Kunci Iman dalam Kehidupan

0
477
views
.Hanya dengan Dzikrullah di dalam rasa hati maka hati menjadi tentram. Betapa sedikitnya pengikut “pemegang amanah” risalah Tauhid dari zaman kezaman.

Sesungguhnya tidak mengurangi sebagai siapapun dan sebagai apapun, namun karena ditampatkan sebagai sesuatu yang dianggap “asing” dan “aneh” tidak seperti pada umumnya, maka menjadi tidak laku.

Yang lain berbicara politik, pertentangan-pertentangan, kepentingan-kepentingan, berbicara perihal keindahan dan ke-elokan serta keberduniaan yang dianggapnya kekal – bukti nyatanya bahwa karir dan jabatan serta materialnya dengan mati-matian diusahakan dengan segala cara, tanpa memperhatikan dan memperhitungkan kehidupan setelah masa pakai jasad habis. Ilmu dan wawasan mengenai duniawi dikejar habis-habisan – dengan berbagai pola dan sistem yang dibangun.

Sedang dalam ilmu Nubuwah (Annubuwah), berjuang dengan sungguh-sungguh menanggalkan ke-egoan, nafsu keakuan, membuang watak, sifat, perilaku kepentingan, membangun kepedulian kebersamaan, kekeluargaan, bahkan keluarga dalam kekeluargaan, yang diwujudkan dalam semua aktifitas keberdununiaannya. Berikhtiyar, berusaha dan memberdayakan diri dan lingkungannya sebagai perilaku “subhanaka”, perilaku me-Maha Sucikan keberadaan Dia, Dzat yang Wajib WujudNya, Mutlak keberadaan-Nya.

Usaha dalam keterjagaan kesadaran “fitrah” di semua aktifitas hidup dan kehidupannya, usaha ikhtiyar yang dilakukan adalah aktifitas kegiatan lahiriyah yang memang merupakan keniscayaan kemestian yang harus dilakukan, namun orientasi tujuan maqom posisi batiniyah tidak ditempatkan pada materialnya dengan segala “tetak-bengek”nya. NAMUN DALAM PANDANGAN ORANG KEBANYAKAN sama sekali secara aktifitas lahiriyah berdunia tidak tampak perbedaannya. Sebab orientasi tujuan yang diletakkan di dalam hati adalah Keberadaan Dia.

MAKA AWAL MULANYA ADALAH “KATA”, MAKA AWAL MULA IMAN ADALAH MAKRIFAT. Maka sudah kepastian adanya ” ‘Alimul-Ghaibi Wasy-Syahadati ” ilmu yang menunjukkan keberadaan Dia dan ilmu yang menjadikan dalam persyaksian. Ilmu yang menunjukkan pintu pulang jika sewaktu-waktu masa pakai jasad habis masa pakai di dunia.

Namun sungguh sebagian besar manusia tidak mengetahui hal ini. “aktsaran-nas -laa ya’lamuuna”, kebanyakan manusia tidak mengetahui perihal adanya ilmu yang menunjukkan pintu pulang. “Biliqo-i robbihim lakaafiruuna”, dan dengan pertemuan kembali kepada Tuhan mereka sungguh mengingkari. Dan merasa cukup dengan wawasan yang ada di dalam diri mereka.
Inilah fakta-fakta ajaran AnNubuwah selama ini, semenjak ilmu nubuwah digelar di permukaan bumi Allah sejak Nabi Adam, selalu disalahpahami, diperolok-olok, disingkirkan, difitnah bahkan pembawa risalahnya selalu dikejar-kejar dan dibunuh, akibat kepentingan nafsu ego keakuan, akibat kebahagiaan dan ketentraman diprasangkai bisa dicapai dan disentuh dengan berduniawi, dengan segala atribut-atributnya.

Sungguh, dengan sebenar-benarnya, kehidupan tatanan lahiriyah dengan segala aktifitas berdunia dan usaha serta ikhtiyar yang dilakukan adalah “ambah-ambahan” semata artinya adalah ditempatkan sebagai alat media saja, tidak menjadi tujuan, namun musti dilakukan dengan sungguh-sungguh karena ini adalah perjalanan tatanan lahiriyah syareat. Sedang dalam rasa hati nurani yang ditetapkan dan yang diingat-ingat adalah Keberadaan Dia.
Sehingga perihal keyakinan jelas dan kongret dalam keimanan yang terikat dalam persaksian-kesaksian dalam dzikrullah. Sebab menjadi tertata dan hanya dengan hati dzikrullah (mengenali KeberadaanNya) maka menjadi tentram.

Dan tidak mengurangi bersinggungan, bersinergi, berinterkasi kepada siapapun, apapun keyakinan dan kepercayaannya, yang secara posisi lahir membuat kebaikan, kebersamaan dan kekeluargaan adalah keniscayaan.
Ilmu Nubuwah (AnNubuwah), ini adalah ajaran yang tidak terpisahkan menjadi bagian dari kehidupan beragama dalam makan ADDIIN, bahkan “inti”ajaran Al-HaqNya. Aktifitas keberduniaan apapun itu diposisikan sebagai alat atau media orientasi keselamatan dan sangat memperhatikan batin.

Secara tatanan lahiriyah bahwa fundamen yang mendasar dari manajemen sumber daya manusia adalah : manajemen perbedaan yang mencakup dua hal mendasar : menerima perbedaan dan mentransformasikan perbedaan sebagai kekayaan.

INI TETAP merupakan tatanan lahriyah yang dijalankan.
 
Bapak Kyai Tanjung
 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here