HANYA KARENA DHAWUH MAKA ANNUBUWAH KAMI SAMPAIKAN

0
665
views

HANYA KARENA “DHAWUH”, PERINTAH, WASIAT KENAPA SAYA MENYAMPAIKAN AN-NUBUWAH, PERIHAL KEBERADAAN ILMU TAUHID, ILMU NUBUWAH.

Keberadaan kami dengan Ilmu Tauhid An-Nubuwah, memang tidak pernah diwedar, dibuka secara terang-terangan, dalam forum-forum terbuka.

Saat ini kami (secara fisik lahiriyah jw. dalem, kulo, saya), hanya sak dermo menyampaikan. Kenapa kami ada keberanian (jw. kumawani) menyampaikan hal ini semua. Hal ini tidak terlepas dari wasiat yang telah disampaikan kepada saya, di mulai tahun 2009 sampai 20012. Beberapa hal yang beliau (yakni Alm. Mbah KH. Moh. Munawwar Afandi Abdullah) sampaikan. Sehingga kami menyampaikan sama sekali bukan karena kepandaian saya, bukan karena kepintaran saya, bukan karena pengetahuan saya, sama sekali bukan didasarkan karena ini semua. Kami menyampaikan tidak lebih hanya karena dhawuh Guru, dan Guru kami dari Gurunya, Gurunya dari Gurunya pula, terus demikian dalam mata rantai silsilah Gulowenteh tidak terputus sama sekali. Gulowentah maknanya tidak muncul tiba-tiba, juga tidak sekedar muncul sambung nempel, namun sambung kait mengikat maksudnya jauh sebelum Guru Wasithah akan menunjuk kepenerusan pelanjutnya, pasti, tidak bisa tidak, telah ada “proses” gulowentah dengan didhawuhi oleh Gurunya untuk mewakili tugas dan fungsi keWasithahan, sebagai al-Wasilata (inilah keyakinan kami).

Saya sadar perihal adanya kewenangan sang penyampai Al-Haq min Rabbika dalam kewenangan yang ber-hak dan sah menunjukkan, 10. Yunus: 35.

Siapa yang lebih berhak menyampaikan.

قُلۡ هَلۡ مِن شُرَكَآئِكُم مَّن يَهۡدِيٓ إِلَى ٱلۡحَقِّۚ قُلِ ٱللَّهُ يَهۡدِي لِلۡحَقِّۗ أَفَمَن يَهۡدِيٓ إِلَى ٱلۡحَقِّ أَحَقُّ أَن يُتَّبَعَ أَمَّن لَّا يَهِدِّيٓ إِلَّآ أَن يُهۡدَىٰۖ فَمَا لَكُمۡ كَيۡفَ تَحۡكُمُونَ ٣٥

35. Katakanlah: “Apakah di antara sekutu-sekuturmu memang berada di dalam hidayah dari yang Haq menunjukkan sehingga dalam terang, apa ada yang menunjuki kepada kebenaran?” Katakanlah “Allah-lah yang menunjuki kepada kebenaran”. Al-Huda, Bukan makna petunjuk arah, tapi sudah di dalam Terang Cahaya.

(dunia adalah pilihan, menjadi taqwa atau sebaliknya. Pilih perilaku keselamatan atau sebaliknya. Pilihan di dalam hidayah karena berada di dalam Al-Haq-Nya atas petunjuk yang berhak menunjukkan atas Al-Haq min robbika (membukakan hakekat hidup, hakekat fitrah manusia dari Fitrah Allah Sendiri). Maka apakah seseorang yang berada di dalam Al-Haq yang berhak menunjukkan untuk Al-Haq (min Rabbika), atau seseorang yang tidak berada di dalam Al-Haq kecuali jika diberi petunjuk (Al-Huda adalah petunjuk dalam pengertian terang cahaya, yang menjadikan tidak di dalam keraguan dalam Cahaya Nur-Muhammad). Mengapa kamu berbuat demikan, bagaimana kamu membuat keputusan (gunakan rasionalitas yang sehat dalam mengambil jalan kebenaran, sebab fatal akibatnya)

Sebab kebanyakan dari manusia tidak mengikuti kecuali hanya dalam prasangka (maka, mutlak adanya seseorang yang ditugasi bi-idzni rabbika, dengan izin Tuhan-Nya, maka carilah ia yang menunjukkan itu supaya Cahaya itu jelas di dalam terang, Keberadaan Diri Tuhan yang Al-Ghayb dikenali di dalam rasa hati). Sesungguhnya prasangka tidak sedikitpun menyentuh Al-Haq sedikitpun.

Maka apakah orang-orang yang menunjuki kepada kebenaran itu lebih berhak diikuti ataukah orang yang tidak dapat memberi petunjuk kecuali (bila) diberi petunjuk? Mengapa kamu (berbuat demikian)? Bagaimanakah kamu mengambil keputusan.

وَمَا يَتَّبِعُ أَكۡثَرُهُمۡ إِلَّا ظَنًّاۚ إِنَّ ٱلظَّنَّ لَا يُغۡنِي مِنَ ٱلۡحَقِّ شَيۡ‍ًٔاۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمُۢ بِمَا يَفۡعَلُونَ ٣٦

36. Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.

Sekali lagi kami sadar akan hal ini semua, untuk itu kami hanya sekedar nuhoni dhawuh dari Guru kami (Alm. Mbah KH. Muh. Munawwar Afandi Abdullah).

Sebab faktanya, saya tidak mengetahui apa-apa, bodho, tidak bisa apa-apa dan tidak ada apa-apanya, bisanya hanya membuat salah dan dosa. Jika tidak ada dhawuh perintah melalui wasiat sungguh demi Allah, demi yang embun-mbunan kepala saya dalam genggaman-Nya, maka sama sekali kami (saya Tanjung) tidak ada keberanian menyampaikan hal ini semua, kami sadar sesadar-sadarnya, tidak sekedar tidak pantas dan tidak layak, jika tidak dalam dhawuh dari yang berhak dan sah, maka azab dalam jahanam. Sebab jika demikian apa yang saya lakukan adalah mengaku-ngaku atau karena di dalam ke-egoan nafsu keakuan, yang mengakibatkan kesesatan dan berada di alam gelap dan menggelapkan.

Kemudian dilihat dari pengalaman dan latar belakang, kami (saya Tanjung) adalah awam, sama sekali tidak berpengalaman apapun dan tidak berpendidikan. Sehingga jauh dari yang disebut layak dan pantas.

Namun demikian atas wasiat dari Dhawuh (Alm) Mbah KH. M. Munawwar Afandi maka apapun yang saya sampaikan tidak terlepas dari munjer berpusat dari dhawuh-dhawuh beliau.

Beberapa dhawuh beliau adalah”

“Lhe… akan ada sangat (dalam bahasa jawa sangat bermakna bukan sekedar masalah waktu, namun di samping waktu juga berkaitan dengan keadaan, situasi dan tempat, serta tanda-tanda, dan atas kehendak Allah), akan ada sangat untuk menyampaikan An-Nubuwah, Ilmu Tauhid, Ilmu Nubuwah, Ilmu Kenabian kepada khalayak masyarakat luas, namun jangan berpikir diterima atau tidak diterima, sampaikan saja, semampu yang kamu bisa lakukan”.

“Sudah terlalu lama ilmu Tauhid ini tidak tersampaikan, sebagai ilmu yang melengkapi dan meyempurnakan tatanan lahiriyah yang berupa syareat tatanan keberduniaan” (selengkapnya perihal keberadaan Ilmu Nubuwah, sebagai Ilmu Tauhid saya sampaikan di dalam pengajian-pengajian juga di medsos FB dan YOUTUBE #jatayutv.)

“Mulai akhir tahun ini (saat beliau ngendikan di bulan Juni 2012), seharusnya sudah dimulai untuk menyampaikan namun harus tetap dengan kearifan”.

“Selak mesakke, kasihan kepada masyarakat, sudah pangling dengan addiin sebagai ageman, sebagai pakaian hidup, maka terjadi saling benturan dan perilaku radikal dan ekstrim karena kosongnya jiwa dari ingatan hati kepada Tuhan yang Maha Asih dan Maha Sayang”

Dan akan ada sangat menuju “goro-goro”, akibat kerusakan moral, kerusakan akhlak dan hilangnya adab sehingga akan ada goro-goro, entah mana yang akan mendahului, sosial atau alam, dan hal ini merupakan ketetapan Allah, dalam kerangka menampakkan yang Haq dan menyingkirkan, menenggelamkan yang batil dan yang lalim. Namun ini semua adalah hak Allah. (dan tanda-tanda pemurnian-kemurnian menuju ke arah ketepan “sunnatul awwalin” semakin nampak dan akan terus semakin meningkat).

Namun tetap ajaklah, baik jamaah yang telah memiliki Ilmu Tauhid, Ilmu Nubuwah ataupun yang belum, bahkan yang menolak atas adanya Kebenaran Al-Haq min Rabbika, untuk tetap berbuat baik, menjaga kesatuan dan persatuan, berpartisipasilah memberdayakan mereka, berdayakan meraka. Allah tergantung prasangka hambanya.

Jagalah ikatan kekeluargaan, kebersamaan, keguyubrukunan dengan ikatan mahabbah bi-rauhillah, saling memaklumi, saling menghargai, saling menghormati.

“Bermasyarakatlah semampu yang bisa dilakukan dengan terus berbuat kebaikan dan kesalehan serta kemaslahatan. Jangan berbuat karena pamrih dan riya’ apalagi untuk memperoleh pujian dan penghargaan yang menjadikan kemudian putus-asa akibat ada pamrih. Baik pamrih bangsa dunia dan apalagi pamrih bangsa akherat. Sebab meminta ngilmu kemudian di dalam hidayah yang berkaitan dengan keimanan itu mutlak hak wilayah Allah, Allah Sendiri yang memilih dan memilah dan siapa yang dimaukan nyuwun ngilmu itu adalah mutlak Kehendak Allah, siapa yang akan ditunjukkan ke dalam jalan Shiratal Mustaqim.

“Tetaplah berbuat baik kepada siapapun, terlepas menerima penjelasan atau menolak penjelasan, terlepas akan nyuwun ngilmu ataupun menolak untuk nyuwun ngilmu, tetap berbuat baiklah kepada siapapun, jangan membedakan suku bangsa, agama, ras, warna kulit dan bahasa. Sebab tatanan syareat yang lahiriyah adalah tatanan berdunia, sudah kewajiban kita sebagai makhluk hidup di dunia untuk berbuat baik kepada siapapun, selama dia juga berbuat baik kepada msyarakat, kepada bangsa dan negara, dan menjaga melestarikan kesatuan dan persatuan NKRI. Berbuat baiklah. Percayalah hal itu tetap bernilai ibadah. Jangan kotori hatimu dengan iri, dengki, kebencian dan dendam.

Terus ajaklah jamaah yang telah keparingan ngilmu, untuk terus melatih dan mendidik diri berlaku syukur, shalawat, sabar, tawakkal dan berjihadunnafsi dengan terus mengedepankan dasar taubat, dasar uzlah (topo di tengah-tengah keramaian, artinya pada umumnya niat dan tujuan orang berdunia adalah kesenangan-kesenangan dunia, maka niat dan tujuan ini digeser untuk ibadah), dan bangunalah kesadaran pada dasar mahabbah bi rauhillah.

Dan terus diingatkan untuk tiyalat-riyadhoh dan mujahadah dalam kehidupan sehari-harinya. Untuk tidak terkungkung larut oleh gejolak dunia dengan segala kesenangan-kesenangan materialnya dan melenakan.

“Berjuanglah jangan takut kangelan, jangan takut rekoso, jangan takut kaningoyo, jangan takut kehilangan, jangan takut olokan-olokan, jangan minder, namun jangan sampai sombong dan arogan, sampaikan Kebenaran Al-Haq min Rabbika, percayalah bahwa Allah akan melindungi.

Selalu memohonlah kepada Allah, tempatkan sebagai hamba yang feqir tidak bisa apa-apa dan tidak ada apa-apanya, jadilah hamba yang sadar bahwa manusia adalah tempatnya salah dan dosa, maka terus membuat perbaikan dan berbuat ke-ikhsanan.

Demikian secuil wasiat, dhawuh dari guru kami (alm) mBah Kyai M. Munawwar Afandi.

Jadi kami mohon dimaafkan dan dimaklumi, manakala di dalam kami menyampaikan ada atau banyak yang tampak menyakitkan, tidak berkenan, saya berharap untuk tidak timbul perpecahan dan kebencian, sebab ketetapan Kebenaran Al-haq adalah mutlak dari Allah. Lebih baik memohonlah pada Allah (masing-masing keyakinannya, dengan keikhlasan dengan kepasrahan atas ketetapan Allah), “ihdinash-shiratal mustaqim” hidayahi kami pada jalan mustaqim Engkau, jalan dengan hidayah yang menuju kepada engkau sehingga di dalam keselamatan lahir dan batin.

KYAI TANJUNG

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here