudah bingung dan panik serta tercengkeram dalam khawatir, was-was dan ragu-ragu. Dan takut dengan kematian.

JIWA yang labil, itu dipenuhi oleh hasrat untung-rugi; standar parameter hidupnya adalah angka-angka, dan kepo penilaian dari orang lain, serta mudah sekali menilai orang lain. Pikiran rasional nalarnya kalah dengan keinginan dan kesenangan nafsu duniawi, dan tidak bisa mengendalikan keinginan hasrat nafsunya.

Pertama, selalu menjaga ingatan keberadaan DIA, kehadiran Dia Dzatullah Yang AlGhayb Yang Allah NamaNya dalam tarikan desah nafas, sehingga dalam fakta rasa hati atas kehadiran DIA yang akan menjadikan amal perbuatan yang dilakukan menjadi tidak sia-sia, dan menjadi nilai ibadah.

Kedua, pemahaman bahwa dari setiap diri yang oleh Allah telah dilengkapi pendengaran dan penglihatan serta akal pikiran ini adalah energi potensial.

Ketiga, kesadaran bahwa perkembangan potensi dirinya akan terbentuk di lingkungan yang baik dan kondusif, maka bertanggungjawab terbentuknya situasi dan kondisi serta atmosfir belajar, berkarya, kreatif dan bahkan innovatif. 

Keempat, Jujur, lapang dada, dan obyektif. Memahami, mengamati dan menyimpulkan dengan obyektif, menerima dengan lapang dada, dan mengakui dengan jujur. Memang hal demikian ini berat, namun demi kebenaran, keselamatan dan perkembangan dan kemajuan diri adalah keniscayaan untuk dijalani dan dinyatakan.

Kelima, Pengendalian diri. pengendalian diri dari perbuatan dan perilaku yang merusak, yang menghalangi serta yang menutup perkembangan dan kemajuan.

Keenam, penggunaan akal pikiran rasional. untuk menyingkirkan perilaku-perilaku tertutup, jumud, kaku, beku dan perbuatan sia-sia. Upaya supaya tidak dalam cenkeraman prasangka, kira-kira, dan tidak menyimpulkan dan mengambil sikap yang salah akibat dari prasangka dan kira-kira serta tafsir-tafsir.

Ketujuh, Akal nalar masuk akal dan berhubungan. Menggunakan akal nalar masuk akal berhubungan dari apa yang didengar, apa yang dilihat, apa yang dibaca, yang akan diwujudkan dalam tindakan dan perilaku kemajuan dan perkembangan dirinya.

Kedelapan, keberanian menghadapi realitas kehidupan sebagai fakta diri dan tantangan fakta situasi dan kondisi yang dihadapi. Bahwa setiap manusia terlahir sebagai potensi, manusia adalah murid dari kehidupan.

Kesembilan, Resiliensi atau menjadi manusia yang memiliki daya tata kelola pemakmur dengan sungguh-sungguh, tekun, dan konsisten serta menjaga komitmen.

Kesepuluh, DAYA JUANG, mau memaksa diri yang lahir jasadiyah untuk mewujudkan menjadi manusia pembelajar, berdaya, mandiri dan berdaulat.
kesebelas, sadar bahwa nyata tanpa dengan Daya Kuat Diri Tuhan sungguh manusia bukan apa-apa, bukan siapa-siapa, tidak ada apa-apanya, tempat salah, kurang dan dosa maka, akan terus memperbaiki diri, mengembangkan diri, dan terus belajar dan berlatih membentuk kebiasaan baik dan positif.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *