Bagaimana Seharusnya Kita Bersyukur

0
280
views

Kontekstualisasi kehidupan dalam terapan syukur.

Bagaimana syukur diterapkan di kehidupan sehari-hari. Syukur yang tidak hanya berbicara “Alhamdulillah”. Syukur yang tidak hanya berbicara perihal setelah mendapatkan anugerah (contoh: kondangan). Mengundang tetangga, mengundang orang lain untuk diajak makan-makan atau kita menunjukan bahwa kita telah memiliki rezeki. Syukur lebih dari hal itu.

Di dalam QS An-Nahl 78, Allah telah memberikan suatu gambaran dalam sebuah perspektif untuk dapat diterapkan di kehidupan yang keterangan ini untuk dapatnya diterapkan oleh hambanya. Bagi mereka yang memang menyiapkan diri dan menempatkan diri sebagai hambanya.

Disebutkan (diterangkan) bahwa sejak kita di dalam kandungan, kemudian kita terlahir di muka bumi “مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ” (dari perut ibu). Kita dilahirkan tidak tahu apa-apa sedikitpun, kita dilahirkan dalam keadaan sama sekali belum bisa apa-apa. Hal ini diterangkan menjadi sebuah perilaku yang utuh untuk dapat memiliki perilaku syukur. Karena sesungguhnya SYUKUR memiliki makna TERBUKA, makna MEMBUKA. Sehingga, diharapkan semoga diberikan hidayah oleh Allah dengan jiwa terbukanya itu, yang di sisi lain akan kita bicarakan tentang syukur dalam perspektif yang lain.

Kemudian diterangkan bahwa syukur itu saat manusia dilahirkan tidak tau apa-apa, tidak bisa apa-apa maka Allah menyertakan dalam kelahiran itu organ dan indra serta fikiran. Pada saat Allah menyertakan, bukan mengatakan “اُذُنٌ” telinga dalam pengertian fisik, “عَيْنٌ” mata dalam pengertian fisik, juga bukan dalam pengertian kepala “رَأْسٌ” bukan sekedar otak. Akan tetapi fa’idah mengambil manfaat dan hikmah di balik penciptaan atas adanya fikiran ini

Ini memberikan satu gambaran bahwa perilaku syukur harus dimiliki oleh hamba yang terus dalam memproses diri, dalam menekankan menjadi hamba, dalam menjadi satu perilaku-perilaku hamba. Sehingga syukur ini sesungguh nya adalah Perilaku dan Karakter TERBUKA, MEMBUKA, dan DIBUKA.

Telinga tidak hanya sekedar fisik. Akan tetapi menjadi penyimak yang baik, pemerhati  yang baik.

Bukan sekedar Mata atas ciptaanya “عَيْنٌ” akan tetapi mata untuk ditetapkan sebagai  “اَبْصَر”.

Bukan sekedar Otak  akan tetapi untuk dapat menyelami, mencermati, atas apa yang didengar, apa yang dilihat. Apa yang dikatakan itu adalah hasil dari apa yang didengar dan yang dilihat, kemudian hasil dari sebuah pemikiran yang mengambil manfaat dan faedah-faedah yang harus dikembangkan.

Hal ini harus dikembangkan dalam bentuk potensi. Potensi yang ada untuk dapat dikembangkan untuk menjadi motor (penggerak) memberdayakan diri. Dirinya sendiri atau keluarganya, lingkungannya, masyarakatnya, bahkan bangsa dan negaranya.

Ini adalah hal-hal atau perilaku-perilaku syukur yang seharusnya dapat ditempatkan menjadi hamba. Sehingga seorang yang syukur akan jauh dari watak, sikap dan perilaku kaku, jumud, beku, merasa diri paling benar, merasa diri paling suci.

Orang yang syukur adalah orang yang dapat menerima perbedaan. Walaupun tetap berpegang pada prinsip-prinsip, tatanan-tatanan atas ketetapan dan ketentuan yang diyakini (menurut) dari Tuhannya. Namun hal ini tidak menutup untuk berinteraksi, bertoleransi. Ini adalah syukur.

Tapi yang mendasar bukan sekedar toleransi, bukan sekedar menghormati dan menghargai. Akan tetapi untuk terbuka dalam mengembangkan potensi lahir, potensi batin.

Seharusnya orang yang bersyukur itu seperti halnya anak kecil. Karena dia terbuka, membuka diri, dia terus belajar tanpa mengenal lelah, dia belajar tanpa putus asa. Saat seandainya anak kecil itu putus asa, marah dan kecewa karena belajar jalan gak bisa-bisa jalan, maka saat ini tidak ada orang yang dapat berjalan, berbicara dengan baik. Semuanya berangkat dari meniru.

Orang syukur jauh dari perilaku gengsi, membatasi diri karena jaga image (JAIM). Seseorang yang syukur akan memberikan nuansa pengembangan, perkembangan yang berfikir.

Kemudian di QS Az Zumaar ayat 66. Allah telah berfirman “tempatkan menjadi hamba dalam perilaku penghambaan” itu adalah dengan perilaku syukur untuk terbuka, menerima lapang dada, menerima secara utuh tentang perbedaan-perbedaan. Disitu jelas sekali untuk dapat memiliki perilaku “syukur” yang maknanya adalah terbuka, dapat diterapkan sehari-hari walau dalam prinsip-prinsip keimanan. Bahkan bekal syukur inilah yang pada akhirnya untuk mencari kebenaran yang sesungguhnya, iman pada tempatnya dalam pengertian persaksian.

Ini mungkin dapat menjadi satu pembelajaran bagi saya, Anda, dan kita semua

Semoga dalam ridho Allah dan terus di dalam permohonan Ihdina Shirotol Mustaqim.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here