Beragama Itu Seharusnya Berjiwa “Intrepreneur”

1
230
views
Hampir di semua level WA, FB, sms, internetan semuanya berbicara agama. Puisi, kisah sejarah, hikmah, legenda, nasehat, kata2 mutiara. Ada yang semakin nyokot namun tidak sedikit yang mulai tampak jenuh. Agama disalahkan!!!. Alergi dengan agama. Sebenarnya yang kita koreksi agamanya atau ada kemungkinan cara pelaku agamanya dalam memahami dan menerapkannya.
Saya dapat dhawuh dari Alm. Bapak saya yang sekaligus sebagai Guru kami perihal terapan dalam menjalankan (mohon maaf dan mohon ampun jika salah) hanya share atas wasiat dari Guru kami.
Kalau dari Guru kami, beragama itu seharusnya berjiwa “intrepreneur”. “Sak gelem ukril ya gempil”.
Perihal ketidaktepatan pemaknaan agama selama ini, ini adalah hal lain, dan hak pribadi masing-masing. Namun akibatnya satu sisi sangat agamis ritualistik dan di sisi lain sekuleristik agamis, pemisahan antara kehidupan keberduniaan dengan ritual.
Sehingga bagi sebagian dari kita jenuh dengan pembicaraan agama atau mempermasalahkan hal-hal yang berbau agama. Sebab identik hanya dengan pembicaraan doang dan hanya berisi nasehat-nasehat semata dan berbicara pahala dan dosa semata, sepertinya agama hanya terbatas pada politisasi akherat, pembicaraan dan aktifitas dan keilmuan yang hanya jika bersentuhan dengan surga, neraka, pahala, ganjaran, sepertinya tidak bersentuhan dengan permasalahan kontekstual kehidupan nyata.
Aktifitas lahiriyah dengan tatanan syareat adalah wadah. Termasuk saling menghormati, saling menghargai, saling bantu, dst. Sedang isinya adalah perihal “butiran” iman.
Guru kami menekankan kepada kami bahwa, semua keilmuan dan praktek berdunia serta pengetahuan dan teknologi adalah ilmu Allah jadi semua adalah ilmu agama dalam pengertian AdDiin. Diinullah, asal diniatkan untuk ibadah untuk SUBHANAKA PANCATAN YANG KOKOH UNTUK PULANG KEMBALI KEPADANYA hingga dapatnya menyatakan selamat.
Secara fakta sebenarnya semua sepakat bahwa “bacaan” “AlQur’an, ada ayat qauniyah dan ayat qauliyah. Maka seharusnya membaca dengan tartil tidak hanya yang tertulis semata, namun juga seharusnya hal-hal yang bersentuhan dengan keberduniaan. Berarti seharusnya Ngaji tidak hanya AlQuran. Namun ngaji polibek, ngaji hortikultura, ngaji kelautan, ngaji market, ngaji dagang, ngaji tanah, ngaji padi, membangun kesatuan dan persatuan NUSANTARA RAYA, NuR” dan seterusnya, ini juga berpahala. Malah nyata. Dalilnya adalah qauliyah juga fakta kehidupan sebagai ayat-ayat kasunyatan.

Tidakkah di dalam ayat tersebutkan, INNA FII DZALIKA LAA AYAT LIQAUM YATAFAKKARUUNA” itulah ayat-ayat/tanda-tanda (segala keberduniaan, bergantinya malam dan siang, penciptaan langit dan bumi, tanaman-tanaman dll) bagi mereka yang berpikir mendalam perihal makna dan nilai kehidupan (tafakkur).
Sisi lahiriyah dengan berdunia, interaksi komunikatif, bersosial bermasyarakat, bekerja, berkarya adalah kemestian sebagai laku bersyareat tanpa melihat perbedaan keyakinan. Hal ini tetap nilai ibadah. Sedang yang batiniyah adalah hak masing-masing personal, individu masing-masing.
Kafir, musrik, munafik, fasik PADA DASARNYA tidak di bangunan-bangunan, di jalan-jalan, di gang-gang, di prapatan-prapatan, namun di dalam hati dan di dalam pikiran. Walaupun bukan bermaksud solat di gereja atau misa di masjid.
Dalam pelaksanaan syareat ada batas masing-masing. Artinya tidak lebih 5% hal yg bersifat mahdhoh ritualistik. Selebihnya banyak persamaannya. Indahnya islam jika dimaknai demikian. Guyub, rukun, sentosa, kesatuan NKRI tidak sekedar terjaga namun meningkat dan berkembang.
Islam selama ini termaknai sebagai makna ism/simbol majaz, padahal islam adalah mausuf yang berkaitan dengan mansuf, sehingga maknanya adalah kata sifat yang menyertai kata kerja sehingga maknanya adalah “keselamatan”; “kemaslahatan”; “kebaikan”; “kebenaran”; “kedamaian” jadi islam itu bernuansa KEMAJUAN. Islam adalah laku karakter selamat. Berbicara yang selamat untuk kemajuan, bertingkah laku selamat untuk kemajuan, menjadi pendengar yang baik, pengamat yang baik, pelihat yang baik, komunikasi yang baik, berbicara yang baik, semua bernuansa kemaslahatan dan kesalehan untuk kemajuan. Jadi wawasan biologi, wawasan matematika, ilmu pengetahuan dan teknolgi semua adalah perilaku islam jika untuk kemaslahatan dan kebaikan dalam kesalehan. PERTANIAN DAN KELAUTAN adalah sangat islami jika untuk perilaku kesalehan. Bukankah ayat-ayat dalam alkitab juga tersebutkan “suburkan” tanah, iman bagai tanah yang baik yang menumbuhkan benih-benih yang menghasilkan buah dengan baiknya. Bukankah langit bumi, tanah dan laut dan semuanya adalah ayat-ayat yang mesti dibaca dengan tartil dengan tertib, itulah “bacaan” yang mulia…dst…dst. Bekerjanya, berkreatifitasnya, berinovasinya, akhlaknya, perilakunya, budi pekertinya ini yang menentukan islam atau tidak. 

Kami juga diwasiati, membaca alqur’an, hafal alquran namun hanya untuk berbangga-bangga, untuk pameran, untuk simbol-simbol, atribut-atribut, plakat-plakat, jargon-jargon, untuk mengolok-ngolok untuk menunjukkan ke-egoan maka menjadi tidak islami, tidak agamis.
Wasiat itu masih dilanjutkan bahwa belajar pertanian, perkebunan, bekerja berkreatifitas, berinovasi yang diniatkan untuk kebaikan kemaslahatan maka ini agamis.
Kemudian Agama adalah bahasa indonesia dari bahasa sensekerta kemudian diserap menjadi bahasa Indonesia. Dalam bahasa Arab (dari wasiat) bahwa diin, sebenarnya tidak sama dengan arti agama. Sebab agama memiliki arti tidak rusak sedang DIIN adalah ketaatan, alkhudu’-almutlak (apapun aktifitasnya supaya dalam nilai ibadah, maka kemutlakan hubungan hamba dan Makbud) mengenali kehambaannya dan mengenali Makbudnya. Simplenya diin adalah orientasi yang dibuat yang ditetapkan yang menjadi tujuan dalam perilaku dan aktifitas. Kemudian di depan ditambahi AL: “Alif” dan “Lam”, sebagai unsur isim makrifat, maknanya isim yang dikenali. Menjadi “al-diin” dibaca addiin. Sehingga addiin adalah orientasi perilaku dan dan aktifitas yang jelas-jelas mengenali mulai dari jenis hal atau barangnya prosesnya dan tujuannya.
Seandainya islam dimaknai pada kemestiannya, dan agama diterapkan pada keharusannya , maka “berkemajuan” dan akan sangat berbeda dalam pola dan sistem keberagamaan kita. Kita terjebak dengan pemahaman dan pengertian bahwa agama selalu identik dengan pahala dan kehidupan akherat. Dan sejarah serta legenda, agama adalah ADDIIN bi makna ageman atau pakaian dan islam adalah keselamatan.
DIINUL ISLAM ORIENTASI PADA LAKU KESELAMATAN…!!!! Bukan partai. Bukan golongan.
 
 
Bpk. Kyai Tanjung

1 KOMENTAR

  1. Mohon dibimbing.. Di ajarin.. Di beri contoh kepada saya.. Selaku alumni yg belum baligh ini.. Bahkan yg belum bangun dari tidur saya.. Supaya mnjadi pribadi yg lebih baik.. Dan dapat menjalankan dawuh secara benar..
    Pangapunten

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here