April 28, 2017

MODUL TANAMAN BUAH DALAM POT (TABULAMPOT)

  1. BUAH NAGA SUPER RED DAN KUNING

Varietas Buah Naga Super Red dan Kuning mempunyai kulit yang berbentuk sisik yang pada ujungnya menjuntai. Warna kulitnya ada yang merah dan ada yang kuning. Sementara daging buahnya berwarna putih dan juga berwarna merah. Pada daging buah tersebut tersebar biji yang berukuran relatif kecil berwarna hitam. Selain buahnya yang unik, sosok tanaman buah naga juga menarik. Batangnya menyerupai kaktus sehingga tanaman ini pun kerap ditanam di halaman dalam wadah pot sebagai tanaman hias.

  1. Buah Naga Super Red

    Buah naga super red (Hylocereus costaricesis) masih terbilang langka di pasaran jika dibandingkan dengan buah naga merah biasa (Hylocereus polyrhizus) dan buah naga putih (Hylocereus undatus). Dilihat dari sisi harga pun relatif tinggi mencapai Rp. 20.000 sampai dengan Rp. 35.000 per kg.

    Tanaman Buah Naga Super Red termasuk tanaman semak merambat yang dapat hidup epifit pada batang sulurnya.



    Gambar. Buah Naga Super Red

Buah Naga Super Red

Batang:

Berupa sulur yang berbentuk segitiga, tidak berkayu, berwarna hijau, menjurai tak beratur, dan berduri pendek.

Bunga:

Mekar malam hari, mahkota terluar berwarna hijau-krem, mahkota bagian dalam berwarna putih dengan sejumlah benang sari yang kuning, serta harum.

Buah:

Berwarna merah/ungu/magenta, berbentuk oval/bulat, bersisik.

Daun buah:

Berwarna merah kehitaman, berlendir, manis, dan segar.

Berat buah:

200-800 g/buah.

Biji:

Jumlah
banyak, warna hitam, panjang 2-3 mm, dan mengkilap.

  1. Buah Naga Kuning

    Buah naga kuning (Hylocereus meganlanthus) atau Selenicereus meganlanthus, seperti halnya tanaman buah naga lain, tergolong famili kaktus (Cactaceae) dan masih satu genus dengan buah naga super red yang merambat. Akan tetapi, batang tanaman buah naga kuning cenderung lebih kecil dibandingkan batang tanaman buah naga lainnya. Perakaran buah naga kulit kuning sedikit dan lemah, jumlah hanya 80% dari perakaran buah naga merah. Tekstur akar juga terbilang lembut dan tipis sehingga mudah putus. Dengan kondisi seperti ini, tanaman buah naga kuning perlu mendapatkan perlakuan khusus agar akar tumbuh lebih kuat.



    Gambar. Buah Naga Kuning

Buah Naga Kuning

Batang:

1/3-1/2 batang buah naga merah, warna hijau, menjurai tak beraturan, berduri 2-3 mm.

Bunga:

Aktif pada malam hari, berbentuk corong (32-38cm).

Buah :

Berwarna kuning,berbentuk oval,bersisik

Daging buah :

Berwarna putih, rasanya manis dan segar

Berat buah :

300 – 350g/buah

Biji :

Berwarna hitam dan banyak.

  1. Syarat Tumbuh

    Syarat tumbuh tanaman buah naga penting diperhatikan karena berguna untuk menentukan tempat yang tepat dan sesuai bagi tanaman buah naga. Untuk bisa tumbuh dengan optimal dan menghasilkan buah, buah naga sebaiknya ditanam di daerah dengan ketinggian antara 10-700 m dpl dan memiliki suhu udara berkisar 26-38°C dengan curah hujan berkisar 500-1500 mm/tahun. Curah hujan yang tinggi dapat menghambat keluar bunga, bahkan bunga yang muncul menjadi gugur. Selain suhu, kelembapan dan intensitas sinar matahari juga berpengaruh pada pembungaan dan pembuahan tanaman buah naga. Kelembapan yang dibutuhkan oleh tanaman ini berkisar 70-90%. Sementara intensitas sinar matahari yang dibutuhkan antara 70-80%.

    1. Perbanyakan

      Tanaman buah naga merambat. Pada batang sulurnya ditumbuhi akar udara. Perbanyakan buah naga bisa dilakukan melalui generatif dan vegetatif. Secara generatif, perbanyakan melalui biji. Sementara perbanyakan vegetatif dilakukan dengan setek batang.

      1. Perbanyakan Secara Generatif

        Perbanyakan dengan menggunakan biji umumnya akan menghasilkan bibit dalam jumlah banyak dengan pertumbuhan yang seragam. Namun, umumnya sifat tanaman yang dihasilkan dari biji akan mengalami perubahan dibandingkan sifat induknya. Perkecembahan benih sebaiknya dilakukan pada suhu 24-28oC. Benih akan berkecambah setelah 10-14 hari disemai. Selama dua minggu, benih tersebut disebarkan dalam polybag hingga siap ditanam di pot.

      2. Perbanyakan Secara Vegetatif (Setek)

        Perbanyakan tanaman dengan cara ini lebih sering dilakukan karena pertumbuhan bibit lebih cepat dibandingkan dengan proses penyemaian biji. Selain itu, kualitas buah yang dihasilkan oleh bibit juga akan sama seperti pada induknya. Secara singkat, perbanyakan tanaman buah naga melalui stek dilakukan dengan tahapan sebagai berikut.

        1. Pilih batang sulur yang cukup tua dari tanaman yang sudah pernah berbuah, minimal dua kali.
        2. Pangkas batang sulur dan potong-potong sepanjang 20-30 cm menggunakan gunting atau pisau steril. Untuk memperluas bidang permukaan, pemotongan batang sulur bagian bawah dibuat miring, sedangkan bagian atas dibuat mendatar.
        3. Kering anginkan stek batang biar tidak membusuk.
        4. Celupkan bagian pangkal batang ke dalam larutan ZPT??????
          sesuai dosis anjuran.
        5. Tanaman hasil stek batang sulur dengan membenamkan bagian ujung bagian bawah batang sulur yang dipotong miring ke dalam polibag berisi media tanam sedalam 10cm, media tanaman yang digunakan berupa campuran tanah, arang sekam, pupuk kandang dan dolomit dengan perbandingan 6 : 4 : 2 : 1.
        6. Siram bibit secara rutin, 2-3 kali sehari. Bibit siap ditanam di lahan setelah berumur 2-5 bulan (bibit telah tumbuh 20-100 cm).

  1. Memilih Bibit

    Kualitas tanaman buah naga dipengaruhi oleh faktor genetik dan perawatan. Faktor genetik disini bisa dilihat dari kualitas bibit yang akan ditanam. Oleh karenanya, saat memilih bibit, sebaiknya memperhatikan ciri-ciri bibit yang baik sebagai berikut:

  • Bibit berasal dari populasi pohon induk yang terbukti unggul. Sebaliknya, bibit yang diperoleh dari pembibitan yang sudah bersertifikat atau dari kebun yang terbukti produksinya unggul.
  • Jika bibit berasal dari stek batang, tinggi tanaman minimal 25 cm dengan panjang tunas 10 cm.
  • Bibit tanaman bebas dari serangan penyakit. Hal ini bisa dicirikan dari batangnya yang kokoh dengan pertumbuhan yang optimum, bisa dilihat dari munculnya tunas baru.
  • Untuk membedakan bibit buah Naga Super Red bisa dilihat dari batangnya. Batang buah naga kuning relatif lebih kecil dibandingkan dengan bibit buah naga super red. Selain itu, akar udaranya lebih lembut.

  1. Penanaman di Pot

    Tanaman buah naga yang ditanam dalam pot dapat digunakan sebagai tanam pembatas yang diletakkan dekat pagar rumah dan berselang seling antara buah naga kuning dengan buah naga super red. Dengan demikian, saat berbuah warnanya tampak semarak dan menambah keasrian taman.

    Sebelum dilakukan penanaman dalam pot, hal yang perlu diperhatikan adalah pemilihan pot, pemilihan pencampuran media tanam, dan tiang panjatan. Agar tanaman buah naga dalam pot optimal, tahap penanamanya perlu dilakukan dengan benar seperti berikut.

    1. Siapkan pot dengan diameter minimal 50 cm dan masukkan tiang panjatan pada pot.
    2. Tambahkan batu kerikil atau pecahan genting di bagian dasar pot.
    3. Masukkan media tanam, berupa campuran tanah, arang sekam, pupuk organik
      dengan perbandingan 3 : 2 : 1???.

    4. Pilih bibit buah naga yang sehat dan batang sulurnya yang telah mencapai tinggi minimal 30 cm.
    5. Buka polybag dengan cara mengguntingnya dari sisi atas ke bawah. Usahakan, media tanam tetap bersama bibit.
    6. Tanam bibit ke dalam pot.
    7. Agar tidak goyah, ikatkan batang tanaman pada tiang panjatan.
    8. Tambahkan media tanam hingga hampir menyentuh bibir pot.
    9. Siram dengan air bersih agar perakaran tanaman tetap lembap.
    10. Letakkan tanaman di tempat yang ternaungi hingga muncul tunas baru. Setelah itu, tanaman siap dipindahkan ke area terbuka yang terkena sinar matahari langsung.

  1. Pemeliharaan

    Untuk mendapatkan pertumbuhan tanaman yang optimal dan rajin berbuah, tanaman perlu dirawat dengan intensif. Perawatan tanaman terkait dengan pengikatan, penyiraman, pemupukan, pemangkasan, serta pembesaran buah.

    1. Pengikatan

      Oleh karena batang buah naga berbentuk sulur, sebaiknya batang tersebut diikat pada tiang panjatan. Adapun tata laksananya sebagai berikut.

      1. Setiap pertambahan sekitar 30 cm, dilakukan pengikatan cabang.
      2. Agar batang atau cabang tidak terjepit atau patah, sebaiknya ikatan tidak terlalu kencang.

    2. Penyiraman

      Tanaman buah naga yang ditanam di pekarangan, baik dalam wadah pot atau langsung di lahan membutuhkan kelembapan media tanam untuk menghasilkan pertumbuhan yang optimal. Oleh karenanya, tanaman harus disiram secara rutin. Adapun penyiramannya dilakukan sebagai berikut.

  • Penyiraman tanaman buah naga di lahan dilakukan bila bibit atau tanaman tidak mendapat air hujan.
  • Pada penanaman di pot, penyiraman dapat dilakukan dua kali sehari.

  1. Pemupukan

    Pada bulan pertama dilakukan tiap 2 minggu sekali dengan perbandingan pupuk organik cair Manutta Gold Bawah 1 tutup dan air 5 liter setelah itu cukup 1 bulan sekali dengan dosis yang sama.

  2. Pemangkasan

    Pemangkasan bertujuan untuk mengoptimalkan pertumbuhan tanaman dan merangsang pembuahan. Dengan pemangkasan, cabang tidak tumbuh terus menerus dan bertunas sehingga nutrisi yang diperoleh tanaman akan digunakan untuk pembentukan buah. Sebaiknya, pemangkasan dilakukan pada beberapa cabang sebagai berikut.

  • Cabang sekunder yang tumbuh dibawah tajuk.
  • Cabang yang tidak produktif (siwing).
  • Cabang yang telah berumur lebih dari dua tahun.
  • Salur-salur yang terhalang untuk mendapatkan sinar matahari

  1. Pembesaran Buah

    Alangkah senangnya jika tanaman buah eksklusif yang kita tanaman akhirnya sarat dengan buah yang bergelantungan. Namun, untuk mendapat kondisi seperti itu, perawatan saja tidak cukup. Cara lain untuk mendongkrak pembuahan adalah dengan pemberian pupuk organik cair Manutta Atas. Dosis yang digunakan adalah yaitu dengan melarutkan ½ tutup dalam 2 liter air. Penyemprotan dilakukan sebanyak dua kali ke pentil buah yang muncul setelah 2-3 hari kuntum bunga yang layu. Setelah 35 hari, buah tampak membesar dengan warna kulit masih kehijauan. Pada saat itu, penyemprotan perlu diulangi. Dosisnya sama dengan penyemprotan awal ke setiap buah. Harapannya, ukuran buah bisa mencapai 300-330 g.

  1. Pengendalian Hama dan Penyakit

    Agar tanaman buah baik maka perlu ada perhatian khusus terhadap gejala gangguan hama dan penyakit. Hama dan penyakit yang perlu diwaspadai antara lain tungau, kutu putih, busuk pangkal batang, dan fusarium.

    1. Tungau (Teranychus sp.)

Penyebab

:

Tungau

Gejala

:

Kulit cabang pada tanaman yang terserang akan berubah warna menjadi coklat.

Pengendalian

:

Semprotkan pestisida organik
??? berkonsentrasi 1-2g/liter air setiap tujuh hari sebanyak 2-3 kali pada bagian cabang atau batang.

  1. Kutu putih (Mealybug)

Penyebab

:

Kutu putih

Gejala

:

Permukaan kulit bercabang berselaput kehitaman atau tampak kotor.

Pengendalian

:

Semprotkan pestisida organik berkonsentrasi 1-2cc/liter air setiap tujuh hari sekali pada sela-sela tanaman yang ternaungi cabang lainnya.

  1. Busuk batang

Penyebab

:

Bakteri erwina sp.

Gejala

:

Tanaman tampak layu, kusam, dan terdapat lendir putih kekuningan pada batang yang berwarna cokelat atau batang pokok.

Pengendalian

:

Gunakan bibit beras penyakit busuk batang. Jika sudah terlanjur terserang, tanaman yang sakit dicabut, lalu lubang bekas tanaman tersebut diberi basmi dengan dosis 0,5-1g dalam bentuk serbuk seminggu kemudian, lubang tersebut ditanami bibit baru.

  1. Fusarium

Penyebab

:

Fusarium oxysporium Schl.

Gejala

:

Cabang tanaman berkerut, layu , dan berwarna busuk coklat.

Pengendalian

:

Semprot dengan pestisida organik berkonsentrasi 2 g/ liter air, tujuh hari sekali pada bagian cabang atau batang.

  1. Panen

    Umumnya buah naga siap dipanen pada 40-55 hari sejak kuntum bunga muncul. Namun, lingkungan tempat penanaman juga berpengaruh terhadap umur panen buah naga. Buah naga super red misalnya, jika ditanam di dataran rendah maka masa panennya adalah 30 hari setelah kuntum bunga layu. Sementara itu, jika ditanam di dataran tinggi maka masa panennya lebih panjang, yaitu 38 hari setelah kuntum bunga layu. Oleh karena itu, sebaiknya perlu dilakukan pelabelan tanggal di setiap kuntum bunga untuk memudahkan perkiraan waktu panen. Selain itu, buah naga yang siap dipanen biasanya memiliki tanda tanda berikut:

    1. Kulit buah sudah berwarna merah tua atau merah mengilap (buah naga super red) atau berwarna kuning cerah merata (buah naga kuning).
    2. Mahkota buah sudah mengecil dan jumbai buah sudah berubah sudah berubah warna menjadi kemerahan (pada buah naga super red).
    3. Kedua pangkal buah mulai berkeriput.
    4. Sulur pada tangkai bunga telah retak.

    Pemanenan buah naga sebaiknya dilakukan pada pagi hari pukul 06.00 – 09.00 atau sore hari pukul 15.00 – 17.00 pada saat cuaca cerah. Untuk buah naga yang dipasarkan jarak jauh, sebaiknya buah yang dipetik tidak terlalu matang. Agar kualitas buah tetap terjaga, perlu dilakukan cara panen yang benar. Pemanenan hendaknya memperhatikan hal hal berikut:

    1. Gunakan sarung tangan agar kuku tidak melukai kulit buah.
    2. Gunakan gunting pangkas ranting yang salah satu sisinya kelihatan tajam.
    3. Potong buah pada tangkainya tanpa merusak sulur tempat buah muncul.
    4. Lakukan pemanenan buah dengan hati hati dan jangan sampai buah terjatuh.

    Pembuahan pada tanaman buah naga pada daerah sekitar khatulistiwa (diinduksi dengan lampu) tidak mengenal musim sehingga panen dapat dilakukan setiap bulan. Dalam satu tahun, panen buah naga dapat dilakukan 12-16 kali. Jumlah buah yang dipanen tergantung cabang produksi yang ditumbuhkan.

  2. Pascapanen

    Setelah dipanen, buah naga segera masukkan ke kotak atau keranjang panen yang dasarnya telah dilapisi daun kering atau kertas koran. Letakkan buah pada posisi berdiri dengan tangkai buah menghadap ke bawah. Di tempat pengumpulan, buah naga disortasi dengan cara berikut:

    1. Buah dipisahkan antara rusak, busuk, dan cacat dengan yang utuh.
    2. Buah yang utuh dipisahkan berdasarkan ukuran menggunakan alat sortir berupa gelang yang terbuat dari plastik atau karton tebal dengan standar sebagai berikut.
  • Kelas Super dengan botol diatas 700g
  • Kelas A dengan bobot buah antara > 500 – 700g
  • Kelas B dengan bobot buah antara 350 – 500g
  • Kelas C dengan bobot kurang dari 350g
  1. Buah yang sudah disortir dimasukkan dalam kardus yang sudah disiapkan.

    Terdapat beberapa macam ukuran kardus yang dapat digunakan, misalnya kardus berukuran 60cm x 30cmx 40cm yang dapat menampung 16 buah naga kelas A atau kardus berukuran 65cmx 35cm x 15cm yang dapat 18 buah naga kelas B. Didalam kardus tersebut diberi sekat-sekat yang berfungsi mencegah terjadinya benturan antara buah selama pengiriman. Peletakan buah dalam karduspun harus benar, yaitu tangkai buah berada dibawah dengan mahkota buah menghadap keatas. Selain itu, pengaturan buah dalam karton dapat dilakukan tanpa sekat. Caranya buah ditidurkan searah sehingga tangkai buah tidak mengenai kulit buah.

    Buah yang sudah ada dalam kemasan dapat disimpan selama dua minggu pada suhu ruang, yang memiliki sirkulasi udara baik, dan ridak terkena sinar matahari langsung. Jika akan dikirim untuk pasar ekspor maka buah naga yang dikemas dalam kardus harus ditransportasikan dalam kontainer perbandingan sistem kontrol atmosfir karena buah naga dapat dipertahankan kesegaran hingga 25 hari jika disimpan pada ruang penyimpanan yang memiliki konsentrasi oksigen < 8% kelembaban udara > 80%, dan suhu sekitar 13-15oC.

II. BELIMBING BANGKOK

Belimbing Bangkok merupakan salah satu jenis belimbing manis yang sangat popular di masyarakat. Buah belimbing bangkok lonjong dengan panjang 15-20 cm dan diameter sekitar 10 cm. Buah matang berwarna kuning agak kemerahan dengan bagian pinggir tetap berwarna hijau. Buah ini sangat nikmat bila dikonsumsi dalam keadaan segar karena rasanya manis dan kandungan airnya yang banyak. Namun demikian, belimbing Bangkok juga tidak kalah lezat apabila disajikan dalam bentuk olahan, seperti juice atau campuran salad.

Kelebihan lain dari tanaman ini adalah mudahnya perawatan dan pembibitan. Tanaman ini sangat cocok ditanam di pekarangan karena jumlah buah yang dihasilkannya lebat.



Gambar . Belimbing Bangkok

Belimbing Bangkok

Tinggi     : 5 – 8 m.

Daun         : majemuk.

Batang     : berkayu, bercabang banyak.

Bunga     : lonjong , 15 – 20 cm, kuning kemerahan.

Daging buah     : manis, pipih, berair.

Berat buah     : 165g/ buah.

Biji         : lonjong, pipih, kecoklatan.

  1. Syarat Tumbuh

    Tanaman belimbing bangkok paling baik ditanam di dataran rendah sampai ketinggian 500 m dpl, dengan kemiringan lahan 5-20°. Suhu lingkunganya berkisar 20 – 30oC. Curah hujan yang dibutuhkan berkisar 2.000 – 2.500 mm/tahun dengan komposisi bulan basah dan kering adalah 5-7 bulan basah dan 4-6 bulan kering. Jika tanaman ini ditanam di daerah yang curah hujannya tinggi, sering kali menyebab gugurnya bunga dan buah.

    Belimbing Bangkok menyukai tempat terbuka dan mendapat sinar matahari secara memadai, tetapi masih toleran terhadap naungan dengan intensitas penyinaran 45-50%. Untuk pertumbuhan optimal, dibutuhkan keadaan angin yang tidak terlalu kencang.

    Tanah yang sesuai untuk mendukung pertumbuhan tanaman belimbing Bangkok adalah tanah yang subur, gembur, banyak mengandung bahan organik, serta memilih aerasi dan drainase yang baik, derajat kesamaan tanah (pH) antara 5,5 – 6,0.

  2. Perbanyakan

    Perbanyakan tanaman belimbing Bangkok bisa dilakukan dengan cara generatif dan vegetatif. Namun, perabanyakan generatif umumnya dilakukan untuk menghasilkan batang bawah yang selanjutnya digunakan dalam perbanyakan vegetatif. Pada 6-12 bulan setelah semai, batang bibit sudah berdiameter sebesar pensil dan siap untuk diokulasi.

    Perbanyakan vegetatif yang sering dilakukan adalah dengan okulasi. Untuk okulasi, dibutuhkan batang atas dan batang bawah. Batang bawah sebaiknya didapat dari bibit yang berasal dari penyemaian biji sehingga batangnya kokoh dan perakarannya panjang dan kuat. Sementara batang atas diperoleh dari pohon induk yang sudah menunjukkan keunggulan, berbatang kuat, dan sudah berbuah dua musim dengan mutu yang stabil.

    Adapun okulasi dilakukan dengan tahapan sebagai berikut:

    1. Pilih batang bawah yang telah memiliki tinggi sekitar 30cm. Untuk menempelkan mata tunas, buat irisan batang bawah berbentuk huruf T pada bagian kulit batang dengan tinggi dari permukan tanah sekitar 20cm.
    2. Iris tunas dari batang atau entres secara horisontal sepanjang 1,5 cm diatas dan bawah mata tunas.
    3. Sisipkan mata tunas di bagian bawah kulit batang bawah yang sudah diiris.
    4. Ikat tempelan mata tunas dengan menggunakan plastik berbahan Polivinil Klorida (plastik es mambo) pada bagian bawah dan atas.
    5. Setelah dua minggu, buka ikatan dan cek kondisi mata tunas. Jika berwarna hijau segar, berarti okulasi berhasil. Namun, jika warna mata tunas hijau kemerahan atau hitam, okulasi gagal.
    6. Apabila okulasi berhasil, batang bawah langsung bisa dipotong. Pemotongan dilakukan 1 cm diatas mata tempel dengan cara miring agar air hujan tidak menggenang di mata tempel.
    7. Pada umur 6 bulan – 1 tahun setelah okulasi, bibit siap dipindahkan ke pot besar atau ke kebun.

  1. Memilih Bibit

    Tanaman belimbing Bangkok yang bagus bermula dari pemilihan bibit yang bagus pula. Perlu kehati-hatian saat memilih bibit belimbing Bangkok di tempat penjualan bibit. Seleksi dalam memilih bibit memang penting agar kelak tanaman dapat menghasilkan buah sesuai dengan harapan kita. Berikut dalam memilih bibit belimbing Bangkok.

  • Sebaiknya beli bibit dari penangkar yang sudah terdaftar di Badan Pengawasan dan Sertifikasi Benih (BPSB).
  • Pilih bibit dari hasil okulasi yang berlabel dari penangkar terpercaya.
  • Pilih bibit yang sehat dan tumbuh baik. Bibit okulasi yang sehat memiliki ciri batang mulus dan bebas dari bercak-bercak akibat serangan cendawan atau bakteri, hanya terdapat satu atau sedikit lengkungan bekas tempelan mata.
  • Pilih bibit dengan tajuk yang rimbun, subur, dan tampak segar. Hindari memilih bibit dengan kondisi daun cacat, berlubang dan tampak bercak-bercak akibat serangan cendawan atau bakteri, hanya terdapat satu atau sedikit lengkungan bekas tempelan mata.
  • Bibit telah berumur enam bulan atau lebih, tinggi bibit antara 60-75 cm dan diameter batang 1-1,5 cm, bentuk batang lurus dan tidak bercabang, serta warna daun hijau mengkilap dan telah membentuk 3-5 flush.

  1. Penanaman di Pot

    Sebaiknya, penanaman bibit belimbing Bangkok dilakukan pada sore hari, saat matahari sudah tidak bersinar terik. Tahap penanaman blimbing dalam pot sebagai berikut:

    1. Siapkan bibit sehat dan pot berupa potongan drums bekas yang bagian dasarnya sudah dilubangi.
    2. Masukkan pecahan batu bata dibagian dasar pot lalu, masukkan media tanam berupa campuran tanah, arang sekam, pupuk kandang, dengan perbandingan 3:2:1.
    3. Tanam bibit ke dalam pot dengan melepaskan polibag terlebih dahulu usahakan, media tanam terbawa bersama akar tanaman.
    4. Siram tanah dengan air bersih secukupnya.
    5. Tempatkan tanaman lokasi terbuka atau sedikit sinar matahari, seperti di depan dan samping teras.

    1. Pemeliharaan

      Pertumbuhan tanaman yang optimal diperoleh melalui pemeliharaan yang intensif. Beberapa hal yang perlu dilakukan dalam pemeliharaan tanaman buah adalah penyiraman, pemupukan, pemangkasan, dan pembungkusan buah.

      1. Penyiraman

        Tanaman belimbing membutuhkan air sepanjang hidupnya. Walaupun selalu membutuhkan air, tanaman belimbing tidak menyukai air tergenang. Oleh karena itu, khusus tanaman belimbing dalam pot, diberi lubang atau saluran pengeluaran air dasar pot agar tidak menggenang. Pada penanaman dalam pot sebaiknya dilakukan penyiraman secara rutin dan dihentikan ketika sebagian besar buah hampir matang.

      2. Pemupukan

        Pemupukan pupuk pada tanaman belimbing Bangkok dibedakan antara tanaman dalam pot.

  • Umur 1 bulan : pupuk organik cair Manutta Gold Bawah sebanyak 2 tutup dicampur dengan air 5 liter per pohon. Pupuk tersebut dikocorkan dalam media tanam.
  • Setiap 1 bulan sekali : pupuk organik cair Manutta Gold Bawah 2 tutup dicampur 5 liter air. Siramkan larutan ini pada tanaman belimbing dalam pot.
  • Tanaman belimbing yang akan dan sudah mulai berbunga dan berbuah : beri pupuk organik cair Manutta Gold Atas ½ tutup dicampur dengan air 2 liter kemudian disemprotkan pada bagian bawah daun secara merata tiap 1 minggu sekali.

  1. Pemangkasan

    Pemangkasan dilakukan untuk membentuk tajuk tanaman agar tidak saling beradu dengan tajuk tanaman lain. Hal ini juga mendorong produksi buah dan memudahkan pemanen dari tanaman yang tidak terlalu tinggi. Ada tiga macam pemangkasan, sebagai berikut.

    1. Pemangkasan bentuk

      Pemangkasan ini dilakukan pada tanaman yang belum produktif dengan umur berkisar 2-3 tahun. Tujuan membentuk percabangan secara teratur dan mencegah pohon tumbuh terlalu tinggi sehingga pembungkusan dan pemetikan buah mudah dilakukan. Pemangkasan dilakukan pada ujung batang pertama dengan cara dipotong dengan ketinggian 1,5-2 m dari permukaan tanah. Biarkan 3-4 cabang primer yang subur dan kuat tumbuh.

    2. Pemangkasan cabang dan ranting

      Pemangkasan tunas yang tumbuh di pangkal dan tengah cabang serta ujung ranting dilaksanakan setiap 1-2 bulan sekali. Tujuannya agar sinar matahari dapat masuk sehingga mengurangi kelembapan.

    3. Pemangkasan untuk peremajaan

      Pemangkasan ini dilakukan pada pohon berumur lebih dari 10 tahun yang produksinya mulai menurun. Batang utama dipotong miring pada ketinggian 60-70 cm dari permukaan tanah. Ada kalanya, saat peremajaan ini dilakukan okulasi dengan varietas yang lebih baik dari pohon induk.

  2. Pembungkusan buah

    Pembungkusan buah bertujuan untuk melindungi buah dari serangan lalat buah dan serangga pemakan buah lainnya sehingga kualitas buah dapat dipertahankan. Pembungkusan buah dilakukan pada saat ukuran buah sebesar jempol jari tangan. Dalam satu rangkaian, dipilih satu buah yang bentuk dan pertumbuhannya terbaik. Bahan pembungkus dapat berupa dua lapis karbon bekas yang ujung dan pangkalnya diikat. Bahan pembungkus lain yang bisa digunakan adalah kantong plastik (PE) yang bagian bawahnya digunting untuk mencegah kelembapan tinggi. Bahan pembungkus plastik dilapisi dengan kertas koran karena dapat menyerap uap air hasil respirasi buah.

  1. Pengendalian Hama dan Penyakit

    Ada beberapa hama dan penyakit yang kerap menyerang belimbing Bangkok. Oleh karenanya, kehadiran hama dan penyakit tersebut harus diwaspadai. Hama dan penyakit itu antara lain:

    1. Lalat buah (bactrocera sp)

Penyebab

:

Lalat buah

Gejala

:

Lalat betina meletakkan telur pada kulit buah, kemudian menetas menjadi larva. Larva inilah kemudian merusak daging buah belimbing hingga menyebabkan buah busuk dan berguguran.

Pengendalian

:

Pembungkusan buah pada stadium pentil (umur satu bulan dari bunga mekar), mengumpulkan dan membakar sisa-sisa tanaman yang berserakan di bawah pohon, memasang sex
pheromone, seperti methyl eugenol dalam botol aqua bekas.

  1. Bercak daun

Penyebab

:

Cercospora averrhoae Fres.

Gejala

:

Bercak bercak klorotik berbentuk bulat dan kecil kecil pada anak daun. Daun yang terserang menjadi kuning dan rontok, bahkan sampai gundul pada tanaman muda atau stadium bibit.

Pengendalian

:

Dengan cara memotong (eradikasi/amputasi) bagian tanaman yang sakit.

  1. Penyakit kapang jelaga

Penyebab

:

Kutu kutu putih yang menghasilkan madu.

Gejala

:

Permukaan daun tertutup oleh warna hitam (saprofit) sehingga dapat mengganggu proses fotosintetis.

Pengendalian

:

Disemprot dengan pestisida organik ???.

  1. Panen

    Belimbing Bangkok mampu berbuah sepanjang tahun, tetapi panen besar biasanya hanya dilakukan 3-4 kali dalam setahun. Belimbing tergolong buah non-klimakterik sehingga kualitas buah sangat ditentukan pada kondisi saat dipanen. Pemanen buah dapat diperkirakan dari periode muncul bunga hingga buah siap panen, yaitu berkisar 70-75 hari. Penampilan buah belimbing dapat dibedakan menjadi 7 indeks panen sesuai tujuan penanamannya.

    Indeks Panen Buah Belimbing

Indeks 1

Hijau tua. (buah belum matang) kulit buah berwarna hijau. Tua dan tidak mengkilap. – belum siap panen

Indeks 2

Hijau sedikit kuning. Kulit buah berwarna hijau, sedikit kuning dan mengkilap.

Untuk :

– salad dan hiasan dan – ekspor melalui laut.

Indeks 3

Hijau kekuningan. Kulit berwarna lebih banyak hijau dibanding warna kuningnya dan mengilap.

Untuk :

– salad dan hiasan, serta – ekspor melalui udara dan laut

Indeks 4

Kuning kehijauan. Kulit buah berwarna kuning dengan sedikit hijau.

Untuk : – salad, kue, hiasan, jus, dan dimakan segar, serta – ekspor melalui udara

Indeks 5

Kuning kehijauan. Kulit buah berwarna kuning dengan sedikit hijau dibagian rusuk/gilir.

Untuk:

-salad, kue, jus dimakan segar dan hiasan serta

-ekspor memlalui udara

Indeks 6

Kuning. Kulit buah seluruhnya berwarna kuning. Untuk :

– salad, kue, jus dimakan segar dan hiasan serta

– tidak disarankan untuk ekspor.

Indeks 7

Oranye kekuningan (buah terlalu masak).

Kulit buah berwarna lebih banyak oranye dibanding kuningnya.

Untuk :

– masih dapat dimakan tetapi rasanya sudah tidak enak lagi, dan

– tidak disarankan untuk ekspor.

Diperkirakan dari periode muncul bunga hingga buah siap panen, yaitu berkisar 70-75 hari. Penampilan buah belimbing dapat dibedakan menjadi 7 indeks panen sesuai dengan tujuan penanamannya.

Pemanenan sebaiknya dilakukan pagi hari antara pukul 06.00-09.00 atau sore hari antara pukul 15.00-17.00. Untuk menghindari panas lapang yang berlebih untuk mendapatkan mutu buah yang baik sesuai pemanenan dilakukan dengan cara berikut.

  1. Tetapkan indeks panen sesuai tujuan penggunaan buah.
  2. Siapkan alat yang dibutuhkan (gunting, kantong, keranjang, dan tangga panen)
  3. Letakkan keranjang pengumpul di tempat yang teduh.
  4. Buka ikatan pembungkus buah bagian bawah.
  5. Lihat tingkat kemasakan buah
  6. Bila telah sesuai dengan tingkat kemasakan yang diinginkan, potong tangkai buah dengan hati-hati
  7. Masukkan buah yang telah dipetik ke dalam kantong kain yang dibawa dengan hati-hati.
  8. Bila kantong kain sudah penuh atau saat pindah ke tanaman lain, pindahkan buah dari kantong kain ke keranjang pengumpul.

  1. Pascapanen

    Hasil panen belimbing Bangkok kemudian dibawa ke tempat pengumpulan yang ternaungi, berlantai bersih atau diberi alas, sirkulasi udara baik, serta suhu udara sekitar tidak terlalu panas.

    1. Letakkan tumpukan keranjang buah dari kebun secara hati-hati.
    2. Keluarkan satu per satu buah dari keranjang sambil melepas kantong pembungkus yang masih melekat pada buah.
    3. Letakkan buah yang sudah terlepas dari pembungkusnya ke keranjang bambu lain yang sudah beralas secara perlahan-lahan.
    4. Ambil satu per satu buah dari keranjang dan dibersihkan bagian buah yang kotor
    5. Pisahkan buah yang sudah dibersihkan ke tempat yang terpisah antara buah-buah baik dengan yang tidak baik berdasarkan:
  • Ada tidaknya cacat buah;
  • Normal tidaknya bentuk dan ukuran buah;
  • Ada tidaknya serangan hama atau penyakit pada buah.
  1. Pisahkan secara langsung buah satu persatu yang sudah disortasi ke dalam kelompok atau kelas mutu.
  2. Bungkus buah dengan sterofoam, lalu letakkan ke dalam keranjang atau kotak pengepakan secara belapis atau berbaris.
  1. penyususunan buah pada keranjang dilakukan secara berdiri yaitu pangkal buah di letakkan di bawah hingga buah tertata rapi. Apabila buah ditumpuk secara berlapis, maksimal 3 lapis dengan jumlah buah berkisar 18-24 buah setiap kemasan.

    Buah yang sudah ada dalam kemasan, sebaiknya disimpan pada tempat yang memiliki sirkulasi udara baik dan tidak terkena sinar matahari langsung. Untuk menyimpan lebih lama, dapat dilakukan pda suhu 9-10°C dengan kelembapan 85-90%. Pada kondisi tersebut, Buah belimbing dapat bertahan hingga 3-4 minggu. Hal ini cenderung lebih lama dibandingkan penyimpanan pada kondisi yang tidak optimum yaitu 3-4 hari.

III. JAMBU BIJI MUTIARA DAN JAMBU BIJI SUKUN HITAM


Yang menarik dari jambu biji mutiara adalah jumlah bijinya yang sedikit, bahkan terkadang tanpa biji. Sementara jambu biji sukun merah memiliki daging buah yang tebal. Selain sebagai buah meja, jambu biji (Psidium guajava) kerap dikonsumsi dalam bentuk jus. Kandungan vitamin C-nya yang tinggi membuat buah ini digemari banyak konsumen. Jus jambu biji, buahnya berwarna merah, juga banyak dijual di Supermarket sebagai jus dalam kemasan. Selain buahnya, beberapa orang kerap memanfaatkan daunnya untuk obat diare.

  1. Jambu Biji Mutiara

    Penampilan jambu biji mutiara mirip dengan buah pear. Bentuknya bulat dengan kulit berwarna hijau ketika muda dan berangsur-angsur mmenjadi putih kekuningan ketika matang. Jika dibelah, daging buahnya berwarna putih bersih dengan sebaran biji di bagian tengah. Rasa dagingnya renyah, manis, dan segar sehingga membuat siapapun tertarik untuk menikmatinya. Jambu biji mutiara cocok ditanam di dalam pot, karena keindahan bentuk buahnya yang bergelantungan di antara tajuk tanaman.




    Gambar. Jambu Biji Mutiara

    Jambu Biji Mutiara

    Asal         : Karawang

    Tinggi         : 5-10 m.

    Daun         : hijau tua, bulat panjang,ujung datar.

    Batang         : coklat keabuan, halus, kuat.

    Percabangan     : menyebar bebas, bersiku empat, hijau kekuningan atau merah tua.

    Bunga         : berkelompok >3 buah.

    Buah         : besar, kulit kehijauan mengkilap.

    Daging buah     : tebal, manis, dan sedikit asam atau segar.

    Berat buah     : 500-600 g/buah.

    Biji             : jarang.

  1. Jambu Biji Sukun Merah

    Tanaman jambu biji sukun merah memiliki daging buah yang cukup lezat. Di dalam daging buahnya nyaris tidak ditemukan biji sehingga mempermudah konsumen ketika menatapnya. Jambu biji ini merupakan mutasi tunas jambu biji getas merah yang ditemukan di Majalangka. Oleh karena itu, buah jambu biji sukun merah memiliki kekurangan dalam hal daya simpan yang pendek karena kulitnya tipis. Akan tetapi, terdapat kelebihan berupa daging buah yang lebih tebal sehingga buah jambu biji sukun merah ini sangat pas untuk dibuat jus.




    Gambar. Jambu Biji Sukun Merah

Jambu Biji sukun merah

Asal         : Majalengka, Jawa Brat

Tinggi         : 0,5-1m.

Daun         : hijau,bulat panjang,ujung lancip.

Batang     : coklat keabuan, halus, kuat.

Percabangan     : menyebar bebas, bersiku empat, hijau kekuningan atau merah tua.

Bunga         : berkelompok >3 buah.

Buah         : besar,kulit hijau.

Daging buah     : manis, harum, warna merah cerah, daging renyah.

Berat buah     : 250-300 g/buah.

Biji         : jarang atau tanpa biji.

  1. Syarat tumbuh

    Jambu biji dapat tumbuh dimana saja, tetapi tetap membutuhkan lingkungan yang optimal agar dapat menghasilkan buah yang memuaskan. Tanaman ini dapat tumbuh di daerah tropis, pada ketinggian 5-1.200 m dpl, daerah pegunungan dengan kemiringan 0-30°. Suhu pertumbuhan optimal adalah 20-30°C. Intensitas curah hujan berkisar 2.000-3.000 mm/tahun dan merata sepanjang tahun. Kelembaban udara sekeliling yang dibutuhan cenderung rendah karena kebanyakan tanaman ini tumbuh di daerah rendah dan sedang. Kondisi udara dengan kelembapan rendah serta udara kering yang miskin uap air cocok untuk pertumbuhan tanaman jambu biji. Tanaman ini membutuhkan penyinaran yang cukup sehingga peletakan tanaman sangat berpengaruh. Kekurangan sinar matahari dapat menyebabkan penurunan hasil atau kurang sempurna.

Tanaman jambu biji sebenarnya dapat tumbuh pada semua jenis tanah. Namun, idealnya tanaman ini tumbuh baik pada tanah yang subur dan gembur serta banyak mengandung unsur Nitrogen dan bahan organik atau pada tanah liat dan sedikit pasir dengan kemampuan menyerap air yang baik. Derajat keasaman tanah (pH) yang diinginkan antara 6-6,5.

  1. Perbanyakan

    Perbanyakan tanaman jambu sebaiknya dilakukan melalui sistem pencangkokan, stek akar, atau okulasi. Tanaman ini juga dapat diperbanyak melalui penyemaian biji, tetapi sulit dilakukan karena buah ini hampir tanpa biji. Selain itu, pembiakan dengan biji membawa resiko hasil tanaman yang tidak serupa dengan sifat induknya serta membutuhkan waktu yang lama hingga tanaman berbuah.


    Berikut tahapan perbanyakan dengan okulasi pada jambu biji:

    1. Pilih batang pokok untuk okulasi dari hasil sepokok untuk okulasi dari hasil semaian biji. Pilih yang sudah umur 6-8 bulan, dengan ketinggian 30-40 cm, dan diameter batangnya sekitar 1 cm.
    2. Pilih batang induk yang akan diambil mata tunasnya, berupa tanaman yang berumur minimal 1 tahun dan mutunya bagus.
    3. Potong pucuknya dan buang daunnya pada cabang primer/sekunder dari batang induk, 10-15 hari sebelum diambil mata tunasnya. Cabang gundul di mata akan membesar dan sehat akan menghasilkan okulasi yang baik dan sehat pula.
    4. Buat mata tempel lebar 0,8 cm dan tinggi 10 cm dengan mengupas kulit sebesar 2/3 pada bagian bibir kulit, dan jarak dari leher akar sekitar 20-30 cm. Tempelkan mata pada batang, lalu ikat dan rekatkan dengan tali rafia.
    5. Setelah berumur 2-3 minggu, lepaskan tali pengikatnya. Jika kondisi mata tetap hijau, okulasi dianggap berhasil. Untuk mempercepat pertumbuhan, potong batang pokok setengah pada jarak 5 cm diatas tempat penempelan mata tunas, kemudian lengkungkan batang.
    6. Okulasi berumur 7-8 bulan dapat dimasukkan ke dalam polibag. Potong akar tunggang sedikit supaya akar lebih cepat berkembang, setelah empat bulan bibit siap ditanam dengan humus atau tanah yang telah dicampur.

    Sedangkan tahapan pencangkokan sebagai berikut:

    1. Pilih cabang sebesar pensil atau lebih besar sedikit. Kupas kulitnya, kerok lendirnya, diamkan selama satu hari.
    2. Tutup lukanya dengan humus atau tanah yang telah dicampur merata dengan pupuk kandang yang dibasahi atau bisa juga menggunakan cocopeat / moss.
    3. Balut keseluruhannya dengan sabut kelapa atau plastik yang sudah dikasih lubang-lubang sirkulasi, kemudian ikat dengan tali plastik agar pertumbuhan akar tidak mengalami hambatan
    4. Akar akan tumbuh dengan cepat, sekitar 2-3 bulan. Pada saat itulah, cangkokan dipotong bila cabang yang dicangkok tidak mengeluarkan puncuk baru.
    5. Buka balutan plastik perlahan-lahan, kemudian tanam cabang cangkokan dalam media tanah, baik dalam bedengan maupun didalam pot/polibag. Potong sebagian daunnya untuk mengurangi penguapan.
    6. Simpan media cangkokan ditempat teduh. Setelah tanaman sudah cukup kuat (2-3 bulan), bibit siap dipindahkan ke dalam pot.

  2. Memilih Pembibitan

    Ciri-ciri jambu biji yang baik sebagai berikut:

    1. Pastilah bibit yang akan dipilih telah disertifikasi atau berasal dari penangkaran bibit terpercaya.
    2. Pilihlah bibit yang berasal dari okulasi (penempelan) yang sehat dan telah berumur minimal 5-6 bulan dengan pertumbuhan seragam diihat dari satu cabang tunasnya yang memiliki panjang 30cm, batang lurus, memiliki enam pasang daun, dan akar yang kuat.
    3. Biit yang terpilih harus bebas dari hama dan penyakit utama dengan ciri-ciri tidak ada kutu putih yang menempel pada daun dan batang.

  3. Penanaman di Pot

    Tahap penanaman jambu biji sebagai berikut:

    1. Masukkan media tanam yang bisa berupa campuran tanah pasir/tanah liat, arang sekam dan kompos dengan perbandingan 3 : 2 : 1 ke dalam pot berdiameter > 50 cm yang sudah diisi pecahan genting terlebih dahulu dibagian dasarnya.
    2. Buka plastik yang melekat pada media tanam secara hati hati agar akar tidak rusak. Agar tumbuh akar lebih banyak, potong sedikit akar tunggangnya. Untuk menjaga terjadinya penguapan yang berlebihan, potong separuh lebar daun.
    3. Pindahkan bibit ke dalam pot, lalu tambahkan media tanam hingga mendekati bibir pot.
    4. Siram tamanam hingga media basah.
    5. Tempatkan tabulampot di tempat yang teduh. Jika sudah mulai tumbuh tunas pindahkan ke tempat yang terkena sinar matahari langsung.

  4. Pemeliharaan

    •    Umur 1 bulan : pupuk organik cair Manutta Gold Bawah sebanyak 2 tutup dicampur dengan air 5 liter per pohon. Pupuk tersebut dikocorkan dalam media tanam.

    •    Setiap 1 bulan sekali : pupuk organik cair Manutta Gold Bawah 2 tutup dicampur 5 liter air. Siramkan larutan ini pada tanaman jambu biji dalam pot.

    •    Tanaman jambu biji yang akan dan sudah mulai berbunga dan berbuah : beri pupuk organik cair Manutta Gold Atas ½ tutup dicampur dengan air 2 liter kemudian disemprotkan pada bagian bawah daun secara merata tiap 1 minggu sekali.

  5. Pengendalian hama dan penyakit

    Hama dan penyakit:

    1. Kutu daun

Penyebab

:

Kutu daun

Gejala

:

Kutu daun menetap dibawah permukaan daun. Jika serangan kutu daun berlansung lama, akan jelaga hitam bekas kotoran kutu.

Pengendalian

:

Semprot dengan pestisida organik.

  1. Lalat buah

Penyebab

:

Lalat Buah

Gejala

:

Daging buah menjadi busuk.

Pengendalian

:

Penggunaan perangkap petrogenol dan pembungkus buah.

  1. Antraksona

Penyebab

:

Antraksona

Gejala

:

Menyerang tunas muda, daun, dan buah. Buah menjadi keras dan bergabus. Tepi daun dan ujung daun menghitam. Pada serangan berat menyebabkan gugurnya daun. Umumnya menyerang buah dengan gejala timbul bercak-bercak.

Pengendalian

:

  1. Sanitasi lingkungan tempat tumbuh dan senitasi tanam.
  2. mengurangi kelembaban dengan pemangkasan rutin / periodik

  1. Kanker/ kudis

Penyebab

:

 

Gejala

:

Bercak kecil, kemudian berkembang dan membesar. Berwarna cokelat tua dan tampak seperti kanker.

Pengendalian

:

Brongsong buah dan buang bagian tanaman yang sakit, lalu dibakar.

  1. Bercak daun

Penyebab

:

 

Gejala

:

Daun yang terserang tampak bercak-bercak bulat atau kurang teratur bentuknya, berwarna merah, dan bagian bercak teradang putih.

Pengendalian

:

Memotong dan memusnahkan bagian yang sakit.

  1. Panen

    Panen buah jambu biji untuk dikonsumsi segar dapat dilakukan pada saat buah berumur 110-120 hari setelah buah mekar. Buah yang akan dipasarkan dalam jarak dekat dipanen saat buah sudah masak. Sedangkan untuk daerah yang cukup jauh maka buah dipetik saat masih keras, tetapi umurnya sudah cukup tua. Buah jambu biji yang sudah siap panen seperti berikut:

    1. Kulit mengkilap dan berubah warna dari hijau tua kehijau muda (untuk jambu biji sukun merah) atau hijau menjadi putih kekuningan (untuk jambu biji mutiara)
    2. Ujung buah membuka atau merekah
    3. Aroma buah mulai tercium.

    Pemanenan sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari. Untuk mempertahankan kualitas buah sebaiknya dilakukan dengan cara berikut:

    1. Gunakan sarung tangan
    2. Kalungkan kantong leher pada leher pemanen.
    3. Letakkan keranjang ditempat yang teduh.
    4. Lakukan pemetikan buah jambu biji dengan gunting panen dengan cara memotong tangkai dan menyisakan tangkai buah 0,5-1cm dari pangkal.
    5. Masukkan buah yang telah dipetik ke dalam kantong kain.
    6. Bila kantong kain sudah penuh, pindahkan buah dari kantong kain ke keranjang/kontainer plastik dengan hati-hati.

  2. Pascapanen

    Keranjang panen yang telah penuh terisi harus segera disimpan sementara di ruang yang sejuk kemudian dilakukan sortasi dan pengelompokan. Pisahkan buah yanag cacat dan rusak dari yang baik, kemudian kelompokkan buah berdasarkan ukurannya. Selanjutnya buah dibersihkan dengan cara dicuci atau dilap menggunakan kain basah.

    Untuk pemasaran jarak dekat/lokal, buah jambu biji dapat dikemas menggunakan keranjang plastik, keranjang bambu, atau kotak kayu. Keranjang dapat berukuran 50cm x 60cm x 40cm dengan kapasitas 25-40 kg. Keranjang harus dilapisi daun pisang kering untuk melindungi buah dari benturan atau luka karena terkena dinding wadah. Sementara untuk pasar ekspor, jambu biji bisa dikemas dengan kotak karton untuk memudahkan pangangkutan pada kemasaan karena kemasan ini dapat ditumpuk 3-4, kemasan biasanya berkapasitas 5-10 kg.

    Buah yang telah dikemas kemudian disimpan di tempat yang teduh, kering, dan sejuk. Jika tidak langsung diangkut dipasar, sebaiknya buah disimpan dalam wadah berpendingin. Untuk jambu mutiara dapat disimpan pada suhu 8-10°C pada kelembaban 90% dan diharapkan dapat bertahan hingga tiga minggu. Sementara itu, jambu biji merah dapat disimpan pada suhu 10-15°C dengan kelembaban 85-90%.

IV. LENGKENG PINGPONG DAN DIAMOND RIVER

  • Lengkeng Pingpong

    Lengkeng pingpong merupakan salah satu jenis lengkeng dataran rendah yang dapat menghasilkan buah seukuran bola pingpong. Tanaman akan berbuah lebat jika perawatan secara intensif. Jika lengkeng pingpong ditanam di dataran menengah (dibawah 400 dpl), ukuran buah kurang maksimal jika dibandingkan dengan lengkeng pingpong yang ditanam di dataran rendah (di bawah 300 dpl). Lengkeng pingpong memiliki karasteristik berbeda dengan lengkeng jenis lainnya, seperti ukuran daun yang lebih kecil dan menggulung serta tajuk yang lebih menyebar dan pencabangan yang sedikit. Buah muncul pada setiap cabang. Oleh karena, produktifitas tanaman lengkeng pingpong tergantung pada banyak sedikitnya percabangan. Jika menghendaki buah yang lebat, pemangkasan tajuk secara rutin mutlak diperlukan sejak dini.




    Gambar. Lengkeng Pingpong

Lengkeng Pingpong

Asal         : Vietnam

Tinggi         : 3,4m

Tajuk         : memanjang,lentur

Daun         : daun berwarna hijau tua,dan berukuran kecil menggulung kebelakang

Batang     : bulat pipih,tekstur lembut, berwarna putih kecoklatan.

Percabangan     : lentur, menjalur kesegala arah

Bunga         : putih kehijauan

Buah         : rasa manis

Daging buah     : tebal

Berat buah     : 16g/buah

Biji         : besar bulat berat 1,8g.

  • Lengkeng Diamond River

    Tanaman ini berasal dari negeri gajah putih (Thailand). Namun, tanaman lengkeng ini sudah banyak tersebar di Indonesia seperti Surabaya, Malang, Yogyakarta, Magelang, Bogor, Jakarta, Sumatera dan Kalimantan. Di daerah tersebut lengkeng diamond river bisa berbuah lebat. Selain mudah berbuah dan adaptif dengan berbagai kondisi tanah, lengkeng ini juga memiliki rasa buah yang manis, berair (juicy), dengan beraroma khas. Ukuran buah lengkeng diamond river terbilang besar, dompolannya banyak, dan daging buahnya cenderung berair. Jenis lengkeng ini cocok untuk ditanam di dalam pot karena tidak memerlukan perawatan khusus untuk memeliharanya.




    Gambar. Lengkeng Diamond River

Lengkeng Diamond River

Asal         : Thailand

Tinggi         : 5 m.

Tajuk         : kompak dan rimbun

Daun         : daun berwarna hijau cerah, lebar dan tepinya bergelombang

Batang     : kuat

Percabangan     : banyak

Bunga         : berangkai, berwarna cokelat muda

Buah         : besar, bulat, dan kulit cokelat.

Daging buah     : tipis, transparan, manis, dan berair.

Berat buah     : 7-8 g/buah

Biji         : berwarna hitam, bulat, dan berat 1,3-1,5g.

  • Syarat Tumbuh

    Tanaman lengkeng cocok ditanam di dataran rendah, antara 200-600 dpl. Baik lengkeng pingpong maupun dimond river membutuhkan iklim yang ekstrim untuk berbunga. Suhu yang tepat untuk lengkeng berbunga dan berbuah sekitar 20-25°C. Suhu malam yang tinggi (>25°C) dapat menghambat perkembangan buah. Bahkan, suhu diatas 40 °C akan menyebabkan buah rusak dan rontok.

Intensitas curah hujan yang diinginkan tanaman lengkeng berkisar 1.500 mm/tahun. Kekeringan selama periode berbunga dan berbuah dapat menyebabkan produktivitas buah menurun. Namun, curah hujan yang berlebihan pada periode berbunga dapat menyebabkan bunga rontok sehingga penyerbukan tidak langsung sempurna, bahkan gagal. Tanaman lengkeng cukup sensitif terhadap kelembaban tinggi dan berkepanjangan, tanaman ini bisa membusuk bahkan mati. Pada periode berbuah, penyinaran matahari kurang, menyebabkan buah rontok. Hal ini karena kurangnya produktifitas fotosintesis.

Tanaman lengkeng akan tumbuh subur pada tanah liat berpasir, tetapi tidak cocok pada tanah berkapur karena akan menyebabkan pembungaan berkurang. Hal tersebut mungkin disebabkan pertumbuhan tunas yang terus-menerus dalam waktu yang lama.

  • Perbanyakan

    Perbanyakan lengkeng sebaiknya dilakukan dengan cara vegetatif seperti dengan proses okulasi, sambung, cangkok, atau stek. Sebab, jika diperbanyak melalui biji (generatif), prosesnya akan memakan waktu lama, karena lengkeng merupakan tanaman yang menyerbuk silang. Sementara bibit yang diperbanyak dengan cara vegetatif, dapat berbuah pada usia tanaman mencapai sekitar empat tahun. Berikut tahap perbanyakan lengkeng dengan okulasi:

  1. Pilih bibit berusia 8-12 bulan sebagai batang bawah, lalu sayat kulitnya berbentuk persegi, sekitar 5-10 cm dari permukaan tanah.
  2. Pilih batang atas dari tanaman induk yang memilki mata tunas.
  3. Sayat mata tunas dari batang tas dengan bentuk ukuran yang sama pada batang bawah.
  4. Tempelkan mata tunas kesayatan persegi pada batang bawah.
  5. Ikat tempelan tersebut menggunakan tali rafia, kecuali bagian mata tunasnya.
  6. Setelah 40-60 hari, tunas akan tumbuh. Pangkas bagian atas tanaman batang bawah untuk merangsang pertumbuhan tunas.
  7. Rawat hasil okulasi dipot atau polibag selama 2-4 minggu.
  8. Perbanyakan okulasi akan menghasilkan tanaman yang lebih kuat dan berumur lebih lama dibandingkan cengkokan karena memiliki batang bawah dengan akar tunggang.

  • Memilih Bibit

    Bibit lengkeng pingpong dan diamond river yang baik memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

  1. Sebaiknya bibit berasal dari perbanyakan okulasi yang berumur minimal lima bulan dengan satu tunas mata tempel yang panjangnya minimal 40cm.
  2. Bibit telah memiliki enam helai daun.
  3. Bibit terbebas dari serangan hama dan penyakit utama, pertumbuhannya normal, serta batangnya tegak.

  • Penanaman di pot

    Lengkeng dalam pot dapat difungsikan sebagai penghias taman. Tahapan dalam menanam lengkeng dalam pot sebagai berikut.

  1. Masukkan pecahan genting ke dasar pot, lalu tambahkan media tanam, berupa tanah, arang sekam dan pupuk kandang perbandingan 3 : 2 : 1 hingga mendekati bibir pot. Buat lubang tanam sebesar media tanam bibit.
  2. Ambil bibit, lalu sobek atau buka polibagnya menggunakan pisau atau gunting untuk mempermudah mengeluarkan bibit serta media tanamnya.
  3. Siram tanaman hingga air keluar di bawah pot.
  4. Biarkan tanaman di tempat yang teduh hingga tumbuh tunas-tunas baru. Selain itu, pindahkan tabulampot ke tempat yang terpapar sinar matahari langsung.

  • Pemeliharaan
    • Umur 1 bulan : pupuk organik cair Manutta Gold Bawah sebanyak 2 tutup dicampur dengan air 5 liter per pohon. Pupuk tersebut dikocorkan dalam media tanam.
    • Setiap 1 bulan sekali : pupuk organik cair manutta gold bawah 2 tutup dicampur 5 liter air. Siramkan larutan ini pada tanaman lengkeng dalam pot.
    • Tanaman lengkeng yang akan dan sudah mulai berbunga dan berbuah : beri pupuk organik cair manutta atas ½ tutup dicampur dengan air 2 liter kemudian disemprotkan pada bagian bawah daun secara merata tiap 1 minggu sekali.

  • Pengendalian hama dan penyakit

    Hama yang biasanya menyerang tanamana lengkeng sebagai berikut:

  1. Embun hitam

Penyebab

:

sooty mould

Gejala

:

Timbul jegala hitam pada daun dan buah

Pengendalian

:

Memangkas atau membuang bagian tanaman yang terserang

  1. Antraknosa

Penyebab

:

collectorium gloeosporoides

Gejala

:

menyerang buah dan daun

Pengendalian

:

semprot dengan pestisida organik

  1. Bercak daun

Penyebab

:

Cendawan pestalotia sp. Atau fusarium sp.

Gejala

:

Timbulnya bercak bercak coklat kelabu pada bagian tepi daun yang terinfeksi. Pada pusat bercak, terdapat bintik bintik hitam halus. Gejala serangan oleh fusarium ialah memperlihatkan timbulnya bercak pada daun yang tidak teratur.

Pengendalian

:

Memotong daun yang sakit ringan atau memangkas ranting yang sakit berat dan melakukan penyemprotan dengan pestisida organik pada tanaman yang sakit.

Pencegahan

:

Menjaga kelembaban tajuk supaya tidak terlalu lembab serta menjaga kebersihan tanamana dan lingkungannya.

  1. Kutu

Penyebab

:

tetracytus spp. Atau panonychus citry

Gejala

:

Biasanya serangga dewasa menyerang tangkai, buah dan daun , sehingga buah tampak menjadi kuning. Biasanya serangga tinggi pada musim kemarau.

Pengendalian

:

semprot dengan pestisida organik

  • Panen

    Umumnya buah lengkeng dipanen 4-5 bulan setelah bunga mekar. Selain itu, lengkeng termasuk buah nonklimaterik sehingga harus dipanen matang dipohon karena tidak dapat diperam. Tanda-tanda buah lengkeng yang siap panen, antara lain warna kulit dan buah berubah dari hijau menjadi kuning kecoklatan mengeluarkan aroma khas lengkeng dan rasanya sudah manis, serta buah terasa lunak saat ditekan dengan jari.

    Pemanenan sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari. Pemanenan dilakukan dengan alat yang dapat memotong tangkai rangkaian buah. Alat panen berupa gunting panen bertangkai panjang. Rangkaian buah yang telah dipanen diletakkan dalam keranjang panen dan segera dibawa ke tempat pengumpulan setelah keranjang penuh.

  • Pascapanen

    Lengkeng umumnya dipasarkan masih dalam rangkaiannya sehingga sortasi dilakukan dengan cara memetik buah yang busuk, abnormal, atau terkena hama dan penyakit, untuk dipisahkan dari rangkaian buahnya. Berdasarkan standart internasional, buah lengkeng dapat dibagi menjadi lima kelompok sebagai berikut

  1. Kelompok 1: <85 buah/kg, diameter buah > 28mm.
  2. Kelompok 2: 85-94 buah/kg, diameter buah > 27-28mm.
  3. Kelompok 3: 95-104 buah/kg, diameter buah > 26-27 mm.
  4. Kelompok 4: 105-114 buah/kg, diameter buah > 25-26 mm.
  5. Kelompok 5: ³ 115 buah/kg, diameter 24-25 mm.

Dalam praktiknya, buah dikelompokkan berdasarkan ukuran atau berat, jumlah buah dalam kisaran 50-75 buah/kg dianggap sebagai kualitas super. Lengkeng biasanya dikemas dalam jaring plastik dengan berat 1kg/jaring untuk pasar lokal Indonesia. Sementara itu, untuk pasar ekspor lengkeng biasanya dikemas menggunakan kotak karton atau keranjang plastik. Bobot buah lengkeng dalam kemasan tersebut pun bervariasi antara 15-25 kg.

Buah lengkeng juga termasuk buah yang cepat busuk. Sejak dipanen buah lengkeng hanya mampu bertahan delapan hari pada suhu ruang 28°C. Penyimpanan pada suhu 1-5°C dapat mempertahanan kesegaran lengkeng hingga 30 hari. Pelapisan kulit buah juga dapat memperpanjang masa simpan buah lengkeng, misalnya sengan pelapisan larutan Chitosan 2% dan disimpan pada suhu 5°C, ketahanan buah lengkeng dapat meningkat menjadi 40 hari.

V. MANGGIS TANPA BIJI

Manggis tanpa biji awalnya ditemukan di hutan belantara di Desa Malinau Hulu, Kabupaten Malinau, Kalimantan Timur. Buah manggis tanpa biji (malinau) berukiran lebih kecil dibandingan dengan manggis biasa. Sejatinya manggis ini tanpa biji. Namun, dari beberapa buah yang dibelah, terkadang ada manggis yang memiliki satu biji dengan ukuran 10mm x 2mm. Oleh karena ukurannya yang begitu kecil, biji tesebut tidak masalah apabila dimakan.

Sosok manggis Malinau sedikit melengkung sehingga membentuk lengkukan di satu sisi. Kelebihan manggis ini adalah kulitnya tidak mengandung getah kuning atau penyakit yang biasa menyerang pohon manggis. Manggis jenis ini juga bisa dikembangkan atau disilangkan dengan kultivar lain untuk menghasilkan jenis lebih unggul.



Gambar. Manggis Tanpa Biji

Manggis Tanpa Biji

Asal         : Kampung Tg. Belimbing Desa Mlinaua Hulu, Kec. Mlainau Kota,

         Kab. Malinau, Propinsi kalimantan timur

Tinggi         : 15m.

Tajuk         : piramidal

Daun         : hijau tua, mengkilap

Batang     : berwarna cokelat

Percabangan     : tidak karuan.

Bunga         : kuning kehijauan

Buah         : lonjong serupa gentong,kulit teball 5-10mm.

Berat buah     : 200-250g/buah.

Daging buah     : asam manis, halus tidak berserat, aroma sedang

Berat buah     : 80-150g/buah

Biji         : lonjong, warna cokelat.

  1. Syarat Tumbuh

    Manggis Malinau akan tumbuh dengan optimal bila ditanam didaerah dataran rendah hingga ketinggian kurang dari 1.000 m dpl. Akan tetapi, pertumbuhan terbaik diperoleh jika manggis ditanam pada daerah dengan ketinggian kurang dari 600m dpl. Suhu udara yang ideal untuk bertanam manggis berada pada kisaran 22-32°C dengan curah hujan 1.500-2.500mm/tahun dan merata sepanjang tahun. Tanaman manggis tanpa biji akan tumbuh optimal pada kondisi tanah yang subur, gembur, dan mengandung bahan organik. Derajat keasaman tanah (pH tanah) yang ideal untuk bertanam manggis adalah 5-7.

  2. Perbanyakan

    Oleh karena manggis malinau tidak memiliki biji, perbanyakan tanaman bisa dilakukan dengan teknik sambung pucuk dan penyusuan. Dengan teknik tersebut, bibit sudah dapat berbunga dalam waktu yang reatif cepat, yakni 5-7 tahun.

Disini, akan dibahas lebih jauh perbanyakan manggis dengan sambung pucuk. Perbanyakan dengan cara in memerlukan batang bawah dan puncuk (entres) yang sehat. Batang yang digunakan sebaiknya sudah memiliki ketinggian > 50cm dengan diameter 0,5 cm dan bercabang, kulit batang berwarna hijau tua kecoklatan. Serta daun hijau mengilap. Adapun tahapan sambung pucuk pada tanaman manggis tanpa biji sebagai berikut:

  1. Oleskan madu murni pada bagian bidang sayatan batang bawah dan pucuk untuk lebih memacu pertumbuhan.
  2. Potong batang bawah setinggi 15-25 cm dari pangkal leher, lalu buat celah di ujung batang sepanjang 3-5cm.
  3. Runcingkan pangkal atas batang (pucuk) sepanjang 3-5cm.
  4. Tautkan bagian runcing batang atas (pucuk) ke dalam celah batang bawah.
  5. Balut bidang pertautan batang bawah dan atas (pucuk) dengan tali rafia. Pembalutan dimulai dari atas, lalu ikat ujung balutan dengan kuat.
  6. Tutupi hasil sambungan yang telah dibalut tersebut dengan kantong plastik transparan dan simpan di tempat teduh.
  7. Selama penyambungan, siram bibit secara rutin dan siangi gulma.
  8. Setelah 2-3 minggu, buka penutup dan biarkan bibit tumbuh selama 3-4 minggu. Balutan dapat dilepas setelah bibit bertunas (kurang lebih 3 bulan).
  9. Setelah berumur enam bulan, bibit siap dipindahkan.

  1. Memilih Bibit

    Untuk budidaya, sebaiknya pilih bibit dengan kriteria sebagai berikut.

    1. Bibit berasal dari penyambungan yang telah berumur minimal 18 bulan.
    2. Panjang tunas minimal 15cm dan telah memiliki minimal empat pasang daun.
    3. Bibit harus terbebas dari hama dan penyakit.
    4. Pilih bibit yang berasal dari penyedia bibit terpercaya.

  1. Penanaman di Pot

    Untuk menanam manggis tanpa biji, bisa menggunakan drum bekas berukuran besar sebagai pot. Drum bekas cocok digunakan sebagai pot karena ukurannya yang besar dan mampu menampung seluruh sistem perakaran. Media tanam yang digunakan untuk tanaman manggis dalam pot sebaiknya memnuhi syarat minimal, yaitu mengandung tanah, arang sekam, dan kompos dengan perbandingan 3 : 2 : 1 yang dicampur merata.

    1. Keluarkan bibit dari polibag secara hati-hati. Potong sebagian akar-akar yang berlebihan.
    2. Tanam bibit tersebut tepat di tengah-tengah pot dengan posisi tegak.
    3. Tambahkan media tanam hingga hampir penuh, lalau padatkan hingga bagian pangkal batang.
    4. Sesegera mungkin siram media hingga lembab.
    5. Letakkan di tempat yang ternaungi dari sinar atahari selama 4-6 minggu. Setelah beradaptasi, tabulampot dapat dipindahkan ke tempat yang terbuka dan mendapat sinar matahari, terutama pada pagi hari.
    6. Untuk pemupukan umur 1 bulan : pupuk organik cair Manutta Gold Bawah sebanyak 2 tutup dicampur dengan air 5 liter per pohon.
    7. Pupuk tersebut dikocorkan dalam media tanam.
    8. Setiap 1 bulan sekali : pupuk organik cair Manutta Gold Bawah 2 tutup dicampur 5 liter air. Siramkan larutan ini pada tanaman manggis dalam pot.
    9. Tanaman manggis yang akan dan sudah mulai berbunga dan berbuah : beri pupuk organik cair manutta atas ½ tutup dicampur dengan air 2 liter kemudian disemprotkan pada bagian bawah daun secara merata tiap 1 minggu sekali

  2. Pengendalian Hama dan Penyakit

    Hama dan penyakit yang kerap menyambangi tanaman mangis sebagai berikut:

    1. Pengorok daun (phyllocnistis citrella)

Penyebab

:

phyllocnistis citrella

Gejala

:

Pada helaian daun muda yang terserang terdapat korokan kecil sebesar jarum dengan arah korokan berliku-liku. Bekas korokan berwarna putih kekuningan. Akibat korokan ini, pertumbuhan daun mengecil dan agak keriting.

Pengendalian

:

Lakukan pemangkasan daun-daun yang terserang,lalu kumpulkan dan bakar atau kubur.

  1. Pengisap daun dan buah muda

Penyebab

:

 

Gejala

:

Pertumbuhan daun,tunas muda,bunga,dan pentil buah terhambat. Pada bagian tanaman yang terserang,tampak adanya bekas tusukan berupa noda kering berwarna cokelat kemerahan hingga hitam dan bagian tersebut sangat rapuh.

Pengendalian

:

Tangkap dan musahkan nimfa atau imigo yang menyerang.

  1. Rapuh cokelat

Penyebab

:

cendawan pellicularia koleroga

Gejala

:

Pada helaian daun terdapat bercak-bercak cokelat atau pinggir daun bewarna cokelat. Bila diremas, bagian yang berwarna cokelat akan rapuh. Daun yang sakit biasanya terletak ditempat yang terlalu teduh.

Pengendalian

:

Pangkas bagian tanaman yang sudah mati atau daun yang sakit, lalu bakar.

  1. Kanker batang/cabang

Penyebab

:

botrysphaeria ribis

Gejala

:

Warna cabang dan batang yang teserang berubah dan mengeluarkan getah. Getah kemudian menggumpal dan mendominasi di bawah kulit batang. Kulit batang menjadi kering hingga menjalar kejaringan xylem serta daun menjadi pucat dan lemas.

Pengendalian

:

Bersihkan batang atau cabang yang sakit. Lakukan pemangkasan cabang atau ranting tanaman untuk mengurangi kelembapan.

  1. Panen

    Umumnya buah manggis dipanen ketika berumur 104-110 hari setelah bunga mekar. Adapun ciri-ciri buah manggis yang siap panen sebagai berikut:

    1. Kulit buah berwarna merah kecoklatan hingga merah keunguan (berumur 106-108 hari setelah bunga mekar) untuk pasar ekspor dan berwarna ungu kemerahan (berumur 110 hari setelah bunga mekar) untuk pasar domestik.
    2. Buah sudah mulai lunak saat ditekan kulitnya.
    3. Sudah mulai terdapat becak cokelat pada tangkai/kelopak buah.

Panen sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari saat cahaya matahari tidak terlalu terik. Pemanenan dapat menggunakan gunting. Sertakan juga dua daun diatas bunga agar kesegaran buah dapat tahan lama. selanjutnya buah dipindahkan dari jaring ke dalam karung atau keranjang buah yang telah dialasi dengan daun pisang atau jerami.

  1. Pascapanen

    Kegiatan pascapanen buah manggis diawali dengan melakukan sortasi yang memisahkan kotoran, buah yang sakit dan buah yang tidak layak dipasarkan dari buah manggis yang baik. Setelah itu manggis dikelompokkan menurut ukuran, bobot, warna kulit buah dan tingkat keburikannya. Berikut pengelompokan manggis berdasarkan tingkat keburikan dan bobotnya

    1. Kelas 1 : tingkat keburikan 5%, jumlah buah 6-8 buah/kg
    2. Kelas 2 : tingkat keburikan 10-20%, jumlah buah 8-10 buah/kg
    3. Kelas 3 : tingkat keburikan 30%, jumlah buah 10-12 buah/kg.

Selain itu, ketentuan minimum yang harus dipenuhi adalah bentuk buah bulat dan utuh, kelopak buah dan tangkai buah harus lengkap, getah kuning antara 5-20% dan terbebas dari serangan hama atau penyakit. Kelas 1 dan 2 memenuhi kualifikasi pasar ekspor, sedangkan kelas 3 biasanya dijual di pasar domestik.

Buah manggis segar dapat dikemas menggunakan kotak karton/ keranjang plastik yang kuat, bersih, kering, dan berventilasi baik. Berat bersih kemasan sekitar 2 kg untuk kemasan karton dan 10 kg untuk kemasan keranjang plastik.

Buah manggis yang dipanen untuk pasar domestik memiliki massa simpan 6 hari jika disimpan pada suhu 28-32°C. Masa simpannya dapat ditingkatkan menjadi 21-40 hari jika disimpan pada suhu 13-15°C.

VI. BUAH TIN UNGU DAN HIJAU

Dalam bahasa Inggris tanaman tin disebut buah fig. Tanaman ini dapat berbuah lebat dan tumbuh subur di tengah terik matahari, bahkan di padang pasir sekalipun. Oleh karena itu tanaman ini disebut juga buah kehidupan. Tanaman buah tin berbentuk semak dan berkayu. Sebetulnya yang disebut sebagai buah tin adalah buah semu.

Selain sebagai buah meja, buah tin juga bisa dijuice, campuran puding, isi cake, manisan kering, atau dikalengkan dalam sirup gula. Tingginya kandungan pectin menjadikan buah ini cocok sebagai bahan baku jelly maupun selai dengan rasa lezat dan keharuman semerbak. Selain itu buah tin mengandung alkalin yang mampu menghilangkan keasaman pada tubuh, mengobati luka luar, merangsang pembentukan hemoglobin darah, serta mengandung kadar glukosa tinggi tanpa menyebabkan diabetes. Penyerbukannya dibantu oleh lebah.

  1. Buah Tin Ungu

    Beberapa buah tin yang sudah diketahui seperti black ischia dan nagronne. Black ischia berasal dari Italia, buahnya berwarna ungu sampai hitam dengan dasar buah kehijauan dan noda keemasan serta daging buah merah keunguan serta rasa yang seperti sawo. Buahnya berukuran 6,35 cm dan lebar 3,8 cm dengan tangkai buah yang pendek.



    Gambar. Buah Tin Ungu

Buah Tin Ungu

Tinggi     : 6,9 – 10 m.

Daun         : besar (panjang 12 – 25cm dan lebar 10 – 18 cm).

Batang     : abu-abu.

Buah         : panjangnya 3 – 5cm, warna kulit ungu nyaris hitam.

Daging buah    : manis asam

Berat buah     : 30 – 50 g/buah.

Biji         : kecil, putih keemasan.

  1. Buah Tin Hijau

    Buah ini berwarna hijau muda. Ada banyak varietas, seperti conadria dan long yellow. Conadria memiliki warna kulit buah hijau kekuningan dengan daging buah merah muda. Keunggulan buah ini daya tahan yang lama, produktif, serta tahan panas dengan pohonya yang kokoh dan berumur panjang. Sementara jenis long yellow memiliki warna kulit agak kekuningan dengan tangkai buah yang panjang, rasa yang manis, tetapi pematangan buah yang agak lambat.




    Gambar. Buah Tin Hijau

Buah Tin Hijau

Tinggi     : 6,9 – 10 m.

Daun         : besar (panjang 12 – 25 cm dan lebar 10 – 18 cm).

Batang     : abu abu.

Buah         : panjangnya 3- 5 cm, warna kulit hijau muda.

Daging buah     : agak manis hingga manis.

Berat buah     : 60 – 90 g/buah

Biji         : kecil, banyak, coklat muda.

  1. Syarat Tumbuh

    Tanaman ini dapat tumbuh pada suhu 21-27°C dengan curah hujan sedang dengan kelembapan tinggi. Tanaman ini membutuhkan sinar matahari penuh sepanjang hari. Tanaman ini akan tumbuh dengan baik pada kadar keasaman pH 5,5 – 8,0.

  2. Perbanyakan

    Ada beberapa cara untuk memperbanyak tanaman buah tin, bisa dengan cara cangkok, penyemaian biji, dan stek. Berikut langkah langkah dalam pembuatan stek batang menggunakan cabang dewasa yang berumur lebih satu tahun.

    1. Ambil cabang dengan panjang 7-15 cm
    2. Siapkan pot, lalu letakkan lembaran kertas koran di bagian bawah pot dengan kedalaman 10 cm.
    3. Isi dasar pot dengan campuran tanah, pasir/arang sekam dan pupuk kandang (3: 2 : 1)
    4. Tanam 1-4 stek dengan posisi tegak pada pot.
    5. Siram tanaman, lalu letakkan di tempat teduh.
    6. Jangan biarkan pot dalam keadaan kering.
    7. Setelah beberapa hari akan muncul akar dan beberapa daun, tunggu hingga tanaman ke dalam pot plastik berdiameter 20-27cm.
    8. Dalam 4-6 minggu, tanaman siap dipindahkan ke dalam pot yang lebih besar.

  3. Memilih Bibit

    Cara memilih bibit yang bagus:

    1. Pilih bibit asal stek dari pohon induk yang sudah terbukti unggul dan beradaptasi dengan lingkungan tempat penanaman.
    2. Pilih bibit dengan ketinggian minimal 60 cm dan memiliki daun sempurna lebih dari 6 helai.
    3. Batang tegak dan sehat dengan diameter 1cm.
    4. Pilih bibit yang berpenampilan daun dan batang yang segar serta tidak ada bagian yang busuk.

  4. Penanaman di Pot

    Tanaman ini cenderung tumbuh dengan baik dipot dengan media teratas. Adapun langkah langkah penanamna sebagai berikut.

    1. Siapkan media berupa campuran tanah, arang sekam/ pasir dan pupuk kandang, (3 : 2 : 1).
    2. Masukkan pecahan genting ke dasar pot.
    3. Masukkan media hingga terisi minimal setengan pot.
    4. Gunting polibag dan keluarkan bibit beserta media tanamnya dari polibag.
    5. Tanam bibit tepat di tengah pot. Tambah media hingga mendekati bibir pot.
    6. Siram bibit hingga air siraman merembes melalui dasar pot.
    7. Tempatkan tanaman di bawah sinar matahari. Jangan terlalu panas karena akan merusak akar.

  • Penyiraman

    Pada awal pertumbuhan pohon membutuhkan penyiraman yang teratur. Penyiraman tidak dilakukan selama pembentukan buah. Penyiraman yang ideal dilakukan 1-2 minggu sekali. Untuk menjaga kelembapan dilakukan penutupan tanah disekitar tanaman menggunakan mulsa (plastik penutup).

  • Pemangkasan

    Pemangkasan dilakukan agar bentuk dalam tampilan menarik. Pemangkasan dilakukan dengan pemotongan batang pada ketinggian 60–70 cm dari permukaan tanah. Selanjutnya, pemeliharaan cabang sekunder yang pertumbuhannya seragam hingga panjang 60 cm, lalu dipangkas pada jarak 40–50 cm dari pangkal.

  1. Pemupukan
  • Umur 1 bulan : pupuk organik cair Manutta Gold Bawah sebanyak 2 tutup dicampur dengan air 5 liter per pohon.
    • Pupuk tersebut dikocorkan dalam media tanam.
    • Setiap 1 bulan sekali : pupuk organik cair Manutta Gold Bawah 2 tutup dicampur 5 liter air. Siramkan larutan ini pada tanaman tin dalam pot.
    • Tanaman tin yang akan dan sudah mulai berbunga dan berbuah : beri pupuk organik cair manutta atas ½ tutup dicampur dengan air 2 liter kemudian disemprotkan pada bagian bawah daun secara merata tiap 1 minggu sekali.

  1. Pengendalian Penyakit

    Jenis hama yang kerap menyerang buah tin, sebagai berikut:

    1. Mati pucuk

Penyebab

:

Botrytis cinerea (teleomorph: Botryotinia fuckeliana)

Gejala

:

Infeksi pada pangkal daun muda yang menunjuka gejala layu, menggulung, dan berubah warna. Lalu infeksi tersebuat akan merambat pada tanaman.

Pengendalian

:

Pemupukan tepat dan penyiraman selama musim kemarau, usahakan tidak ada naungan.

  1. Kanker bakteri

Penyebab

:

Pseudeumonas fici.

Gejala

:

Terlihat pada cabang, seperti bercak basah, selanjutnya mengering menyebabkan pecahan kulit batang dan cabang. Pada serangga yang lebih berat menyebabkan matinya cabang tersebut.

Pengendalian

:

Potong bagian yang terserang dan buang serta oleskan bubur Bordeaux pada baggian yang dipotong.

  1. Penyakit karat

Penyebab

:

Puccinia polysora.

Gejala

:

menyerang daun muda hingga menyebabkan defoliasi (perontokan daun). Dikenali dari bintik kuning hijau kecil yang muncul pada daun. Jika tidak     segera diatasi bintik bintik ini akan membesar dan berubah warna menjadi coklat kekuningan, kemudian rontok.

Pengendalian

:

Sanitasi rutin.

  1. Panen

    Sejak pentil buah muncul hingga panen dapat dipanen, memerlukan waktu 30-40 hari. Ciri ciri buah siap panen.

    1. Kulit buah ungu siap panen berwarna ungu tua hingga ungu kehitaman, sedangkan kulit buah tin hijau saat masak berwarna hijau kekuningan hingga kuning.
    2. Kulit buah mengkilap dan buah mulai terasa lunak saat ditekan dengan jari.
    3. Buah menggantung dengan pangkal melengkung semakin mendekati batang.
    4. Jika nektar buah sudah muncul pada ujung buah maka buah sudah harus dipanen.

      Pemanenan dilakukan dengan memotong tangkai yang dekat dengan batang menggunakan sesuatu yang tajam untuk menghindari kerusakan pada buah.

  1. Pascapanen

    Setelah panen selanjutnya dilakukan sortasi dengan memisahkan buah yang baik dari kotoran atau daun yang menempel, buah yang cacat. Lalu buah yang terpilih dicuci dengan air mengalir, keringkan, dan dikelompokkan berdasarkan ukuran dan tingkat kematangan.

Kemasan yang digunakan buah tin, wadah karton, keranjang, dan clampshells plastik. Pengemasan di lapisi 2 – 3 lapis saja dengan pelapis berupa baki kertas yang terbuat dari kertas kraft. Sementara itu, suhu penyimpanan untuk masuk panen pada -1 – 0°C dengan kelembapan 90–95%. Pada kondisi ini masa penyimpanan 1-2 minggu. Jika dikombinasikan melalui kadar Oksigen 5-10 % dan Karbon dioksida 15–20% masa simpannya dapat bertambah menjadi 3–4 minggu.

VII. DURIAN

Daun yang lonjong berujung lancip maupun tumpul yang berwarna hijau pada sisi atas dan keemasan pada sisi bawahnya. Pencabangan durian membentuk tajuk yang rindang dan renggang. Bunga berwarna keputih-putihan, berkelompok, bertangkai panjang dan berbentuk tabung. Bentuk buah yang bulat membujur dan berwarna hijau muda dan kulit yang lebih tebal serta duri yang tajam dan panjang. Berat durian pada umunya berkisar 1-1,8 kg/buah.



Gambar. Buah Durian

  1. Syarat Tumbuh

    Durian akan berproduksi dengan optimal apabila ditanam di daerah ketinggian sekitar 800m dpl. Tanaman tersebut juga dapat berproduksi dengan baik pada suhu 20-30° C. Curah hujan yang baik untuk budidaya durian berkisar 1.500-3.500 mm/tahun. Durian membutuhkan kemarau selama 3 bulan untuk merangsang pembentukan bunga. Kelembapan yang diharapkan ialah 75 – 80%. Intensitas cahaya yang dibutuhkan 60 – 80%.

    Tanaman durian ini menghendaki tanah yang subur yakni tanah yang kaya bahan organik, gembur, dan tidak bercadas. Jenis tanah yang cocok adalah tanah grumosol dan andosol. Yaitu tanah yang memiliki ciri-ciri warna hitam keabu-abuan kelam, struktur lapisan atas berbutir-butir dan bagian bawah bergumpal, serta kemampuan mengikat air yang tinggi. Derajat keasaman (pH) tanah yang dikehendaki adalah 5 – 7 dengan pH optimum 6 – 6,5.

  2. Perbanyakan

    Durian dapat diperbanyak dengan biji atau dengan susuan dan okulasi. Namun tanaman yang berasal dari biji baru dapat berbunga ketika sudah berumur minimal 10 tahun. Sedangkan dari bibit okulasi dapat berbunga sekitar umur 5 – 6 tahun. Selain itu apabila diperbanyak bibit dari biji maka hasilnya akan berbeda sifat dan induknya, dan apabila diperbanyak melalui vegetatif sebagian sifat induk dapat dipertahankan. Secara umum cara yang digunakan yaitu Vegetatif, Susuan dan Okulasi.

  1. Okulasi

    Persyaratan bibit durian yang akan diokulasi adalah bagian batang bawah harus berasal dari biji yang sehat dan subur serta memiliki unsur perakaran yang bagus dan produktif. Adapun tahapan okulasi sebagai berikut:

  • Sayat kulit batang bawah secara melintang dengan jarak tinggi dari permukaan tanah sekitar 20 cm. Sayatan dibuat dengan cara kulit batang dikupas ke bawah sepanjang 2-3 cm sehingga menyerupai lidah.
  • Kulit yang menyerupai lidah dipotong 2/3 nya.
  • Sayat mata tempel yang diambil dari batang atas membentuk perisai diantara kulit.
  • Setelah selesai, tempel mata tempel pada sayatan batang bawah, lalu ikat dengan tali rafia di bagian sisinya sehingga mata tunas tidak tertutupi.
  • Setelah dua minggu, periksa kondisi mata tunas. Bila berwarna hijau berarti okulasi berhasil, jika berwarna coklat maka okulasi gagal.

  1. Susuan

    Model susuan yang bisa digunakan adalah model susuk. Model ini dapat berhasil jika dilakukan pada hasil tanaman yang muda. Adapun tahap pembuatannya sebagai berikut:

  • Belah batang atas hingga setengah bagian dari pangkal batang atas menuju ke arah pucuk (ujung batang). Panjang belahan antara 1-1,5 cm diukur dari pucuk.
  • Potong tajuk batang bawah dengan diameter yang sama dengan batang atas. Kemudian, ujung dibuat runcing.
  • Sisipkan bagian yang runcing di belahan bagian atas yang telah dipersiapkan. Lalu, ikat kuat-kuat sambunganya dengan tali rafia. Selama masa penyusuan, batang yang disatukan tidak boleh bergeser. Oleh karenanya, sangga batang bawah setelah penyatuan.
  • Siram secara teratur, setelah 3-6 bulan tanaman muda yang kayunya belum keras sudah dapat dipisahkan.

  1. Memilih Bibit

    Bibit yang berkualitas sangat dibutuhkan untuk menghasilkan tanaman durian untuk berbuah. Oleh karena itu penting sekali untuk memilih bibit yang baik. Berikut kiat memilih bibit durian yang baik:

  • Sebaiknya bibit yang akan dibeli telah disertifikasi.
  • Pilih bibit yang sehat dan pertumbuhannya bagus, ditandai dengan pertumbuhan batang yang kokoh, perakarannya banyak dan kuat.
  • Pilih bibit yang berbatang lurus dan berwarna coklat, memiliki satu cabang tunas mata tempel dan memiliki daun minimal 6 tangkai.
  • Jika bibit berasal dari penyambungan maka pilihlah yang berusia 6 bulan dengan panjang tunas grafting 40 cm dan memiliki 8 helai daun, serta bebas hama dan penyakit.

  1. Penanaman di Pot

    Tanaman durian merupakan tanaman yang mampu tumbuh hingga ketinggian 20 m. Namun demikian tanaman ini juga dapat tumbuh di dalam pot. Banyak tabulampot durian yang dapat berbuah. Kunci utama pembuahan pada tabulampot yakni pada penanaman dan pemeliharaan. Adapun proses penanaman sebagai berikut.

  • Siapkan pot dan media tanam berupa campuran tanah dan mineral, arang sekam dan kompos dengan perbandingan 3 : 2 : 1.
  • Buka polybag yang menyelubungi bibit tanaman. Usahakan media tanamnya tetap melekat pada akar tanaman.
  • Masukkan bibit ke dalam pot, pastikan peletakannya tepat pada tengah-tengah pot dan berdiri tegak.
  • Tambahkan media tanam hingga mendekati bibir pot lalu ratakan.
  • Siram tanaman yang baru saja ditanam agar tetap segar. Penyiraman dihentikan jika air mulai merembes dari dasar pot.
  • Letakkan tabulampot di tempat yang teduh terlebih dahulu, jika sudah bertunas maka pindahkan ke tempat yang terjangkau sinar matahari.

  1. Pemeliharaan

    Agar tanaman durian tumbuh optimal dan menghasilkan buah, perawatan mutlak dibutuhkan. Beberapa hal yang perlu dilakukan dalam perawatan antara lain penyiraman, pemupukan, penyiangan dan pemangkasan.

    1. Penyiraman

      Tanaman durian memiliki perakaran yang panjang sehingga mampu menjangkau ke daerah sekeliling tanaman. Oleh karenanya, saat musim hujan penyiraman tidak perlu dilakukan. Untuk tanaman muda penyiraman dilakukan 1 hari sekali pagi atau sore, sedangkan penyiraman tanaman yang sudah dewasa dilakukan 3 hari sekali.

    2. Penyiangan

      Tujuan penyiangan yakni menghindari berebutnya nutrisi antara tanaman dan gulma. Penyiangan perlu dilakukan ketika gulma telah tumbuh di sekitar tanaman. Caranya dengan mencabut gulma secara manual atau dengan cangkul, lalu menggemburkan tanah di sekitar batang.

    3. Pemangkasan

      Pemangkasan disini bertujuan mengoptimalkan pertumbuhan serta memudahkan dalam pemeliharaan. Adapun cara pemangkasan sebagai berikut:

  • Pembentukan tajuk dimulai dari umur 1 tahun, batang utama dipelihara hingga 70-100 cm.
  • Selama proses vegetatif singkirkan tunas-tunas liar di sekitar dahan.
  • Bagian pohon setinngi 2-3 m merupakan tajuk mahkota, sedangkan batang pokoknya yang kokoh sepanjang 0,7-1 m sebagai penyangga.
  • Pembentukan tajuk dilakukan dengan memelihara satu batang utama dan 10 cabang primer terpilih.
  • Pangkas menggunakan gunting pangkas ataupun gergaji.
  • Setelah pemangkasan batang/cabang besar diolesi dengan vaseline/ cat minyak agar menghindari infeksi pada bekas potongan.
  • Usahakan tinggi tanaman tidak lebih dari 6-7 m dengan pemangkasan tajuk.

  1. Pemupukan

    Jenis pupuk yang digunakan untuk memupuk durian adalah pupuk kandang / kompos. Pemupukan yang tepat akan membuat tanaman tumbuh subur. Adapun waktu dan dosis yang tepat pemupukan pada durian.

  • Umur 1 bulan: pupuk organik cair Manutta Gold Bawah sebanyak 2 tutup dicampur dengan air 5 liter per pohon. Pupuk tersebut dikocorkan dalam media tanam.
  • Setiap 1 bulan sekali : pupuk organik cair Manutta Gold Bawah 2 tutup dicampur 5 liter air. Siramkan larutan ini pada tanaman durian dalam pot.
  • Tanaman durian yang akan dan sudah mulai berbunga dan berbuah : beri pupuk organik cair Manutta Gold Atas ½ tutup dicampur dengan air 2 liter kemudian disemprotkan pada bagian bawah daun secara merata tiap 1 minggu sekali.

  1. Pengendalian Hama Penyakit

    Beberapa jenis hama penyakit yang dapat menyerang durian sebagai berikut.

    1. Ulat penggerak batang (Zeuzera coffeae, xyleutes leuconotus atau xyleborus sp.)

Penyebab

:

Zeuzera coffeae, xyleutes leuconotus atau xyleborus sp.

Gejala

:

Terlihat lubang kecil pada dahan, batang atau ranting. Dari lubang tersebut akan keluar cairan berwarna kemeraham, yang mengakibatkan layu dan mati.

Pengendalian

:

  • Mekanis: Memangkas bagian yang terserang 5cm dibawah lubang gerek. Kemudian membakarnya hingga ulat mati.
  • Kimiawi: Penyemprotan insektisida sistemik ??? (seperti actara) ke dalam lubang gerek ke dalam sprayer dengan dosis sesuai anjuran.
  • Biologis: Menggunakan jamur Beauveria yang dilarutkan ke dalam air dan dicampuri dengan Rinso ???.

  1. Ulat penggerak bunga (prays citry)

Penyebab

:

prays citry

Gejala

:

Ulat ini merupakan larva dari kupu-kupu yang menyerang tanaman yang akan berbunga.Terutama bagian kuncup bunga dan calon buah.

Pengendalian

:

Dengan menyemprotkan pestisida organik sesuai dosis.

  1. Busuk Akar (Phytopthora parasitica dan Pythium complectens)

Penyebab

:

Phytopthora parasitica dan Pythium complectens

Gejala

:

Daun durian yang terserang akan menguning dan berguguran mulai dari yang tua. Pohon terlihat sakit dan ujung-ujungnya mati dan ikut berkembangnya tunas-tunas dari cabang di bawahnya.

Pengendalian

:

  • Upayakan drainase yang baik agar tanah tidak terlalu basah dan air tidak mengalir ke permukaan tanah pada waktu hujan.
  • Pohon yang sakit dibongkar sampai ke akarnya.
  • Gunakan media tanam yang steril.

  1. Penggerek buah (Hypoperigea leprosticta dan Tirathaba ruptilenea)

Penyebab

:

Hypoperigea leprosticta dan Tirathaba ruptilenea

Gejala

:

Buah durian rusak dan tidak dapat dimakan karena berulat, kadang buah yang terserang jatuh saat masih muda.

Pengendalian

:

Penyemprotan pestisida organik dengan dosis sesuai anjuran.

  1. Kanker bercak/ kanker batang (Phytopthora palmivora)

Penyebab

:

Phytopthora palmivora

Gejala

:

Kulit batang yang terserang terluka dan mengeluarkan lendir berwarna merah gelap, bagian yang sakit akan meluas ke kayu dan kayunya akan mengelupas.

Pengendalian

:

Perbaikan drainase agar air tidak menggenang di permukaan tanah. Lakukan sanitasi lahan dan kumpulkan buah yang jatuh di tanah lalu bakar.

  1. Panen

Buah durian biasanya memiliki kematangan yang sempurna pada 130-140 hari setelah bunga mekar. Sementara itu berdasarkan penampilannya, buah durian dapat dipanen jika memiliki ciri-ciri sebagai berikut.

  • Ujung duri berubah warna lebih gelap daripada bagian dasarnya.
  • Garis diantara duri terlihat tampak jelas dan gelap.
  • Lapisan absisik pada tangkai buah mulai membengkak dan retakkan tangkai buah terlihat lebih jelas dan gelap.
  • Bila kulitnya ditekuk terdengar suara nyaring dan gema.
  • Tercium aroma khas durian.

Kiat Perdagangan

Perdagangan antarkota dan 80% untuk perdagangan ekspor. Untuk mendapatkan hasil panen yang optimal maka gunakan kiat-kiat berikut:

  • Buah durian sebaiknya di panen pada tingkat kematangan 100% untuk pasar lokal, 90% untuk Ikat buah yang besar sekitar 30 hari sebelum kematangan 90%.
  • Lakukan panen pada pagi atau sore hari, dengan memotong tangkai buah kira-kira 1,5-2 cm di bawah bantalan buah.
  • Gunting tangkai buah dan perhatikan jangan potong bonggol tangkai buah.
  • Turunkan perlahan dan usahakan jangan menyentuh tanah guna menghindari kerusakan duri.
  • Gunakan keranjang yang dialasi dengan karton untuk wadah lapang sementara.

  1. Pascapanen

Buah durian yang telah dipanen dapat diangkut ke gudang pengumpulan. Lantai gudang harus selalu bersih, sirkulasi udara baik, suhu sekitar 28-30°C. Dan kelembapan maksimum yakni 90%. Di tempat ini durian akan disortir berdasarkan mutu.

Standar mutu durian berdasarkan bobot dibagi menjadi tiga yakni mutu ekstra, mutu I dan mutu II. Untuk durian yang memiliki bobot rata-rata 1-1,8 kg/buah, mutu ekstra diperoleh ketika bentuk buahnya normal. Tidak terdapat cacat dan bobotnya 1,4-1,8 kg/buah.

Buah yang sudah disortasi dan dikelaskan berdasarkan standar mutu, selanjutnya selanjutnya dikemas menggunakan kardus atau keranjang (ketebalan 0,5-1,0 cm) dengan sekat dan alas. Satu kemasan bisa menampung 3-5 buah durian dengan berat 10-15 kg. Pada penyimpanan ditumpuk maksimal lima lapis kardus pengemasan. Buah yang dikemas disimpan pada tempat yang memiliki sirkulasi udara yang baik dan tidak terkena sinar matahari langsung. Untuk penyimpanan lebih lama (6-8oC) dengan kelembapan 75-90%, kandungan CO2 (Karbokdioksida) 15-20%, dan kandungan O2 (Oksigen) 5-10%.

VIII. JAMBU AIR

  1. Jambu Air Mutiara Hitam

    Sosok jambu air mutiara hitam memang sangat menggiurkan. Warnanya merah gelap dan menggilap. Buah ini memiliki tinggi pohon berkisar 12m berdaun hijau tua dengan bunga warna putih, buah ini berwarna merah gelap dan menggilap. Buah ini banyak disukai karena penampilanya yang unik. Warna merah kehitamanya membuat penggemar buah kepincut untuk menikmatinya.

    Tanaman ini akan tumbuh dengan optimal apabila di tanam langsung dilahan dan mendapat mineral yang cukup. Meskipun demikian tanaman jambu air mutiara hitam ini dapat di tanam di pot sebagai penghias halaman rumah.



    Gambar. Jambu Air Mutiara Hitam

  2. Jambu Air King Rose Apple

    Daging buahnya memiliki aroma yang wangi, rasanya sangat manis dan tentunya berair. Kelebihan buah ini yakni tidak memiliki biji, sehingga untuk menikmatinya sangatlah mudah. Selain buahnya yang menggiurkan, buah ini akan berbuah tahun setelah ditanam. Jambu air king rose apple tinggi pohon 2 hingga 2,5m. Dengan bunga yang berbentuk malai. Bentuk buah ini bulat lonjong berwarna merah muda.



    Gambar. Jambu Air King Rose Apple

  3. Syarat Tumbuh

    Jambu air merupakan jenis tanaman yang mempunyai adaptasi yang cukup besar di lingkungan tropis, dari dataran rendah hingga dataran tinggi mencapai 1000 m dpl. Tanaman ini akan tumbuh dengan baik di tempat yang kering atau tepatnya saat kemarau. Tanah yang cocok untuk tanaman ini adalah tanah yang subur gembur dan banyak bahan organiknya. Tanaman ini sangat cocok pada tanah datar.

  4. Perbanyakan

    Perbanyakan jambu air dapat dilakukan dengan cara vegetatif maupun generatif. Perbanyakan dengan vegetatif lebih baik dari pada generatif. Perbanyakan dengan cara vegetatif antara lain cangkok, stek, okulasi, dsb. Berikut cara pencangkokan pada tanaman jambu air:

  • Pilih cabang tanaman yang telah berumur 1 tahun. Kulit cabang berwarna kecoklatan, cabang sehat, subur, kuat dan berasal dari pohon induk yang kira-kira sudah berbuah 4 kali.
  • Siapkan alat dan bahan, media yang digunakan berupa humus, atau tanah dengan pupuk kandang dengan perbandingan yang sama.
  • Kupas kulit tajam terpilih menggunakan pisau tajam melingkari batang dengan lebar 2cm. Kulit yang dikupas sebaiknya berada di bawah pucuk daun.
  • Hilangkan kambium pada kayu. Lalu biarkan luka sayatan kering selama 2-4 hari.
  • Setelah mengering bungkus dengan media cangkok, dibalut dengan sabut kelapa kemudian ikat erat kedua ujungnya,
  • Lakukan penyiraman teratur kali sehari jika tidak hujan.
  • Jika cangkokkan sudah banyak berakar, lakukan pemangkasan ujung.
  • Potong cangkokan bila pada tunas telah muncul daun, potong bagian akar.
  • Gunting sebagian daun pada cangkok.
  • Pindahkan cangkokan ke polybag sebelum dipindah di pot.
  • Lakukan penyiraman secara teratur.

  1. Memilih Bibit

    Diperlukan kejelian ketika memilih bibit jambu air. Beberapa patokan pemilihan bibt jambu air.

    1. Bibit berasal dari penempelan (okulasi) ditandai dengan bekas sambungan 20 – 30 cm dari leher akar.
    2. Umur bibit minimal mencapai 4 bulan dengan panjang tunas 30 cm dan memiliki 6 helai daun.

  2. Penanaman di Pot

    Jambu air termasuk tanaman yang dapat berbuah lebat dalam pot. Berikut tahapan melakukan penanaman tanaman jambu air.

    1. Masukkan media berupa campuran tanah gembur, arang sekam dan pupuk kandang/kompos (3 : 2 : 1) hingga batas 5 cm dari bibit. Pot yang digunakan berdiameter >50 cm, padatkan dengan menggoyangkan pot lalu siram dengan air sebanyak 5 liter yang telah dicampur dengan pupuk organik cair Manutta Gold Bawah sebanyak 2 tutup. Tunggu 2/3 hari.
    2. Lepas bibit dengan menggunting polibag, pastikan kondisi akar sehat.
    3. Masukkan bibit ke dalam pot, lalu urug dengan media hingga batas pangkal pohon.
    4. Siram dengan air.
    5. Tempatkan di tempat yang teduh hingga muncul tunas.

  3. Pemeliharaan

    Pemeliharaan perlu dilakukan untuk menghasilkan buah yang lebat. Berikut upaya pemeliharaan tanaman.

    1. Penyiangan

      Penyiangan dilakukan sebelum pemupukan agar pemupukan lancar karena tanah menjadi gembur dan gulma sudah tidak ada.

    2. Pengairan dan penyiraman

      Tanaman jambu air yang di tanam sepenuhnya mendapat suplai air dari siraman atau air hujan. Dua minggu setelah penanaman tanaman muda disirami 1-2 kali sehari. Jika sudah cukup besar dan perakarannya dalam, tanaman cukup disirami sekali sehari.

    3. Pemupukan

      Pemupukan dilakukan sebelum dan sesudah berbuah.

  • Umur 1 bulan : pupuk organik Cair Manutta Gold bawah sebanyak 2 tutup dicampur dengan air 5 liter per pohon. Pupuk tersebut dikocorkan dalam media tanam.
  • Setiap 1 bulan sekali : pupuk organik cair Manutta Gold Bawah 2 tutup dicampur 5 liter air. Siramkan larutan ini pada tanaman ke dalam pot.
  • Tanaman jambu yang akan dan sudah mulai berbunga dan berbuah : beri pupuk organik cair Manutta Gold Atas ½ tutup dicampur dengan air 2 liter kemudian disemprotkan pada bagian bawah daun secara merata tiap 1 minggu sekali.
  1. Pemangkasan

    Tujuan dari pemangkasan untuk membentuk pohon, pemeliharaan dan peremajaan. Pemangkasan dilakukan setelah tinggi pohon mencapai 2 m (pada cabang atau tunas). Pemangkasan dilakukan kecuali tanaman sedang berbunga. Bagian yang dipangkas adalah dahan yang tua, kering, luka, dan tidak sempurna. Serta untuk peremajaan, pemangkasan dilakukan pada seluruh bagian tanaman yang sudah terlalu tua, tidak berproduksi, atau diserang hama.

  1. Pengendalian hama dan penyakit

    Berikut beberapa penyakit dan jenis hama.

    1. Ulat pagoda (pagodiella hekmeyeri ) dan ulat kepala bagong (carea angulata)

Penyebab

:

Ulat pagoda (Pagodiella hekmeyeri) dan ulat kepala bagong (Carea angulata)

Gejala

:

daun menjadi bopengan dan rusak akibat dimakan ulat. Tanaman tetap menghasilkan buah, tetapi jumlah buahnya berkurang

Pengendalian

:

Mengumpulkan telur, ulat, dan kepomponguntuk dimusnahkan.

  1. Penggerek batang

Penyebab

:

 

Gejala

:

Batang menjadi berlubang.

Pengendalian

:

Menyumbatkan kapas yang telah direndam pestisida organik ke dalam lubang yang digerek. Pemberian dihentikan apabila tanaman sedang berbuah karena pestisida bekerja meresap ke dalam tanamanyang dimakan oleh hama, dikawatirkan buah akan mengandung racun.

  1. Gangguan pada akar

Penyebab

:

 

Gejala

:

Pemupukan yang kurang hati-hati pada saat tanaman yang sedang berbuah menyebabkan akar luka sehingga akar rontok, terjadi karena tanaman tidak mendapat suplai air dan zat makan sebagaimana mestinya. Selain itu, menggenangnya air dapat merontokkan bunga/ buah karena genangan membuat akar susah bernafas dan mengundang cendawan yang bisa membusuk.

Pengendalian

:

Lakukan pemupukan dan penyiraman secara hati-hati.

  1. Gangguan pada buah

Penyebab

:

Lalat buah (Bactrocera sp.)

Gejala

:

Lalat buah (Bactrocera sp.) dan sejenis cendawan yang mengakitbatkan buah rontok dan busuk. Serangga menyerang buah dengan ciri noda berwarna kecoklatan atau kehitaman di permukaan buah.

Pengendalian

:

  1. Membungkus dengan kertas koran, kantong semen, atau plastik sewaktu masih di pohon.
  2. Penyemprotan pestisida organik sesuai dosis anjuran.

  1. Panen

    Tanaman jambu air dapat berbuah setelah umur 3-4 tahun, berbunga dua kali dalam setahun dan buahnya masak setelah 35-55 hari. Buah yang siap panen memiliki tanda tanda.

    1. Ukuran buah sudah tidak bertambah.
    2. Kulit terlihat mengkilap dan tercium aroma khasnya, serta
    3. Terjadi perubahan warna buah (hijau kemerahan menjadi merah tua kehitaman dan dari hijau muda menjadi merah muda)

    Pemanenan buah sebaiknya pagi hari atau sore. Pada pemanenan gunting tangkai buah minimal 2 cm dari pangkal buah. Selanjutnya buah dilakukan di keranjang berkapasitas 5-10 kg yang dilapisi sterofoam, jerami kertas atau kertas pisang.

  2. Pasca panen

    Keranjang panen yang telah terisi penuh segera disimpan sementara diruang sejuk untuk dilakukan sortasi dan pengelompokan berdasarkan ukuran. Lalu bersihkan buah setelah itu kemasi dengan menggunakan lembaran sterofoam di bawahnya dan berventilasi di setiap sisinya.

IX. JERUK SUNKIST & NAGAMI

Jeruk identik dengan kesegaran dan kandungan vitamin C yang tinggi. Konotasi tersebut memang tidak sepenuhnya salah karena buah yang satu ini digemari pecinta buah di tanah air karena kandungan airnya yang tinggi dan efek rasa segar ketika buah dicecap lidah. Oleh karena rasanya yang manis dan kandungan airnya yang tinggi, jeruk juga kerap dimanfaatkan sebagai bahan baku jus.

  1. Jeruk Sunkist

    Secara fisik, tampilan buah jeruk sunkist begitu menggiurkan bagi yang melihatnya. Warna kuning oranye membalut buah seukuran bola kasti. Ketika kulitnya dibuka, daging buahnya merekah dengan serat yang relatif besar berisi air. Rasa daging buahnya sangat manis dan menyegarkan.




    Gambar. Jeruk Sunkist

Jeruk Sunkist

Asal         : California, Arizona

Tinggi         : 2-3 m

Tajuk        : Rimbun

Daun         : Hijau tua

Batang     : diameter 6-7cm

Percabangan    : melebar kesamping

Bunga         : merah muda

Buah         : besar, bulat telur hingga lonjong, kulit buah tipis

Daging buah     : juicy, harum, oranye, segar, dan manis

Berat buah     : > 300g/buah

Biji         : tanpa biji

  1. Jeruk Nagami

    Di negara asalnya, Cina, jeruk Nagami dikenal dengan nama Nagami Kumquat (Fortunella margarita). Sosok tanaman berupa perdu yang rimbun dan jarang dikebunkan secara komersial. Tanaman ini lebih dikenal sebagai tanaman hias dalam pot, baik di dalam maupun di luar ruangan. Menjelang tahun baru imlek, tanaman jeruk ini banyak dicari untuk dijadikan dekorasi. Ukuran buahnya relatif kecil, sebesar bola pimpong. Kulit buahnya tipis. Bila daging buahnya dicecap, rasa segar menyerap lidah. Selain sebagai hiasan, jeruk Nagami juga dapat diolah menjadi selai, jelly, manisan, eskrim, atau hiasan kue.



Gambar. Jeruk Nagami

Jeruk Nagami

Asal         : Cina

Tinggi         : 4-7m lebar 4-6 m

Bunga         : putih wangi

Tajuk        : Rimbun berupa perdu

Daun         : Hijau sepanjang tahun

Batang     : diameter 2-3m

Bunga         : muncul di ketiak daun

Buah         : oval dan lonjong, diameter 2-3cm, kulit kuning keemasan dan

         dapat dimakan.

Daging buah     : manis asam 3-7 segmen, kadar air sedikit

Berat buah     : 10-15g/buah

Biji         : relatif banyak (2-5 biji)

  1. Syarat tumbuh

    Tanaman jeruk dapat tumbuh dengan baik diderah yang memiliki kemiringan kurang dari 30°. Ketinggian tempat yang cocok 300-800m dpl suhu optimal antara 25-30°C. Umumnya, tanaman jeruk memerlukan 5-9 buah basah (musim hujan). Bulan basah ini diperlukan untuk perkembangan bunga dan buah agar tanahnya tetap lembab. Di Indonesia, tanaman ini sangat memerlukan air yang cukup, terutama di bulan Juli-Agustus. Kelembaban optimum untuk pertumbuhan tanaman sekitar 70-80%. Tanaman jeruk sunkist dan nagami tidak menyukai tempat yang terlindung dari sinar matahari.

    Tanah yang baik untuk pertumbuhan jeruk adalah lempung sampai lempung berpasir dengan fraksi liat 7-27%, debu 25-50% dan pasir <50%, cukup humus serta tata air dan udara baik. Jenis tanah andosol dan latasol sangat cocok adalah 5,5-6,5 dengan pH optimum 6.

  2. Perbanyakan

    Tanaman jeruk bisa diperbanyak dengan cara generatif dan vegetatif. Perbanyakan dengan biji relatif lama. Untuk mendapatkan tinggi bibit 20cm, rata-rata dicapai pada umur 3-5 bulan. Sementara perbanyakan vegetatif yang sering digunakan adalah penyambungan, mata tempel, serta stek dan cangkok yang sudah tua. Berikut tahapan penyambungan.

    1. Siapkan batang bawah yang berumur 10 bulan, kemudian tanam batang bawah pada polibag berukuran 20 cm x 25 cm yang berisi media tanaman berupa campuran 1 : 1.
    2. Siapkan batang atas dari pohon induk yang berumur minimal 3 tahun, sehat serta bebas hama.
    3. Siapkan batang atas (entres) yang memiliki mata tunas sepanjang 30 cm. Dan disambung ke batang bawah. Apabila penyambungan tidak dapat dilakukan sekaligus, pucuk tanaman dirompes dan dibungkus rapat dengan plastik mulsa atau alumunium foil, lalu simpan batang ke tempat yang tidak terkena sinar matahari langsung.

  3. Memilih Bibit

    Berikut ciri ciri bibit yang bagus.

    1. Bibit dibeli dari penangkar bibit yang terpercaya atau yang telah disertifikasi.
    2. Tinggi bibit antara 80-100 cm dan diameter batang 1-1,5 cm.
    3. Warna batang hijau tua kecoklatan, batang lurus dan tidak bercabang banyak.
    4. Warna hijau mengkilap dan membentuk 3 flash.
    5. Bibit telah berumur 6 bulan atau lebih.
    6. Bibit bebas dari serangan hama penyakit,
    7. Batang bawah yang dilanjurkan yaitu YC dan RL atau Troyer, Carrizo, Volkameriana, dan Citrumello yang tahan tristeza (CTV).

  4. Penanaman di pot

    Berikut tahapan penanaman bibit jeruk di dalam pot.

    1. Masukkan media tanam, berupa campuran tanah gembur, arang sekam dan kompos dengan perbandingan 3: 2 : 1 hingga mendekati bibit pot.
    2. Sobek polibag yang membungkus media tanam. Keluarkan bibit dari media tanamnya.
    3. Buat lubang tanam seukuran media tanam yang meletakkan pada bibit, kemudian tanam bibit hingga batas akar dan batang rata dengan permukaan media tanam.
    4. Siram bibit agar tanaman tetap lembap.
    5. Simpan di tempat yang teduh hingga muncul bibit baru, setelah itu tabulampot bisa dipindahkan ke tempat yang terpencar sinar matahari langsung.

  5. Pemeliharaan

    Pemeliharaan
    diperlukan agar tanaman dapat berbuah lebat. Berikut adalah hal-hal yang berkaitan dengan pemeliharaan.

    1. Penyiraman

      Penyiraman dilakukan pada saat musim kemarau, fase menjelang masa pembuahan (fase produktif), dan fase menjelang pembentukan buah pada saat musim kemarau, penyiraman dilakukan dengan volume 70-80 liter/pohon/minggu. Sementara pada masa produktif, sementara pada masa produktif julah air menjadi 40-60 liter/pohon/minggu dan dihentikan untuk merangsang pembentukan bunga. Setelah bunga terbentuk penyiraman kembali normal untuk menghindari pengecilan buah dan mutu daging buah rendah. Penyiraman dilakukan 5-7 hari sekali sampai bunga menjadi pentil dan dilanjutkan 7-10 sekali sampai buah panen. Pada tanaman jeruk muda penyiraman dilakukan 2-3 hari sekali mengingat perakarannya yang dangkal dan belum banyak.

  • Umur 1 bulan : pupuk organik cair Manutta Gold Bawah sebanyak 2 tutup dicampur dengan air 5 liter per pohon.
  • Pupuk tersebut dikocorkan dalam media tanam.
  • Setiap 1 bulan sekali : pupuk organik cair Manutta Gold Bawah 2 tutup dicampur 5 liter air. Siramkan larutan ini pada tanaman jeruk dalam pot.
  • Tanaman jeruk yang akan dan sudah mulai berbunga dan berbuah : beri pupuk organik cair Manutta Gold Atas ½ tutup dicampur dengan air 2 liter kemudian disemprotkan pada bagian bawah daun secara merata tiap 1 minggu sekali.

  1. Penyiangan dan penggemburan

    Penyiangan dilakukan dengan membuang gulma disekitar tanaman. Frekuensi penyilangan disesuaikan dengan pertumbuhan gulma. Jika gulma sudah mulai tumbuh, segera dilakukan penyiangan. Penyiangan dilakukan dengan menggunakan tangan.

  2. Pemangkasan

    Pemangkasan bertujuan untuk membentuk tanamn yang tidak terlalu tinggi, percabangan teratur dan kokoh, cahaya matahari dapat merata, memperbaiki kualitas buah, memperbaiki tunas baru serta, mengurangi kerimbunan tanaman. Tata cara pemangkasan sebagai berikut:

    1. Pemangkasan dilakukan saat masih muda (bibit dengan tinggi 70-80 cm) untuk membentuk pohon dan percabangan.
    2. Dari batang utama, dipelihara 3-4 cabang yang letaknya membentuk sudut yang seimbang antar cabang dan terletak pada ketinggian yang berbeda. Cabang yang tidak dikehendaki dipotong sampai pangkal cabang.
    3. Dari batang utama tersebut, masing masing dipelihara 3-4 cabang, demikian seterusnya sampai terbentuk percabangan yang kompak. Kanopi pohon diarahkan membentuk setengah kubah dengan penyebaran daun merata.
    4. Pemeliharaan selanjutnya dilakukan untuk menjaga bentuk pohon, membuat cabang/ranting yang rusak/mati/berpenyakit, serta untuk mengatur pembungaan.
    5. Lakukan pemangkasan pada tanaman usia produktif. Cabang cabang atau tunas liar yang tumbuh tidak pada tempatnya harus dibuang.

  1. Pengendalian Hama dan Penyakit

    Hama penyakit yang kerap menyerang sebagai berikut:

    1. Kutu loncat (Diaphorina cirti)

Penyebab

:

Diaphorina cirti

Gejala

:

Daun berkerut dan menggulung, lalu kering. Pada tunas tunas muda, daun    yang terserang terdapat kotoran kutuberupa benang benang putih seperti spiral.

Pengendalian

:

Penggunaan musuh alami parasitoid, predator, dan patogen, melakukan eradikasi tanaman inang seperti kemuning dan tapak dara.

  1. Kutu daun (Toxopera citridus aurantil, Aphis gossypii)

Penyebab

:

Toxopera citridus aurantil, Aphis gossypii

Gejala

:

Daun mengerut dan keriput, pertumbuhan tanaman yang terhambat apabila populasi serangga tinggi, permukaan daun berwarna hitam akibat sekresi serangga.

Pengendalian

:

Menjaga kebersihan kebun dengan sanitasi terhadap gulma, menggunakan predator Crocinelidae, Syrhidae, dan Lycosidae, serta Parasitoid Aphytis sp

  1. CVPD (Cirtus Vin Phloem Degenariation)

Penyebab

:

Liberobacter asticum yang ditransmisikan melalui serangga Dhiapronia cirti Kuw dan mata tempel yang telah terinfeksi penyakit CVPD.

Gejala

:

Daun berwarna kunning, tebal, kaku, mudah dipatahkan, dan sering kali tampak berdiri tegak. Terdapat bercak-bercak klorosis, tulang daun yang baru muncul ukurannya lebih kecil.

Pengendalian

:

Pemilihan varietas bibit/benih bebas CVPD, pengawasan vektor penyakit yaitu Diapharina citri didukung pemeliharaan yang baik, bagian yang terserang dipangkas/dibakar/dicabut, dan hindari tanaman Muraya/kemuning di pertanaman sebagai inang alternatif vektor penyakit.

  1. Antraknosa (Degreening burn)

Penyebab

:

Colletotrichom gloesoporioides

Gejala

:

Pada permukaan buah terdapat spot cekung atau daerah berwarna coklat yang menyebabkan permukaan menjadi keras dan kering, atau jika berlanjut akan menyebabkan kelunakan/kebusukan buah.

Pengendalian

:

Panen selektif hanya buah yang berukuran paling buah dan paling masak karena dengan percapaian kemasakan optinum akan mengurangi risiko penyakit, pemanenan harus diatur supaya proses degreening hanya memakan waktu 48-72 jam.

  1. Panen

    Buah matang pada 4-6 bulan sejak bunga mekar. Selain itu, jeruk termasuk buah non-klimaterik, artinya kualitas buah sangat ditentukan oleh kematangan buah saat panen. Hal ini karena buah tidak menjadi masak dalam penyimpanan jika dipetik dalam keadaan muda. Berikut kriteria buah yang sudah masak.

    1. Warna jeruk sunkist yang berwarna hijau saat muda menjadi orange cerah saat masak dan pori pori jelas terlihat berupa titik berlekuk ke dalam sepnjang kulit buah. Sementara itu, jeruk nagami yang berwarna hijau tua saat muda menjadi kuning keemasan saat masak dengan pori pori berupa titik kuning muda.
    2. Kulitnya licin mengilap dan tekstur buah sudah mulai lunak jika ditekan.
    3. Kulit tampak kencang dan berisi penuh.

      Pada saat masa panen buah sebaiknya dipanen dengan menggunakan gunting. Pada saat memotong, sisakan tangkai 1-2 cm dari pangkal buah.

  2. Pascapanen

    Buah yang dipanen segera dibawa ke fasilitas penanganan pascapanen, selanjutnya akan dilakukan sortasi. Selanjutnya buah dicuci dan direndam selama 5 menit, setelah itu cuci dengan air mengalir, ditiriskan, kemudian dilap dengan lap lunak yang bersih. Kemudian buah yang layak dijual dikelompokkan berdasarkan ukuran diameter buah, bobot, dan warna. Ukuran buah berdasarkan bobot small size (150-200 g/buah, medium size (200 -400 g/buah), dan large size (>400 g/buah). Buah yang akan dikirim dikemas dengan baik.

    Buah yang telah dikemas dan disimpan di tempat yang teduh, kering, dan sejuk. Apabila tidak dipasarkan, disimpan pada suhu 3-9°C dengan kelembapan relatif 85-90%. Pada kondisi ini buah dapat bertahan selama 8-12 minggu.

X. MANGGA CHOKANAN dan NAMDOKMAL

  1. Mangga Chokanan

    Mangga ini biasa juga disebut dengan mangga madu. Mangga Chokanan merupakan varietas yang paling mudah berbuah di tabulampot. Pada umur 3-4 bulan (maksimal 1 tahun) dari penanaman.



    Gambar. Mangga Chokanan atau Mangga Madu

Mangga Chokanan

Asal         : Thailand

Tinggi         : 3,5 – 4 m.

Tajuk         : rindang,

Daun         : Lanset, tulang daun menyirip, warna bagian atas mengkilap dan bagian

             bawah hijau, permukaan licin.

Batang     : abu abu hingga kecoklatan, permukaan kasar.

Percabangan     : rapat dan banyak, mendatar sampai miring.

Bunga         : Tersusun dari rangkaian tandan, berbentuk kerucut, berbebtuk bunga,

             berwarna kuning muda.

Buah         : Lonjong asimetris, puncak/pangkal buah tumpul, ujung buah

             meruncing, lekukan dangkal, kadang berparuh. Warna buah matang

             kuning. Sedangkan buah nuda dangkal.

Daging buah     : kuning cerah hingga keemasan.

Berat buah     : 440 – 500 g/buah.

Biji        : gepeng/pipih, panjang, warna putih, 50 – 60 g.

  1. Mangga Namdokmai

    Mangga Namdokmai merupakan perbaikan dari mangga Okyong yang lebih dahulu masuk ke Indonesia. Mangga ini mempunyai kemampuan berbuah lebih awal dan jumlah buah yang lebih banyak, ukuran yang lebih besar dari mangga Okyong. Buah ini mampu berbuah ketika umur 2,5 tahun sejak tanam. Jika dikonsumsi dalam bentuk segar, sebaiknya dimakan dengan kematangan 80%, jika buah terlalu matang daging buahnya jadi berair. Ciri khas yang membedakan mangga Namdokmai dengan mangga Okyong adalah flush (daun muda) berwarna merah bercampur kecoklatan. Sementara pada mangga Okyong flushnya berwarna hijau muda keputihan.



    Gambar. Mangga Namdokmai

Mangga Namdokmai

Asal         : Thailand

Tinggi     : 4,0 – 6,0 m.

Tajuk         : rindang

Daun         : Lansat, tulang daun menyirip, bagian atas hijau, bagian bawah hijau,

         permukaan licin mengkilap hijau berombak.

Batang     : abu abu hingga kecoklatan, permukaan kasar.

Percabangan : rapat dan banyak, mendatar sampai miring.

Bunga     : Tersusun dalam bentuk tandan, berbentuk kerucut, bentuk bunga

         seperti bintang,warna kuning muda.

Buah         : Bulat panjang, pangkal buah agak miring, ujung runcing, punggung

         buah rata, perut sedikit miring, berlekuk dan tidak berparuh. Warna

         buah matang kuning dengan bagian ujung kehijauan.

Daging buah    : Sangat manis (20,24 brix), serta halus, aroma buah harum lembut,

         warna kuning keemasan.

Berat buah    : 440 – 500 g/buah.

Biji         : gepeng atau pipih, panjang, warna putih, 50-60 g.

  1. Syarat tumbuh

    Mangga akan tumbuh optimal jika ditanam di dataran rendah dari menengah dengan ketinggian < 600 m dpl, tetapi pertumbuhan yang lambat dan produktifitas yang rendah.

    Suhu yang sesuai untuk pertumbuhan mangga ialah 24-30oC. Jika suhu di luar kisaran tersebut, tanaman masih dapat tumbuh tapi produksinya terbatas atau tidak ada sama sekali. Daerah dengan curah hujan 750-2.000 mm/tahun sangat cocok untuk perkembangan mangga. Bulan basah rata rata 2-4 bulan dan bulan kering 8-10 bulan. Tanah yang baik untuk memelihara mangga adalah tanah gembur. Derajat kesamaan (pH tanah) yang cocok 5,5 – 8.

  1. Perbanyakan generatif

    Mangga bisa diperbanyak dengan cara, generatif dan vegetatif. Perbanyakan dengan generatif dilakukan dengan penyemaian biji. Biji dipilih dari tanaman sehat, kuat, dan buhnya berkualitas. Bibit dari perbanyakan berumur 4 – 6 bulan. Tanaman akan berbuah bermur 4-8 tahun.

    Sementara secara vegetatif, tanaman mangga Chokanan dan Namdokmai bisa diperbanyak dengan okulasi, penyambungan, dan cangkok. Adapun tahapan sambung pucuk sebagai berikut:

    1. Siapkan batang bawah, potong 20 – 30 cm dari permukaan tanah.
    2. Buat celah vertikal 1 – 1,5 cn pada bagian bekas potongan.
    3. Siapkan batang atas (enters) dari tanaman unggul. Rompes daunnya 10 hari dari permukaan, pertumbuhan akan merangsang pertumbuhan daun.
    4. Bentuk pangkal batang atas menjadi V dengan panjang sama seperti celah vertikal pada batang bawah (1 – 1,5).
    5. Selipkan pangkal atas menjadi V tersebut ke dalam celah batang bawah, lalu ikat dengan tali rafia atau sejenisnya.
    6. Tutup hasil sambungan dengan plastik bening agar kelembapan terjaga.
    7. Letakkan hasil penyambungan di tempat yang tidak terkena sinar matahari (sejuk).
    8. Lakukan penyiraman secara teratur.
    9. Penyambungan dikatakan berhasil jika daun tumbuh dari enters.

  2. Memilih Bibit

    Bibit yang bagus sebagai berikut.

    1. Pilih bibit yang bersertifikat atau berasal dari penangkar bibit terpercaya.
    2. Bibit yang dipilih misalnya dengan batang bawah yang mempunyai daya tahan tinggi terhadap berbagai kondisi lingkungan dan batang atas yang mempunyai produktifitas tinggi.
    3. Tinggi bibit antara 60-80 cm dan diameter batang 1-1,5 cm.
    4. Warna batang hijau tua kecoklatan, serta bentuk batang lurus dan tidak bercabang.
    5. Warna daun hijau mengilap dan telah membentuk 3 flush (daun muda).
    6. Bibit yang dipilih sebaiknya telah berumur enam bulan atau lebih.
    7. Bibit yang bebas dari serangan hama serta tidak cacat.

  1. Penanaman di Pot

    Bibit yang bagus untuk ditanam dipot bibit yang berasal dari okulasi atau cangkok. Berikut tahapan untuk melakukan penanaman tanaman mangga dalam pot.

    1. Masukkan potongan batu bata ke dasar pot agar media tanam tidak terbawa bersama air siraman. Lalu, isi media berupa pupuk organik matang dan top soil (1 : 1) ke dalam pot hingga mendekati bibir pot.
    2. Lepas polibag dengan gunting dan tarik perlahan. Tanah yang tetap menempel pada akar tetap dibiarkan ikut masuk dalam pot.
    3. Masukkan bibit mangga ke dalam pot, atur posisi hingga tepat.
    4. Urug bagian yang kosong dengan campuran media tanam hingga mendekati bibir pot.
    5. Lakukan penyiraman media hingga memadat secara alami.
    6. Biarkan tabulampot berada di tempat teduh hingga muncul tunas baru, kemudian pindahkan ke halaman yang terpapar sinar matahari.

  1. Pemeliharaan

Agar tanaman dapat berbuah secara optimal, tanaman harus mendapat perawatan intensif. Adapun pemeliharaannya sebagai berikut.

  1. Penyiraman

    pada awal penanaman, sebaiknya penyiraman dilakukan secara teratur, 2x 1 hari, tergantung kondisi cuaca setempat. Volume air siraman tidak boleh menggenang karena akan membuat perakaran terserang cendawa akibat kelembapan yang tinggi. Penyiraman sebaiknya menggunakan gembor atau spingkler agar siraman dapat merata dan tidak merusak.

  2. Penyiangan dan Pemupukan

    Penyiangan pada mangga bisa dilakukan pada waktu penggemburan dan pemupukan rumput/ gulma itu dicabut dengan menggunakan tangan atau cangkuk, kemudian di buang ke tempat lain agar tidak tumbuh. Penggemburan dilakukan pada tanah yang padat dan tidak ditumbuhi rumput disekitar pangkal batang. Sebaiknya, penggemburan dilakukan pada awal musim hujan. Penggemburan tanah pada tanaman asal cangkokan jangan dilakukan terlalu dalam karena dapat merusak akar.

  • Umur 1 bulan : pupuk organik cair Manutta Gold Bawah sebanyak 2 tutup dicampur dengan air 5 liter per pohon.
  • Pupuk tersebut dikocorkan dalam media tanam.
  • Setiap 1 bulan sekali : pupuk organik cair Manutta Gold Bawah 2 tutup dicampur 5 liter air. Siramkan larutan ini pada tanaman mangga dalam pot.
  • Tanaman mangga yang akan dan sudah mulai berbunga dan berbuah : beri pupuk organik cair manutta gold atas ½ tutup dicampur dengan air 2 liter kemudian disemprotkan pada bagian bawah daun secara merata tiap 1 minggu sekali.

  1. Pemangkasan

    Tujuan dari pemangkasan adalah untuk merangsang tunas baru muncul secara bersamaan dan mencapai umur dewasa dalam waktu yang sama pula, tanaman yang bebas parasit, membentuk tajuk tanaman yang berbentuk bulat seperti payung terbuka, mengurangi kelembapan, percabangan kokoh dan tersebar merata ke seluruh penjuru angin, serta mempercepat tanaman berbuah. Berikut tata cara pemangkasan.

    1. Pemangkasan dilakukan apabila tanaman sudah setinggi 80-100 cm.
    2. Pangkas tanaman tepat pada batas bidang hijau dan coklat untuk merangsang pertumbuhan tunas. Pilih 3 tunas seragam yang tumbuh dari ketiak yang berbeda.
    3. Pangkas sebagian tanaman dan tinggalkan maksimal 3-4 cabang yang tumbuh sehat, kekar, tidak bersilangan, dan membentuk sudut 90-120°C.
    4. Ulangi pemangkasan batang pokok jika tunas yang tumbuh pada bidang pangkasan hanya satu cabang.
    5. Lakukan pemangkasan berikutnya jika cabang yang dipelihara telah mencapai 1 m atau 3-6 bulan setelah pemangkasan pertama, seperti syarat dan cara pemangkasan pertama.
    6. Lakukan pemangkasan berikutnya pada tanaman usia produktif. Cabang cabang atau tunas yang liar yang tumbuh tidak pada tempatnya harus dibuang. Demikian pula cabang cabang air, ranting, atau tunas yang sakit harus dipangkas supaya lingkungan mahkota daun dapat ditembus sinar matahari langsung.
    7. Usahakan tinggi tanaman tidak lebih dari 5-6 m untuk memudahkan perawatan dan pemanenan serta bagian tanaman hampir seluruhnya mendapat sinar matahari langsung.

  1. Pengendalian Hama dan Penyakit

    Hama dan penyakit yang kerap menyerang mangga.

    1. Lalat buah

      Penyebab     : Bacterocera dorsalis.

Penyebab

:

Bacterocera dorsalis

Gejala

:

Serangan lava meyebabkan buah menjadi mudah terserang mikroorganisme yang menyebabkan buah busuk dan jatuh.

Pengendalian

:

  • Perlakuan dengan uap panas untuk mematikan ulat dalam buah.
  • Pemanfaatan musuh alami Opius sp. dan Biosteres sp.
  • Penangkapan lalat.


  1. Thrips

Penyebab

:

Scirtothrips mangiferae Priesner

Gejala

:

Serangan di tunas, bunga, daun, dan buah. Hama menghisap cairan daun dan bersembunyi di celah daun pucuk yang belum terbuka. Hama aktif menyerang di pagi atau menjelang malam. Dalam waktu 2-3 minggu kalau dibiarkan akan merusak seluruh tanaman.

Pengendalian

:

  1. Pengawasan secara rutin dan sanitasi.
  2. Penyemprotan dengan pestisida organik???.


  1. Penggerek batang

Penyebab

:

Rhytidodera simulans White.

Gejala

:

Terdapat lubang gerakan pada cabang yang kecil kemudian berlanjut ke cabang yang lebih besar. Bagian tanaman yang lebih besar. Bagian tanaman diatas lubang gerakan akan layu/mengering. Akibat lain yaitu dapat membuat dahan atau cabang patah.

Pengendalian

:

  1. Cabang yang terserang dipangkas dan dibakar.
  2. Tutup lubang gerakan dengan kapas yang sudah dicelup dalam pestisida organik.    

  1. Antraknosa

Penyebab

:

Colletotrichum gloeosporioides (Penz) Sacc.

Gejala

:

Pada daun, batang muda, bunga, dan buah terjadi bercak bercak berwarna kelabu sampai kehitaman yang lama kelamaan akan melekuk menjadi satu jaringan tanaman yang terdapat di bawah.

Pengendalian

:

  1. Pemupukan tepat dan pengairan selama musin kemarau
  2. Naungan harus dikurangi
  3. Pembersihan tanaman yang sudah mati

  1. Panen

    Buah ini dapat dipanen ketika berumur 70-115 hari setelah berbunga, tergantung varietasnya. Hal yang dilakukan orang Thailand memanennya waktu cukup tua (green mature). Pada mangga Namdokmai, fase green mature dicapai ketika berumur 100 hari setelah berbunga. Sementara itu, pada mangga Chokanan, fase green mature dicapai 70 hari setelah buah terbentuk. Ciri buah mangga yang siap panen:

    1. Bentuk buah sudah padat berisi, terutama di bagian dekat pangkal buah.
    2. Bila buah dibentuk dengan jari akan terdengar suara nyaring.
    3. Telah terjadi perubahan warna kulit buah dari hijau menjadi kuning.
    4. Tekstur kulit berubah menjadi halus dan lapisan bedak pada kulit semakin tebal. Kriteria lain yang dapat digunakan untuk menentukan kematangan buah adalah dengan menguji sifat kimia daging buah.

    Mangga Namdokmai akan dipetik ketika memiliki kadar kemanisan minimal 21,5O brix dan mangga Chokanan 16O brix. Panen idealnya pada pukul 09.00-15.00 karena pada waktu tersebut tekanan turgor rendah sehingga getah mangga tidak banyak keluar. Untuk memetik buah ini bisa menggunakan gunting dengan menyisakan tangkai 0,5-1 cm.

  2. Pascapanen

    Buah yang sudah panen diletakkan di tempat yang teduh dan bersirkulasi udara baik untuk menghilangkan panas lapang (proses precooling). Kemudian lakukan sortasi berdasarkan memilah buah yang masuk dalam pasar, lalu cuci dengan air mengalir. Buah yang bersih dianginkan agar tidak lembap. Berikut proses pembuangan getah (desapping).

    1. Siapkan larutan kapur Ca(OH)2 dengan konsentrasi 0,5 %.
    2. Rendam buah sekitar 2-3 menit.
    3. Cuci buah pada air mengalir.
    4. Kering anginkan untuk proses selanjutnya.

    Buah yang sudah dibersihkan dilakukan pengelompokan berdasarkan ukuran, bobot, dan kualitasnya.

XI. SRIKAYA JUMBO

Selain ukuran buahnya yang besar, Srikaya Jumbo juga memiliki daging buah yang tebal dan biji sedikit. Tanaman ini lebih besar dan kokoh dibandingkan Srikaya lokal. Ukurannya mencapai 800 g/buah, sedangkan Srikaya lokal hanya mencapai 100-200 g/buah. Buah ini sangat mudah berbuah baik di dataran rendah maupun tinggi. Daging buahnya sangat halus dengan jumlah biji yang relatif sedikit. Buah ini juga memiliki khasiat sebagai obat.



Gambar. Srikaya Jumbo

Srikaya Jumbo

Asal         : Australia

Tinggi     : 2 – 7 m.

Tajuk        : menyebar.

Daun     : Tunggal, berseling, helaian bentuk elips memanjang sampai bentuk lanset, ujung tumpul sampai meruncing pendek, panjang 6 – 17 cm, lebar 2,5 – 7,5 cm, tepi rata, gundul, dan hijau mengilap.

Batang     : gilig, kulit batang coklat muda.

Percabangan: simpodial, ujung rebah.

Bunga     : Tunggal, berhadapan atau disamping daun, putih kekuningan, dengan pangkal yang berongga berubah ungu.

Buah     : Berbentuk bulat hingga lonjong membengkok di ujung, garis tengah 5-10 cm, permukaan kulit halus dengan benjolan yang teratur dan rapat, warna hijau kekuningan.

Daging buah     : manis, kental, tebal, putih, bertekstur lembut, dan beraroma harum.

Berat buah     : 400-800 g/buah.

Biji         : Sedikit hitam mengkilap.

  1. Syarat tumbuh

    Srikaya jumbo dapat tumbuh di daerah dengan ketinggian 100-1.000 m dpl. Namun, tanaman ini masih akan tumbuh baik dan menghasilkan buah bila ditanam pada ketinggian 100-300 m dpl. Tanaman ini menyukai iklim panas, tidak dapat beradaptasi dengan iklim lembap. Tanaman ini membutuhkan naungan dari tanaman besar sehingga sinar matahari yang diterima sekitar 50-60 % saja. Keasaman pada tanaman srikaya adalah pH 5,5 – 7,4.

  2. Perbanyakan

    Perbanyakan tanaman srikaya dapat dilakukan secara generatif (biji) atau vegetatif (cangkok, okulasi, sambung). Adapun tahap sambung susun sebagai berikut.

    1. Potong serong batang bawah yang telah ditanam di dalam polibag.
    2. Pilih batang paling atas dari cabang srikaya jumbo yang baik (tanaman induk)
    3. Sayat kulit srikaya jumbo dan tempel dengan batang bawah tanpa memutus batang atas dari tanaman induk.
    4. Setelah batang atas dan bawah sudah benar-benar melekat, barulah hasil sambung susu dapat dipisahkan dari tanaman induknya.
    5. Presentase keberhasilan biasanya tinggi jika penyambungan dilakukan pada awal keluarnya getah setelah di sayat.

  3. Memilih Bibit

    Bibit yang akan ditanam di pot sebaiknya memiliki kriteria sebagai berikut:

    1. Berasal dari pohon induk yang mutunya baik dan diperoleh dari perbanyakan secara vegetatif seperti sambung atau okulasi.
    2. Tinggi bibit yang akan ditanam mencapai 50-100cm.
    3. Penampilan bibit prima, terlihat dari batangnya yang kokoh berdiri dan mulus tanpa cacat.
    4. Pilih bibit yang tidak bercampur dengan bibt varietas lain dan tidak menunjukkan gejala sakit.
    5. Untuk menjamin bibit tersebut termasuk kriteria ungul, pilihlah bibit yang berasal dari penangkar terpercaya atau bersertifikasi.

  4. Penanaman di Pot

    Srikaya jumbo juga dapat ditanam didalam pot, tabulampot srikaya jumbo juag mudah dirawat. Kunci utama menanam srikaya jumbo dalam pot adalah npada ketersediaan unsur hara dan air bagi tanaman serta teknik pemangkasan dan pembuahan. Pot yang digunakan untuk menanan srikaya jumbo dalam pot besar dan drum bekas yang berukuran besar (berdiameter 40-50 cm).

    Adapun penanaman tabulampot srikaya jumbo sebagai berikut.

    1. Lubangi dasar pot (kurang lebih 5 lubang), kemudian beri lapisan genting atau kerikil setebal 20cm.
    2. Siapkan media tanam berupa tanah, arang sekam dan pupuk kandang dengan perbandingan 3 : 2 : 1.
    3. Biarkan selama 1 minggu supaya pupuk organiknya lebih matang dan siap ditanami.
    4. Masukkan media tanam hingga kurang lebih 20cm dari bibir pot.
    5. Setelah satu minggu, buat lubang di tengah pot, sesuaikan dengan besarnya tanaman.
    6. Masukkan tanaman ke dalam lubang, lalu urung dengan media tanaman hingga ke pangkal batang.

  5. Pemeliharaan

    ?????

  1. Pengendalian penyakit

    Hama dan penyakit yang kerap menyerang srikaya jumbo sebagai berikut:

    1. Penggerek buah (Annonaepestis bengalella)

Penyebab

:

Annonaepestis bengalella

Gejala

:

Daging buah rusak dan berwarna putih menjadi hitam busuk. Permukaan buah penuh kotor larva yang berwarna hitam.

Pengendalian

:

Pembungkusan buah,pengumpulan buah terserang lalu dibakar.

  1. Kutu putih

Penyebab

:

 

Gejala

:

Kutu putih berserang dibawah daun dan pangkal buah.

Pengendalian

:

Bila tingkat serangan rendah, tanaman cukup disemprot dengan air hingga kutu putih terlepas

  1. Busuk akar

Penyebab

:

Pseudomonas solanacearumisida

Gejala

:

Akar membusuk berwarna cokelat,bila dipegang akar akan putus. Akibatnya, akar menjadi gundul dan tanaman kehilangan penangkap unsur hara.

Pengendalian

:

Lakukan penggantian media.

  1. Panen

    Buah srikaya jumbo dapat dipanen pada 40-60 hari setelah bunga mekar. Ciri-ciri buah srikaya masak pohon yang siap penen, antara lain benjolan buah sudah mulai merenggang, lapisan bedak semakin tebal dan sudah mulai tercium aromanya, di sekitar daun dan ranting di dekat buah biasanya banyak terdapat semut hitam, serta warna buah dari hijau menjadi kekuningan. Keterlambatan dalam pemanenan buah srikaya dapat menyebabkan keretakan pada kulit buah yang berakibat pada rendahnya harga jual. Untuk menghindari hal tersebut sebaiknya buah srikaya dipanen saat masih pada pangkal 80% matang dan belum mengeluarkan aroma.

    Meskipun termasuk tanaman tahunan, tetapi buah srikaya tidak dapat dipanen sekaligus karena tingkat kematangan buah dalam satu pohon cenderung tidak merata. Biasanya, srikaya dapat dipanen dengan jarak panen tiap 10 hari. Pemanenan buah srikaya sebaiknya dilakukan dengan gunting panen. Jika buah sulit dijangkau maka pemanenan dapat menggunakan galah bambu berpengait yang dilengkapi dengan jaring. Buah yang telah dipanen disusun dalam keranjang panen yang telah dilapisi jerami kertas atau lembaran sterofom.

  2. Pascapanen

    Setelah keranjang penuh, srikaya jumbo harus segera dibawa ke gudang penyimpanan sementara yang terlindung dari sinar matahari langsung agar buah tidak layu. Selanjutnya dilakukan sortasi untuk memisahkan buah dari kotoran atau kerusakan buah. Pembersihan buah cukup menggunakan kain halus yang kering, selanjutnya buah dikelompokkan berdasarkan tingkat kematangannya agar nantinya dapat matang seragam.

    Buah srikaya yang dipanen dalam keadaan masih menempel pada pangkal, perlu diperam terlebih dahulu sebelum dipasarkan. Tujuannya agar ketika sampai dipasar, buah masih dalam kondisi baik. Bila perlu, ketika sampai di pasar tujuan dapat dilakukan pematangan buatan. Untuk mendapatkan kematangan secara alamai dapat menggunakan daun gamal dan lamtoro agung di bagian atas dan bawah srikaya.

    Wadah pengemasan untuk srikaya jumbo dapat terbuat dari bahan plastik atau karton. Perlu diperhatikan bahwa kemasan harus memiliki ventilasi udara agar buah tidak busuk. Isi setiap kemasan diusahakan tidak lebih dari 20kg. Kemasan sebaiknya dialasi oleh jerami/kertas/lembaran sterofoam untuk menghindari kerusakan buah.

    Srikaya masak pohon hanya dapat bertahan selama 3 hari jika disimpan pada suhu kamar. Penyimpanan yang optimal untuk buah srikaya adalah pada suhu 10-13°C dengan kelembaban relatif 90-95% pada kondisi tersebut, srikaya dapat disimpan selama 15 hari.

XII. NANGKA BULAT MINI DAN NANGKADAK

Nangka dan nangkadak merupakan buah yang khas. Baunya yang menyengat ketika matang membuat para penggemarnya selalu ingin menikmatinya.

  1. Nangka bulat mini

    Nangka bulat mini berbeda dengan nangka pada umumnya. Ukurannya relatif mini (hampir setengah buah nangka biasanya) sehingga porsi satu buah nangka dapat dinikmati oleh satu orang saja. Kelebihan lain dari buah nangka ini adalah sedikit getahnya sehingga tidak repot ketika memakan daging buahnya.

    Sosok tanaman nangka bulat mini cenderung tidak tinggi, kira kira 3-5 m sehingga pas untuk ditanam sebagai tanaman pot.



Gambar. Nangka Bulat Mini

Nangka Bulat Mini

Tinggi             : 3-5 m.

Daun             : hijau tua.

Batang     : cokelat keabuaan, berdiameter 15-25cm.

Percabangan     : horizontal, miring keatas

Bunga             : lonjong, kekuningan

Buah             : berukuran kecil (1/2 nangka biasa), bulat.

Daging buah     : kuning, manis, sedikit getah.

Berat buah     : 5-7,5 kg/buah.

Biji             : lonjong kecil, berat 3,5-4,5 kg.

  1. Nangkadak

    Nangkadak merupakan hasil persilangan antara induk betina nangka mini (Artocarpus heterophyllus) dengan induknya jantan dari cempedak (artocarpusinteger merr). Buah Nangkadak berbentuk silinder dan berkesan padat. Keunggulan nangkadak terletak pada rasa buahnya yang mendekati rasa buah nangka dengan tingkat kemanisan tinggi (30°brix), daging buah tebal dan berwarna menarik (kuning oranye), tekstur daging buah lembut nyaris tanpa serat, dan buah tidak lengket dan sedikit getah, ukuran buahnya sedang, serta aroma buah lembut. Di sisi lain, tajuk daun kompak, pendek, serta rimbun. Tanaman berproduksi pada umur 2-3 tahun (genjah) dengan produktivitas buah yang cukup tinggi (30-50 buah/panen).



    Gambar. Buah Nangkadadak

Nangkadak

Asal             : Persilangan nangka dan cempedak ditanah buah, Mekarsari, Bogor.

Tinggi             : 5-6m.

Daun             : hijau.

Batang     : kecokelatan.

Percabangan     : rimbun, tajuk kompak.

Bunga             : lonjong, kekuningan

Buah             : berduri kecil dan tumpul, hijau muda.

Daging buah     : kuning, oranye, manis, tebal, lembut, sedikit getah.

Berat buah     : 3-5 kg/buah.

Biji             : lonjong.

  1. Syarat Tumbuh

    Baik nangka mini maupun nangkadak dapat tumbuh optimal jika ditanam dengan ketinggian 1.000 dpl dengan kisaran suhu minimum 16-21°C dan maksimum 31-31,5°C. Kedua jenis tanaman ini menginginkan kelembapan tinggi agar dapat mengurangi penguapan, tetapi tetap membutuhkan sinar matahari yang cukup untuk pertumbuhan bunga dan buah. Tanaman ini memerlukan curah hujan tinggi, yaitu 1.500-2.500 mm/tahun untuk tumbuh dan berproduksi dengan baik. Tanah yang gembur dan agak berpasir serta berdrainase dengan pH optimum 6-7 merupakan media yang tepat untuk bertanam nangka bulat mini dan nangkadak.

  2. Perbanyakan

    Tanaman nangka bulat mini dan Nangkadak dapat diperbanyak secara vegetatif maupun generatif (biji). Namun, bibit asal biji hanya digunakan untuk batang bawah dalam perbanyakan vegetatif. Buah yang akan diambil bijinya harus berasal dari pohon induk yang telah disertifikasi, merupakan varietas unggul yang sesuai dengan tanaman batang atas, serta mampu beradaptasi dengan lingkungan setempat.

    Perbanyakan vegetatif pada nangka bulat mini dan nangkadak bisa dilakukan dengan penyambungan. Batang bawah sebaiknya berasal dari penyampaian biji dengan ketinggian 30-50cm. Sementara tanaman yang akan diambil cabangnya sebagai batang atas untuk penyambungan sebaiknya berasal dari pohon induk tunggal yang masih satu keturunan, merupakan varietas lepas, seukuran dengan diameter batang bawah, dan belum pecah tunas.

    Adapun tahapan penyambungan sebagai berikut:

    1. Pilih batang atas dan bawah sesuai dengan kriteria
    2. Potong batang atas membentuk baji sepanjang 2-4cm
    3. Potong ujung bibit batang bawah secara mendatar pada ketinggian 15-20cm diatas permukaan tanah kemudian sayat ujungnya secara vertikal membentuk V sepanjang 2-4cm.
    4. Lakukan penyambungan dengan memasukkan pangkal cabang atas ke dalam celah sayatan batang bawah hingga benar-benar pas, kemudian ikat dengan tali rafia.
    5. Hasil penyambungan akan terlihat setelah tanaman berumur sekitar 5 bulan.

  3. Memilih Bibit

    Untuk tanaman nangka bulat mini dan nangkadak, sebaiknya dipilih jenis bibit yang bagus. Adapun kerteria sebagai berikut ini.

    1. Bibit hasil sambungan dari penangkar yang sudah sertifikasi.
    2. Tugas graftingnya telah tumbuh minimal 50 cm dengan jumlah minimal daun 8 (sekitar umur 6 bulan)
    3. Kondisi tanaman vigor/tegar serta bebas hama dan penyakit utama.

  4. Penanaman di Pot

    Tanaman nangka bulat mini dan nangkadak dalam pot, pot yang digunakan untuk bertanam nangka bulat mini dan nangkadak sebaiknya menggunakan drum yang besar berdiameter sekitar 50cm. Dasar pot harus dilubangi dan bagian bawahnya diberi agar tidak langsung dengan permukaan tanah.

    Adapun tahap penanaman sebagai berikut:

    1. Siapkan bibit yang sehat dan daunnya rimbun.
    2. Masukkan pecahan genting atau batu ke dasar pot. Lalu, tambahkan media tanam berupa campuran tanah topsoli, arang sekam dan kompos dengan perbandingan 3:2:1
    3. Buka polibag bibit dengan mengguntingnya perlahan. Usahakan media tanam polibag terbawa bersama bibit.
    4. Letakkan bibit tepat di tengah lubang tanam. Lalu, tambahkan media tanam hingga mendekati bibir pot.
    5. Agar media tanam tetap lembab, siram tanaman dengan air secukupnya. Jika air sudah mulai merembes, keluar pot, hentikan penyiraman.

Pemupukan :

  • Umur 1 bulan : pupuk organik cair Manutta Gold Bawah sebanyak 2 tutup dicampur dengan air 5 liter per pohon.
  • Pupuk tersebut dikocorkan dalam media tanam.
  • Setiap 1 bulan sekali : pupuk organik cair Manutta Gold Bawah 2 tutup dicampur 5 liter air. Siramkan larutan ini pada tanaman nangka / nangkadak dalam pot.
  • Tanaman nangka / nangkadak yang akan dan sudah mulai berbunga dan berbuah : beri pupuk organik cair Manutta Gold Atas ½ tutup dicampur dengan air 2 liter kemudian disemprotkan pada bagian bawah daun secara merata tiap 1 minggu sekali

  1. Pemeliharaan

    ?????

  1. Pengendalian Penyakit

    Jenis hama dan penyakir kerap menyerang tanaman nangka bulat mini dan nangkadak sebagai berikut:

    1. Penggerek pucuk

Penyebab

:

Diapahnia caesalis

Gejala

:

Ulat ini menyerang dengan membuat terowongan sampai ke kuncup, pucuk muda, dan buah.

Pengendalian

:

Memotong bagian yang terserang agar dapat memutuskan daur hidup ulat karena ulat ulat ini akan menjadi pupa di dalam terowongan tersebut.

  1. Busuk buah

Penyebab

:

Rhizophus artocapi

Gejala

:

Menyerang tunas yang berbunga atau tangkai buah yang lunak sehingga menyebabkan busuk pada buah.

Pengendalian

:

Potong bagian tanaman yang terserang, kumpulkan buah yang jatuh dan timbun.

  1. Penggerak pucuk

Penyebab

:

Diapahnia caesalis

Gejala

:

Menyerang tunas muda, daun muda, dan buah yang baru terbentuk.

Pengendalian

:

Pemotongan bagian yang terserang dan pembungkusan buah.

  1. Mati pucuk

Penyebab

:

Bartodiplodia sp , Erwinia carotofora

Gejala

:

Menyerang pucuk, lalu menyebar dan mematikan seluruh tanaman.

Pengendalian

:

Potong bagian yang terserang

  1. Panen

    Sejak bunga mekar hingga masak memerluka waktu 4-5 bulan. Sementara itu tanaman nangkadadak yang diperbanyak dengan menggunakan teknik sambung susun mulai berbunga pada umur 1,5-2 tahun. Berikut ciri ciri masa panen.

    1. Duri-durinya yang tumpul sudah mulai merenggang dan mengeluarkan aroma khas.
    2. Warna kulit buah sudah berbuah.
    3. Tangkai buah dan daun terdekat sudah menguning dan getah sudah mulai encer.
    4. Jika ditepuk, buah akan berbunyi nyaring.

    Buah ini dipanen menggunakan gunting atau alat tajam lainnya.

  2. Pascapanen

    Setelah dipanen buah ini harus dicuci, lalu ditiriskan agar tidak lembap. Setelah itu lakukan sortasi dengan memisahkan bentuk, ukuran, dan kematangan. Lalu kemas dalam kotak kayu atau karton berventilasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *