Orang Yang Dapat Menerima Kebenaran

0
492
views

Perihal siapa yang dapat menerima penjelasan kebenaran Al-Haq adalah Min Robbik (kebenaran itu adalah dari Tuhan). Hal yang mendasar yang kita perlu sadari, kita ketahui adalah saat seseorang itu menempatkan untuk Wa Ilallahi Al-Mashiir (hanya kepada Allah segala sesuatunya kembali). Sebab, fakta bahwa segala sesuatunya berproses, semuanya kembali kepada Allah. Semuanya kembali kepada asal-usul kejadian. Yang dari tanah untuk dapat kembali kepada tanah, yang dari air kembali kepada air, yang asalnya dari laut kembali kepada laut.

Pada saat segala sesuatunya tidak kembali kepada asal-usulnya, ataupun jika dia hadir di lautan tapi asalnya tidak menjadi lautan maka dikatakan tercemari (lingkungan itu tercemari). Sehingga datangnya/ kehadirannya menjadi pencemar, menjadi sesuatu yang tidak indah, tidak membahagiakan, tidak baik. Jika pada saat banyak hal yang salah tempat berada di laut, sehingga menjadi sampah. Tapi kalau air yang mengalir kembali ke laut maka menyatu ini menjadi baik itu berarti kembali. Saat kita menempatkan bagaikan air sungai, kemudian berproses menuju kepada laut, maka itu adalah Ilallahi Al-Mashiir (kepada-Nya segala sesuatunya akan kembali).

Pada saat kita berpikir bahwa yang dapat diberi peringatan (itu yang pertama, yang saya sampaikan di depan) yakni orang yang sadar. Kita semuanya pasti berproses kembali kepada Allah, tidak bisa tidak, setiap manusia ada batasan umur, ada batasan hidup di dunia ini yang disebut dengan “UMUR”. Sesunguhnya orang-orang yang dapat memahami penjelasan, memahami keterangan kebenaran, kemudian menerima penjelasan dan kebenaran itu, adalah kebenaran Al-Haq Min Robbik (kebenaran dari Tuhan), adalah mereka yang Yakhsyauna Robbahum Bil Ghoib, mereka yang hati-hati/ takut/ waspada kepada Tuhan mereka/ Tuhannya.

Rob itu tidak hanya sekedar makna dalam pengertian Robb (Tuhan), dalam pengertian Tuhan untuk diri sendiri. Tapi Robb itu adalah sebuah sistem/ cara/ metode menuju kepada Tuhan. Orientasi apapun yang dilakukan adalah berproses menuju kepada Tuhan, sehingga nanti Wallahul Mashir kepadaNya Yakhsyauna Robbahum. Sehingga kita sebagai apapun, sebagai siapapun, dimanapun, dalam keadaan apapun kita selalu waspada bahwa semuanya kembali kepada Allah.

Yakhsyauna Robbahum bil Ghoib, mereka yang takut kepada Tuhannya (Bil Ghoib) dan mereka itu mengetahui secara jelas/ fakta mengenali keberadaan diri Tuhan. Atau paling tidak bahwa ada otoritas yang menjelaskan kebenaran, sehingga kita tidak berani mengklaim bahwa  diri kita yang paling benar kemudian menyalahkan orang lain yang tidak sekeyakinan dengan kita. Sekali lagi, orang yang takut (yang dapat diberi peringatan) adalah orang yang takut jika dirinya itu tidak selamat, sehingga tidak kembali kepada Al-GhoibNya Tuhan, tidak kembali kepada keberadaan diri Tuhan.

 

Kemudian yang kedua adalah mereka yang Wa AqiimusSholah. Mereka yang menegakkan sholat (dalam pengertian sholat tidak sekedar ritual). Karena kalimatnya adalah “AQIM”. Walaupun kita nanti akan bahas pada sesi yang lain mengenai makna sholat, tapi secara sekilas bahwa AqiimisSholah, tegaknya sholat itu bukan masalah ritualitas (mulai takbiratul ikhrom, takhiyat sampai salam). Akan tetapi aqim (terjaga). Terjaganya sholat, bertempat tinggal di sholat, dalam keadaan apa saja, dimana saja, kita selalu terjaga untuk kondisi sholat. Karena inti sholat adalah Dzikir. Inti sholat itu adalah hadirnya hati kepada Tuhan, Tuhan yang dikenali dijadikan tujuan, dijadikan tempat kembali, itu adalah keberadaan diri Tuhan. Inilah yang dikatakan bahwa yang takut adalah mereka yang berimannya dengan Al-Ghoib. Sehingga akan berusaha untuk terus bergerak (mencari) yang dapat menunjukkan keberadaan Al-GhoibNya Diri Tuhan. Sehingga supaya dalam kepastian, orang yang takut, orang yang bisa menerima penjelasan, orang yang dapat menerima secara penuh, itu adalah yang sadar bahwa dirinya kembali kepada Allah. Kemudian mereka untuk dapat mencari, yang dapat menunjukkan Al-GhoibNya Diri Allah, sehingga keyakinan tidak dalam keprangsangkaan.

Kemudian mereka yang selalu terjaga sholat, mulai dari takbiratul ikhrom, itu sesungguhnya karakter-karakter kehidupan. Kemudian mereka yang selalu membersihkan dan mensucikan dirinya untuk dapat di dalam ridho dan ampunan Allah, akan selalu mensucikan. Sehingga tidak berani menilai orang lain, tidak berani menjatuhkan orang lain, tidak berani membit’ahkan orang lain, tidak berani mengolok-olok dan melecehkan orang lain. Ini adalah bagian orang yang berproses, khawatir jika apa yang dilakukan tidak dalam ridho Allah.

Kita membutuhkan kepastian dalam menjalani hidup dan kehidupan, kita memerlukan kepastian secara nyata, supaya apa yang kita jalani tidak dalam prasangka/ kira-kira. Juga bukan karena pendapat Si A atau Si B, tapi kita memerlukan kepastian dalam keselamatan. Sehingga kita menjalankan program, menjalankan kegiatan, semuanya dalam koridor kepastian menuju kepada Tuhan. Sungguh-sungguhnya kita lakukan adalah merupakan media atau alat kepastian menuju kepada Diri Tuhan yang Al-Ghoib.

Kesimpulannya, orang yang bisa menerima penjelasan, menerima saran utuh adalah orang yang:

  • Pertama, sadar bahwa dirinya harus kembali kepada Allah, semuanya proses kembali kepada Allah;
  • Kedua, waspada terhadap menyusupnya ego keakuan;
  • Ketiga, untuk selalu bertempat tinggal pada sholat, yakni selalu dalam orientasi kepada Tuhan, ingat kepada Tuhan, karena intinya sholat adalah Dzikir kepada Tuhan.
  • Keempat, orang yang selalu berusaha untuk mensucikan dirinya, dari penyakit-penyakit pikiran, penyakit-penyakit hati. Kita jalani kebenaran, tapi bukan berarti kita sok benar dan merasa benar.

Demikian, semoga Allah selalu meridhoi kita, selalu memberi ampunan kepada kita, dan menjaga kita.

KYAI TANJUNG

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here