MENYAMPAIKAN KARENA PERINTAH

0
510
views

HANYA SAK DERMO MENYAMPAIKAN DHAWUH DALAM DASAR “HUJAH” SISTEM DAN MEKANISME AGURU-GURU. GURU DARI GURU SEBELUMNYA, GURU KAMI DARI GURUNYA DAN GURUNYA DARI GURUNYA PULA DALAM SILSILAH “SANNAT” SAMBUNG KAIT MENGIKAT SILSILAH RANTE-MARANTE SAMBUNG GULOWENTAH SAMA SEKALI TIDAK TERPUTUS DAN TANPA JEDA HINGGA SAMPAI KEPADA KN. MUHAMMAD SAW.
(BAHKAN SESUNGGUHNYA SAMPAI NABI ADAM AS)

Sehingga saat menyampaikan kebenaran AlHaqNya atas perilaku iman dan islam dalam realisasi konteks kehidupan adalah hanya sak dermo menyampaikan, bukan karena kapandaian saya, bukan karena bisa saya (sebab faktanya saya bodoh dan tidak bisa apa-apa).

Saya hanya sak dermo Menjalankan (jw. nuhoni) dhawuh Guru, jika saya menjalankan dhawuh Guru kemudian saya aku, dan dalam pengakuan apalagi untuk kepentingan hawa-nafsu ego keakuan kepentingan apalagi ngaku Guru maka hal ini adalah saya terjerumus kedalam sebesar-besarnya dosa, dan jika hal ini saya lakukan maka saat ini detik ini saya hancur karena telah berani berlaku murtad dan dalam kemusyrikan, dosa terbesar sehingga jika meninggal dunia maka masuk jahanam paling dulu.

Namun jika kami tidak menyampaikan maka juga salah dan kami khawatir juga berdosa, setelah memperhatikan dhawuh sebagai wasiat dari Guru kami, bahwa, “jika fenomena-fenomena alam dengan berbagai anomali dan kerusakan moral dan krisis-krisis telah menunjukkan tanda-tandanya, maka sampaikan untuk penyelamatan dan saat untuk melakukan kemurnian-pemurnian”.

Walau sangat melekat dalam rekaman memori dalam catatan sejarah, pun yang tertulis di dalam al-Qur’an juga di dalam alkitab, betapa dahsyatnya permusuhan, pertentangan, olok-olokan dan fitnah sampai pada pembunuhan-pembunuhan yang diterima oleh para nabi dan para rasul. Saat di zamannya.

Memang dalam sejarahnya di zaman para Nabi para Rasul setiap disampaikan atas kebenaran AlHaqNya selalu dicurigai, selalu diprasangkai, dan selalu dikira akan “menendang” eksistensi mereka yang telah mapan.
Utamanya oleh kemapanan status, kemapanan kedudukan sosial, belum lagi perihal keyakinan kepercayaan, padahal sebelumnya mereka-mereka yang menolak itu sangat memohon kedatangan utusan supaya lebih berada di dalam petunjuk.

Dan diutusnya para Rasul sesungguhnya adalah menggenapi, menyempurnakan amal-perbuatan baiknya supaya di dalam maghfirah ampunan Allah dan di dalam ridha-Nya.
Padahal keberanian semua utusan Allah menyampaikan karena sekedar (jw. sak dermo) menyampaikan, bukan karena kehendak dan kemauannya sendiri, bukan karena keinginan hawa-nafsunya, bukan untuk status keduniaan dan materialnya.

Siapa yang sesungguhnya lebih berhak menyampaikan. 10. Yunus: 35

قُلۡ هَلۡ مِن شُرَكَآئِكُم مَّن يَهۡدِيٓ إِلَى ٱلۡحَقِّ قُلِ ٱللَّهُ يَهۡدِي لِلۡحَقِّ أَفَمَن يَهۡدِيٓ إِلَى ٱلۡحَقِّ أَحَقُّ أَن يُتَّبَعَ أَمَّن لَّا يَهِدِّيٓ إِلَّآ أَن يُهۡدَىٰۖ فَمَا لَكُمۡ كَيۡفَ تَحۡكُمُونَ ٣٥

Apakah sekutu-sekutu kamu (benda-benda, orang-orang, jabatan-jabatan, material-material) dapat menjadi YANG wenang yang berhak dan sah menyampaikan dalam otoritas ketuhanan sehingga wenang memberi petunjuk dalam cahaya terang menuju Al-Haq-Nya.

Maka apakah orang-orang yang (berhak dan sah dalam dasar hujah ikatan persaksian) yang menunjuki kepada kebenaran itu yang seharusnya lebih berhak diikuti ataukah orang yang tidak dapat memberi petunjuk kecuali (bila) diberi petunjuk? Mengapa kamu (berbuat demikian)? Bagaimanakah kamu mengambil keputusan?

Padahal prasangka tidak akan dapat menyentuh kebenaran AlHaqNya.

وَمَا يَتَّبِعُ أَكۡثَرُهُمۡ إِلَّا ظَنًّاۚ إِنَّ ٱلظَّنَّ لَا يُغۡنِي مِنَ ٱلۡحَقِّ شَيۡ‍ًٔاۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمُۢ بِمَا يَفۡعَلُونَ

36. Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran Al-HaqNya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.

Sungguh ketakutan kami adalah berada di dalam pengakuan ego keakuan hawa-nafsu, kami tidak berani dan sangat-sangat takut dan khawatir jika sewaktu-waktu masa pakai jasadnya habis di dunia, tidak menyatakan keselamatan, tidak kembali kepada asal-usul kejadian, tidak kembali kepada Dzatullah lagi. SUNGGUH..!! HAL YANG MENJADI KETAKUTAN TERBESAR KAMI.

Namun setelah memperhatikan dhawuh, ‘atas fenomena-fenomena anomali alam dan fenomena-fenomena kerusakan yang terus meningkat dan merajalela, dan saat ini tanda-tanda atau fenomena yang telah sesuai dengan wasiat dhawuh untuk menyampaikan keberadaan kebenaran Al-Haq min Rabbika, walaupun sangat berat terasa maka, kami menyampaikan akan hal adanya Kebenaran al-Haq min Rabbika dengan ajaran Dzikr. Hal ini sungguh sebagai ajaran risalah kerasulan’.

Dan di Al-Mukminuuna 24 disebutkan bahwa orang-orang yang mengingkari itu mengatakan, “Orang ini (hanya mengaku-ngaku) tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, yang bermaksud hendak menjadi seorang yang lebih tinggi dari kamu. Dan kalau Allah menghendaki, tentu Dia mengutus beberapa orang malaikat. Belum pernah kami mendengar (seruan yang seperti) ini pada bapak-bapak kami dan di masa nenek moyang kami yang dahulu.

Inilah fakta-fakta itu !!!

Saya sadar sesadar-sadarnya bahwa perihal keimanan berkaitan dengan hidayah, total penuh hak wilayah Allah siapa yang akan diberi petunjuk dan siapa yang disesatkan. Kami hanya menyampaikan selanjutnya terserah kepada yang bersangkutan, menerima ataupun tidak.

Dan perihal kehidupan berdunia dalam menjalani tatanan lahiriyah syareat dalam kehidupan bersosial bermasyarakat dan bertata negara, sama sekali tidak mengurangi rasa hormat. Dan menghargai bahkan mencintai. Tidak mengurangi interaksi komunikasi kepada siapapun, apapun keyakinannya, apapun agamanya, apapun suku bangsa dan bahasanya, kami tetap dalam penghargaan yang setinggi-tingginya. Tidak sekedar toleransi dan maklum, namun kami tetap memberdayakan.

Karena hal ini adalah dhawuh yang ditekankan oleh Guru kami yang sungguh dari Gurunya dan sesungguhnya terus ke atas dalam sannat silsilah rantai sambung gulowentah sama sekali tidak terputus dan tanpa jeda sejak KN. Muhammad SAW. Bahwa posisi tatanan lahir dengan menjalankan tatanan keislaman dengan bersyareat, baik yang mahdhoh pun yang ghoiru mahdhoh. Termasuk membagusi akhlak adab, bersosial dan bermasyarakat, bahkan memberdayakan lingkungan berbangsa dan bernegara. Yang semuanya adalah perilaku syareat, sungguh hal ini adalah ibadah.

Sungguh kami tidak berani jika tanpa dasar bi amrina “yahduuna bi-amrina”, jika tanpa dasar dhawuh dan sangat-sangat takut dan khawatir jika sewaktu-waktu masa pakai jasad habis masa pakai di dunia, tidak menyatakan keselamatan. Inilah ketakutan terbesar kami.

Di saat fenomena-fenomena kerusakan, kedzaliman, kelaliman, merajalela dan disaat fenomena alam mulai bergolak, kerusakan yang diakibatkan oleh tangan-tangan manusia yang dalam kungkungan nafsu, dan intensitasnya semakin meningkat dengan cepat maka, atas kehendak-Nya petunjuk dari aguru-guru maka ini adalah sangat titi wanci untuk menyampaikan untuk penyelamatan, dan berkaitan erat dengan Jaa-al Haq wa Zahuqol Bathil.

Selanjutnya beliau Guru kami juga menyampaikan, “Dan jika tatanan berbangsa dan bernegara juga sudah pada titi wanci kebingungan, “mentok atau judeg” dalam memahami, menyadari dan merealisasikan untuk mengkontekskan kebhinnekaan dan garuda pancasila dalam kehidupan sehari-hari, maka sampaikan. Namun harus dengan terus berlaku hati-hati dan waspada”.

Masih melanjutkan dhawuhnya, “namun jika mereka-mereka belum kateg, belum judek dan masih merasa bisa, biarkan saja mereka, berserah dan bertawakkallah kepada Allah, tetap berlakulah sebagai warga negara yang baik, bangun kebersamaan dan kekeluargaan, bangun kemaslahatan, berpartisipasilah menjaga kesatuan dan persatuan berbangsa dan bernegara. Berdo’alah untuk kebaikan semua, semoga Allah mengampuni kita semua.

Part 1

Part 2

Part 3

 

 

 

 

 

Part 3

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here