Q.S. Al-A’raf 58: Negara / tanah / bumi yang memiliki pusat konsentrasi.

وَٱلۡبَلَدُ ٱلطَّيِّبُ يَخۡرُجُ نَبَاتُهُۥ بِإِذۡنِ رَبِّهِۦۖ وَٱلَّذِي خَبُثَ لَا يَخۡرُجُ إِلَّا نَكِدٗاۚ كَذَٰلِكَ نُصَرِّفُ ٱلۡأٓيَٰتِ لِقَوۡمٖ يَشۡكُرُونَ ٥٨

Dan tanah/ negara yang baik (TOYYIB = mengetahui arah sasaran dan tujuan kehidupan). Interaksi saling kenal mengenal, elik-kinelekan, musyawarahan.

Sebagai diri mengetahui makna dan nilai kehidupan, jika pemimpin mengetahui apa yang musti diperjuangkan bagi rakyatnya. Semuanya untuk konsentrasi pada keselamatan (methode, cara tentram menentramkan, makmur memakmurkan, bahagia membahagiakan).

Tanaman-tanamannya tumbuh subur (berakhlak dan beradab serta berkepedulian operasional) dengan seizin Allah (masyarakatnya guyub rukun, harmonis, saling menyelaraskan, saling menyerasikan dan saling menyeimbangkan; saling mendo’akan, saling mendukung, saling bahu-membahu, bantu-membantu, saling tulung-tinulungan).

Penduduknya jauh dari watak dan perilaku serta sifat ego keakuan kepentingan nafsu. Generasi ke generasi penuh dengan kreatifitas dalam berinovasi. Kondisi dan situasinya aman, nyaman, tentram menentramkan, damai mendamaikan); dan tanah/negara yang tidak subur, tanaman-tanamannya hanya tumbuh merana (tanaman-tanamannya yakni penduduk dan masyarakatnya kering kreatifitas, hidup penuh dengan persaingan kompetisi, saling jegal, berebut pengaruh saling menjatuhkan, pamer kekuatan dan berebut kekuasaan. Hidup segan mati tak mau.

Orientasi hidupnya sebagai tujuan kehidupan adalah materialistik, sekuler dan hidonis serta orientasi kekuatan dan kekuasaan).

Demikianlah Kami mengulangi tanda-tanda (keberadaan Kami) bagi orang-orang yang bersyukur (yakni mereka yang dengan hati lapang dan terbuka, pikiran rasional dan bernalar, perbuatan penglihatan dan pendengaran serta pembicaraannya berhubungan masuk akal, perilaku penuh adab, akhlak dan kesantunan)

Toyyib = baik, mengenali titik konsentrasinya
Toyyibah: adalah kalimat LAAILAHA ILLALLAHU, yang kontekstuaslisasinya adalah lahir menjalani kehidupan berdunia dengan sungguh-sungguh dan sebaik-baiknya, namun, yang menjadi titik fokus konsentrasi adalah “tetapan” rasa hati yang berada didalam rasa hati nuraninya.

Sesuatu yang ada di dalam rasa hati ini yang mutlak mempengaruhi pola pikir dan berpikirnya, dan apa yang di dalam pikiran ini yang akan mempengaruhi pembicaraan dan tindakan seseorang, yang akhirnya terwujud pada keadaan dan situasi nyaman dan tidak nyaman yang dirasakan seseorang.

Jika yang di dalam rasa hati adalah “jodoh” maka segala potensi akan digerakkan yang memberikan citra untuk memperoleh jodoh. Kebohongan, ketidakjujuran, potensi wajah akan diolesi berbagai merek iklan pemoles mulai lipstik sampai pada jambul. Bagai mprit kaji. Karena itu yang diinginkan oleh Tuhan jodoh.

Demikian pula saat sebaliknya, saat ada gangguan dan ancaman (contoh, saat pejabat ketahuan terindikasi telah melakukan korupsi), maka otaknya akan berputar-putar untuk mencari berbagai alasan dan alibi serta berbagai potensi yang dimiliki, semua koneksi akan diberdayakan supaya terhidar dari tuduhan dan tuduhan.

Jika yang ada di dalam hati adalah seseorang sang penagih hutang, maka berbagai potensi untuk menghindar supaya tidak ketemu dengan sang penagih hutang.

Dan seharusnya, jika manusia mengetahui atas ancaman terhadap dirinya sendiri, jika sewaktu-waktu meninggal dunia tidak selamat tidak kembali kepada Tuhannya maka akan mencari kepastian jalan kembali dan menghindar dari berbagai penyebab kegagalan yang menghalangi keselamatan. Mencari kepastian jalan pulang “ilaihi”, “munibina ilaihi” supaya tidak di dalam prasangka dan kira-kira.

Tanah/ negara yang toyyib/ baik:

  • mengenali sehingga mampu mengidentifikasi serta punya fokus mana yang dinafikan dan mana yang menjadi tetapan.
  • tanaman-tanamannya (generasi ke generasi) tumbuh subur dengan seizin Allah;
  • dan tanah/negara yang tidak subur, tanaman-tanamannya (generasi-kegenerasi) hanya tumbuh merana (kering kreatifitas, rebutan kekuatan dan kekuasaan);

Demikianlah Kami mengulangi tanda-tanda keberadaan (Kami) bagi orang-orang yang bersyukur

Dalam kesadaran sebagai hamba yang tidak hanya bodoh dan jahil serta tempat dosa, Tanjung adalah hamba sebagai manusia tempat salah dan dosa, tidak bisa apa-apa dan tidak apa-apanya, bisanya hanya membuat salah dan dosa.

Kami hanya sekedar (jw. sak dermo) menyampaikan dan menghaturkan berita adanya kebenaran AlHaq min Robbika dengan hujah “ilmu” kenal-mengenal sehingga di dalam ingatan dzikr yang sebenar-benarnya sehingga bertauhid dalam persaksian senyatanya yang belum terungkap, Seandainya bukan karena dhawuh dari Guru dari aguru-guru, sungguh kami sadar se-sadar-sadarnya bahwa kami sama sekali tidak pantas, sama sekali tidak layak, sama sekali tidak patut.

Dari yang hanya sak dermo menghaturkan dhawuh Guru dari aguru-guru.

Sang pendosa,

Kyai Tanjung

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *