MANUSIA YANG MEMILIKI KEBUTUHAN KUAT UNTUK SELAMAT DAN TERSELAMATKAN!!!

0
438
views

Manusia dalam kesadaran alfaqir. Kesadaran hamba yang memiliki kebutuhan kuat untuk selamat dan terselamatkan. (QS. 35. Fathir – 15).

۞يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ أَنتُمُ ٱلۡفُقَرَآءُ إِلَى ٱللَّهِۖ وَٱللَّهُ هُوَ ٱلۡغَنِيُّ ٱلۡحَمِيدُ ١٥

Yang bisa diberi pengertian dan pemahaman hanya yang sadar dalam penghambaan yang sadar bahwa yang butuh selamat dan terselamatkan. 35. Fathiir 18

وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٞ وِزۡرَ أُخۡرَىٰۚ وَإِن تَدۡعُ مُثۡقَلَةٌ إِلَىٰ حِمۡلِهَا لَا يُحۡمَلۡ مِنۡهُ شَيۡءٞ وَلَوۡ كَانَ ذَا قُرۡبَىٰٓۗ إِنَّمَا تُنذِرُ ٱلَّذِينَ يَخۡشَوۡنَ رَبَّهُم بِٱلۡغَيۡبِ وَأَقَامُواْ ٱلصَّلَوٰةَۚ وَمَن تَزَكَّىٰ فَإِنَّمَا يَتَزَكَّىٰ لِنَفۡسِهِۦۚ وَإِلَى ٱللَّهِ ٱلۡمَصِيرُ ١٨

18. Dan orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Dan jika seseorang yang berat dosanya memanggil (orang lain) untuk memikul dosanya itu tiadalah akan dipikulkan untuknya sedikitpun meskipun (yang dipanggilnya itu) kaum kerabatnya. (selamat itu sendiri-sendiri, bukan karena bapak-ibu atau kerabat dekatnya, pilihan kita sendiri).
Sesungguhnya yang dapat kamu beri peringatan hanya orang-orang yang takut kepada azab Tuhannya (jika sewaktu-waktu masa pakai jasad habis di dunia) dan yang dalam kesadaran bersama dengan Keberadaan Al-Ghayb-Nya (Yang Wajib WujudNya yang Allah AsmaNya) dan mereka menegakkan Sholat. Dan barangsiapa yang mensucikan dirinya, sesungguhnya ia mensucikan diri untuk kebaikan dirinya sendiri. Dan kepada Allahlah kembali (mu).

Pada dasarnya kehidupan adalah milik masing-masing dari setiap diri, akan menjadi bahagia atau sebaliknya adalah hak masing-masing diri. Demikian pula pengambilan keputusan guna mengambil jalan kebenaran pun adalah hak masing-masing diri.

Karena kebenaran memang bisa menurut pemikiran dan keyakinan diri sendiri; kebenaran menurut orang banyak; kebenaran menurut kelompok dan golongannya; kebenaran menurut penguasa; dan Kebenaran Al-Haq min Robbika, kebenaran menurut Tuhan.

Hanya saja kebenaran menurut Tuhan pun masih terpecah-pecah, menurut keyakinan atau agamanya masing-masing yang dibumbui menurut pendapat para ahli atau sesuai dengan selera keyakinan yang diracik oleh pemikiran dan bacaan dari masing-masing. Tuhan yang diperspektifkan oleh pengalaman masing-masing diri. Sehingga yang benar adalah masih tetap merupakan kebenaran menurut pemikiran dan keyakinan masing-masing diri.

Logikanya Si Bolang tidak akan berani mengatakan kebenaran Si Fulan jika Si Bolang tidak benar-benar kenal kepada Si Fulan, dan apalagi Si Fulan memang tidak mengatakan apa-apa perihal “sesuatu” juga tidak memerintahkan kepada Si Bolang “sesuatu” itu.

Hanya karena Si Fulan telah sebegitu “VIRAL”nya, sebegitu terkenalnya, maka ungkapan kata dan kalimat yang telah berkembang di tengah-tengah masyarakat, media sosial, apapun yang dibumbui atas dasar Si Fulan, tidak lagi dapat dicegah terbentuk, terbangun, tercetak menjadi kebenaran Si Fulan.
Padahal Si Fulan sama sekali tidak memerintahkan kepada Si Bolang apapun. Tapi itulah namanya keyakinan dan kepercayaan.

Hal ini memerlukan kejernihan, pemurnian, kontemplasi yang menyeluruh bagi seseorang. Memetakan elemen dan unsur-unsur pembentuk faktor-faktor yang mempengaruhi definisi dan deskripsi sesuatu kalimat atau kata yang berpengaruh terhadap kondisi dan situasi. Aapalagi perihal keyakinan, kepercayaan, keberagamaan, serta berpengaruh terhadap “hasil” masa depan bagi keselamatan dari setiap masing-masing individu.

Padahal Si Fulan sama sekali tidak memerintahkan kepada Si Bolang apapun. Tapi itulah namanya keyakinan dan kepercayaan.

Sedang kalimat nabwah-annabi adalah menerima perintah langsung dari sumber langsung dari-Nya, sedang khalifah adalah berkaitan dengan wakil-muwakkal. Sedang Rasul adalah utusan untuk menjadi khalifah dari Sang Muwakkal, sehingga menjadi wakil dari sang Muwakkal. Sedang jika tidak berasal dari-Nya, yakni dari Sang Muwakkal bisa berkategori palsu, sehingga muncul istilah nabi palsu. Mengatakan menyampaikan kebenaran dari-Nya namun sesungguhnya hasil bacaan dan pemikiran semata-mata.

SADAR ATAUPUN TIDAK DALAM KESADARAN INILAH FAKTA KEHIDUPAN..!!!

KEHIDUPAN dalam keselamatan seharusnya terbangun, terwujudnya “persaksian” dalam pengertian yang sebenarnya dan yang sesungguhnya dalam persaksian. Persaksian nyata. Inilah BER-ADDIIN.

Kyai Tanjung

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here