Puasa Mencetak Generasi Tangguh

0
434
views

Pada bulan ramadhan, pada bulan puasa ini, kami mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa. Semoga ibadah puasa kita diterima oleh Allah dan menjadi sesuai dengan apa yang telah diperintahkan oleh Allah.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Kita ini diperintahkan untuk berpuasa supaya menjadi hamba yang bertakwa. Namun kami tegaskan disini bahwa kalimatnya di dalam perintah, di dalam surat Al Baqoroh itu bukan kalimat perintah. Tapi “kutiba” bukan “amaro”. Artinya bahwa kutiba itu kewajiban bagi hamba atas kesadaran dalam penghambaannya memproses kembali kepada Allah untuk menjadi hamba yang bertakwa. Sehingga siang tidak hanya sekedar dalam makna ritual formalitas semata, hanya menahan lapar dan dahaga masalah selesai. Artinya tidak hanya sekedar orang-orang itu kemudian berpuasa, tidak makan dan tidak minum, kemudian langsung menjadi ahli surge. Disini ayat ini menerangkan dengan sangat jelas bahwa untuk menjadi ahli jannah, ahli surga itu diperintahkan supaya menjadi bertakwa. Tidak mungkin bertakwa tanpa dengan puasa. Dan tidak mungkin seseorang itu akan menjadi orang-orang yang bertakwa tanpa menjalankan ibadah puasa. Bukan dalam pengertian ibadah dalam pengertian ritual semata. Sebab semuanya telah sepakat, semuanya telah mengetahui bahwa pada saat orang bisa menahan lapar dan dahaga, akan tetapi manakala tidak bisa mengendalikan diri, kemudian mengumbar hawa nafsunya, mengumbar emosinya, suka mengolok, menjatuhkan, maka ini secara puasa sah. Akan tetapi secara nilai ibadah batal.

Pada saat kita berbicara tentang ini, kenapa Allah memerintah kita-kita untuk berpuasa di bulan Romadhon. Romadhon itu makannya pembakaran. Segala sesuatu untuk menjadi masak. Supaya kita makan, bukan makan beras tapi makan nasi. Harus diproses, harus dilakukan adanya satu proses yang kita lakukan, ngonceki (mengupas) kulit sampai kita menjadi beras kemudian ditanak. Artinya bahwa apa yang kita lakukan ini, romadhon supaya hamba ini menjadi dewasa. Dewasa berfikirnya, dewasa bertindaknya, dewasa perilakunya, dewasa komunikasinya, dewasa apapun dalam pengertian dewasa mandiri dan tanggung jawab dan kemampuan pengendalian diri. Maka di dalam hadits disebutkan bahwa orang tidak dikatakan puasa jika tanpa mengendalikan diri. Dan akan sia-sia pada saat apa yang puasanya tidak makan, tidak minum, tanpa mengendalikan diri atau masih dikungkung oleh emosi dan tidak mengendalikan amarah sehingga pada saat kita ini berpuasa, sesuatu yang menjadi indikator seseorang itu puasanya diterima oleh Allah atau tidak (seperti halnya haji, untuk menjadi mabrur itu juga ada indicator, ada tanda-tandanya), demikian juga puasa ada indikator, ada tanda-tandanya. Pada saat kita berpuasa, sesungguhnya kita lakukan tidak hanya di bulan Romadhon tapi di semua kehidupan yang kita lakukan ini seharusnya adalah semuanya bernilai puasa. Artinya mengendalikan diri. Karena “asshiyaam” itu “junnatun” (puasa itu adalah mengendalikan diri).

Kalau kita berbicara tentang la’allakum tattaquun, untuk menjadi hamba Allah yang bertakwa, ada sebuah tatanan yang Allah kehendaki untuk menjadi hamba yang wadah (berupa jasad) ini adalah untuk mengendalikan hawa nafsu. Karena hakekat nafsu itu adalah wujud jasad ini. Sehingga apapun yang kita lakukan dalam menjalani kehidupan ini supaya tidak dalam kendali keinginan-keinginan dan kebutuhan hawa nafsu. Sebab saat seseorang itu tidak terbiasa mengendalikan, maka tidak akan dapat membedakan antara keinginan dan kebutuhan. Pada saat seseorang itu tidak pernah mengendalikan diri, dia tidak melakukan satu wujud pada saat kita menjalankan perintah Allah dengan mengumbar ego dan keakuannya. Berarti itu adalah hanya menuruti hawa nafsunya dengan perilaku arogan. Inilah puasa supaya kita menjadi lebih bersih dan suci. Tapi bukan sok bersih dan bukan berarti sok suci. Itu adalah mutlak wilayah Allah supaya kita menjadi hamba yang disucikan. Maka di dalam ayat إِنَّا أَخْلَصْنَاهُمْ بِخَالِصَةٍ ذِكْرَى الدَّارِ. Miliki sebuah akhlak yang tersucikan dengan bikholishotin, dengan sucinya perilaku-perilaku batin, yang ditunjukkan dengan perilaku-perilaku lahir.

Puasa itu adalah untuk tazkiyyatun nafs (yang pertama). Supaya bersih keberadaan raga kita, yang dimakan (adalah) makanan halal dan yang diminum (adalah) minuman halal. Kemudian tazkiyyatul qolbi (hatinya bening)-yang kedua. Dengan beningnya hati, maka tidak tercampur dengan kotoran-kotoran nafsu kepentingan ego (merasa darah biru, melecehkan dan menjatuhkan orang lain). Kemudian yang ketiga adalah bersihnya, benarnya perilaku akhlak. Membangun bebarengan, kebersamaan dan kekeluargaan. Ini semuanya adalah puasa. Sebab kita tidak mungkin membangun kebersamaan, kekeluargaan manakala tanpa kemampuan mengendalikan diri. Seperti di dalam ashiyaamu junnatun, shiyaam itu adalah perisai karena mampu mengendalikan diri.

Semoga ibadah puasa kita dalam ridho Allah, semoga benar-benar menjadi hamba-Nya yang bertakwa dengan perilaku yang lapang dada, pikiran jernih, pikiran rasional. Menjadi hamba yang didekatkan dengan perilaku-perilaku yang memang menunjukkan mendekat kepada-Nya. Dengan kearifan-kearifan berbicara, kearifan perilaku, kearifan komunikasi, kearifan kita bersosial dan berhubungan dengan yang lain. Semoga Allah meridhoi kita.

KYAI TANJUNG

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here