Tanggapan atas tulisan “JAGAT KYAI TANJUNG”

0
211
views

“Menggali karsa atas Karsa Kyai Tanjung”
Oleh (salah satu putra dari sekian anak-anakku) ARIF ASSATAR.

Saat membaca buku ini, des..!!, buku yang ditulis oleh salah satu dari anak saya dari sekian putra-putra saya. Saya merinding, takut. Hal yang paling saya khawatirkan adalah terhadap diri saya sendiri, yang tampak absurd.

Hubungan antara anak dan bapak, dalam pengertian ikatan “emosi” ke-ilmuan, bukan karena hubungan darah daging kulit, bapak dalam pengertian “asuhan” atas arah hidup dan kehidupan, bukan dalam makna bapak kekuasaan atau kekuatan terhadap anak-anaknya.

“Bapak” yang sekedar menginformasikan “jalan seharusnya” dalam perspektif Al-Haq min RobbiKa, yang pada akhirnya si anak yang memilih jalan tersebut – akan ditempuh sebagai jalan hidup ataukah diabaikan!! Hidayah adalah milik Allah Swt..

Sehingga dalam hal inipun “saya” sebagai hamba juga sesungguhnya adalah juga anak, yang dalam pengawasan Sang Bapak. Sebab bapak saya adalah dekat tanpa tersentuh, dan jauh tanpa jarak. Inilah sesungguhnya ikatan kesadaran yang disampaikan oleh Sang Isa (dalam pengertian Sang Tauhid).
Sebab saat bapak dalam pengertian orang tua adalah absurd dalam memutlakkan kebenaran dan keadilan kepada anaknya.

Selanjutnya,….

Saat membaca buku “JAGAT KYAI TANJUNG” “menggali karsa atas Karsa Kyai Tanjung”, saat sampai pada halaman 29, BAB 1: “KLISE KIAI TANJUNG” serasa nafas berhenti, jantung berdetak kencang, katakutan dan kekahwatiran dan was-was melimputi. Ku tutup buku tersebut tidak berani melanjutkan membaca.

Bukan khawatir dan takut atas prasangka-prasangka yang timbul (sebab saya yakin pembaca buku ini akan dewasa menyikapi segala sesuatunya) namun, pertama, khawatir atas diri saya sendiri, sebab “absurdinitas” atas kecerdasa yang terungkap di halaman 29 oleh komentar bapak Widyanarko dan bapak Dudi krisnadi, kelorina Indonesia, dan pendapat-pendapat dari yang lainnya. Hal ini adalah keberbalikan atas apa yang sebenarnya ada dalam kenyataan dalam diri saya sendiri.

Secara fakta kasunyatan, sungguh kenyataannya adalah sayalah orang yang di semua bidang salah tempat, nabi Muhammad dalam hadisnya ngendikan, “manusia adalah tempatnya salah dan dosa, lemah tidak bisa apa-apa” , apalagi saya tanjung, dilihat dari sisi manapun, dilihat dari latar belakang apapun, dilihat dari strata sosial dimanapun: pendidikan, sosial, politik, pengalaman, pemerintahan, semuanya absurd alias tidak mungkin!!.

Demi Sang Empu Nama Allah, semua yang saya kerjakan, semua yang saya lakukan “murni” sak dermo DHAWUH dari Guru saya, tidak lebih dari itu, saya hanya mejalankan dan nuhoni dhawuh-nya yang saya yakini sebagai garis wakil-muwakkal dalam silsilah rantai sambung gulowentah tidak terputus sama sekali hingga Nabi Muhammad SAW, mengajarkan perihal ber-Tauhid, guna menyatakan laku keselamatan, dan supaya kehidupan yang dijalani, kehidupan yang dikerjakan dalam ampunan Allah, dan dalam ridha-Nya.

Dan adalah hal yang wajar dan normal sekali (tidak ada yang aneh dan ajaib), sekali lagi adalah sudah seharusnya sehingga sangat wajar dan normal sekali jika saya harus berdunia, bersyareat, menjalani kehidupan berdunia dengan berperilaku beradab, berakhlak, bekerja, berkarya, membangun kebersamaan, kekeluargaan, dan kesatuan persatuan, karena ini adalah syareat sesuai dengan petunjuk dari Guru saya semasa beliau masih Sugeng (almaghfurllah Mbah Kyai Haji Muhammad Munawwar abdullah Afandi), tidak ada yang aneh sama sekali, wong semuanya telah di dalam petunjuk beliau.

Hal aneh bagi saya yang telah di ancek-anceki, diwanti-wanti untuk melakukan kebaikan dan kemaslahatan sebagai elemen yang lahiriyah dan sebagai unsur lakon atas tatanan syareat jika kehidupan berdunia yang saya dilakukan sebagai ladang akherat demi keselamatan kemudian saya tidak merespon dhawuh Guru saya, yang saya yakini sebagai ILAIHI “al-wasilata” bagi saya, sehingga sama saja saya tidak menjalankan perintah Allah, betapa naif dan absurdnya jika saya abai dengan perintah Allah untuk dengan membuat aktifitas dan gerakan dan program yang tidak berorientasi dan tidak memunjer pada petunjuk Guru saya.

Akan sangat aneh, ajaib, dan tidak masuk akal jika saya melakukan “sesuatu” yang tidak di dalam petunjuk apalagi saat dilarang, seperti, menyindir, menglok, bekerja berkarya untuk kepentingan nafsu dan untuk ego, betapa bodoh dan gobloknya saya jika saya hidup di dunia berada di dunia melakukan ini semua hanya untuk materi duniawi. Dunia untuk dunia. Sekali lagi ini semua adalah lumrah dan normal serta sangat-sangat wajar, bukan karena cerdas dan pandainya saya.

Sebab secara fakta jika standar ukurnya adalah kecerdasan dan kepandaian yang di dalam benak dan pikiran pada umumnya maka akan menjadi salah besar, maka akan menemui kekecewaan-kekecewaan. Ternyata tanjung bodoh tidak ada pandainya sama sekali !!.

Yang kedua saya tidak menyalahkan yang menulis ataupun yang berpendapat “multidemensional” itu adalah pendapat, asal tidak kecewa jika ternyata faktanya tidak demikian, dan semoga bukan sebagai refleksi kekultusan pada sosok fisik. Dalam sebuah hadist tersebutkan, “taat dan patuhlah kamu kepada wakilku yang telah saya tunjuk yang memerintah di antara kamu sendiri walau ianya itu adalah seorang budak habsyi” .

Dan kepada pembaca, semoga tidak menyalahpahami dan tidak berprasangka justru semoga menjadi tali ikatan kekeluargaan dalam ikatan kebersamaan dan kekeluargaan dengan perilaku memaklumi, menghargai, saling mensupport. Dan dapat menerima keberagaman bahkan dapat menerima perbedaan, dan perbedaan bukan berarti permusuhan dan pertikaian, justru adalah kekayaan.

Semoga harapan dari penulis dan dari yang telah mensupport dan yang terlibat langsung ataupun yang tidak terlibat langsung menjadi amal sholehnya, dan harapannya dalam ridha dan maghfirahNya…

Dan kepada pembaca “JAGAT KYAI TANJUNG” “menggali karsa atas Karsa Kyai Tanjung, semoga memperoleh hikmah dan kemanfaatan dan selanjutnya dapat saling berbagi.

Ya… Allah ampuni saya, ampuni kehidupan saya, jaga diri saya.

Untuk itu perkenankan kami memohon belas kasih dengan memunajtkan do’a:
Ya…. Allah, ya Tuhan kami, dengan Al-GhaybMu, kami, telah bersaksi atas MengadaMU, dan kami bersaksi atas MengadaNya UtusanMU, kami bersaksi atas MengadaNya Cahaya TerpujiMU,

Ya Allah dengan rahmatMU Yang memenuhi segala sesuatu, dengan KekuasaanMu Engkau taklukan segala sesuatu, dan karenanya tunduk segala sesuatu dan merendahlah segala sesuatu, dengan kemulianMu Yang mengalahkan segala sesuatu, dengan kebesaranMu yang memenuhi segala sesuatu, dengan KekuasaanMu Yang mengatasi segala sesuatu, dengan ilmuMU Yang mencakup segala sesuatu, dengan Cahaya WajahMu Yang menyinari segala sesuatu dan dengan AsmaMU dan dengan AlGhaybMu yang memenuhi tonggak segala sesuatu.

Ya Allah, ya rabbii…ampunilah segala dosa kami yang meruntuhkan penjagaan, ampunilah dosa kami yang mendatangkan bencana dan yang mendatangkan bala’, ampunilah dosa kami yang merusak karunia, ampunilah dosa kami yang pernah kami lakukan, yang sedang kami lakukan dan yang akan kami lakukan dan segala kesalahan yang kami perbuat dan ampunilah dosa kami yang menahan do’a. Dengan kebesaranMU, dengan Ar-Rahman dan Ar-Rahim-Mu, kami memohon pertolongan dan belas KasihMu… bimbinglah diri kami untuk selalu dapat menjalankan ajaran Al-HaqMu, bimbinglah diri kami untuk selalu mengingati-MU dalam semua tempat, dalam semua keadaan, dalam semua situasi dan kondisi….. ampuni kami….. amiina.

Kyai Tanjung

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here