RAHASIA SHIRATAL MUSTAQIMA

0
268
views

.
Setiap saat dan setiap waktu kita mengucap

ٱهۡدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلۡمُسۡتَقِيمَ ٦

صِرَٰطَ ٱلَّذِينَ أَنۡعَمۡتَ عَلَيۡهِمۡ غَيۡرِ ٱلۡمَغۡضُوبِ عَلَيۡهِمۡ وَلَا ٱلضَّآلِّينَ ٧

6. Tunjukilah kami jalan yang lurus.

7. (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai (sombong, arogan, semuci, kemluhur, kemeruh) dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat (kira-kira, taksir-taksir, prasangka-prasangka, praduga-praduga)

“IHDINAA” = tunjuki kami, hidayahi kami, terangi kami, padangi kami.

Keniscayaan supaya di dalam keselamatan dalam mengarungi perjalanan gelapnya dunia dengan CahayaNya yakni dengan kesaksian AlHuda dengan AlHaqNya untuk ditampakkan dalam kontekstualisasi fakta kehidupan. Faktanya manusia tidak akan dapat berjalan dalam kegelapan kecuali adanya terang dari cahaya.

Sebuah ungkapan yang diperintahkan bagi mereka yang feqir (yakni mereka yang memiliki kebutuhan kuat mendekat kepada Tuhan sampai kepada tingkat makrifat) supaya memperoleh panduan dan bimbingan dari Cahaya kebenaran AlHaqNya dengan AlHuda-Nya dari yang berhak, sah dan wenang menunjukkan AlHuda sebagai cahaya yang menerangi hidup dan kehidupannya sehingga berada di dalam keselamatan lahir dan batin; dunia dan akherat. Dan mengetahui dengan jelas dan pasti apa yang musti diperjuangkan dalam hidup, supaya berada di dalam makna hakekat nilai hidup dan kehidupan.

Keniscayaan bahwa AlHuda sebagai cahaya terang yang menerangi dengan proses adanya “kholifah” yang hak dan sah serta wenang menunjukkan ALHAQNYA sehingga tidak di dalam prasangka, kira-kira, praduga, juga tidak dengan perasaan-intuisi dan tafsir-tafsir, sebab sempurnanya beragama adalah awalnya makrifat. Dan awal rukun keislaman adalah bersaksi dengan rasa hati atas mengadaNya DIA AlGhaybullah dan Ia Sang NurMuhammad Cahaya terpujiNya Diri Dzatullah

Al Anbiya’ 73: dan selalu didatangkan (kehadirannya) imam-imam yang berada didalam petunjuk dan yang berhak, sah serta wenang memberi petunjuk perihal AlHuda, terang Cahaya-Nya dengan dasar dhawuh atau perintah.

وَجَعَلۡنَٰهُمۡ أَئِمَّةٗ يَهۡدُونَ بِأَمۡرِنَا وَأَوۡحَيۡنَآ إِلَيۡهِمۡ فِعۡلَ ٱلۡخَيۡرَٰتِ وَإِقَامَ ٱلصَّلَوٰةِ وَإِيتَآءَ ٱلزَّكَوٰةِۖ وَكَانُواْ لَنَا عَٰبِدِينَ ٧٣

Dan Kami (kami karena adanya keterlibatan hamba sebagai kholifah-Nya) telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin (imam-imam) yang (selalu didalam hidayah) dan memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan (inisiasi perihal Keberadaan AlGhaybullah, supaya dalam persaksian senyatanya) kepada mereka dan selalu mengerjakan kebajikan, mendirikan sholat (hadirnya rasa hati kepada Tuhannya), menunaikan zakat, dan hanya kepada Kamilah mereka selalu menghamba.

Dan semua sepakat bahwa mengenal dengan sebenar-benarnya mengenal apalagi sampai pada tingkat sebagai “pasangan” hidup adalah sesuatu yang muskil/ mustahil/ tidak mungkin jika hanya melalui bacaan, pembicaraan, katanya dari katanya ke katanya. Inilah fakta hidup dan kehidupan yang terasa sulit bagi yang berposisi pada watak, sikap dan perilaku beku, kaku, fanatik, kultus, merasa dalam perasaan pada intuisi “yakin” tanpa kesaksian, kemudian merasa telah benar-benar mengenal Tuhan-Nya; berposisi merasa cukup.

Dan akan menjadi bertambah berat dan sulit menerima mengadanya kebenaran AlHaq min Rabbika, saat tidak meletakkan ego, meletakkan keakuan, meletakkan kepentingan diri, keluarga – keturunan, kelompok – golongan, dan terhalangi oleh ego akademik, ego jabatan, ego keturunan, ego kekayaan, ego sandangan, dan ego-ego nafsu keakuan lainnya.

Sesungguhnya, Ilmu yang membuka kesadaran hamba terhadap Sang Ma’budnya, akan memposisikan kesadaran bahwa “QUL” menyatakan HUWA, DIA yang tersimpan di dalam rasa hati adalah Sang Mpu Nama Allah, sehingga menjadi sadar karena fakta berada di dalam rasa hati nurani nyata Dia Allah adalah tempat bergantung, tempat kembali, tempat memohon. Tidak bisa apa-apa dan tidak ada apa-apanya jika tanpa dengan Dia.

Huwa ayat Nyata, Al-Ankaabuut 49
بَلۡ هُوَ ءَايَٰتُۢ بَيِّنَٰتٞ فِي صُدُورِ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡعِلۡمَۚ وَمَا يَجۡحَدُ بِ‍َٔايَٰتِنَآ إِلَّا ٱلظَّٰلِمُونَ

Sungguh fakta..! bahwa HUWA adalah ayat (terbaca) nyata di dalam dada orang-orang yang telah berada di dalam kedalaman ilmu (yang membuka hakekat sesuatu perihal HUWA), dan tidak ada yang membantah dan mengingkari kecuali mereka yang lalim dan dzalim.

Sebab perintah-Nya adalah “aqiimish-shalat” tegaknya sholat adalah khusyu’, yakni hadirnya rasa hati nurani kepada keberadaan DIA, maka berada di dalam khusyu’ (yakni hadirnya DIA di dalam hati nurani dalam keadaan berdiri, duduk, berbaring, dan saat beraktifitas apa saja dan dalam keadaan bagaimana saja, sebagai siapa saja dan menjadi apa saja, apalagi saat di kala sholat).

DIA (yang telah dikenali) akan membuka dengan sebenar-benarnya di dalam rasa hati nurani, sehingga dalam kesadaran fakta asal-usul hidup kehidupan; kenapa dan bagaimana hidup dan kehidupan dijalani; serta kemana tujuan hidup dan kehidupan dalam berproses berdunia.

Sehingga dengan CAHAYA ALHUDA (“ihdinaa“) tersebut berada di dalam “SHIRATH” kondisi aliran menuju tempat yang lapang, siapa yang berada di dalamnya maka tidak akan kekurangan “mineral” sama sekali; Dan mereka yang berada di dalam CAHAYA ALHUDA ini akan menjadi mustaqim, istiqamah hatinya tenang, tentram bahkan bahagia merasakan kemerdekaan sejati, tidak akan mudah terombang-ambing oleh situasi dan kondisi kehidupan berdunia.

Inilah jalannya orang-orang yang telah di dalam kepastian di atas kenikmatan karena di dalam anugerah ilahi yang sesungguhnya. Adalah keniscayaan adanya utusan “kholifah” yang hak, sah dan wenang menunjukkan ALHUDA TERANG DARI CAHAYA-NYA “an’amta ‘alaihim“, adanya “seseorang” dalam kepastian di dalam anugerah ini.

SHIRATAL MUSTAQIMA-nya N. Adam, N. Idris, N. Nuh, N. Ibrahim, N. Musa, N. Daud, N. Sulaiman, N. Isa, N. Muhammad bahkan sampai jebating jagat adalah lahir menjalankan tatanan syareat yakni tatanan lahir berdunia dengan perilaku Uswah, Budi, Darma dan yang batin menjalankan hakekat, yakni rasa hati nurani yang telah mengenali Keberadaan AlGhaybNya dari yang berhak dan sah, sehingga wenang menunjukkan DIA, sehingga DIA terekam tersimpan serta diingat-ingat keberadaan-Nya di dalam rasa hati nurani.

BUKAN JALAN MEREKA YANG ENGKAU MURKAI, mereka yang tidak mengerti dan tidak mengetahui serta tidak memahami dan menyadari serta juga tidak dengan sebenar-benarnya kenal-mengenali namun, berlaku, bersikap, bergaya style “bagai” orang-orang yang kenal mengenali, bagai telah berpasangan sebagai suami istri yang telah sangat harmonis, akrab mengenal bagai hubungan harmonisasi bapak dan anak.

Seseorang yang sama sekali tidak mengetahui, tidak mengenali, apa itu “KLEPON” DAN “CENIL” namun bercerita, berkonsep, berlegenda dan bersikap dan berkarakter sebagai klepon dan cenil, maka “SANG” pemangku pemilik KLEPON DAN CENIL bisa murka.

Dan BUKAN PULA JALAN ORANG-ORANG YANG TERSESAT: salah baca, salah membaca peta, dalam menerjemahkan ayat-ayat dan fenomena-fenomena sebagai tanda-tanda (KEBERADAAN MENGADANYA ESENSI DIRI DIATAS FITRAH YANG ASAL FITRAH MANUSIA DARI FITRAH ALLAH SENDIRI).

Saat menemui perempatan di atas perempatan (jalan yang sangat terlalu banyak cabangnya), di “pojok” ada pohon “PALM” beloklah ke kanan dan kemudian temui “sang” pemandu. Namun karena palm ditafsiri mangga, yang lain palm dimaknai pal, yang lain lagi ditafsiri tonggak, yang lain lagi dimaknai pelem/ mangga (monggo silahkan apa saja) semua belokan akan ke tujuan.

Faktanya saat seseorang berjalan tanpa adanya cahaya maka hanya akan meraba-raba, mengira-ngira, menafsir-nafsir, dan selalu mengatakan SEMOGA JALAN INI BENAR, SEMOGA BUAH INI BENAR MANGGA YANG DIMAKSUD, SEMOGA……., SEMOGA.

BAHWA SEMUA AJARAN PARA NABI DAN PARA RASUL ADALAH DIATAS KEPASTIAN IKATAN PERSAKSIAN-KESAKSIAN SENYATANYA DIDALAM KEBENARAN ALHAQNYA, SEMUA AJARAN PARA NABI DAN DAN PARA RASUL BUKAN MENGAJARKAN “GAMBLING” UNTUNG-UNTUNGAN, SEMOGA BERUNTUNG.

“Sesuatu” yang berharga selalu tersamarkan, semakin sesuatu itu berharga maka akan semakin dibungkus dengan rapat dan semakin disamarkan, hingga sampai pada “titik” titi wanci dibuka, dan saat itulah banyak manusia yang kecele, tidak mengira, jomblak, kaget dan tinggal penyesalan dan penyesalan.

Kebenaran AlHaq bukan menurut angan-angan dan bukan menurut buku-buku. AnNisa 123

لَّيۡسَ بِأَمَانِيِّكُمۡ وَلَآ أَمَانِيِّ أَهۡلِ ٱلۡكِتَٰبِۗ مَن يَعۡمَلۡ سُوٓءٗا يُجۡزَ بِهِۦ وَلَا يَجِدۡ لَهُۥ مِن دُونِ ٱللَّهِ وَلِيّٗا وَلَا نَصِيرٗا ١٢٣

(Pahala dari Allah) itu bukanlah menurut angan-anganmu yang kosong dan tidak (pula) menurut angan-angan Ahli Kitab. Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak (pula) penolong baginya selain dari Allah

Ali Imron 154: keimanan adalah tidak di dalam keprasangkaan.

يَظُنُّونَ بِٱللَّهِ غَيۡرَ ٱلۡحَقِّ ظَنَّ ٱلۡجَٰهِلِيَّةِۖ ….

Berprasangka bersama dengan Allah, namun tanpa ALHAQ maka dalam prasangka jahiliyah.

Dalam kesadaran sebagai hamba yang tidak hanya bodoh dan jahil serta tempat dosa, Tanjung adalah hamba sebagai manusia tempat salah dan dosa, tidak bisa apa-apa dan tidak apa-apanya, bisanya hanya membuat salah dan dosa.

Kami hanya sekedar (jw. sak dermo) menyampaikan dan menghaturkan berita adanya kebenaran AlHaq min Robbika dengan hujah “ilmu” kenal-mengenal sehingga di dalam ingatan dzikr yang sebenar-benarnya sehingga bertauhid dalam persaksian senyatanya yang belum terungkap, Seandainya bukan karena dhawuh dari Guru dari aguru-guru, sungguh kami sadar se-sadar-sadarnya bahwa kami sama sekali tidak pantas, sama sekali tidak layak, sama sekali tidak patut.

Dari yang hanya sak dermo menghaturkan dhawuh Guru dari aguru-guru.

Sang pendosa

Kyai Tanjung

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here