AKIBAT SAMA SEKALI TIDAK MEMPAN DIPERINGATKAN OLEH YANG BERHAK DAN SAH MEMBERI PERINGATAN.

0
4154
views

(Q.S. Al-Mukminuun, ayat 23)

Artinya : Wahai kaumku, sembahlah Allah : sebab sesungguhnya sekali-kali tidak ada ilah selain HU (yang tersimpan di dalam rasa hati mengenai Ada dan WujudNya Dia Dzat Al-Ghayb Yang Mutlak WujudNya). Mengapa kamu tidak bertaqwa?.

Berimannya orang-orang yang bertaqwa kepada Allah adalah ma’rifatun wa tashdiqun.

Ma’rifatun adalah alladziina yu’minuuna bi Al-Ghaybi.

Seyakinnya mengenal dan mengetahui di dalam rasa hati Ada dan Wujud DiriNya Dzat Al-Ghayb Yang jelas wajib wujudNya dan jelas mudah diingat-ingat dan dihayati.

Wa tashdiqun, karena sama sekali tidak pernah bimbang dan sama sekali tidak pernah ragu terhadap mengadanya hamba yang diutus Allah memberi petunjuk dengan methode tunjuk ma’rifati (diingat-ingat dan dihayati di dalam rasa hati dan dijadikan tujuan tempat kembali dengan bimbingan sang petunjuk).

Memenuhi petunjuk Allah:  

 (Q.S. Taqwir 24)

Bahwa dia (Muhammad hakekatnya Nur Muhammad, oleh karena itu mengadanya abadi) tidak akan pernah bakhil memberi petunjuk (dengan methode tunjuk mengenai Ada dan WujudNya) Al-Ghayb.

Al-Ghayb itu sama sekali bukan Al-Ghuyub (yang dibangsakan gaib karena sama-sama tidak bisa dilihat oleh mata kepala tetapi sama sekali bukan DiriNya Zat Ilaahi Yang Al-Ghayb).

Mengenal dan mengetahui dari yang berhak  dan sah menunjuki DiriNya Ilaahi Zat Al-Ghayb yang Mutlak WujudNya sama artinya dengan seyakinnya mengenal dan mengetahui fitrahnya jati diri (benih sucinya sendiri) yang dicipta oleh Allah dari FitrahNya ( = kesucian DiriNya Zat Yang Maha Suci), yang disimpan Allah di dalam rasa.

Karena itu sekaligus menjadi ”pintunya mati yang selamat pulang kembali kepada asalnya. Kembali kepada DiriNya Ilaahi dengan rasa bahagia selama-lamanya.

Dan oleh karena itu meminta petunjuk ilmu yang satu ini hukumnya labih wajib bagi yang ngakunya islam (agamanya) dan yang dikehendaki Allah dengan hidayahNya.

Lebih wajib meskipun dibandingkan dengan kewajiban shalat. Supaya shalatnya dijadikan bisa memenuhi amanat Allah dan perintahnya: ”Wa aqimishshalaata lidzikri” .

Peringatan dari yang berhak dan sah memberi peringatan seperti itu, ditolak. Sebagaimana menolaknya para pemuka pada zaman Nuh di utus.

 

 

(Q.S. Al-Mukminuun 24)

Artinya. ”Maka pemuka-pemuka orang-orang yang tidak percaya di antara kaumnya menjawab: “Orang ini tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, yang berkehendak supaya menjadi seorang

yang lebih diutamakan dari pada kamu. Dan kalau Allah menghendaki, tentu Dia mengutus beberapa malaikat. Belum pernah kami mendengar seruan yang seperti ini pada masa bapak-bapak kami (dan dari orang-orang yang kami tuakan) sejak dahulu.

(Q.S. Al-Mukminuun 25)

Ia tidak lain hanyalah seorang laki-laki yang berpenyakit gila, maka tunggulah terhadapnya sampai suatu waktu (Kami binasakan dengan azabKu).”

Menghadapi seperti itu maka Nabi Nuh dan kini aku, mohon kehadiratNya

(Q.S. Al-Mukminuun 26)

”Ya Tuhanku, tolonglah aku karena mereka mendustakanku.”

Pertolongan Allah itu berupa turunya Azab dan bencana yang membinasakan sehabis-habisnya terhadap mereka yang mendustakan Hak MutlakNya Allah dan hak-hak Junjungan Nabi Muhammad SAW yang seharusnya selalu berada di tempatnya.

Nubuwah Syamsiyah yang diperlambangi dan sebutan Asy-syi’’atun = Dhiya’usyamsi yang artinya Cahaya Matahari adalah Shiratal-Mustaqim yang Dhahiruhu syariat wa batinuhu hakekat = sebagaimana diteladankan oleh Junjungan Nabi Muhammad SAW agar dicontoh dengan benar dan ikhlas. Sebagaimana sabdanya:”Ana shiratullahi al mustaqiimu alladzi amarakum biitba’ihi. Tsumma Ali min ba’di. Tsumma wuldi min sulbihi aimah (ila al yaumi al-qiyamah) yahduuna ilaa Al-Haq wa bihi ya’diluuna”.

Oleh karena itu namanya syareat itu adalah perintahnya Guru (yang hakekat Guru (Washitah) ini adalah Nur-Muhammad).

Perintah yang dapat dilihat mata kepala dan dapat dikerjakan seluruh anggota jasad. Sebab syareat adalah asal kata dari Syara’a yang artinya mempola jalan menuju kepada sumber. Sumber segala adalah DiriNya Ilaahi (Hakekat).

Dan bahwa Guru (Washitah) hakekatnya Nur-Muhammad sebagaimana sabda Junjungan Nabi SAW: An Nuuru minallahi ’Azza wa Jalla fiyya maslukun tsumma fii ’aliyyin tsumma fi an nasli minhu ilaa al-Qaaimi al  mahdiyyi alladzi ya’khudzu bihaqqaillahi wa bi kulli haqqin huwa lana, liannallaha ’Azza wa Jalla qad ja’alna hujjatun ’ala al muqashshiriina wa al mu’aaniidiina wa al mukhaalifiina wa al khaainiina wa al atsimiina wa al dzalimiina min jamii’i al ’aalamiina.

Cahaya Terpujinya Dzatullah ‘Azza wa Jalla senantiasa mencahaya (dan terus-menerus mengalir ) di dalam diriku, kemudian kepada Ali setelahku dan berikutnya ke dalam diri zuriat keturunannya sehinggalah kedalam diri (Imam) Al Qaim Al Mahdi yang akan mengembalikan Hak Allah dan seluruh hak-hak kami ke tempatnya semula. Sebab Allah ‘Azza wa Jalla telah menjadikan kami sebagai hujjah dan bukti-Nya terhadap orang-orang yang ingkar, penentang, pembangkang pengkhianat, pendosa dan penzalim dari seluruh mahluk di jagat raya ini.

Tanjung, 19 Juni 2007

IMAM

GERAKAN JAMAAH LIL-MUQORROBIN

 

MUHAMMAD MUNAWWAR AFANDI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here