Sejarah (SELALU) Terulang

0
449
views

Ketertutupan akibat sifat watak kaku, beku, fanatik, jumud, ta’asub, merasa cukup, dan kungkungan nafsiyah serta ego: diri kelompok, golongan, dan akademik di setiap zaman selalu terulang, demikian saat Nabi Muhammad SAW, pun Nabi Isa, demikian pula Nabi Daud, Nabi Ibrahim dan hampir semua para Nabi para Rasul Allah yang dalam sejarahnya sampai pada Nabi Adam.
Sampai wujud batas atas kehendak Allah akan ditampakkan kembali ALHAQ-NYA, dan ditenggelamkannya segala kebatilan.

Yang sesungguhnya beliau-beliau atas kehendak Allah untuk menjadi Kholifah-Nya, sebab Allah tidak menampak di muka bumi, namun KeberadaanNya untuk dikenali.
Maka awalnya adalah makrifat, karena Islam didirikan di atas lima perkara yang pertama adalah “an” menyatakan makrifat dalam persaksian mengadanya Dia Sang Empu Nama Allah, dan “an” menyatakan Keberadaan Nabi Muhammad sebagai Nur-Muhammad, kalimatnya bukan qaulan, bukan ucapan lesan, sekalipun alih-alih saat dicoba difahamkan dengan pemaksaan penghayatan.

Dengan pernyataan “AN” dikenali di dalam rasa hati nurani, sehingga dapat diingat-ingat dalam keadaan apa saja, dimana saja dan dalam keadaan bagaimanapun, dijadikan tempat bergantung, dijadikan tempat kembali dan hanya dengan “mengenali” yakni memakrifati dengan adanya ilmu Al-Ghayb dan (ilmu) wasy-syahadati. ilmu dzikr, maka hati menjadi tentram dalam kebahagiaan sejati.

Sebab semua Nabi Rasul Allah diutus dalam kapasitas yang sama persis, sebagai kholifah Allah di muka bumi, menunjukkan Keberadaan Al-GhaybNya, supaya dapat dikenali KeberadaanNya kemudian men-dzikiri-Nya, sebab hanya dengan mengenali-Nya maka hati mengingati-Nya, dan hanya dengan dzikr maka menjadi tentram, sebab di dalam ikatan persaksian sehingga dalam kepastian arah, sasaran dan tujuan hidup, untuk apa hidup dan bagaimana seharusnya hidup dijalani. Dan bagaimana-kemana setelah masa pakai jasad habis di dunia.

Dan setiap “KEBENARAN” Al-Haq min Rabbika, kebenaran ber-tauhid bi dzatillah diungkap, dibuka (karena sesuatu hal) oleh para utusan selalu dipertentangkan, selalu ditolak. Begitulah sejarahnya.

Ditolak oleh kefanatikan, ditolak oleh kekultusan, ditolak oleh kejumudan, ditolak oleh prasangka kemuliaan juga kehormatan duniawi, ditolak oleh iri dengki, ditolak oleh merasa lebih, ditolak oleh merasa cukup, ditolak oleh budaya simbol-simbol dan legenda-legenda, ditolak oleh ego-keakuan nafsu merasa benar, merasa pandai, merasa suci, dan seterusnya dan sebagainya.

Ditolak karena ego gengsi, banyaknya elemen faktor dan komponen yang berpengaruh dan mempengaruhi sikap tindakan disebabkan perbedaan umur, perbedaan pemahaman, perbedaan kepandaian, dan seterusnya sehingga terhalangi oleh EGO GENGSI: umur, teman, kekayaan, keturunan, kelompok, golongan, akademik, kepandaian dan masih banyak lagi.

Keberadaan para Nabi dan para Rasul “lumrah” sebagai manusia sebagai hamba Allah yang memang sebagai manusia wantah seperti halnya manusia yang lain, hanya saja ditugasi sebagai kholifah Allah (wakil Allah di muka bumi – karena Tuhan tidak ngejowantah menampak di permukaan bumi-Nya) maka membuat wakil, hal ini sesungguhnya adalah sebagai wujud anugerah-Nya, guna mengajarkan perihal Risalah Tauhid.

Namun keberadaanNya selalu ditentang dan dimusuhi habis-habisan, akibat yang dilihat dan yang terperhatikan adalah cerminan diri sendiri dan layaknya kehidupan manusia pada umumnya, sehingga sama sekali tidak memperhatikan atas inti perihal “ajaran”, yang sesungguhnya perihal AMANAH RISALAH untuk dapatnya bertauhid, hanya saja sebuah ajaran ilmu tidak akan jalan-jalan sendiri maka Allah menjadikan mengadanya utusan di muka bumi sebagai kholifah.

Sang utusan adalah hamba Allah Swt, pasti sama sekali tidak dalam “pengakuan” wujud. Inilah yang dimasa kaum para nabi dan para Rasul masyarakat kaum yang sezaman memandang berat karena memandang dirinya serba cukup, dan memandang para utusan dipersamakan dan dipersepsikan memiliki keinginan dan kepentingan nafsu seperti halnya dirinya sendiri, yaitu kepentingan kehormatan, kemuliaan, pujian, kepentingan golongan dan kelompok, dan diprasangkai sama seperti halnya yang lain yaitu PENCITRAAN. Sehingga tidak bisa menerima keberadaan Rasul maka juga tidak bisa menerima kebenaran ajaran.

Inilah yang dialami oleh hampir-hampir semua Nabi Rasul Allah sampai Nabi Muhammad SAW, atas sikap pengingkaran adanya Risalah Tauhid risalah kerasulan, risalah yang akan membuka “tirai” dan menjadikan berfungsinya hati nurani.

Maka banyak para nabi dan para rasul yang men-diam-kan keadaan dan situasi, sebab sangat tidak mungkinnya untuk diungkap, disampaikan dan disingkap.

Padahal sangat jelas dan gamblang bahwa beliau-beliau menyampaikan dalam keadaan sadar penuh sebagai hamba yang hanya “SAK DERMO” yang hanya menyampaikan, diterima monggo, tidak diterima juga tidak menjadi masalah sama sekali. Dan tidak akan menjadikan mudharat sedikitpun.

Berbuat kebaikan kepada siapapun tanpa memandang agama dan keyakinan serta budaya serta tanpa memandang suku bangsa dan negaranya adalah tetap bernilai ibadah dan hal ini adalah syareat.

Semoga kita semua dalam ampunan Allah, sehingga berada di dalam perilaku penghambaan.

 

Bahagia Sejati, Kenali DIA dengan Sebenar-benarnya

Part 1

Part 2

Part 3

Siapa Yang Berhak Menyampaikan Alhaq Minrobik ??

Part 1

 Part 2

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here