PROFIL JATAYU (JAMAAH TATANAN WAHYU)

PAGUPAN JATAYU GARUDA
PAGUPAN JATAYU GARUDA

JATAYU DALAM MENJALANKAN AJARAN KEISLAMAN DAN KEIMANAN REALISASI KESADARAN PENGHAMBAAN SEBAGAI UMMATAN WASATHAN – UMMAT BERWASITHAH.

JATAYU adalah Yayasan Lil-Muqorrobin yang teraktekan notaris dan resmi dalam naungan KEMENKUMHAM RI. Yang bergerak dalam bidang sosial, keagamaan, kemasyarakatan dan pendidikan.

Keputusan KEMENKUMHAM RI Nomor : C-2415.HT.01.02.TH 2007 dan Nomor : AHU-AH.01.06-602.TH 2013 Tentang Yayasan Lil-Muqorrobien. Akta Pendirian Yayasan Lil-Muqorrobien yang tertuang dalam akta notaris No. 05 Tanggal 22 Oktober 1995 jo Akta Notaris No. 59 Tanggal 31 Mei 2007 jo Akta Notaris No. 58 Tanggal 11 Mei 2013.

SK KETUA YAYASAN LIL-MUQORROBIN PERIHAL GERJALIBIN nomor 049/SK/YLM/VII/1998
SK KETUA YAYASAN LIL-MUQORROBIN PERIHAL Perubahan Nomen Klatur GERJALIBIEN menjadi JATAYU Nomor : 027/S. Kep/YLM/IX/2015

 

     Dilatar belakangi keinginan kuat dari Guru kami Mbah Kyai Muhammad Munawwar Afandi untuk terlibat berpartisipasi dalam membangun masyarakat yang memiliki kesadaran spiritual, yang beradab, berakhlak mulia, bersosial yang tinggi, dan memberdayakan warga jamaahnya, memberdayakan masyarakat lingkungannya, berpartisipasi mencerdaskan kehidupan spiritual masyarakat, mendorong, terjaganya negara kesatuan Indonesia yang harmonis yang utuh dalam kedaulatan NKRI. Dan keprihatinan atas berbagai polemik, permasalahan keberagamaan, sosial kemasyarakatan yang jauh dari toleransi, saling menghargai, saling menghormati saling memaklumi, dan memaksakan kehendak akibat keyakinan kebenaran yang ditempatkan pada fanatik, jumud, ta’asub, taklid buta yaitu fanatik, kaku, beku, tertutup, merasa cukup, merasa paling suci dan merasa paling benar, perilaku arogan, sombong, dan suburnya olok-olokan dst…dst. Dan juga didasarkan atas keprihatinan yang mendalam atas situasi dan kondisi bangsa dan negara Kesatuan Republik Indonesia saat ini, yang terjadi dekadensi pada hampir (semua) ranah lini.

     Dan jatayu JUGA MEMILIKI CITA-CITA terwujudnya tegaknya kebenaran, keadilan, kedamaian, ketentraman, kesejahteraan, kemerdekaan yang sejati murni tertegakkannya kebenaran Al-Haq min Robbika, tegaknya ADDIIN, dalam pengertian terwujudnya kesadaran hamba dalam penghambaan; tidak berpecah belah, kuat dalam membangun saling menghargai, saling menghormati, toleransi saling memaklumi, saling mendukung, saling bantu, gotong royong guna meringankan beban saudaranya; nyaman dan aman dalam menjalankan kehidupan beragama sesuai dengan keyakinan,  jauh dari keprasangkaan, menghargai dan menghormati perbedaan, orientasi kehidupan pada keselamatan; perilaku islam. Terwujudnya baldatun toyyibatun warrobun ghaafur. Kehidupan bermasyarakat yang tata titi tentrem karta raharjo, penuh dengan ampunan Ilahi.

Untuk itu JATAYU memiliki

Visi:

  • Keselamatan lahir dan batin; keselamatan dunia dan akherat. Janganlah kamu meninggal dunia kecuali dengan berserah diri menyatakan selamat kembali lagi kepada Diri Tuhan. Kembali kepada asal-usul kejadian, menyatu dengan Tuhannya lagi.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ ١٠٢

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam (102)

  • Belajar, berusaha, meningkatkan secara terus menerus membangun kesadaran hamba dalam penghambaan.

 

إِن كُلُّ مَن فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ إِلَّآ ءَاتِي ٱلرَّحۡمَٰنِ عَبۡدٗا ٩٣

Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba (QS :Maryam;93)

لَّا يَمۡلِكُونَ ٱلشَّفَٰعَةَ إِلَّا مَنِ ٱتَّخَذَ عِندَ ٱلرَّحۡمَٰنِ عَهۡدٗا ٨٧

Mereka tidak berhak mendapat syafa´at kecuali orang yang telah mengadakan perjanjian di sisi Tuhan Yang Maha Pemurah (87)

  • Jamaah JATAYU terus menerus mendidik-didik diri dalam kesadaran antumul fuqoro ila Allah, sadar terhadap kebutuhan kuat untuk memproses kembali kepadaNya itu menempatkan kesadaran aguru-guru, kuat dalam bimbingan arahan dari Guru Yang Hak dan sah dalam mata rantai silsilah gulowentah tidak terputus sama sekali.

Carilah Wasithah, sebagai Al-Wasilata 5. Al Ma’idah

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَٱبۡتَغُوٓاْ إِلَيۡهِ ٱلۡوَسِيلَةَ وَجَٰهِدُواْ فِي سَبِيلِهِۦ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ ٣٥

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah (hingga ketemu yang menunjukkan) jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya (yang menunjukkan bagaimana supaya hati berdzikr, berfungsi pada mengingat-ngingat Tuhan), dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan. (Al-Wasiilata adalam ism fail).(QS: Al Ma’idah; 35)

Ketaatan yang diminta adalah ketaatan yang dikenal “atto’atun ma’rufatun” 24. An-Nur 53

۞وَأَقۡسَمُواْ بِٱللَّهِ جَهۡدَ أَيۡمَٰنِهِمۡ لَئِنۡ أَمَرۡتَهُمۡ لَيَخۡرُجُنَّۖ قُل لَّا تُقۡسِمُواْۖ طَاعَةٞ مَّعۡرُوفَةٌۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرُۢ بِمَا تَعۡمَلُونَ ٥٣

Dan mereka bersumpah dengan nama Allah sekuat-kuat sumpah, padahal jika kamu suruh mereka berperang (memerangi nafsunya sendiri, supaya patuh dan tunduk dalam ketaatan), pastilah mereka akan pergi (mengabaikan perintah). Katakanlah: “Janganlah kamu bersumpah, (karena ketaatan yang diterima ialah) ketaatan makrifat, ketaatan senyatanya dalam persaksian. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan(QS:An-Nur : 53)

  • Langgengnya Dzikr, ingatnya Hati Nurani Kepada Tuhannya, sebab hanya dengan dzikr hati menjadi tentram. Dan siapa yang berpaling dari dzkir maka perpecahan, sesak dan sempit dadanya juga kehidupannya.
  • Islam secara kaafah, lahir menjalankan tatanan bersyareat dan bertatanan dunia yang baik, berakhlak yang baik, sedang yang batiniyah berdzikir, ingatnya rasa hati nurani kepada Tuhannya.

AlBaqarah 208

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱدۡخُلُواْ فِي ٱلسِّلۡمِ كَآفَّةٗ وَلَا تَتَّبِعُواْ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيۡطَٰنِۚ إِنَّهُۥ لَكُمۡ عَدُوّٞ مُّبِينٞ ٢٠٨

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu(QS: AlBaqarah; 208)

  • Membangun, meningkatkan kesadaran, terhadap inti manusia bahwa hakekat fitrah manusia adalah asal dari fitrah Allah Sendiri.

    Ruum 30

فَأَقِمۡ وَجۡهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفٗاۚ فِطۡرَتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِي فَطَرَ ٱلنَّاسَ عَلَيۡهَاۚ لَا تَبۡدِيلَ لِخَلۡقِ ٱللَّهِۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلۡقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعۡلَمُونَ ٣٠

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui(QS: Ruum; 30)

  • Sadar adanya hari kematian, sadar manusia kehidupannya dibatasi dengan umur. Jika selamat kembali kepada Tuhannya lagi merasakan kebahagian sejati dan sadar jika meninggal dunia tidak selamat atau tersesat maka akan bertempat di alam kesesatan alam gelap gulita, dan hal ini abadi abadan. Jika tidak selamat gegirisi.

Kemestian keterikatan dalam janji QS. AlBaqarah 80

وَقَالُواْ لَن تَمَسَّنَا ٱلنَّارُ إِلَّآ أَيَّامٗا مَّعۡدُودَةٗۚ قُلۡ أَتَّخَذۡتُمۡ عِندَ ٱللَّهِ عَهۡدٗا فَلَن يُخۡلِفَ ٱللَّهُ عَهۡدَهُۥٓۖ أَمۡ تَقُولُونَ عَلَى ٱللَّهِ مَا لَا تَعۡلَمُونَ ٨٠

Dan mereka berkata: “Kami sekali-kali tidak akan disentuh oleh api neraka, kecuali selama beberapa hari saja”. Katakanlah: “Sudahkah kamu menerima janji dari Allah sehingga Allah tidak akan memungkiri janji-Nya, ataukah kamu hanya mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui? (QS. AlBaqarah 80)

بَلَىٰۚ مَن كَسَبَ سَيِّئَةٗ وَأَحَٰطَتۡ بِهِۦ خَطِيٓ‍َٔتُهُۥ فَأُوْلَٰٓئِكَ أَصۡحَٰبُ ٱلنَّارِۖ هُمۡ فِيهَا خَٰلِدُونَ ٨١

(Bukan demikian), yang benar: barangsiapa berbuat dosa dan ia telah diliputi oleh dosanya, mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya (81)

Tersesat dalam neraka adalah abadi-abadan, 3. Al ‘Imran 24

ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمۡ قَالُواْ لَن تَمَسَّنَا ٱلنَّارُ إِلَّآ أَيَّامٗا مَّعۡدُودَٰتٖۖ وَغَرَّهُمۡ فِي دِينِهِم مَّا كَانُواْ يَفۡتَرُونَ ٢٤

Hal itu adalah karena mereka mengaku: “Kami tidak akan disentuh oleh api neraka kecuali beberapa hari yang dapat dihitung”. Mereka diperdayakan dalam agama mereka oleh apa yang selalu mereka ada-adakan.(QS: Al ‘Imran 24)

فَوَيۡلٞ لِّلَّذِينَ يَكۡتُبُونَ ٱلۡكِتَٰبَ بِأَيۡدِيهِمۡ ثُمَّ يَقُولُونَ هَٰذَا مِنۡ عِندِ ٱللَّهِ لِيَشۡتَرُواْ بِهِۦ ثَمَنٗا قَلِيلٗاۖ فَوَيۡلٞ لَّهُم مِّمَّا كَتَبَتۡ أَيۡدِيهِمۡ وَوَيۡلٞ لَّهُم مِّمَّا يَكۡسِبُونَ ٧٩

Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya; “Ini dari Allah”, (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang mereka kerjakan.(79)

  • Guna mencapai kebahagiaan, kesejahteraan yang sejati, ketentraman, kemerdekaan yang sesungguhnya, maka ada keberanian untuk berjihadunnafsi yakni memerangi nafsunya sendiri-sendiri, yang wujud nafsu pada hakekatnya adalah wujud jiwa raganya sendiri, diperangi sehingga patuh dan tunduk dijadikan kendaraan hati nurani, ruh dan rasa untuk kembali pulang kepada Tuhannya Lagi. maka mesti dibongkar dan di belah dengan kesungguhan berjihadunnafsi.
  • Menata kehidupan berdunia, membangun diri keluarga serta masyarakatnya bahkan bertata negara yang baik, dengan akhlak yang baik, dengan adab yang baik membangun kesatuan dan persatuan, semuanya dilakukan untuk ambah-ambahan ibadah, lakon pitukon guna pancatan yang kokoh pulang kembali kepadaNya,

Ar Rum

وَعۡدَ ٱللَّهِۖ لَا يُخۡلِفُ ٱللَّهُ وَعۡدَهُۥ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعۡلَمُونَ ٦

(Sebagai) janji yang sebenarnya dari Allah. Allah tidak akan menyalahi janji-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui (6)

يَعۡلَمُونَ ظَٰهِرٗا مِّنَ ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا وَهُمۡ عَنِ ٱلۡأٓخِرَةِ هُمۡ غَٰفِلُونَ ٧

Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.(7)

” GARUDA, Nyigar jeru dada, yakni membuka hakekat jati diri manusia, pada kesadaran jiwa alfaqir, antumul fuqoro ila Allah, hamba yang butuh kuat kembali kepada Allah.”

,membuka pintu Fadhal dan RahmatNya, sehingga sadar sebagai hamba, berjihadunnafsi, membelah memerangi nafsunya sendiri-sendiri hingga patuh dan tunduk dijadikan kendaraannya hati nurani, ruh dan rasa kembali kepada tuhannya, menjadi hamba yang pandai mengkoreksi diri sendiri, mengadili diri sendiri. Keterjagaan niatan suci dan luhur yakni hijrah kepada Allah dan kepada utusanNya pada semua aktifitas berdunianya guna memahasucikan Keberadaan-Nya, sebagai pancatan yang kokoh pulang kembali kepada-Nya, hingga jika sewaktu-waktu masa pakai jasad habis menyatakan selamat kembali kepada-Nya lagi.

Al Baqarah

إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَٱلَّذِينَ هَاجَرُواْ وَجَٰهَدُواْ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ أُوْلَٰٓئِكَ يَرۡجُونَ رَحۡمَتَ ٱللَّهِۚ وَٱللَّهُ غَفُورٞ رَّحِيمٞ ٢١٨

Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (218)

Misi:

GERJALIBIN, Gerakan Jamaah Lil-Muqorrobin, melakukan gerakan baik kedalam (internal) dan gerakan keluar (eksternal) yakni gerakan berupa kegiatan dan aktifitas yang dilakukan sebagai apapun dan sebagai siapapun menempatkan kesadaran penghambaan, supaya menjadi hamba yang didekatkan oleh Allah Sendiri (lil-muqorrobin, orang-orang yang didekatkan).

  • Menginformasikan, menyampaikan, mengajak kepada perilaku kebenaran Al-Haq min Robbika dan beragama pada ketauhidan yang seharusnya. Hal ini dengan dasar hanya sak dermo menyampaikan terlepas yang menerima informasi merespon ataupun tidak, mengikuti ataupun tidak mengikuti, sebab mengajak kemudian yang diajak menerima dan bangga, dosanya adalah sama saja saat kami mengajak kemudian yang diajak tidak mengikuti kemudian kecewa dan marah dan putus asa. Semoga dalam ridha dan maghfirah Allah.
  • Mendorong, terwujudnya “baldatun toyyibatun warrobun ghaffur” kehidupan masyarakat yang penuh dengan ampunan Allah. tata titi tentrem karta raharja, gemah ripah loh jinawi.
  • Ikut berpartisipasi, keterjagaan, mendorong, meningkatkan perilaku masyarakat terhadap keutuhan dan kedaulatan persatuan kesatuan negara Republik Indonesia (NKRI),Partisipasi menjaga, terwujudnya kesadaran kedaulatan bangsa dan negara dengan perilaku saling menghormati, menghargai, toleransi, saling mendorong, gotong royong, saling membantu meringankan beban orang lain.
  • Beradab dan berakhlak dalam perilaku kesalehan, dan berpartisipasi kepada pemerintah baik langsung ataupun tidak langsung terwujudnya kader-kader yang bermoral berakhlak yang tinggi dan jiwa sosial yang tinggi.
  • Memakmurkan bumi Allah dalam pengertian luas, warga JATAYU mengajak membangun kesadaran terhadap pola pikir dan perilaku berkemajuan, meningkatkan skill dan ketrampilan, dan terbentuknya jiwa interpreneur.
  • Pemberdayaan; mendorong, mensupport, berpartisipasi mengajak warga masyarakat membangun kesadaran terhadap pola pikir dan perilaku berkemajuan, meningkatkan skill dan ketrampilan, dan terbentukanya jiwa interpreneur.
  • Mempertegas komitmen niat, tekad dan tujuan keselamatan dengan perilaku maslahah ummah sebagai kesadaran penghambaan, dengan menyerap, memadukan, mengartikulasikan dan memperjuangkan kebenaran Al-Haq min Robbika, atas ajaran Al-Kitab, al-Hikmah dan An-Nubuwah.
  • Meningkatkan proses pendidikan dan komunikasi organisasi yang dialogis dan partisipatif, dengan perilaku terbuka, aspirasi, masukan-masukan dari berbagai pihak.
  • Membangun, meningkatkan kualitas SDM, dalam bidang-bidang administrasi, manajemen, sistem musyawarah, kualitas dan kuantitas skill ketrampilan dan jiwa wirausaha.

Tujuan:

  • Mengkuatkan kesadaran riyalat, riyadhoh, mujahadah serta lakon-pitukon kepada jamaah JATAYU. Membangun kesadaran keselamatan kebahagiaan dan ketentraman serta kemerdekaan yang sejati, merdeka lahir dan merdeka batin. Janganlah kamu meninggal dunia kecuali dalam keadaan selamat menyatakan kembali kepada-Nya lagi.
  • Membangun kesadaran aguru-guru, sadar murid yakni sadar hamba yaitu orang yang memproses diri dengan niat dan tekad kuat untuk dapatnya kembali selamat kepada TuhanNya, jika sewaktu-waktu masa pakai jasad habis di dunia. Wa’bud rabbaka hatta ya’tiyakal yaqin, menghamba, menyembah dalam perilaku ibadah yang mahdhah ataupun yang ammah ditujukan kepada Diri Tuhan sehingga Tuhan yang disembah Al-Makbud senyatanya hadir hingga yakin di dalam rasa hati nurani.
  • berorganisasi DHawuh Guru JATAYU, terwujudnya jamaah yang harmonis, yang mewujudkan keluarga dalam kebersamaan, kekeluargaan, guyub rukun, saling memahami, saling asah saling asuh saling asih, elik-kinelekan, puji-pinuji, pinter ngalah dan musyawarahan, satu niat, satu tekad satu tujuan yakni keselamatan.
  • Terwujudnya Pola Tatanan yang Sehat dan Amanah (PTSA), pada kehidupan berdunia dalam bekerja, berkarya, berkreatifitas.
  • Terwujudnya bangunan kebersamaan, kekeluargaan, keguyubrukunan, dan gotong royong, sehingga terwujud dan terjaganya kesatuan dan persatuan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
  • Pemberdayaan skill ketrampilan serta jiwa wirausaha dengan akhlakul karimah dan jiwa amanah.
  • Terwujudnya perilaku respek (saling menghormati, saling menghargai, saling memaklumi); tanggap (menggali dan mendorong serta berpartisipasi, informatif) peduli opersional (memiliki langkah-langkah memperbaiki keadaan dan situasi, perilaku membantu, menolong, dan gotong royong),
  • Terwujudnya perilaku “makmurkan bumi Allah”, “sak gelem ukril ya gempil” perilaku kreatif, inovatif, dan perilaku interpreneur atau wira usaha.
  • Terwujudnya perilaku budhi dharma keteladanan.

     JATAYU adalah Jamaah Tatanan Wahyu, Jamaah yang dimaksud adalah berkumpulnya orang-orang yang memiliki kesungguhan pada niatan hati hijrah kepada Allah dan kepada utusanNya, membangun kesadaran perilaku hamba sebagai “murid” yakni orang-orang dengan tekad bersungguh-sungguh dalam menjalani kehidupan berdunia, menjadi apapun dan sebagai siapapun tekadnya adalah memerangi nafsunya sendiri-sendiri, memerangi ego keakuannya sehingga nafsu tunduk dan patuh dijadikan kendaraan hati nurani ruh dan rasa kembali kepada TuhanNya, dan tujuan hidupnya menjadi apapun dan sebagai siapapun adalah dapat menyatakan selamat manakala  sewaktu-waktu masa pakai jasad habis di dunia, Tatanan Wahyu, adalah guna mewujudkan perilaku ilahiyah rubbubiyah, dengan methode inisiasi bisik menunjukkan hakekat jati diri hakekat Fitrah manusia yang asal fitrah manusia dari Fitrah Allah Piyambak.

     Sebab siapa yang mengenal dirinya yakni mengenal hakekat fitrah manusianya maka mengetahui Tuhannya, mengetahui Keberadaan Diri Tuhan Yang Al-Ghayb, Yang Allah NamaNya dapatnya dikenali KeberadaanNya, sehingga Diri Tuhan Yang Allah NamaNya, Yang Al-Ghayb dapat diingat-ingat didalam rasa hati nurani, dan Keberadaan Tuhan Yang Al-Ghayb Yang Allah NamaNya ini diingat-ingat didalam hati Nurani dalam keadaan apa saja, dimana saja, situasi apa saja. Sebab ingat hanya hati dzikr, hati nurani ingat kepada tuhannya maka menjadi tentram-al’ayah.

     Bagi JATAYU, dalam menjalani kehidupan berdunia menjadi apapun dan sebagai siapapun; sebagai petani, sebagai pedagang, sebagai pegawai swata, sebagai anggota POLRI, sebagai anggota TNI, sebagai guru, sebagai pengelola lembaga, sebagai kyai, sebagai teknokrat, sebagai manajer, sebagai administrator, sebagai pengusaha, sebagai apapun dan sebagai siapapun adalah NORMAL SELAYAKNYA dimana jamaah bekerja dan berkarya.  Bekerja, berkarya, berinovasi, berkreasi dalam menjalani kehidupan, dilakukan dengan sebaik-baiknya, seoptimal yang mungkin dapat dijalani bahkan seprofesional mungkin, tetap merupakan kewajiban ibadah lahiriyahnya, guna memenuhi ibadah yang mahdoh, yang ammah, dan yang muammalah, bersungguh-sungguh dalam memberdayakan potensi berdunianya sesuai dengan bidang garapannya, untuk menjadi “ulul albab” yakni mengingati Keberadaan Diri Tuhan Yang Al-Ghayb Yang Allah NamaNya dalam keadaan apa saja dimana saja, dan dalam keadaan dan situasi bagaimana saja.

     TIDAK MENGURANGI KEGIATAN DAN AKTIFITAS YANG TELAH DIJALANI DALAM TERAPAN KEHIDUPAN BERDUNIA DAN PENGELOLAANNYA MENJADI APAPUN DAN SEBAGAI SIAPAPUN. Justru menjadikan jelas, terang dan gamblang LAHIR BERAKTIFITAS BAGIAN DARI BERSYAREAT MENJALANI KEHIDPAN BERDUNIA SEBAIK-BAIKNYA DAN YANG BATIN DILETAKKAN PADA INGATAN HATI NURANI KEPADA TUHANNYA, YANG BER-ASMA ALLAH. MEMANUSIAKAN MANUSIA.

     Bagi JATAYU, dalam membangun masyarakat yang harmonis, yang serasi, yang selaras, yang seimbang dalam menjani kehidupan bersosial dan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, membangun kebersamaan, kekeluargaan, keguyubrukunan menjaga kesatuan dan persatuan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara bahkan sebagai bangsa dan negara apapun, tidak dibatasi suku bangsa, warna kulit, bahasa, dan keyakinan beragama apapun tidak menjadi penghalang terwujudnya kebersamaan, guyubrukun, saling menghargai, saling menghormati, saling respon, saling respek, saling tanggap, saling peduli, sikap toleransi yang tinggi, ini semua dilakukan dengan sebaik-baiknya, seoptimal yang mungkin dapat dijalani, bahkan ditingkatkan dan dikembangkan, hal ini semua tetap merupakan kewajiban ibadah lahiriyahnya, guna memenuhi ibadah yang ammah, dalam kehidupan berdunia sebagai tatanan syareat lahiriyah.

   ”  DALAM MENJALANI KEHIDUPAN BERDUNIA MENJADI APAPUN DAN SEBAGAI SIAPAPUN DAN MEMBANGUN, MENINGKATKAN, MENGEMBANGKAN KEHIDUPAN BERMASYARAKAT, SERTA BERKREATIFITAS DAN BERINOVASI YANG DILAKUKAN ADALAH GUNA ME-MAHA-SUCIKAN KEBERADAAN DIRI TUHAN, SUPAYA TIDAK DALAM KESIA-SIAAN, DAN DIJADIKAN PANCATAN YANG KOKOH KEMBALI PULANG KEPADA TUHANNYA, SEHINGGA JIKA SEWAKTU-WAKTU MASA PAKAI JASAD HABIS DI DUNIA SELAMAT.  “

     Bagi JATAYU kehidupan ibadah yang ritualitas khususiyah seperti menjalankan rukun Islam mulai dari bershahadah dalam persaksian keberadaan Diri Tuhan yang ditetapkan didalam hati nurani dan persaksian Mengadanya Rasulullah, Nabi Muhammad SAW sebagai NurMuhammad, menjalankan Sholat wajib lima waktu dan sholat-sholat sunnah, puasa wajib di bulan ramadhan, puasa sunnah, zakat dan beramal shodaqoh membersihkan diri dari rasa kumathil kecintaan kelekatan hati sanubari kepada hal-ikhwal dunia dan materialnya, sebab zakat adalah makna tazkiyah, kebersihan jiwa, hati nurani dalam memproses diri kembali kepada Tuhannya, hingga selamat, menyatakan “yaumaidzin nadzirah ila Rabbiha nadzirah” wajah berseri-seri hanya kepada TuhanNya melihat. Serta berhaji bagi yang berkemampuan adalah merupakan ibadah yang mahdhah yang tidak bisa diubah-ubah sejak nabi Muhammad SAW, sebagai syareat islam.

     Sedang pada posisi batiniyah, Bagi JATAYU, kehidupan yang batiniyah adalah berfungsinya rasa hati nurani pada rasa hati mendzikiri sang Empu Nama Allah dengan mengenali Al-GhaybNya dengan alimul Ghaybi wash-shahadati, ilmu yang menunjukkan Al-GhaybNya sehingga dalam persaksian senyatanya, menjadi ilmu kasunyatan, dengan demikian jasad lahir menjalankan tatanan syareat dan juga menjalankan selayaknya tatanan berdunia, yang batin didalam hati nurani mengenali Keberadaan Diri Tuhan Yang Allah NamaNya, sehingga rasa hati dapatnya mengingatNya dalam keadaan apa saja, dimana saja dan dalam situasi dan kondisi kapan, bagaimana dan apa saja. Dan menjadi utuh, masif dalam menjalankan islam kaafah dalam ajaran alkitab, alhikmah dan annubuwah.

     Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al-Kitab, Al-hikmah dan An-Nubuwah, lalu dia berkata kepada manusia: “Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah.” Akan tetapi (dia berkata): “Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani (yakni mereka yang niat, tekad, tujuan dan semua orientasi hidupnya tenggelam dalam lillah, fillah, billah, semua aktifitasnya bernilai ibadah), karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya. Al An’aam 89

     Mereka itulah orang-orang yang telah kami berikan kepada mereka Al-kitab (cahaya terang yang tidak ada keraguan sama sekali didalamnya, digunakan untuk membaca, menyelami, mendalami, menghayati), alhikmah (kesadaran hakekat, bahwa dibalik yang tampak kasat mata dalam semua kehidupan berdunia ini sungguh ada inti makna dan maksud tujuan sebagai Kehendak Tuhan); dan An-Nubuwah (yakni Ilmu Kenabian, ilmu yang membuka hakekat fitrah manusia yang asal Fitrah dari Fitrah Allah Sendiri, ilmu yang membuka hakekat kehidupan, sehingga dalam tata nilai hidup, ilmu yang diwariskan para Nabi Para Rasul). Jika orang-orang  itu mengingkarinya (yang tiga macam itu), maka sesungguhnya Kami akan menyerahkannya kepada kaum yang sekali-kali tidak akan mengingkarinya. Al ankabut  27.

     Inilah sungguh, dengan senyatanya sesungguhnya bahwa ajaran yang diwariskan para Nabi para Rasul, adalah perihal ILMU YANG MENUNJUKKAN KEBERADAAN AL-GHAYB TUHAN SEHINGGA MENJADI TERANG DAN JELAS KE-MAHA MUTLAKAN TUHAN ITU, UNTUK DIKENALI DIDALAM RASA HATI NURANI SEHINGGA MENJADIKAN HATI NURANI BERFUNGSI, BERFUNGSINYA DENGAN MENGINGATI KEBERADAAN AL-GHAYBNYA INI, sebab hanya dengan mengingati (Sang Empu Nama) Allah maka, hati menjadi tentram, dan jika sewaktu-waktu masa hidup di dunia habis masa pakai jasad dapat selamat kembali kepada TuhanNya. Inilah maka ada hadist bahwa al-ulama adalah pewaris para nabi.

JATAYU dalam GERAKAN:

GERAKAN KEDALAM,

     Memiliki niat, tekad dan tujuan serta cara-cara atau methode dalam perilaku penghambaan memproses diri dalam menjalani kehidupan demi keselamatan lahir dan batin dan menyatakan selamat kembali kepada Tuhan setelah masa pakai jasad habis di dunianya;

     Membangun kesadaran diri sebagai hamba, dengan perilaku dasar syukur dan perilaku dasar sholawat dalam realitas kehidupan.

     Melanggengkan dzikr dalam semua aktifitas kehidupan; setelah dengan idzin Allah, dan mengetahuinya dari yang berhak dan sah dalam mata rantai silsilah gulowentah untuk menunjukkan keberadaan ilmu Nubuwah, ilmu yang membuka hakekat jati diri fitrah manusia, ilmu yang menunjukkan pintunya mati, ilmu yang menjadikan sholat khusyu’ karena telah ada yang diingat-ingat didalam rasa hati maka, dijaga, dilestarikan di lazimkan di ingat-ingat didalam rasa hati nurani, bersamaan dengan keluar masuknya nafas dimana saja dan dalam situasi dan kondisi apa saja dan dalam aktifitas apa saja, supaya tidak di dalam azab Allah. Kandungan QS. Jin 23 sd 28.

     Perilaku pada kesadaran dasar taubat bahwa, dirinyalah hamba tempatnya salah dan dosa, sehingga selalu memohon pertolongan dan belas kasih Allah supaya ditarik dengan fadhal dan Rahmat-Nya untuk dijadikan sebagai hamba yang dikasihi-Nya dan di dekatkan kepada-Nya, sadar kalau hamba itu lemah, tidak bisa apa-apa, tempatnya kurang, tempatnya salah dan bisanya hanya membuat salah dan dosa maka, akan terus dalam ikhtiyar membuat kemajuan, perkembangan potensi diri dan lingkungannya bahkan bangsa dan negaranya, membuat lakon pitukon;

GERAKAN KELUAR,

     Gerakan “UZLAH” gerakan topo ing tengahing projo, ditengah-tengah masyarakat lingkungan dimana jamaah tinggal, usaha berpartisipasi aktif dengan perilaku adab uswah, akhlak budi, dan keteladan darma, respon, respek, tanggap dan peduli.

     Gerakan adab uswah keteladanan, membangun perilaku sadar diri, tahu diri, perilaku ketaatan pada sikap dan perilaku hamba sebagai ummatan wasathan, umat yang adil dan pilihan, yakni umat yang pandai mengadili diri sendiri, pandai mengkoreksi diri sendiri, jauh dari perilaku keprasangkaan, jauh dari perilaku yang mudah menilai orang lain dan kelompok lain, umat yang selalu berusaha dan berikhtiyar untuk menjadi baik, dan perilaku terbuka, lapang dada. Perilaku uswah keteladanan adalah perilaku cerminan kesadaran sebagai hamba.

     Gerakan kesadaran budi, membangun terwujudnya kehidupan masyarakat lingkungan kesadaran kepribadian spiritual kepribadian yang berjati diri, dengan akhlakul karimah, dengan perilaku islami, perilaku kesopanan, kesantunan, dan perilaku kesalehan yakni perilaku keselamatan, perilaku yang serasi, selaras dan seimbang diterapkan dalam kehidupan bersosial dan bermasyarakat

     Gerakan darma wedda, bagi JATAYU perilaku uswah teladan, perilaku kesadaran budi, bukan sekedar perilaku contoh namun, merupakan perilaku kebutuhan pembuktian atsaru sujud, adalah kemestian dan seharusnya layaknya sebagai orang-orang yang memproses diri kembali kepada Tuhannya hingga sewaktu-waktu masa pakai jasad habis di dunia menyatakan selamat kembali kepada TuhanNya.

Gerakan darma wedda yang dimaksud adalah:

  1. Menjaga, mengembangkan dan meningkatkan: kehidupan sosial dengan interaksi yang komunikatif, bersosial bermasyarakat yang baik –pemberdayaan lingkungan, saling menghargai, saling menghormati, perilaku gotong royong membantu mengurangi beban saudaranya, saling memaklumi dan toleransi. Perbedaan dalam ranah kehidupan; perbedaan faham, perbedaan keyakinan, perbedaan kebiasaan, perbedaan kultur budaya dan adat-istiadat, perbedaan keyakinan, kepercayaan dan agama, seharusnya tidak menjadi penghalang bagi JATAYU dalam keikutsertaan membangun komunikasi interaksi sosial membangun masyarakat terwujudnya bangunan sosial yang tinggi, dalam wadah NKRI.
  2. Menjaga, mengembangkan dan meningkatkan: budaya belajar, dan budaya ilmu pengetahuan dan teknologi, dan wawasan, memakmurkan bumi Allah, sarana dan prasarana alat (tools) media teknologi, menjaga kelestarian alam.
  3. Menjaga, mengembangkan dan meningkatkan: kehidupan kesadaran spiritual pada lingkungan masyarakat, bahkan saat dalam perbedaan keyakinan dan agama sekalipun. Bahwa kebutuhan terwujudnya keselamatan membangun manusia seutuhnya, memanusiakan manusia adalah berorientasi pada keselamatan dan kemerdekaan yang sejati murni, merdeka lahir dan merdeka batin, kebahagiaan yang sesungguhnya. Membangun kesadaran diri dan lingkungan pada perilaku keselamatan, perilaku islami, perilaku yang mendamaikan, menentramkan menuju kesadaran hakekat fitrah manusia, bahwa, dalam penciptaan manusia dan penciptaan langit dan bumi dan diantara keduanya, ada hakekatnya, ada kebenaran Al-Haq min Rabbik-Nya, dan hakekat fitrah manusia adalah asal dari Fitrah Allah sendiri. Sehingga perilaku yang dibangun adalah dalam kesadaran penghambaan manusia kepada Tuhannya, dan sadar bahwa manusia tampatnya salah dan dosa, bahkan tidak bisa apa-apa dan tidak ada apa-apanya, menjadi hamba yang pandai mengadili diri sendiri guna membuka hikmah, pandai mengoreksi diri sendiri, pandai mengalah demi keselamatan lahir dan batin, keselamatan dunia dan keselamatan akherat sehingga, akan terus menerus memperbaiki watak, sifat dan perilaku keselamatan dalam keimanan (islami).

GERAKAN AJARAN TRISULA WEDDA

      Gerakan Kesadaran bagi jamaah JATAYU dalam membangun kemaslahatan ummat, sebagai ummatan wakhidah, sebagai ummatan Wasathan, membangun, mendorong, menjaga kelestarian kesatuan dan persatuan dalam ranah Ketauhidan, dan sebagai RAHMATAN LIL-‘ALAMIN. Dengan garis besar sebagai platform adalah lahir menjalankan tatanan syareat dan berdunia yang dijalani selayaknya kehidupan berdunia, dengan kesungguhan sesuai dengan pekerjaan dan aktifitas serta sesuai dan tugas dan fungsinya yang sedang digelutinya, dengan terus membangun kesadaran orientasi keselamatan; berdunia untuk subhanaka untuk meMahaSucikan Keberadaan TuhanNya, dilakukan dengan sungguh-sungguh sebagai pancatan yang kokoh pulang kepadaNya lagi, sedang hatinya berada dalam Diri Tuhan, dzikr.

     Membangun terwujudnya keadilan, kedamaian, kebahagiaan dan kesejahteraan yang sesungguhnya, terwujudnya kemerdekaan yang sejati lahir dan batin maka berada dalam ajaran TRISULA WEDDA, yaitu ALKITAB, ALHIKMAH DAN ANNUBUWAH.

     Pertama, Keberadaan Mutlak Diri Tuhan Dzat Yang Tan Kiniro Kinoyo NGopo, Dzat Yang Wajib WujudNya, Al-Ghayb Yang Allah NamaNya dan kedua, Keberadaan Nabi Muhammad yang Mengadanya sebagai Nur Muhammad, Cahaya terpujinya Tuhan, serta yang ketiga, Keberadaan Hakekat Fitrah Manusia yang asal Fitrah Manusia dari Fitrah Allah Sendiri. Ajaran yang mempertemukan bathok bolu isi madu, gedhene sebesar lumbung bandung namun kesampar kesandung, kang buka marang gung susuhing angin, manggon ono ing banyu perwita sari.

PLATFORM

     Platform yang dimaksudkan di sini adalah landasan tempat berpijak, yaitu wawasan-wawasan yang menjadi acuan dan arah. Platform merupakan sikap dasar yang merupakan kristalisasi dari pemahaman, pengalaman dan kesadaran PENGHAMBAAN DALAM AGURU-GURU, guna memproses perilaku ibadah menuju keselamatan, jika sewaktu-waktu masa pakai jasad habis di dunia, menyatakan wajah berseri-seri hanya kepada Tuhannya melihat. (penjelasan secara lesan).

     Termasuk platform adalah kesadaran sebagai ummatan wakhidah dengan terjaga dan meningkatkan kesatuan dan persatuan NKRI termasuk wawasan kebangsaan, sebagai perilaku ibadah yang ammah atau ghoiru mahdhoh. Perilaku adab, akhlak, uswah, budi dan darma.

     Sebagai anggota masyarakat, warga Negara Kesatuan Republik Indonesia menuju terwujudnya negara baldatun toyyibatun warrobun ghafur.

     PROGRAM: yang akan ditindak lanjuti dalam pertemuan musyawarah ORGANISASI JATAYU.

  • Musyawarahan, elik-kinelakan, saling mengingatkan dan saling menasehati mengkuatkan kesadaran riyalat, riyadhoh, mujahadah serta kesadaran lakon-pitukon bagi jamaah JATAYU.
  • Musyawarahan, elik-kinelakan, saling mengingatkan dan saling menasehati membangun kesadaran aguru-guru, sadar murid yakni sadar hamba yaitu orang yang memproses diri dengan niat dan tekad kuat untuk dapatnya kembali selamat kepada TuhanNya, jika sewaktu-waktu masa pakai jasad habis di dunia.
  • Perkuatan program-program pendidikan, POMOSDA: SMP, SMA dan STT.
  • Identifikasi, Penataan, dan optimalisasi sumber daya manusia optimalisasi kinerja kepamongan pamong praja pusat, cabang, ranting dan kelompok jamaah.
  • Membangun dan meluaskan jejaring, Membuat pusat-pusat informasi, meningkatkan dan optimalisasi informasi dan membangun dan mengkuatkan jaringan komunikasi.
  • Melakukan penataan administrasi dan manajemen secara bertahap dimulai dari pusat menuju cabang ranting yang telah memiliki kesiapan.
  • Mengoptimalkan penggunaan media-media, guna menginformasikan, menyampaikan dan mendistribusikan dan kemudahan akses mengenai berita Al-Haq min Rabbika, keberadaan ajaran Tauhid dalam menjalankan keberagamaan kepada khalayak masyarakat luas.
  • Membangun jejaring, dan menggali data, pengumpulan data sumber daya yang dapat digunakan untuk pemberdayaan dalam ibadah membuat lakon dan pitukon.
  • Membuat kegiatan yang mendorong kemandirian, dengan mengirimkan dan mengadakan pelatihan-pelatihan yang memiliki relevansi peningkatan sumber daya manusia, termasuk pada bidang-bidang skill ketrampilan dan kewirausahaan. Memperhatikan keadaan dan kondisi warga jamaah yang secara ekonomi perlu diberdayakan.
  • Membuat regulasi PTSA organisasi dalam bidang administrasi, manajemen, pusat informasi komunikasi IT
  • Sosialisasi standar sistem musyawarah organisasi Dhawuh Guru JATAYU.
  • Kegiatan makmurkan bumi Allah, dengan merealisasikan pemberdayaan lahan kosong, lahan sempit dan lahan tidur, dengan sistem dan teknologi tepat guna efisian dan efektif; misalnya polibek, vertikultur, dan lain lain.

Tegakkan addiin, 42. Asy-Syura 13

أَنۡ أَقِيمُواْ ٱلدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُواْ فِيهِۚ كَبُرَ عَلَى ٱلۡمُشۡرِكِينَ مَا تَدۡعُوهُمۡ إِلَيۡهِۚ

     Tegakkanlah addiin (ketaatan dalam perilaku al-khudhu’ almutlak, atto’atun makrufatun) dan janganlah kamu berpecah belah di dalamnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik (dis-orientasi) bagaimana menjalankan addiin yang kamu seru supaya kembali kepada-Nya dengan selamat.

Manusia sebagai pemelihara QS. Al- Maidah 32

أَنَّهُۥ مَن قَتَلَ نَفۡسَۢا بِغَيۡرِ نَفۡسٍ أَوۡ فَسَادٖ فِي ٱلۡأَرۡضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ ٱلنَّاسَ جَمِيعٗا وَمَنۡ أَحۡيَاهَا فَكَأَنَّمَآ أَحۡيَا ٱلنَّاسَ جَمِيعٗاۚ وَلَقَدۡ جَآءَتۡهُمۡ رُسُلُنَا بِٱلۡبَيِّنَٰتِ ثُمَّ إِنَّ كَثِيرٗا مِّنۡهُم بَعۡدَ ذَٰلِكَ فِي ٱلۡأَرۡضِ لَمُسۡرِفُونَ ٣٢

     Sesungguhnya menyatakan keberadaan DIA adalah: barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak diantara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan dimuka bumi

Perintah makmurkan bumi Allah. QS 11. Huud 61

ۖ هُوَ أَنشَأَكُم مِّنَ ٱلۡأَرۡضِ وَٱسۡتَعۡمَرَكُمۡ فِيهَا فَٱسۡتَغۡفِرُوهُ ثُمَّ تُوبُوٓاْ إِلَيۡهِۚ إِنَّ رَبِّي قَرِيبٞ مُّجِيبٞ ٦١

     Dia telah menciptakan kamu dari bumi (lahir di bumi, hidup di bumi, makan minum di bumi, tumbuh dan berkembang di bumi) dan kamu diperintahkan untuk makmurkan didalamnya (bumi Allah), maka mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah (selalu berorientasi kepada keselamatan, jika sewaktu-waktu masa pakai jasad habis dapat menyatakan kembali dengan selamat kembali) kepada-Nya, Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (bagi mereka yang bersungguh-sungguh mendekat kepada-Nya hingga selamat)”

 

IMAM JATAYU Annubuwah
Muhammad Sulaiman Kurdi Tanjung Alfaqiri Abdullah.

 

(Kyai Tanjung)