UMMATAN WASATHAN

PEMBUKAAN DIBUKANYA JAAL-HAQ WA ZAHUQAL BAATHIL
GERJALIBIN
GERAKAN JAMAAH LIL MUQORROBIEN
TANJUNGANOM-NGANJUK-JAWA TIMUR

Assalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarokatuhu,
Hatur salam hormat, salam damai, salam sejahtera, salam kesatuan dan persatuan Nusantara Indonesia, semoga keselamatan, kedamaian selalu menyertai. Dengan Yang MpuNya Nama Alllah, Yang Maha Sayang (dengan KemurahanNya) dsn Maha Kasih (dengan RahmatNya).

Dengan menempatkan sebagai penghamba dengan menghaturkan rasa syukur kepada Diri Dzat Tuhan Yang MpuNya Nama Allah, atas limpahan AnugerahNya, dan menghaturkan shalawat dan salam kepada Junjungan Nabi Muhammad SAWW, kepada Itroti ahlul bayt Nabi SAWW, dan ahlul baytnya, serta kepada sahabat setianya, semoga kita selalu dalam syafaatnya.

Surat ini kami haturkan dengan maksut lebih memperkenalkan keberadaan kami, Pondok Sufi dalam JAMA’AH GERJALIBIEN pada “ESENSI”nya, mengenai keberadaan/ eksistensi kami, jamaah GERJALIBIEN dengan ajaran “inti” ‘keberagamaan’ dalam ‘keislaman’, dalam budi dharma sebagai uswatun hasanah yang sesungguhnya.

Surat ini kami haturkan, bukan bermaksud mengajari apalagi menggurui, sama sekali bukan, tidak bermaksud demikian, namun murni kami hanya “caos” (jw. Memberi) informasi sekaligus pengetahuan atas keberadaan kami dan kami hanya sekedar menjalankan Dhawuh atau semata-mata hanya “nuhoni” dhawuh dari Guru kami, saat beliau beberapa saat menjelang kondur untuk mulai “menyampaikan “ terbuka mengenai pemahaman, pengamatan, penghayatan “KEBERAGAMAAN” dan “GARUDA PANCASILA”, yang selama ini telah kami jalani.

Secara pribadi saya, Mohammad Dzoharul Arifin Alfaqiri Munawwar Abdullah Afandi, sungguh menyadari, “Masya Allah” sungguh didalam kesadaran ketiadaan, dan kefaqiran, artinya sungguh saya sadar atas ketidaklayakan, ketidakpantasan, dipandang dari sudut mana saja, saya sadar sesungguhnya tidak pantas dan tidak layak, dari sudut strata sosial, politik, ekonomi, juga dari sudut keagamaan, dari sudut adat istiadat, apalagi dipandang dari sudut hierarki, struktur pemerintahan dan kemasyarakatan. Sungguh kapasitas saya dalam menyampaikan ini (tampak) tidak layak dan tidak pantas. Sepenuhnya saya menyadari ini. Apalagi saat jika dihadapkan dihadapan Allah, sungguh sadar-sesadarnya atas kebodhohan saya, kekurangan saya, kelemahan (nyata) saya, nyata tidak bisa apa-apa dan tidak ada apa-apanya. Didasarkan atas kesadaran ini, untuk itu hal ini saya lakukan semata-mata hanya nuhoni Dhawuh Guru saya, tidak lebih, (jw. hanya sak dermo).

Walaupun dalam keterbatasan kami dan dalam kesadaran “ketidaklayakan” dan “ketidakpantasan” saya, sebagai hamba yang sungguh lemah tidak bisa apa-apa dan tidak ada apa-apanya, tempatnya kurang, salah dan dosa, namun, bersama dengan jamaah, kami, telah berani menghaturkan surat kepada “Panjenengan-panjenengan” dengan maksud memperkenalkan sekilas “keberadaan” kami, jamaah GERJALIBIEN, dengan ajaran “inti” Ilmu Tauhid, Ilmu Syatoriyah (lebih dikenal dengan Tariqah Syatoriyah), sesungguhnya adalah ilmu tauhid, ilmu yang membuka hakekat jati diri manusia, ilmu yang tersimpan di dalam hati mengenai Ahadiyat Diri Tuhan Yang mPuNya Nama Allah, Yang Al-Ghayb, namun Wajib WujudNya, Mutlak KeberadaanNya, ilmu yang membuka makna hidup dan kehidupan, ilmu yang menunjukkan puntunya mati supaya di dalam keselamatan kembalinya, yakni saat sewaktu-waktu masa pakai jasad habis sebab, mati hanya sekali, dan akibat kematian yang tidak sampai kepada Keberadaan Tuhan Yang NamaNya Allah, sungguh di dalam azab yang hebat dan gegirisi. Dengan Ilmu Tauhid, maka menauhidkan Dzat,

Sifat dan Af’al Allah di dalam menjalani hidup dan kehidupan menuju kebahagiaan dan ketentraman yang sesungguhnya.

Walaupun ini bukan sebagai surat terbuka, saat ini, zaman ini, sesuai petunjuk dari Guru kami, atas tanda-tanda yang ada, maka kami “telah” menangkap sinyal sudah saatnya untuk dibuka. Untuk hal ini maka kami menghaturkan ini, semoga dapat diterima sebagai “faidah” dan “kemanfaatan”, bahkan (semoga) sebagai hikmah.

Sebab untuk hal yang bersifat lahir dengan tatanan fikih dan tatanan syareat, dalam pelaksanaannya secara tatanan lahir tatanan syar’i adalah sama, termasuk sunah-sunah, malah di kami ada lakon “sunah” rialat riyadhoh mujahadah.

Pun untuk yang dimensi program lahiriyah, program berdunia dengan segala aspek-aspeknya sebagai unsur-unsur yang lahiriyah, dalam perjalanan dan pelaksanaan program sedemikian rupa setingkat mampu kami, setingkat kemampuan kami, kami sudah mencoba, kami lakukan, sedang unsur batiniyah, rasa hati yang bernilai dalam makna hidup dan kehidupan, hakekat hidup, untuk apa kehidupan, bagaimana kehidupan, apa itu kehidupan dan kemana setelah kehidupan dengan ajaran inti islam ajaran TAUHID yang ada di dalam ajaran kami belum diperkenankan untuk dibuka, sampai ada “dhawuh” sinyal dari tanda-tanda “sinyal” boleh untuk dibuka.

Sebagai hamba kami menghaturkan kepada “panjenengan” kami menghaturkan salam kenal, salam kekeluargaan dan salam sejahtera. Dan kami mohon maklumnya dan mohon maafnya, mohon untuk dimaafkan, jika telah menyita waktu dan kamardikan panjenengan-panjenengan, dan mohon dimaafkan manakala sebutan yang kami haturkan tidak sesuai, tidak benar, tidak tepat, bahkan salah dalam penyampaian dan tutur kata, kami mohon dimaafkan.

PEMBUKA

BERSYUKUR
Perkenankan kami menghaturkan rasa syukur kepada DiriNya Dzat Tuhan Yang Mutlak KeberadaanNya, atas segala anugrah yang telah dilimpahkan kepada kami, juga kepada Panjenengan (jawa) semua. Rasa syukur yang menghantarkan seseorang untuk menjadi hamba yang dikehendakiNya, dalam realisasi rasa syukur, sesungguhnya telah memiliki kandungan yang luar biasa bagi pen-syukur, saat menerapkannya.

Sebab, sesungguhnya makna syukur adalah membuka, terbuka, dibuka. Syakara adalah keterbukaan dalam menerima informasi dan berita demi kemajuan dan perkembangan potensi diri, apalagi perihal kebenaran yang berkaitan dengan keselamatan dunia dan keselamatan akherat. Maka didalam keyakinan kami shalat tanpa syukur tidak akan sempurna dan tidak sah, demikian juga do’a dan khutbah. Pun dalam kehidupan sehari-hari, tanpa disadari dengan jiwa syukur menjadi tidak sempurna.

Sebab inti syukur adalah pefungsian telinga pada wilayah “As-Sam’a”, mata pada wilayah Al-Abshara, dan akal pikiran pada wilayah Al-Af’idah serta hati pada wilayah Ar-rahmah. Artinya bahwa keberadaan telinga, mata dan akal pikiran serta hati diciptakan bukan sekedar seonggok daging yang tanpa maksud, dan tanpa makna serta tanpa nilai.

Kehendak Tuhan bahwa dengan As-Sam’a, Al-Abshara, dan Al-Af’idah supaya dalam makna dan nilai yang berfungsi sesuai dengan kehendak Sang PenciptaNya, yakni menyimak, memperhatikan, menyelami ayat-ayat atau tanda-tanda keberadaan Tuhan, digunakan untuk mendekatiNya sampai pada titik Ar-Rahmah, hingga dikenali KeberadaanNya di dalam rasa hamba, atas ridha Allah yang mengetahui Ghaibullah dari yang berhak dan sah menunjuki dan kemudian diingat-ingat di dalam hati nurani. lnilah maksud “TA-ADZDZANA RABBUKUM”, realisasi dalam penerimaan syukur, guna pencapaian kebahagiaan dan kedamaian serta keselamatan yang sesungguhnya, utamanya saat masa pakai jasad habis di dunia. Sebaliknya, kufur adalah ketertutupan, menutup, ditutup, tertutup, akibatnya adalah azab yang hebat. Tertutup oleh gengsinya, tertutup oleh kehormatannya, tertutup oleh jabatan dan karirnya, tertutup oleh “darah birunya” tertutup oleh ego dan keakuannya. ltulah kubur-kubur yang sesungguhnya. Kubur yang menghalangi dalam Iaku Ad-Diin dan AI-lslam pada persaksian senyatanya Keberadaan Diri Dzatullah Yang Al-Ghayb, dan menjadikan dada sempit sehingga sesak. Menuju azab kegelapan.

BERSHOLAWAT
Perkenankan pula kami menghaturkan Sholawat salam kepada Nabi Muhammad SAWW, ini dimaksudkan bagi kami adalah supaya menjadi hamba-hamba yang siap dengan pembimbingan, arahan, sadar dalam kefeqirannya, sadar bahwa manusialah yang butuh kepada Tuhannya, sehingga sadar butuh bimbinganNya (Keberadaan NurMuhammad), sadar tanpa melaluiNya (Keberadaan NurMuhammad), shalat dan ibadah tidak sah. Bersholawat artinya, memposisikan diri sebagai seorang yang sadar berada di dalam gelap, pengap dan panas. Karena memang dunia ini pada dasamya gelap dan panas, sehingga memerlukan penerang, penyegar dan penyejuk, dan juga bagai wadah kosong maka siap untuk diisi. Jadi syafaat sangat berkaitan dengan Keberadaan NurMuhammad sebagai Cahaya Terang yang keberadaanNya di dalam hati nurani, yang sangat berpengaruh pada watak, sifat dan sikap perilaku yang menyertainya.

Syukur dilontarkan, sholawat diucapkan, mengolok, menjatuhkan dan merasa benar, paling baik dan paling suci, paling berhak dimuliakan dipraktekkan, apalagi menggunakan rasa iri, dengki, riyak, sum’ah, ujub dan takabur digunakan, semua orang harus mendengar, harus melihat, memperhatikan jasa-jasanya, maka, bukan Islam namanya, hal ini mengakibatkan rusaknya amal bagai kayu kering yang habis terbakar dilalap api, maka, sama sekali tidak ada manfaat dan faidahnya. Dan perolehannya hanyalah kulit dan lahirnya semata. Merusak kemerdekaan yang sejati dan merusak kebahagiaan dan kesejahteraan yang sesungguhnya dan menutup serta menghijab proses diri kembali kepada Tuhannya.

I. SEKEDAR PERKENALAN
Warga Jamaah GERJALlBlEN, dalam kehidupan yang dijalani ditengah-tengah masyarakat, ikut menjaga, meningkatkan, memajukan kesatuan dan persatuan sebagai bagian dari “lakon” ibadah. Memang kebutuhan proses diri hidup ditengah lingkungan masyarakatnya, untuk berperilaku pada laku “keteladanan” untuk masyarakat lingkungannya.

Budi Dharma dalam kehidupan bermasyarakat pada sikap keteladanan yaitu pertama, memajukan dan meningkatkan kesadaran hakekat jati diri inti manusia sebagai eksistensi kemanusiaannya; kedua, memajukan dan meningkatkan tingkat sosial kesatuan dan persatuannya pada perilaku kebersamaan, kekeluargaan, saling mendukung, saling tolong menolong, saling membantu; ketiga, memajukan dan meningkatkan ilmu pengetahuan, teknologi dan ketrampilan serta medianya, walau nyatanya setingkat kemampuannya masing-masing. Jadi sikap keteladanan bukan untuk membuat contoh dan juga bukan untuk pencitraan, namun murni dalam kemestian membuat lakon ibadah. Perwujudan kesadaran “antumul fuqoro ila Allah” penghamba yang memiliki “kebutuhan” proses kembali kepada Allah. Kebutuhan dalam menjalani kehidupan ditengah-tengah masyarakat, tidak memandang perbedaan keyakinan dan kepercayaan, sekalipun itu adalah minoritas.

Dalam ajaran kami (ISLAM TAUHID Bl DZATILLAH,) yang terwadahi dalam jamaah GERJALlBIEN, Gerakan Jamaah Lil-Muqorrobin, bahwa sesungguhnya eksistensi manusia berada pada fitrahnya, bahwa hakekat fitrah manusianya yang asal fitrah dari Fitrah Allah Sendiri, inilah intinya manusia, yang terletak di dalam rasa, di dalam hati nuraninya. Maka inti manusia yang ditempatkan di dalam rasa hamba untuk merasakan Keberadaan Diri Tuhan Yang Al-Ghayb (tidak kelihatan mata, namun dapat dikenali KeberadaanNya jika, digurukan kepada Guru yang hak dan sah), adalah wilayah hak masing-masing diri. Sedang hal yang Iahir, hal yang ragawi, adalah bagai wadah semata, sebagai pakaian, sehingga raga atau jasad ini dipergunakan sebagai alat atau media atau kendaraan hati nurani, ruh dan rasa untuk kembali kepada Tuhannya, yang jika masa pakai jasad habis dapat selamat menyatakan kembali kepada asal mula kejadiannya.

Hal inilah sehingga perilaku lahir atau jasad ini yang dibangun adalah pertama, adab dan akhlak, diterapkan di tengah masyarakat, kepada orang lain, sekalipun berbeda keyakinan dan agama menghormati dan menghargai orang lain tetap diberlakukan, juga hubungan kepada sesama dengan rasa saling menghormatinya, saling memahaminya, saling memakluminya dan saling mendukung, saling mengisi, saling asah, saling asih dan saling asuh. Perbedaan apapun tidak terkecuali dalam perbedaan keyakinan dalam keberagamaan, pun ritual, terlalu banyak hal yang bisa disejajarkan dan dikomunikasikan, membangun persatuan dan kesatuan bangsa dan negara.

Jamaah GERJALIBIEN dalam menjalani kehidupan berdunia, bersosial dan bermasyarakat dan dalam menjalani keberagamaan, secara lahir dalam tatanan syari’at sama persis, layaknya kenormalan kehidupan berdunia dan bermasyarakat, hanya saja sisi batinnya dalam hati nuraninya, setelah memperoleh ilmu yang menunjukkan Al-GhaybNya, berusaha untuk tidak mudah melupai TuhanNya, tidak melupai Keberadaan DiriNya Dzatullah, untuk dijaga supaya selalu mengingati-Nya dalam keadaan apa saja dimana saja dan dalam situasi apa saja.

HAL YANG MENDASAR tidak sekadar sebagai pembenar diri, merasa diri paling unggul, merasa diri paling baik, merasa diri paling suci, merasa diri telah cukup, inilah hal-hal yang menjadi sebab utama perpecahan, pertikaian, kemudian memperlakukan semena-mena dan menjatuhkan kelompok yang lain, akibat tidak ada saling menghormati, saling menghargai, saling mendukung, saling mengisi, saling memajukan dengan saling tukar informasi serta saling komunikasi.

Saat tidak ada keterikatan saling menghargai, saling menghormati, saling memahami, saling memaklumi, saling tukar informasi dan saling komunikasi, bahkan tidak menutup kemungkinan saling mendukung, saling tolong menolong, saling bantu membantu akibatnya pembenar diri, ego dan nafsu “aku”nya, hal yang memiliki akibat menutup dari kemajuan dan peningkatan potensi perkembangan diri, lingkungan dan masyarakatnya bahkan bangsa dan negaranya, juga mengakibatkan perpecahan dan pertikaian yang tiada henti dan tidak ada habis-habisnya, menutup dari, bahwa keadilan dan kebenaran adalah “aI-haq min robbika”.

Adalah hal yang mendasar bahwa semestinya tidak ada satu nabipun dan ajaran agama apapun, keyakinan apapun, dan adat-istiadat ajaran Ieluhur yang murni dan agung apapun yang mengajarkan perpecahan, pertikaian, dan pengotoran hati dan pikiran. Saat keyakinan suatu kelompok atau golongan merasa agama mereka, keyakinan mereka, suku mereka, golongan mereka, kelompok mereka, dan setiap masing-masing dari mereka “merasa” yang paling berhak, paling berwenang, paling benar, paling suci, paling unggul, paling berhak masuk surga, namun perilaku dengan egonya, dengan kesombongannya, dengan arogansinya, dengan merasa cukupnya kemudian suka memperolok, menjatuhkan, menyesat-sesatkan, membid’ah-bid’ahkan (korelasi bid’ah sesungguhnya adalah ibadah dan perilaku keseharian yang dilakukan, disertai “tambahan” ego dan nafsu keakuan-keakuan tersebut), maka ini sesungguhnya telah mengotori hati dan pikirannya sendiri. Tentu semua Nabi agama juga para Ieluhur agung kita, tidak mengajarkan hal demikian ini.

Berpegang pada keyakinan, ke-imanan yang diyakini kebenarannya iya, boleh malah harus, namun bukan berarti kemudian digunakan untuk menjatuhkan, menyisihkan, meminggirkan kelompok yang Iain sekalipun itu adalah minoritas.

II. SEKILAS MENGENAI GERJALIBIEN (Gerakan Jamaah Lil-Muqorrobien)

Jamaah Lil-Muqorrobien adalah, tempat berkumpul dan bersatu padunya orang-orang yang mempersiapkan diri dengan berjihadunnafsi, memerangi nafsunya sendiri, nafsu watak ego keakuan, supaya rela dan patuh dijadikan kendaraan hati nurani ruh dan rasa, menjadi “kalmayyiti” baina yadil ghosili. Memproses diri dengan ilmu dan laku untuk dapatnya kembali kepada Diri Tuhannya dengan hati yang selamat.

Sadar bahwa “seseorang” kemestian memposisi menjadi hamba yang pandai bersyukur, yakni hamba yang membuka dan terbuka supaya dibuka dengan mengharap fadhal dan rahmat Allah semata, sadar, bahwa tanpa dengan Diri Tuhan sungguh tidak bisa apa-apa dan tidak ada apa-apanya, hanya seorang hamba, tempatnya salah, kurang dan dosa, sehingga akan memposisi penghamba untuk mengenali Keberadaan DiriNya

Dzat Yang AlGhayb Yang Allah NamaNya Yang “sungguh” dekat, dapat dikenali di dalam rasa hati nurani, jika digurukan kepada Guru Yang Haq dan Sah.

Sadar bahwa “seseorang” musti memposisi menjadi sebagai “murid”. Seorang Nabi dan Rasul sekalipun adalah memposisi sebagai murid, yang menjadi Guru yang membimbing, mengarahkan, menunjukkan jalan pulang kembali kepadaNya adalah Malaikat Jibril. Maka disebut Nabi, dan menjalankan Perintah Tuhan melalui GuruNya yakni Malaikat Jibril untuk menyampaikan Risalah Al-Kitab, Al-Hikmah dan An-Nubuwah sebagai Risalah Rasul, menunjukkan Keberadaan Diri Tuhan Yang Al-Ghayb, supaya Tuhan yang berAsma Allah dikenali KeberadaanNya.

Makna “murid” yakni seseorang yang memiliki niat dan tekad menjadi hamba dalam cita-cita dan tujuan mendekatkan diri kepada-Nya, dengan sadar diri dalam menjalani kehidupan berdunia dalam arahan, bimbingan dan petunjuk “Kebenaran adalah AI-Haq min Robbika” sehingga sewaktu-waktu mati, ditarik fadhal dan rahmat-Nya untuk didekatkan kepada-Nya dimasukkan dijadikan hamba yang ketika merasakan mati yang hanya sekali, wajahnya berseri-seri. Kepada Tuhannya-Iah mereka melihat (sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Qiyamah 22 – 23).

GERAKAN
Kami adalah jamaah GERJALIBIEN (Gerakan Jamaah Lil-Muqorrobien). Gerakan yang dimaksud adalah pertama, Gerakan keluar, membangun kebersamaan dan kekeluargaan, kompak dalam kesatuan dan persatuan dalam kekeluargaan yang harmonis, bersama dengan masyarakat sekitarnya, di dalam lingkungan dimana dirinya berada, ikut berperan aktif, mendukung, mendorong kreatifitas masyarakat, ini adalah sebagai bagian dari lakon “ibadah”. lbadah karena kesadaran diri sebagai hamba al’abdi yang memang kebutuhan diri, dan tidak memandang agama dan kepercayaan mayoritas ataupun minoritas pada lingkungannya. Mendorong, memajukan membangun lingkungannya. masyarakat sekitarnya, bahkan bangsa dan negara adalah kemestian lakon ibadah sebagai kebutuhan diri untuk memproses dapatnya kembali kepada Tuhannya dengan berlakon dan berpitukon.

Kedua, Gerakan kedalam, bergerak pada kesadaran ke’murid’an, artinya terus bergerak membangun, memperbaiki, memajukan, meningkatkan, terus dalam pembelajaran diri dalam proses “aguru-guru” dengan niat dan tekad serta tujuan memproses diri dapatnya kembali kepada Diri Tuhannya. Berdunia untuk “subhanaka”, ikhtiyar dan usaha berdunia ditempatkan sebagai pancatan yang kokoh untuk kembali kepada Diri Tuhan. Dengan mengenali pada wilayah “kemakrifatan” rasa hamba, dan tetwujudnya hamba untuk menjadi semakin sadar atas kelemahan dirl, kekurangan diri, dirinya yang paling banyak kurang, lemah, dan tempatnya salah dan dosa, sehingga akan terus berusaha untuk memperbaiki diri dan sehingga semakin subur dalam gerakan “mendzikiri” TuhanNya.

Sebagai Ummatan Wasathan
JAMAAH GERJALIBIEN, adalah ummatan wasathan, umat berwasithah, berkeadaan dalam kesadaran umat berwasithah, menjadi hamba yang “kuunu RABBANIYIN”, umat yang di dalam kehidupan berdunianya berpedoman pada AI-Kitab, AI-Hikmah dan An-Nubuwah.

Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya AI-Kitab, AI-Hikmah dan An-Nubuwah, lalu dia berkata kepada manusia: ”Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah. ” Akan tetapi (dia berkata): Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan AI-Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya” .(3. Ali ’Imran, 79).

Mereka (para Utusan) itulah orang-orang yang telah Kami berikan Al-kitab, AI-Hikmah dan An-Nubuwah, Jika orang-orang (siapa saja yang tidak menerima keberadaannya) itu mengingkarinya, maka sesungguhnya Kami akan menyerahkannya kepada kaum yang sekali-kali tidak akan mengingkarinya”. (6. AI An’am, 89)

Ilmu Tauhid, Ilmu Nubuwah Ilmu yang menunjukkan pintunya mati sehingga jika sewaktu-waktu masa pakai jasad habis dapat pulang kembali kepadaNya, “walaa tamuutunna illa wa antum muslimun” janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan islam, berserah diri supaya selamat kembali kepada Tuhannya. Supaya di dalam Islam kaafah. Islam seluruhnya. Islamnya jasad, islamnya hati, islamnya ruh dan islamnya rasa, adalah dengan “laku” Ilmu Tauhid, Ilmu Yang menunjukkan Keberadaan Jati Diri Manusianya, maka mengetahui dan mengenali Keberadaan Tuhannya, ilmu Nubuwah, Ilmu Yang menunjukkan pintunya mati, Ilmu Syatoriyah.

Syatoriyah sering dinisbahkan kepada Abdullah Asy-syator dari Gujarat India, memang beliau oleh gurunya digelari Asy-Syator, sehingga menjadi Abdullah Asy-Syator, yakni seseorang yang telah maqom pada derajat ahlil muhibbah ila Allah, seseorang yang telah lillah, billah, fillah. namun Syatoriyah sendiri sebenarnya pewujudan tauhid Ii-af’aliHi, Ii-sifatiHi, li-WujudiHi, Ii-DzatiHi. Yang ditunjukkan dengan methode tunjuk inisiasi bisik (seperti saat Sang Bima Sena masuk kedalam telinga kiri sang Dewa Ruci menunjukkan “mengenai” Keberadaan Diri Dzatullah oleh yang Hak dan Sah menunjukkan, dilakukan atas “Dhawuh” Gurunya yang Hak dan Sah, melalui jalur rantai silsilah “Gulowentah” yang tidak akan terputus sama sekali. sejak dari Nabi Muhammad SAW, kepada Sayyidah Siti Fatimah, kepada Sayyidina Ali Ra, kepada Sayyidina Husain terus rante-marante dalam mata rantai silsilah “Gulowentah” hingga Kiyamat tidak akan terputus sama sekali.

Gulowentah adalah sebelum Guru Wasithah meninggal dunia, maka sudah mengangkat wakil dan sudah menugasi wakilnya untuk mewakili fungsi dan tugas ke-Wasithahan, sehingga jika sewaktu-waktu Allah menghendaki “pulang” karena masa pakai jasad di dunia telah habis tidak terjadi jeda waktu, tetap nyambung dalam mata rantai silsilah “gulowentah”. Inilah hujiatul mubin.

Penamaan SYATORIYAH sebenarnya adalah guna menghindari kerancuan definisi antara makna tauhid dengan ilmu kalam. Dikarenakan selama ini ilmu kalam telah mengambil alih menjadi semakna dengan makna tauhid. Sehingga saat disebut sebagai ilmu kalam sudah dianggap telah bertauhid. Padahal di kami sangatlah berbeda. llmu kalam membicarakan seputar sifat-sifat wajib, sifat jaiz dan Asmaul Husna, sedang Tauhid adalah “persaksian” rasa pada “kemakrifatan” mengadaNya Diri Dzatullah Yang Al-Ghayb Yang memiliki Nama Allah, untuk dikenali di dalam rasa hati sehingga dapat di ingat-ingat di dalam hati nurani dan dijadikan tempat tujuan kembali.

Warga jamaah GERJALIBIEN tetap dalam kesungguhan “berjihadunnafsi” memerangi nafsunya sendiri-sendiri dengan lakon pitukon berdunia, berdunia semata-mata untuk memproses pensucian diri dengan Ilmu dan laku. Ilmu yang menjadikan hati nurani berfungsi dalam mengingati Keberadaan Tuhan Yang Gaib, dekat sekali dan dapat diingat-ingat di dalam rasa hati yaitu mengingati Al-GhaybNya, Yang Allah NamaNya. Dan laku adalah lakon dan pitukon guna mempercepat perjalanan hati nurani, roh dan rasanya mendekat kepada Diri-Nya Dzat Yang Al Ghayb Yang Asmanya Allah. Sebab hanya dengan hati mengingati Allah, maka menjadi tentram.

Sehingga ajaran yang kami lakukan bersama dengan jamaah sampai sekarang sesungguhnya hanya petunjuk dari para Guru-Guru kami, kami menjalankan Dhawuh Guru kami semata. Mereka-mereka sangat menekankan ajaran Tauhid ajaran pengenalan Diri Tuhan dan dalam kehidupan masyarakat untuk terus membangun kebersamaan, kekeluargaan, kebersamaan tidak memandang ras, bahasa. adat-istiadat, etnis dan budaya. Sebab mengenai keyakinan, keimanan, (agama) mau masuk keyakinan apa saja adalah hak setiap orang dan masing-masing, dan “Hidayah Kebenaran” adalah milik Tuhan. Manusia tidak bisa memaksakan keimanan dan keyakinan pada orang Iain.

III. MAKNA AD-DIIN dan AL-ISLAM serta PELAKSANAANNYA

AD-DllN
Namun perlu diketahui dan mohon dimaklumi bahwa agama dalam makna ad-diin yang kami maksud adalah perilaku sehari-hari pada semua aktifitas berdunianya dengan lahir menjalankan tatanan Iahiriyah dan dalam batin mengenali Tuhannya, dan diingat-ingat di dalam hati nuraninya. Sebab ad-diin adalah perilaku keseharian pada semua aktifitas kegiatan dan berpikir yang mengarahkan untuk dapat kembali kepada Diri Dzat Tuhan Yang Allah NamaNya dengan tata cara dan tata laku selamat, keselamatan “Iaku” berdunia untuk “subhanaka” dan keselamatan akherat, aktifitas kegiatan yang dilakukan disertainya hati “ingat” kepada Keberadaan DiriNya Tuhan supaya jika sewaktu-waktu meninggal dunia selamat, pulang kembali kepada Diri Tuhan.

Ad-diin adalah al-Khudhu’ al-Mutlaq, kepatuhan dan ketundukan serta berserah diri kepada perilaku ketaatan yang dikenali. Mengenali hakekat manusianya, mengenali Keberadaan TuhanNya. Keberadaan manusia sebagai makhluk Allah, dan atas Kehendak Allah supaya manusia memposisi “menjadi“ hamba yang taat kepada Tuhannya, menjadi hamba yang ditarik dengan fadhal dan rahmatNya sebagai ‘abdi Tuhan (tuannya adalah Allah) adalah Tuhan yang telah dikenali KeberadaanNya, dikenali MengadaNya Dzat Tuhan Yang Al-Ghayb, Yang Allah AsmaNya. Sehingga menjadi hamba yang patuh dan tunduk dalam “ketaatan yang dikenali”, sehingga dalam kesadaran sebagai penghamba. (QS. Maryam 93) dan “Janganlah kamu bersumpah, (karena ketaatan yang diminta ialah) ketaatan yang sudah dikenal. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan (An-Nur 53). Sehingga Ielaku ritual, kebaikan dan membangun jiwa kekeluargaan dalam kebersamaan yang dibuat bisanya, menjadi “nilai” ibadah.

Ad-diin, sebagai Al-Khudhu’ al-Mutlaq hanya kepada Diri Allah Sendiri, kepatuhan dan ketundukan hanya kepada Tuhan Sendiri, hak Tuhan Sendiri. Kebenaran dalam menjalaninya adalah Al-Haq min robbika, hak Tuhan, Wilayah Tuhan Sendiri, bukan milik golongan dan kelompok, atau klaim (anggapan) golongan ataupun seseorang. Namun total mutlak hak Tuhan, cara Tuhan siapa yang dalam ad-diin hanya Tuhan Sendiri dan siapa yang diutus adalah Hak Tuhan, wilayah Tuhan Sendiri, keberadaan Utusan yang membacakan ayat-ayat Tuhan, yang menjelaskan, yang menerangi menjadikan terang dalam kehidupannya manusia setuju, menerima atau menolak keberadaan Utusan tidak menjadi masalah bagi Tuhan, karena keselamatan dan kebahagiaan adalah bersifat masing-masing diri, dan merupakan pilihan masing-masing diri orang, dan bagaimana beragama dijalankan diatas jalan menuju kepada keselamatan adalah Hak Mutlak Allah, Tuhan Sendiri. Inilah Diinullah.

Yaumiddiin, adalah aktifitas kehidupan yang dijalani pada “yauma Iaa tamliku nafsul li nafsin syaian, wal amru yaumaidzil Iillahi”. Kehidupan berad-diin adalah nafsu yang tertundukkan dan patuh dikendalikan dijadikan kendaraan hati nurani ruh dan rasa. Kehidupan keseharian yang tidak dalam kungkungan nafsu untuk nafsu sedikitpun. Di dunia, berdunia….iya, namun tidak dunia untuk dunia, di dalam kesadaran apapun yang dilakukan jelas di dalam perintah (Utusan) untuk Allah (QS. Al-lnfithar).

Ad-diin, mengenai hakekat manusia sebagai diri, membuka sesungguhnya hakekat fitrah manusia adalah dari fitrah Allah Piyambak, mengenalinya berarti mengenali Tuhannya. Inilah Ad-Diinul Qoyyim.

Dan Islam adalah memproses diri kepada keselamatan atau ke-islaman, selamat perilakunya, selamat niatnya, selamat tujuannya, selamat kematiannya, yakni jika sewaktu-waktu masa pakai jasad habis kembali kepada Dlri Dzat Tuhan. Maka, mesti mengenali Dlri Dzat Tuhan, walaupun Al-Ghayb, namun dekat sekali dan dapat diingat-ingat di dalam hati, jika digurukan kepada Guru yang Hak dan Sah dalam mata rantai silsilah gulowentah tidak terputus sama sekali mengajarkan mengenai tauhidullah, sehingga mengetahui Tuhannya tidak sekedar mengetahui NamaNya, namun DzatNya. lnilah agama dalam makna Ad-Diinul Haq.

Sehingga ritual ibadah yang dilakukan berada di dalam ke-khusyukan ada pusat konsentrasi batin kepada Dzatullah Yang Al-Ghayb, mutlak KeberadaanNya.

”KETAATAN YANG DIKENALI” “INTI” BERAGAMA adalah “PERSAKSIAN” mata hati, rasa yang berada di dalam dada, seperti persaksian buah jeruk, persaksiannya adalah pada rasanya, bukan pada wujud lahiriahnya. Kemudian mengenai tata ritual ibadah apapun bentuk dan wujudnya itu adalah petunjuk dan methode pencapaian kebersatuan, kebahagiaan sejati dan yang sesungguhnya. lnilah Ad-Diinul Kholish, bersih dan suci.

Sehingga Ad-diin Al-Islam (sering menjadi agama Islam) (seharusnya) adalah perilaku yang selamat dan menyelamatkan bagi semua dalam semua aktifitas kehidupannya, dan berpikirnya dari mana kita hidup, untuk apa kita hidup, kemana kita hidup, dan bagaimana kehidupan setelah kematian, bagaimana kita kembali setelah kehidupan di dunia masa pakai jasad habis.

Akhirnya, semoga Tuhan meridhai untuk segera diwujudkan Negara kita, bangsa ini, Negara Nusantara Indonesia ini menjadi bangsa yang tata-titi-tentrem-karta raharjo,bangsa yang tentrem, damai, penuh dengan saling kasih, saling menghormati, saling menghargai, bangsa yang hangadil. Yang mimpin dan yang dipimpin pandai mengadili diri sendiri, dan bangsa yang penuh dengan ampunan Allah, Tuhan yang Maha Esa, dan segera terlepas dari kungkungan nafsu-nafsu kepentingan dan keserakahan umat manusia yang hanya memikirkan dirinya sendiri, golongannya sendiri, kelompoknya sendiri, keyakinannya sendiri dan suku bangsanya sendiri.

lnilah sekilas keberadaan kami, semoga dapat diterima dengan Iapang dada, diterima dengan persahabatan bahkan kekeluargaan, kami mohon maklumnya, kami mohon maaf yang sebesar-besarnya.

Sekali Iagi kami sadar sesadar-sadarnya, “masyaallah” sungguh di dalam kesadaran ketiadaan, dan kefaqiran, artinya sungguh kami sadar atas ketidaklayakan, ketidakpantasan, dipandang dari sudut mana saja, sepenuhnya kami menyadari ini,

Apalagi saat jika dihadapkan dihadapan Allah, sungguh sadar-sesadarnya atas kebodohan kami, kekurangan kami, kelemahan (nyata) kami, kekhilafan kami, nyatabukan apa-apa, tidak bisa apa-apa dan tidak ada apa-apanya. Didasarkan atas kesadaran ini, maka keberanian kami dalam hal ini, yang kami Iakukan semata-mata hanya nuhoni Dhawuh Guru kami, tidak Iebih, (jw. hanya sak dermo).

Dan manakala dalam tutur kata dan perilaku yang kami haturkan tidak berkenan kami mohon maaf yang sebesar-besarnya, mohon dimaklumi, sekali Iagi mohon dimaafkan atas segala kesalahan dan kekurangan.

Wassalaamu’alaikum Warohmatullahi Wabarokatuhu.

14 Juli 2014 M / 14 Al-Hasan 02 MHD
Pondok Sufi, GERJALIBIEN, Tanjunganom Nganjuk Jawa Timur
Dari Penghamba yang “sak dermo” menyampaikan, menghaturkan.
Imam Gerakan Jamaah Lil-Muqorrobien

Moh. Dzoharul Arifin Alfaqiri Munawwar Abdullah Afandi.