TETAP BERBUAT BAIKLAH, BERFASTABIQUL KHOIRATLAH

0
237
views

Kami lanjutkan sebagian kecil wasiat dari Guru kepada kami,
“Biarlah manusia penduduk bumi ribut dengan dunianya akibat keduniawiannya, biarkan terombang-ambing di dalam ketidakpastiannya, sebab akan ada saat titi wanci “sangat” bahwa mereka akan tersadarkan baik dalam keterpaksaan atau ketertundukannya”.

“Tetap jalani dalam aktifitas barfastabiqulkhoiratlah.
Jagalah ikatan kekeluargaan, kebersamaan, keguyubrukunan dengan ikatan mahabbah bi-rauhillah, saling memaklumi, saling menghargai, saling menghormati”

“Bemasyarakatlah semampu yang bisa dilakukan dengan terus berbuat kebaikan dan kesalehan serta kemaslahatan. Jangan berbuat karena pamrih dan riya’ apalagi untuk memperoleh pujian dan penghargaan yang menjadikan kemudian putus-asa akibat ada pamrih”.

“Baik pamrih bangsa dunia dan apalagi pamrih bangsa akherat. Sebab meminta ngilmu kemudian di dalam hidayah yang berkaitan dengan keimanan itu mutlak hak wilayah Allah, Allah Sendiri yang memilih dan memilah dan siapa yang dimaukan nyuwun ngilmu itu adalah mutlak Kehendak Allah, siapa yang akan ditunjukkan ke dalam jalan Shiratal Mustaqim”.

Dimulai dari sikap dan watak bahkan keberanian mengubah dan mentranformasi watak, (jw. malik watek).

“Tetaplah berbuat baik kepada siapapun, terlepas menerima penjelasan atau menolak penjelasan, terlepas akan nyuwun ngilmu ataupun menolak untuk nyuwun ngilmu, WALAU SEMUA SEBENARNYA MENGETAHUI BAHKAN MENYADARI INTI PENATAAN BERAGAMA ADALAH PERIHAL KETAUHIDAN YANG DIIKAT DALAM KETATAAN YANG DIKENAL OLEH ILMU TAUHID YANG TIDAK HANYA BERHENTI PADA LISAN NAMUN PADA PEMBUKTIAN FAKTA RASA HAMBA TERHADAP MENGADANYA TUHANNYA”,

“Namun tetap berbuat baiklah kepada siapapun, jangan membedakan suku bangsa, agama, ras, warna kulit dan bahasa”

“Sebab tatanan syareat yang lahiriyah adalah tatanan berdunia, sudah kewajiban kita sebagai makhluk hidup di dunia untuk berbuat baik kepada siapapun, selama dia juga berbuat baik kepada masyarakat, kepada bangsa dan negara, dan menjaga melestarikan kesatuan dan persatuan NKRI. Berbuat baiklah. Percayalah hal itu tetap bernilai ibadah. Jangan kotori hatimu dengan iri, dengki, kebencian dan dendam”

Jadi kami mohon dimaafkan dan dimaklumi, manakala di dalam kami menyampaikan ada atau banyak yang tampak menyakitkan, tidak berkenan, saya berharap untuk tidak timbul perpecahan dan kebencian, sebab ketetapan Kebenaran Al-haq adalah mutlak dari Allah. Lebih baik memohonlah pada Allah (masing-masing keyakinannya, dengan keikhlasan dengan kepasrahan atas ketetapan Allah), “ihdinash-shiratal mustaqim” hidayahi kami pada jalan mustaqim Engkau, jalan dengan hidayah yang menuju kepada Engkau sehingga di dalam keselamatan lahir dan batin, keselamatan kedamaian kebahagiaan dunia akhirat.

Sekali lagi kami hanya “nuhoni Dhawuh aguru-guru” jika kami menyampaikan kemudian mengaku dalam ego keakuan, apalagi mengaku Guru maka saya berada di dalam kesesatan yang jauh, maka saya masuk jahanam paling dulu, dan tidak menunggu waktu maka hancur luluh lantaklah saya, sebab saya juga murid (orang yang berada di dalam niat tujuan dan tekad bersungguh menyatakan keselamatan lahir dan batin) yang menjalankan dhawuh Guru saya dalam prosesi sanad rante-marante sambung gulowentah kait mengikat tidak terputus sama sekali dan tanpa jeda.

 

Oleh : Bpk. Kyai Tanjung

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here