KEBENARAN ITU BERAT DAN MENYULITKAN, KEBATHILAN ITU RINGAN DAN MENYENANGKAN

0
538
views

“Innal haqqa tsaqiilun mariyyun, wa innal baathila khofiifun wa biyyun”

Kebenaran dalam makna Al-Haq min Rabbika, kebenaran mutlak milik Tuhan dan dari Tuhan. Dalam pelaksanaannya juga dalam penerimaannya adalah berat, akibat kebiasaan-kebiasaan yang telah kita anggap benar. Benar menurut akal pikiran yang digerakkan oleh nafsunya, benar menurut kepentingan kelompok dan golongannya dan hal ini sudah mendarah daging dan menyenangkan, dan akan terasa sulit karena tidak terbiasa mengubah pola pikir dan berpikir rasional, berpikir jernih dalam kemurniannya dan bertindak “tafakkur” yakni menyelami kehidupan dimulai dari “JEMBATANNYA” yakni mengenal diri.

Kebatilan itu ringan, karena merasa terpenuhi keinginanannya, terpenuhi angan-angannya, terpenuhinya prasangka-prasangkanya, terpenuhi kepentingan-kepentingannya, terpenuhi nafsu kekuatan dan kekuasaannya dan ini semua yang dikira benar dan dikira membahagiakan. Dan kebatilan itu menyenangkan, karena tanpa perlu memaksa diri untuk mencegah dan mengendalikannya.

Al Mu’minuun 71

وَلَوِ ٱتَّبَعَ ٱلۡحَقُّ أَهۡوَآءَهُمۡ لَفَسَدَتِ ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَٱلۡأَرۡضُ وَمَن فِيهِنَّۚ بَلۡ أَتَيۡنَٰهُم بِذِكۡرِهِمۡ فَهُمۡ عَن ذِكۡرِهِم مُّعۡرِضُونَ ٧١

“Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka dzikr (dengan ilmudz-dikr) kepada mereka tetapi mereka berpaling dari adanya (ilmu) dzikr itu”.

Saat kita mengetahui kebenarannya adalah Al-Haq min Rabbika, dengan perilaku mencari dan menemukan kebenaran bertuhan itu adalah dengan mengendalikan diri dan keberanian jujur serta dalam kesadaran meletakkan ego nafsu keakuan dan kesadaran tidak terjebak dalam kebenaran pada dimensi simbolik-simbolik, legenda-legenda sejarah, mitos-mitos masa lalu, kemudian kita membiarkan nafsu kita mencengkeram dan larut dalam keprasangkaan tanpa sedikitpun mengendalikan diri dan tanpa berpikir rasional dan masuk akal, ini menjadi kebatilan.

Kita mengetahui dari bertanya, jika kita tidak bertanya hanya karena malu dan gengsi untuk mengakui dan menerima adanya Kebenaran Al-Haq min Rabbika, karena merasa lebih dan merasa telah cukup, maka ini adalah kebatilan.

Kyai Tanjung

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here