Makna Lailatul Qadar yang Sebenarnya

0
561
views

Lailatul Qadar adalah batas seseorang di dalam Al-Haq min robbiKa, perihal butiran iman maka tersebut sebagai Sesuatu yang luar biasa, batas seseorang dari sia-sia dan batal supaya di dalam Ridha dan maghfirahNya karena berada di dalam Al-HaqNya.

Hal ini perihal keyakinan-keimanan. Memang bersifat masing-masing individu dari setiap personal yang meyakini atas setiap pelaku keimanan masing-masing. Jadi penjelasan ini hanya diberlakukan bagi yang telah menerima atas ditunjukkan keberadaan “BUTIRAN” iman, guna menambah kokohnya keimanannya yang telah di dalam ilmu kasunyatan dalam persaksian senyatanya Keberadaan Al-Ghaybullah. Dan yang kedua, bagi mereka yang dengan lapang dada menerima penjelasan, yang mau menerima kemurnian-pemurnian, yang menerima dengan hujah tafakkur berpikir rasional masuk akal.

“seperti halnya, batas laki-laki dan perempuan saat belum terikat ikatan pernikahan, maka memegang dan berangkulan adalah perbuatan lalim, mendzolimi diri sendiri. Namun sesaat kemudian sah dalam keterikatan nikah, maka menjadi halal ikatan persaksian nikah dalam syar’i”

Iman yang merupakan perwujudan ikatan persaksian atas mengadanya Diri Dzatullah, hanya jika di dalam idzin Allah (saat di zaman Nabi Muhammad SAW hal yang menunjukkan bahwa keimanan seseorang disaksikan langsung oleh Beliau sebagai fungsi Sang utusan wakil Allah di muka bumi sehingga menjadi yakni iman yang tersaksikan, dan iman yang menyaksikan. Sebab hakekat Nabi Muhammad adalah keberadaan Nur-Muhammad yang tidak pernah “hilang” dari peredaran menerangi dan mencahayai di muka bumi sehingga disimbolkan sebagai Nur Syamsiyah. Cahaya Matahari. Sejak Nabi Adam sampai Kiyamat ditutupnya kehidupan berdunia.

Dan supaya akal pikiran digunakan dalam fungsi tafakkur, mentafakkuri keberadaan hakekat diri. Hakekat hidup, hakekat manusia, hakekat dunia dan hakekat akherat. Mentafakkuri perihal bagaimana seseorang itu tersebut sebagai iman dalam persaksian dan dalam keterikatan iman yang sesungguhnya di dalam persaksian.

Akal pikiran berpikir: seseorang disebut sebagai siswa maka keniscayaan meminta untuk didaftar. Seseorang disebut sebagai warga maka keniscayaan terdaftar dalam KTP. Seseorang disebut sebagai abdi karyawan perusahaan sehingga digaji adalah keniscayaan untuk mendaftar. Kontitusi UUD 45 tidak berjalan sendiri, untuk mengatur dan mengelola negara namun harus tetap ada subyek pelakunya. Aturan KUHP harus ada hakim, tidak mungkin antara yang mendakwa dan yang terdakwa membaca buku tanpa ada ahli yang hak dan sah. Sebab tanpa adanya “subyek” yang hak dan sah pasti akan berbenturan benarnya sendiri-sendiri… begitu seterusnya dan sebagainya. Apalagi perihal iman, perihal yang tidak tersentuh olah pancaindera lahiriyah manusia, perihal keselamatan.

Dan Allah Murka bagi mereka yang tidak mempergunakan akal pikirannya.
QS. Yunus 100.

وَمَا كَانَ لِنَفۡسٍ أَن تُؤۡمِنَ إِلَّا بِإِذۡنِ ٱللَّهِۚ وَيَجۡعَلُ ٱلرِّجۡسَ عَلَى ٱلَّذِينَ لَا يَعۡقِلُونَ ١٠٠

100. Dan tidak ada seorangpun akan beriman kecuali dengan izin Allah; dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya

Penjelasan dari aguru-guru dalam mata rantai silsilah gulowentah tidak terputus sama sekali, bahwa yang “anzalnaHu” yang diturunkan ke dalam dada adalah perihal butiran keimanan, perihal HU. Perihal DIA.

Hu adalah dhomir. Perihal HUWA, DIA. Hu bukan kata benda mati, bukan buku, bukan kayu, bukan barang. Namun Hu adalah dhamir.

Dia adalah makna dhamir, sesuatu yang tersimpan didalam hati perihal DIA. Saat mengetahui DIA yang Sang Empu Nama Allah, Dia Yang Ahad (Wujud Mutlak), maka menjadi tentram, menjadi jelas batas, mana yang hak dan mana yang batal. Sehingga sama sekali tidak di dalam keragu-raguan iman.

Menjadi sama sekali tidak masuk akal (irrasional) saat Hu dimaknai Dzalika itu. Sebab Hu adalah kata ganti sesuatu yang hidup (dalam hal ini adalah Keberadaan Tuhan Piyambak) sedang dzalika adalah benda barang tidak bergerak sekalipun itu adalah kitab, namun tetap sebagai benda.

Maka kenapa di dalam firman bahwa laitul qadar tersebut sebagai “lebih baik dari seribu bulan”, sebab merupakan batas antara di dalam batil menuju di dalam Cahaya-Nya karena memakrifati keberadaan Dia, Keberadaan Hu.
Maka tanyakanlah jika kamu tidak mengetahui bagaimana dzikr itu. (yang saat nabi Muhammad SAW, maka bertanyanya kepada Beliau)

Lengkapnya bisa dibuka dan disimak di channel Jatayu TV:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here