DIALOG PENDIDIKAN (spesial POMOSDA)

0
212
views

Dimulai dari mana seharusnya pendidikan untuk membangun karakter yang beradab dan berakhlak musti dibangun.

Memang untuk membangun sehingga terbentuk karakter yang kuat adalah sesuatu yang tidak bisa instan.

Banyak elemen, faktor dan variabel yang berpengaruh. Tidak semudah membalik tangan, tidak semudah kalimat dan kata. Dan tidak seindah kata-kata mutiara dan puisi serta prosa.

Dan konsep bagaimana pendidikan dibangun, telah sedemikian menumpuk bergudang-gudang, belum lagi yang tidak tertulis, yang terlisankan dalam diskusi-diskusi.

– Prestasi diukur dari Persaingan.

– Kualitas diukur dari Luar Diri.

– Kurang dalam latihan “melek” kemandirian dan tanggungjawab.

– Siswa hanya Pembelajaran data dan sekedar mempelajari fakta-fakta semata.

– Kebiasaan-kebiasaan pembelajaran pada HASIL bukan pada PROSES. Hanya angka-angka.

– Hanya soal memori, belajar data, tidak kontekstual dan tidak membangun visioner, tidak menyentuh sendi-sendi kehidupan.

– Kurang menekankan akhlak dan adab. Tidak menjadi perhatian utama dan yang mestinya diprioritaskan dalam sebuah proses pendidikan.

– Tidak melatih kreatif dan inovatif, akibatnya adalah berperilaku instan dan siap saji semata.

– Proses pembelajaran agama dipelajari hanya bersifat tektual, konsep, sekali lagi hanya bersifat belajar data dan sejarah. Agama tidak dilatih untuk lebih membumi dan kontekstual.

– Akibatnya pemisahkan antara kehidupan beragama dan kehidupan berdunia. Dan terjadi kesenjangan yang gabnya sangat menganga.
Sehingga ada kelompok yang agamis, dan ada yang kelompok materialis. Yang bisa jadi kedua-duanya sesungguhnya adalah sekulerisme.

Yang agamis melarang interaksi dengan duniawi, karena hal ini akan menghalangi ibadahnya. dan yang materialis tidak mau menyentuh perihal yang agamis, karena dianggap bukan bagiannya.

Sangat menarik untuk dicatat betapa seringnya kita orang tua mengeluhkan, betapa tidak bertanggung jawabnya anak-anak zaman sekarang, tidak bisa diatur, suka hura-hura, berfoya-foya, suka berkelahi, tidak memiliki kesopanan, tidak beradab dan tidak berakhlak, tanpa kita menyadari bahwa kitalah sebenarnya yang melatih anak didik menjadi sperti itu.

Selama ini kita mendidik dan melatih untuk menghasilkan kondisi yang hasilnya seperti sekarang ini.

Persaingan, tidak berkepedulian kecuali kepada diri sendiri, sing penting pinter nilainya bagus, akhlak rusak bobrok tidak apa-apa, kualitas prestasi diukur dari persaingan teman dan sekolah, tetangga. Guru sibuk dengan dirinya sendiri: membuat silabus, membuat administrasi isian setifikasi, dan tetek bengek lainnya.

Siswa tidak terperhatikan dengan baik, bagaimana perkembangan: mentalnya, pemikirannya, siswa tidak dididik untuk mandiri, berpikir rasional dan berpikir masuk akal, dan berperilaku adab dan akhlak

Sampai-sampai mentri pendidikan mengatakan gawat darurat. Dan memerlukan tindakan revolusi pendidikan.

Survey menyatakan 73 % siap menegakkan keyakinannya dengan berlaku ekstrim dan radikal.
Survey menyatakan, 90% hanya mau kerjasama dengan yang sekeyakinan.
Data 2009 dari BKKBN menyatakan (Astaghfirullah) 63 % remaja indonesia berbuat zina

Data pada hari Jumat tanggal 17 Desember 2010, 80% remaja putri melakukan hubungan seks pranikah. Sedangkan pada remaja pria, data angka persentasenya sedikit lebih besar lagi.
Demikian data dari hasil survei secara acak selama kurun waktu enam bulan terakhir, yang disampaikan oleh Ketua KPPA (Kantor Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak) pada sebuah kabupaten menengah,
(Selengkapnya: http://www.kompasiana.com/bocahndeso/80-gadis-tak-lagi-perawan_550057e2a33311376f510bc4)

Insyaallah POMOSDA MEMFORMULA SISTEM PENDIDIKAN KAAFAH, KESATUAN SISTEM SEKOLAH DAN PESANTREN DALAM MEMBANGUN AKHLAK ADAB BERPENGETAHUAN DAN KETRAMPILAN KEMANDIRIAN.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here