Rumitnya Mengusung Keharmonisan, Keselarasan, Kedamaian dalam Ranah Kondisi Saat Ini

0
191
views

Manusia secara fitrah adalah dari Diri yang satu dan kembali kepada yang Maha Satu. Keselamatan lahir dan keselamatan batin. Hanya ini orientasi hidup dan kehidupan kami. Dan ini adalah petunjuk dari guru kami, dan guru kami dari gurunya pula demikian seterusnya dalam mata rantai sambung kait-mengikat gulowentah sama sekali tidak terputus..!!.

Berbuatlah baik kepada tamu, hormatilah tamumu, ini adalah dhawuh.

Bangunlah kebersamaan kekeluargaan, hal ini juga adalah dhawuh.

Jangan berbuat dan berperilaku berpecah-belah, ini adalah dhawuh.

Jangan membedakan strata kasta kelompok dan golongan ini adalah dhawuh.

Miliki perbuatan yang membangun, mengembangkan, meningkatkan kehidupan bersosial dan bermasyarakat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ini adalah juga menjadi bagian dalam tatanan syareat di samping yang syareat wajib, sehingga juga merupakan ibadah, ini adalah juga dhawuh Guru.

Sedang perihal “iman” dalam wujud persaksian atas mengadaNya Al-HaqNya MengadaNya Diri Dzatullah yang Al-Ghayb yang berada di dalam rasa hati nurani adalah masing-masing dari setiap diri. Sehingga di dalam persaksian senyatanya. Ini adalah hak masing-masing diri. Tidak bisa di pamer-pamerkan digembar-gemborkan, walau memang bisa diberitakan..!!!.

Sehingga syareat yang dilakukan dalam kesempurnaannya. Namun itu adalah hak dari masing-masing dari setiap diri. Hidup adalah pilihan. Selamat adalah pilihan.

Namun berbuat kebaikan, kemaslahatan, kesatuan dan persatuan, saling menghormati, saling menghargai adalah hal yang seharusnya sebagai perilaku islam.

Namun saat ada yang memelintir dan mempolitisir “sesuatu” yang menjadikan sepertinya sarat dengan politik maka sepertinya menjadikan kita terjebak di dalamnya. Terjebak kedalam sistem politik. Terprasangkai terjun dalam ranah kelompok dan golongan yang bersifat parsialitas, berbangga-bangga dengan kelompok dan golongan serta partainya.

Tampaknya penilaian dari hasil prasangka kecurigaan tidak bisa dihindari, karena memang kehidupan saat ini memang demikian. Sehingga watak dan sifat serta perilaku selalu diasumsikan dalam analogi yang disamakan terhadap penilaian yang selama ini ada yang beredar.

Padahal sungguh kami mendukung siapapun kelompok atau golongan serta partainya asal dalam gerakan NKRI Indonesia yang berintegritas dalam kedaulatan berbangsa dan bernegara. Kami terbuka.

Karena kami berpikir positif saja, bahwa saat seseorang akan melakukan perbuatan kebaikan untuk kemaslahatan, dan semuanya mengatakan untuk membangun kebaikan untuk NKRI, maka dari ucapan ini kami percaya.
Selanjutnya, “wallahu a’lam”, hanya Allah SWT yang mengetahui.

Saat si A datang mengatakan demikian, maka kami mendukung wujud keinginannya dan program baiknya. Demikian si B juga mengatakan hal senada, walau dalam kemasan dan racikan yang berbeda. Demikian pula Si C, si D, si F. Tidak menghalangi interaksi komunikasi yang penuh dengan kekeluargaan, bahkan mungkin sampai dalam bentuk diprasangkai subyektifitas.

Sungguh kami tidak membedakan dalam interaksi komunikasi, hal ini adalah tatanan lahiriyah berdimensi syareat, yang bernilai ibadah.

Walau sering tertafsiri berbeda, sehingga disalahpahami mendukung kelompok atau golongan tertentu, kami memang mengatakan “baik” pada wujud aktivasi programnya. Sedang perihal subyektifitasnya kami tidak berani berprasangka, kami serahkan semuanya kepada Allah Swt.

SUNGGUH..!!, YANG KAMI TAKUTKAN BUKAN BESARNYA TANTANGAN NAMUN YANG DITAKUTKAN ADALAH JIKA TIDAK DALAM RIDHA, FADHAL DAN RAHMAT SERTA MAGHFIRAHNYA.

Semoga bangsa ini segera keluar dari jerat-jerat kelompok dan golongan serta kepartaian. Semoga Allah segera mewujudkan negara yang harmonis, yang damai, yang pandai mengadili diri sendiri. Sehingga yang memimpin dan yang dipimpin pandai mengadili dirinya sendiri. Sebab inilah syarat terwujudnya baldatun toyyibatun warrobun ghafur.

Kyai Tanjung

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here