November 1, 2020

Lidah Mertua di Pojok Kedai Japo NGAWI

121 views

Ngawi – Ekonomi kerakyatan merupakan istilah untuk sistem ekonomi tradisional yang menjadi basis kehidupan masyarakat lokal dalam memberdayakan potensi di lingkungan sekitar. Salah satunya warung atau kedai. Usaha kuliner menjadi unit usaha yang diminati masyarakat sebagai mata pencarian. Berpangan, tidak bisa dipungkiri, adalah kebutuhan mendasar manusia. Tidak perlu tempat mewah, warung makan atau kedai bisa dikemas klasik dan sederhana, dan ternyata justru lebih disukai masyarakat. Kebersahajaan tidak membuat jengah atau sungkan. Membenihkan rasa nyaman dalam berkerabatan.

Hal itulah yang dilakukan oleh Andaka, pemilik Kedai Japo Mbandulan dari Desa Soco, Kecamatan Jogorogo, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Kedai Japo Mbandulan merupakan salah satu bagian dari program pemberdayaan masyarakat yang diusung oleh Bapak Kiai Tanjung untuk membangun perilaku peduli dan saling membangun kebersamaan, kekeluargaan terhadap masyarakat. Kedai Japo milik Andaka memiliki tampilan sederhana. Berdinding kayu papan dilengkapi dengan figura foto-foto kegiatan kemandirian pangan yang digagas oleh Bapak Kiai Tanjung.

Tanaman menjadi ciri khas kedai teduh ini. Di setiap sudut ruangan ada tanaman sensivera atau lidah mertua dan aloevera atau lidah buaya. Dia mengungkapkan tanaman tersebut berfungsi sebagai penjaga akses sirkulasi udara segar bersih. Mengubah karbondioksida (CO2) menjadi oksigen (O2) agar oksigen yang dihirup menjadi bersih dan menyehatkan. “Selain kita berjualan, membuat nyaman pelanggan adalah tujuan utama kita. Apalagi Kedai Japo kita desain sederhana dipenuhi tanaman yang bermanfaat untuk menjaga kesehatan. Tentu pelanggan akan merasakan kenyamanan saat berkunjung di kedai kami,” tuturnya.

Awal mula merintis usahanya, Andaka setiap hari berkeliling memakai gerobak kecil yang dipasang diatas sepeda onthel. Berpindah dari tempat satu ke tempat lain, menjelajah hingga ke kampung tetangga untuk menjajakan bakso dan pentol corah. Jatuh bangun dialami lelaki ramah ini agar jualannya laku dan dapat dinikmati pelanggan. “Pernah Mas, suatu hari yang beli tidak lebih dari lima orang. Ya disyukuri saja. Tetap eling. Selalu bersemangat dan berusaha. Hidup ini kan hanya ‘sakdermo’ menjalankan perintah. Termasuk mencari nafkah,” ungkapnya sembari membereskan mangkuk bekas pelanggan makan di atas meja saat diwawancarai oleh tim jurnalis Pomosda.

Saat itu, memang hanya dua menu tersebut yang digeluti. Hingga pada akhirnya Andaka memberanikan diri untuk mengubah strategi dagang dengan berinisiatif membuka kedai. Memanfaatkan potensi lahan. Warung tersebut diberi nama Kedai Japo Mbandulan Pak Andaka. Warung ini menyediakan aneka jenis menu khas angkringan sederhana. Berupa bakso kuah, bakso bakar, mie ayam, pentol corah dan aneka jus buah-buahan serta kopi tanjung produk asli dari Pomosda, Nganjuk. Lambat laun perekonomian Andaka membaik dengan kegigihan perjuangannya. “Untuk omzet sedikit banyak sudah lumayan, dulu dalam satu bulan hanya ratusan ribu sekarang alhamdulillah sudah jutaan,” katanya.

Keunikan lain kedai ini adalah jajaran polybag diatas rak bambu dan vertikultur di depan kedai. Tanaman sawi, kangkung, slederi, dan bawang merah tampak segar dan tumbuh subur. Pria paruh baya itu mengatakan di sekitar lahan sela kedai ada cukup banyak polybag dan beberapa paralon vertikultur yang menjadi bagian dari estetika desain Kedai Japo Andaka. “Dari polybag dan paralon vertikultur itu kami tanami sayur sesuai kebutuhan menu makanan kami. Jadi alhamdulillah, bisa sangat mengurangi pengeluaran belanja kami,” ungkapnya.

Tidak sedikit pelanggan tertarik dengan tanaman sayur yang dikelola Andaka di sela-sela waktu jualannya. Sebab, tanaman yang dikelolanya memang terawat baik dan tumbuh subur. “Semua itu merupakan bagian dari memakmurkan bumi Allah, melalui dhawuh petunjuk Bapak Kiai Tanjung dalam program kemandirian pangan keluarga. Menanam merupakan bagian dari ibadah ghoiru maghdoh sehingga sudah keharusan untuk melakukannya. Terbukti secara kesehatan maupun finansial sangat kami rasakan manfaatnya,” tutupnya. Sebuah kesadaran kultural filosofis khas masyarakat agraris nusantara. (Fm/Un)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *