BERSYUKURLAH, SYUKUR KUNCI PEMBUKA KEBANGKITAN

Assalamu’alaikum Warahmatullahi wa barokatuhu.

Syukur dengan kata dan kalimat-kalimat puji-pujian seperti hamdalah, nahmaduhu dan sebagainya adalah kalimat yang merefleksikan kesadaran hamba dihadapan Allah, sadar anugerah oleh Allah, baik anugerah kelahiran dengan segala potensinya dan anugerah terciptanya alam semesta.

Syukur adalah watak, sikap dan perilaku terbuka lapang dada. Dari kata Sya-Ka-Ro, perilaku berkemajuan. Membuka hati untuk keimanan, membuka akal untuk rasional masuk akal dan penalaran, membuka indera untuk kemampuan pendengar, penyimak dan pemerhati yang baik, serta membuka organ lahiriyah untuk peningkatan skill keterampilan;

Dan sebaliknya kufur adalah tutup-tertutup-ditutup. Dari kata Ka-Fa-Ro, perilaku yang menghalangi dan menjadi hijab penutup hati nurani dari keimanan, menutup pikiran dari perilaku tafakkur, menutup telinga, mata dan hati, menutup organ dari kemampuan skill ketrampilan.

Seandainya kita semua menyadari betapa luar-biasanya makna syukur dan shalawat untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-sehari maka umat Islam dan bangsa dan negara akan bangkit, berkembang dan maju.

Dan kehidupan bermasyarakat bangsa dan negara kita akan dipenuhi oleh keadaban, keakhlakan, kesantunan, komunikatif dan informatif, pendengar, penyimak dan pemerhati serta pelaku-pelaku yang terbuka lapang dada, berpikir rasional, bertindak masuk akal, memiliki sikap nalar yang baik. Menjadi pembelajar-pembelajar yang handal untuk keharmonisan dan kemajuan bersama.

(Seharusnya) menjadi keprihatinan kita semua, bukan (sekedar) masalah sulitnya menghadapi tantangan hidup yang semakin sulit dan rumit, bukan sulitnya mencari sesuap nasi dan nafkah dalam keberlangsungan hidup. Demikian pula dalam persaingan kerja, yang semakin menunjukkan tidak surut dalam persaingan. Ditunjukkan dari data-data kasus per kasus yang terus mengalami peningkatan, apalagi di kalangan mudanya.

Belum lagi data peningkatan dekadensi moral yang tampak memprihatinkan. Namun tampaknya kita seperti jalan ditempat bahkan jalan mundur. Persis seperti tersebut di dalam Q.S AlHajj. 46 “apakah mereka berjalan di muka bumi, sehingga hati mereka memahami (akal yang digerakkan oleh berfungsinya hati nurani), (apakah) telinga mereka mendengar..??…..”

Langkah-langkah apa yang musti dilakukan, kemudian dimulai dari mana..??. Sebelum menjawab pertanyaan di atas, kami terlebih dulu menghaturkan sebuah data di bawah ini:

Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional Pusat (BKKBN)   M Masri Muadz mengatakan 63% remaja usia SMP dan SMA di 34 provinsi di Indonesia telah berzina. https://www.nahimunkar.org/astaghfirullah-63-remaja-indonesia-berbuat-zina/.

Demikian pula terhadap isu-isu korupsi, tingginya perceraian, perkelahian, pencurian, penggunaan obat-obat terlarang dan lain sebagainya.

Semua hal yang menjadi penghalang untuk berkembang, maju dan meningkat tampak semakin tajam dalam kancah kehidupan. Kemudian dalam hal pengangguran (ketidak terpenuhan lapangan kerja), walaupun oleh Badan statistik, prosentasinya mengalami penurunan (bersyukur) namun jika dilihat dari jumlah masih cukup tinggi.

Badan Pusat Statistik (BPS) merilis tingkat pengangguran terbuka (TPT) di Indonesia pada Februari 2018 mencapai 5,13%, atau turun dari periode sama tahun sebelumnya, 5,33%. Dari persentase tersebut, maka jumlah pengangguran di Indonesia saat ini mencapai 6,87 juta orang atau turun dari sebelumnya yang mencapai 7,01 juta orang.

https://ekbis.sindonews.com/read/1303706/33/bps-jumlah-pengangguran-di-indonesia-capai-687-juta-1525681109.

Kemudian pertanyaannya siapa-siapa saja yang berposisi yang tersebut dalam data-data tersebut.

Jawabannya adalah orang-orang yang ber-KTP Islam, (memang umat islam adalah penduduk terbanyak). Sehingga maju mundurnya bangsa ini sesungguhnya tergantung bagaimana umat islamnya, bersedia bangkit dari keterpurukannya apa tidak. Apakah tetap dalam posisi “mbegegeg makutho waton” merasa aman dan nyaman dengan kondisi dan keadaan saat ini, sehingga tidak mau tahu dengan keadaan dan kondisi, dan tidak mau bangkit kesadarannya, untuk berproses membuka hakekat kebenaran sejati, kebenaran AlHaq min robbika.

Hal tersebut di atas adalah sebagian dari keprihatinan yang seharusnya kita perjuangkan, karena telah bertransformasi menjadi kegelisahan yang menghantui, ketika perilaku masyarakat (islam) telah mengalami “kegagapan”.

Kegagapan itu, terlihat dari berbagai sikap masyarakat (islam) yang menghasilkan terjangkit konsumerisme, korupsi, pengangguran, suburnya olok-olokan, watak perilaku sesat-menyesatkan, kerusakan lingkungan hingga kebiasaan tidak berpikir serius. Hanya berpikir yang lahiriyah semata, tidak bertafakkur menyelami hakekat kehidupan dan perihal siapa sesungguhnya manusia sebagai diri ini. Q.S. Ruum 7-8:

7. Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai

8. Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang (hakekat, kesejatian) diri mereka? Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya (tampak lahir, kasad mata) melainkan (kedalamannya adanya) dengan AlHaq (di balik kehidupan yang tampak lahir, tampak fisik sesungguhnya ada hakekatnya) dan waktu ajal yang ditentukan. Dan sesungguhnya kebanyakan di antara manusia benar-benar ingkar akan pertemuan dengan Tuhannya.

    Kegagapan itu, terlihat dari adanya penyebab berbagai sikap masyarakat (islam) yang menjadi sebab telah meninggalkan ajaran-ajaran risalah kehakekatan. Sehingga memunculkan sikap perilaku ananiyah, jumud, ta’asub, taklid buta, kaku, beku, tertutup, iri, dengki, su’udzon, ujub, riya’ sum’ah dan takabur mengakibatkan menutup mata, menutup telinga maka tertutup pikiran rasional nalar dan masuk akalnya.

Bagi yang awas dan waspada sebagai individu yang berkeinginan bangkit adalah mewaspadai perihal sikap, watak dan perilaku kekufuran yang banyak tersebut dalam firman Allah SWT, yang salah satunya tersebut didalam AlQur’an Q.S. AlBaqarah, mulai ayat 6 – 13.

6. Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman.

7. Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat

Kewaspadaan sikap keselamatan dengan menggunakan akal pikiran sehat, rasional nalar dan masuk akal. Q.S. Yunus ayat 100.

Dan tidak ada seorangpun akan beriman kecuali dengan izin Allah (hujah dan dasarnya dapat dipertanggungjawabkan bahwa, benar-benar dari Allah melalui utusan-Nya); dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya.

DARI MANA KEBANGKITAN ITU DIMULAI..??

Bayi yang terlahir dari perut ibu untuk “mulai” menjalani kehidupan, dalam keadaan tidak mengetahui apa-apa, belum bisa apa-apa. belum bisa berjalan, belum bisa berbicara, belum bisa membaca dan menulis.

Setiap kelahiran bayi disertakan anugerah potensi. Anugerah Allah: potensi pendengaran, potensi penglihatan, potensi berpikir, potensi indera dan potensi organ, maka darinya untuk belajar sampai menjadi bisa, untuk perkembangan dirinya, untuk kemanfaatan bagi lingkungannya, untuk keimanannya, untuk keselamatannya. Tersebut di dalam Q.S 16. An-Nahl ayat 78.

Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.

Dia belajar: dari orang tuanya, dari lingkungannya. Tidak mengenal iri, dengki, gengsi, merasa diri lebih, merasa paling suci, merasa diri paling benar, tidak mengolok-ngolok dan menyesat-nyesatkan, tidak bersikap kaku, beku, jumud, ta’asub dan fanatik, namun terbuka dan lapang dada. Sehingga dia belajar dengan optimal sesuai dengan apa yang dia lihat, apa yang dia dengar, dan dari apa yang dia rasakan, maka berproseslah kebisaannya, berproseslah akal pikirannya sesuai dengan pembelajaran yang dia terima.

Jika watak sikap dan perilaku bersyukur menjadi kebiasaan seseorang sehari-hari maka pengangguran, manusia”funk”, pembiaran potensi kelahiran, pembiaran potensi memakmurkan bumi-Nya, akan terkikis dan sebaliknya akan tercipta kondisi ukril, kreatif, inovatif, sadar bahwa kehidupan berdunia ini adalah tempat berbuat amal perbuatan baik dan sadar berproses menjadi manusia seutuhnya. Maka seseorang berada di dalam kesadaran penghambaan yang sadar penciptaan.

Manakala watak sikap dan perilaku bersyukur menjadi orientasi dan pola dalam sistem kehidupan bermasyarakat terwujudlah keadaan dan situasi bebarengan, kebersamaan, kekeluargaan yang bernuansa komunikatif, informatif. Maka harmonis, makmur dan berkeadilan.

Surat 04. An-Nisa’ ayat 147

Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman? Dan Allah adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui.

Siksaan yang diterima bagi pelaku kufur, karena mengkufuri nikmat anugerah Allah SWT. Misalnya pengangguran, karena tidak diberdayakan akal pikiran, indera dan organ sesuai dengan kehendak Allah, sehingga tidak bisa berpikir nalar rasional untuk memiliki pikiran kreatif dan innovasi; karena tidak menjadi pendengar, penyimak dan pemerhati yang maju dan berkembang dan mandiri; karena tidak memiliki skill keterampilan. Q.S 23. AlMukminuun ayat 78. pelaku dan Perilaku syukur amatlah sedikit.

Dan Dialah yang telah menciptakan bagi kamu sekalian, pendengaran, penglihatan dan hati. Amat sedikitlah yang bersyukur.

Demikian pula dalam hal siksaan yang diterima setelah masa kehidupan dunia habis. Kufur atas anugerah adanya hati nurani yang berfungsi dengan adanya butiran iman. Berimannya dalam persaksian atas MengadaNya Dia Sang Empu Nama Allah dan bersaksi atas MengadaNya Nabi Muhammad sebagai NurMuhammad.

Q.S. 7. Ibrahim ayat 7. Seruan Tuhanmu untuk berlaku syukur.

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu berseru – menyerukan (adzan adalah seruan yang kuat); “ sungguh, dengan sebenar-benarnya sesungguhnya bersyukurlah (terbukalah, lapang dadalah) kamu, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengkufuri (menutup telinga, mata dan hati dari kebenaran Tuhan), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”

Wallahul Muwafiq Ila Aqwami Toriq, ihdinash-shiratal mustaqim bil haq.

Assalamu’alaikum Warahmatullahi wa barokatuhu.

POMOSDA, Tanjunganom 2 Maret 2019

Oleh: Kyai Tanjung.

DO’A DEMI NEGERI, MENJELANG PILIHAN PEMIMPIN PEMERINTAHAN INDONESIA.

Petunjuk IMAM JATAYU, Kepada Jamaah JATAYU, Jamaah Tauhid AnNubuwah;

Juga kepada mereka yang berhati nurani, kepada mereka yang berpikir rasional dan bernalar, kepada mereka yang masih menjaga kesantunan, beradab dan berakhlak; mereka yang terbuka dan lapang dada, yang tidak fanatik jumud, kaku, beku, tidak suka mengolok-ngolok, dan menyesat-nyesatkan “subyek” kelompok dan golongan lain; kepada mereka yang menerima keberagaman; mereka yang memiliki kepedulian, serta hormat bagi semua.

Syareat yang diberlakukan yang diwasiatkan oleh para Nabi dan Rasul-Nya adalah sungguh tegakkan ADDIIN dengan tidak berpecah belah (walaa tatafarroquu), namun hal demikian adalah berat bagi mereka yang disorientasi, bagi mereka yang bertujuan dunia untuk dunia, nafsu untuk nafsu, mereka yang menjalani kehidupan berdunianya tidak bermunjer kepada DIA ALGHAIBULLAH yang telah dikenali di dalam rasa hati nuraninya.

Dan untuk memposisi dalam sikap watak dan perilaku “ilaihi” yakni perilaku kembali yakni perilaku yang sadar bisanya meninggal dunia untuk selamat kembali kepada Tuhannya dengan “al-Huda”-Nya (kandungan Q.S Asy-Syura 13)

Bersyareat dengan berbuat kebaikan dan kesalehan serta kemaslahatan adalah kesadaran umat yang satu dari diri yang satu, hal ini merupakan keniscayaan, dalam koridor sebagai umat yang beragama yang sadar sebagai hamba Allah. Dengan tidak saling merusak kesatuan dan persatuan serta kebhinnekaan.

Keberagaman keyakinan, kepercayaan, suku bangsa dan adat istiadat namun tidak berbuat lalim jahil dan batil, menjaga kesatuan dan persatuan, saling membantu dan berkepedulian. Hal demikian adalah bagian dari perilaku syareat.

Mari kita semua berdo’a memunajat dengan sungguh-sungguh dan ikhlas; sadar bahwa kita adalah hamba Allah, memohon bermunajat kepada Sang Pembuat keputusan Sang Maha Adil, yang Maha Mengetahui dan Maha Kuasa atas segala sesuatunya.

Dan kita sadar sebagai hamba Allah yang hidup di bumi nusantara, sadar berada di dalam negara kesatuan persatuan yang berkonstitusi.

MARI KITA MEMOHON DAN KEMUDIAN KITA BERSERAH DIRI.

“A’udzubillahi minasysyaithonir rojim, bismillahirrahmannirrohim, alhamdulillahirrobbil ‘alamiina, hamdan yuwafi ini’amahu, wa yukafii maziidah Ya Robbana walakal hamdu, walakasy syukru. Asyhadu an laa ilaaha illallhu, wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullahi. Allahumma sholli ala Sayyidina Muhammad wa ‘ala ali sayyidina Muhammad.

WAL HAMDULILLAHIR ROBBIL ‘ALAMIINA, SUBHANAKALLAHUMMA……

Ya Allah, Ya Rabbi… Ya Tuhan kami….. ampunilah kami dan keluarga kami, dan penduduk Indonesia di bumi Nusantara ini, jaga dan wujudkan keharmonisan dalam kesatuan dan persatuan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Ya… Allah, Ya Rabbi… ya Tuhan kami… wujudkan negeri kami negeri yang baldatun toyyibatun warrobun ghofur.

Kami rakyat Indonesia akan menjalankan tatanan konstitusi “pesta” demokrasi rakyat bangsa Indonesia, memilih presiden dan wakil presiden dan DPR/D serta DPD, yakni memilih pemimpin-pemimpin.

Kami memilih pemimpin-pemimpin yang kami niatkan dengan tujuan untuk ibadah kepada Engkau, maka jika yang kami pilih adalah memang yang Engkau kehendaki untuk menjadi pemimpin-pemimpin bangsa kami, bangsa Indonesia maka, selalu ampunilah dan lindungi serta jaga pemimpin-pemimpin kami itu, dan semua pemimpin di bawahnya dan jajarannya, jadikan mereka pemimpin yang mengerti dan memahami serta menyadari sebagai hamba Engkau, lindungi mereka, kuatkan mereka dan jadikan mereka pemimpin-pemimpin yang amanah, pemimpin yang membawa keadaan dan situasi yang aman, yang damai, yang menyejukkan, yang membawa keadilan, bahkan menyelamatkan.

Pemimpin yang terbuka, yang lapang dada, yang berpikir dan bertindak pada “laku” keselamatan, pemimpin yang tentram dan menentramkan, damai dan mendamaikan; pemimpin santun, yang berakhlak dan beradab serta berkepedulian.

Pemimpin yang beriman, dan yang bertaqwa; pemimpin yang memberdayakan, yang membangun kemandirian, yang memakmurkan, yang menjadikan terwujudnya anugerah barokah dari langit dan anugerah dari bumi Engkau.

Pemimpin-pemimpin yang membawa keselamatan kehidupan yang lahir yakni kehidupan berdunia; dan keselamatan kehidupan yang batin yakni kehidupan akherat; dan jauhkan mereka dari perilaku yang lalim, jahil dan batil; serta jadikan rakyat Indonesia ikhlas dan lapang dada menerima yang terpilih sebagai pemimpin-pemimpinnya.

Dan jadikan rakyat bangsa ini, bangsa Indonesia dalam kehidupan yang damai, yang tentram, yang memerdekakan, saling berkepedulian, dan terwujud keguyub-rukunan dalam kesatuan dan persatuan berbangsa dan bernegara. Menjadi negara yang baldatun toyyibatun warrobun ghofur, negara yang tata titi tentrem karta raharja, negara yang mimpin dan yang dipimpin pandai mengadili diri sendiri…

Ya… Allah Ya Robbi, namun jika yang kami pilih kemudian terpilih menjadi pemimpin-pemimpin kami dan seluruh jajarannya ternyata berlaku lalim, jahil dan batil, jauh dari watak dan sifat perilaku amanah, suka merusak dan memecah belah kehidupan berbangsa dan bernegara, menghalangi ajaran Risalah Al-Haq Engkau; pemimpin-pemimpin yang dikendalikan kehausan nafsu-nafsu kerakusan, kekuasaan, kekuatan serta hanya untuk menyuburkan kepentingan nafsu ego pribadi, keluarga, kelompok dan golongan maka, gantilah dengan pemimpin-pemimpin yang dapat menghantarkan terwujudnya negeri baldatun toyyibatun warrobun ghofur, negara yang tata titi tentrem karta raharja, negara yang mimpin dan yang dipimpin pandai mengadili dirinya sendiri. Demikian pula kami sebagai siapapun, dan sebagai apapun.

Jangan Engkau biarkan mereka yang lalim, yang jahil dan yang batil, yang merusak kesatuan dan persatuan, mereka yang Engkau murkai dan mereka yang menyesatkan dirinya, yang merusak kebenaran risalah Al-Haq Engkau menjadi pemimpin-pemimpin kami.

Sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka memimpin kami, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu, dan mereka tidak akan melahirkan selain generasi-generasi yang berbuat kerusakan dan bermaksiat dan lagi sangat kafir.

Wujud tampakkan yang haq sebagai hak Engkau dan jadikan kami orang-orang yang dapat mengikuti kebenaran Al-Haq Engkau itu, dan singkirkan, tenggelamkan, lenyapkan segala perilaku yang batil, yang lalim, dan yang jahil dan jauhkan kami dari perilaku yang lalim, yang jahil serta yang batil itu.

“Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorangpun di antara orang-orang kafir, yakni mereka yang jumud, yang ta’asub, yang tertutup fanatik, yang kaku beku, merasa diri yang paling benar, merasa yang paling suci, merasa yang paling berhak, dan berbangga-bangga dalam kesombongan keturunan sehingga menutup kebenaran Al-Haq Engkau dan merasa cukup, juga bukan mereka yang berbangga-bangga dalam kesombongan kedudukan dan kekayaan menjadi pemimpin kami.Subhanakallahumma, ya.. Allah… ya Rabbi….

Q.S Ali Imron ayat 26.

“Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Pada kekuatan dan kekuasaan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.“

Q.S Az Zumar ayat 46.

“Wahai Allah, Pencipta langit dan bumi, ‘alimul-Ghaybi wasy-syahadati, Engkaulah Yang memutuskan antara hamba-hamba-Mu tentang apa yang selalu mereka memperselisihkan itu”

Q.S Al A’raf ayat 89.

Ya Tuhan kami, berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan hak (adil) dan Engkaulah Pemberi keputusan yang sebaik-baiknya.

Q.S Al Baqoroh ayat 201.

Q.S Al Fatihah ayat 6-7.

Wal hamdulillahi robbil’alamiina.

Dari yang sak dermo menjalani perintah dhawuh.

Kiai Tanjung.

(Muhammad Dzoharul Arifin AlFaqiri Abdullah Afandi)



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *