Apa itu Kebenaran yang Menyelamatkan

0
384
views

Kita berbicara tentang kebenaran, saat kebenaran kita fahami secara utuh, saat kebenaran kita tempatkan pada posisinya, saat kebenaran akan terhubung dengan dayanya, maka akan memiliki tentram dan damai.

Pada saat kita berbicara tentang kebenaran, kebenaran yang memiliki perspektif (kebenaran siapa, dari mana asal kebenaran itu). Karena selama ini, apakah kebenaran menurut sudut pandang diri sendiri atau kebenaran menurut khalayak (orang banyak) atau kebenaran menurut konstitusi (pemerintah)???

Keadaan dan situasi yang kita ciptakan tergantung dari mindset (pikiran) yang kita buat/ kita bangun/ kita tempatkan.

Saat pikiran ditempatkan pada kebenaran, maka memungkinkan untuk mencapai kedamaian dan ketentraman itu. SEKALI LAGI, masalahnya adalah kebenaran menurut siapa.

Pada saat pemikiran yang sebaliknya, saat pemikiran tidak terhubung dengan kebenaran yang seharusnya maka yang terjadi adalah pembiasan, penyimpangan. Pada saat terjadi penyimpangan, akibatnya adalah keadaan/ situasi menjadi tidak nyaman, tidak membahagiakan.

Kalau kita berbicara tentang daya kebenaran, mindset (pemikiran) merupakan dasar hal yang utama, sebagai pondasinya berpegang kepada kebenaran Al-Haq. Kebenaran inilah yang akan menjadikan seseorang berada di dalam ranah menuju pada tentram atau tidak.

Sehingga setiap diri kita akan membentuk suatu lingkungan yang rusak (fasad) tergantung dari kebenaran yang kita ambil, pemikiran yang kita jalankan, pemikiran yang dijalankan oleh sebuah tindakan.

Dalam suatu ayat (QS Al-Mu’minun: 71) disebutkan dengan jelas bahwa segala sesuatunya manakala kebenaran diletakkan di atas hawa nafsu, maka akan rusak langit, bumi dan orang-orang yang berada di dalamnya. Sungguh sebenarnya Allah telah memberikan Al-Haq/ kebenaran itu dengan dzikir.

Allah telah memberikan kebenaran bersama adanya dzikir. Adanya ingatan hati, posisi dimana hati supaya ingat kepada sesuatu. Hal ini adalah tentang HUWA. Tentang Dia. Maka kebenaran itu akan menempatkan hamba terhadap Ma’bud nya, sehingga apapun yang dilakukan itu dalam kesadaran (fakta) sadar sebagai hamba. Dapat menjadi ekperien/ pengalaman hidup. Sadar batin, sadar secara fakta

Makanya, orientasi menuju kebenaran adalah suatu pencarian tentang kebenaran itu.

(Lanjutan ayat) Pada saat segala sesuatunya (kebenaran) yang tidak diletakkan pada Al-Haq nya, maka mengakibatkan segala sesuatunya itu akan ada batasan, titik balik menjadi kerusakan, saat dimarahi kelompok atau seseorang.

Ayat yang lain mengatakan (QS Al-Hajj: 46) tampaknya manusia berjalan di muka bumi, rasanya di muka bumi, perjalanan yang dilakukan di atas muka bumi. أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ  akan tetapi sesungguhnya berhenti, tidak melakukan aktifitas apapun. Karena kebenaran sesungguhnya berada di dalam bukan berada di luar. Sehingga فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ karena sesungguhnya yang buta melihat kebenaran itu adalah yang berada di dalam dada, bukan mata yang tampak lahir (yang digunakan sebagai fungsi melihat). Melainkan fungsi mencermati tentang diri. وَلَٰكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ pada saat kehidupan yang dijalani harus memfungsikan hati nurani.

Sehingga saat kita mencari kebenaran akan memacu/ memicu/ mensupport/ mendukung/ membentuk kedamaian dan ketentraman baik yang lahir ataupun yang batin.

Kita hidup memang harus mencari kebahagiaan dan ketentraman yang sebenarnya. Menanggalkan segala hal yang hanya menggunakan sudut pandang duniawi dan material. Walaupun secara fakta kita hidup di dunia.

Demikian. Semoga kita dalam ridho Allah, dalam maghfirah-Nya dan semoga ditarik dalam fadhal dan rahmat-Nya, mendapatkan syafa’at Rasulullah S.A.W