SAUDARAKU, MARI ISLAM KAAFFAH DALAM PERSAKSIAN

1
748
views

Awal Islam adalah persaksian. Awal Iman adalah sadar bersama karena berada dalam persaksian.

Saudaraku hamba yang berserah diri, penduduk bumi dimanapun berada. Kami hanya menyampaikan, memberitakan. Pada akhirnya nyumanggak-ake, terserah pribadi masing-masing menyikapinya. Kamipun berserah diri hanya kepada-Nya.

Sebab mengajak kemudian berbangga-bangga karena yang diajak mau, kesalahan dan dosanya akan sama persis dengan saat mengajak kemudian yang diajak menolak tidak mau kemudian kami kecewa, marah, memusuhi. Tidak ada saling memaksa atas keyakinan keimanan seseorang. Apalagi menghujat, mengolok, menyesat-nyesatkan, Apapun alasannya, hal ini tidak dibenarkan. Semuanya kembali kepada Allah.

Mungkin banyak yang bertanya perihal sesungguhnya Islam itu dimulai dari mana???. Bagaimana disebut sebagai Islam?

Islam adalah perbuatan yang baik, perilaku kesalehan, membangun situasi dan kondisi yang menentramkan dan mendamaikan, baik yang lahiriyah pun sekaligus yang batiniyah. Jauh dari watak, sifat dan perilaku yang merusak diri, merusak lingkungan, merusak masyarakatnya.

Dan Islam tidak berbicara keturunan, kelompok dan golongan apalagi berbangga-bangga karena keturunan, karena kelompok, karena suku dan bangsa, sebab islam adalah sifat, watak, perilaku dengan adab dan akhlak “keselamatan”. Janganlah kamu meninggal dunia kecuali dalam keadaan berserah diri kembali dengan selamat. Meninggal dunia adalah selasainya masa pakai jasad lahir hidup di dunia. Yang kembali pulang kepada-Nya adalah “fitrah” inti manusia yang berada didalam rasa hati nurani yang saat di dunia disebut sebagai unsur yang batiniyah. Maka awal rukun islam adalah bersaksi yang saling menyaksikan “SYAHAADATI”. Bentuk muqatab. Menyaksikan dan tersaksikan. Ini mutlak.

Asyhadu-an-laa ilaha illallahu. “an” menunjukkan persaksian nyata dalam hati nurani (bahasa jawa: kasunyatan). Guna memudahkan pemahaman asal katanya, sehingga dibaca “AN”-ASYHADU. Seharusnya “asyhadu allaa ilaha illallahu”. Supaya jelas antara “AN” dan QAULA. Dalam hadits tersebut adalah bukan “QAULA”, bukan ucapan lesan, tapi “AN”.

Awalnya memang

بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَصَوْمِ رَمَضَانَ وَحَجِّ الْبَيْتِ

 

Al Maa’idah 104

وَإِذَا قِيلَ لَهُمۡ تَعَالَوۡاْ إِلَىٰ مَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ وَإِلَى ٱلرَّسُولِ قَالُواْ حَسۡبُنَا مَا وَجَدۡنَا عَلَيۡهِ ءَابَآءَنَآۚ أَوَلَوۡ كَانَ ءَابَآؤُهُمۡ لَا يَعۡلَمُونَ شَيۡ‍ٔٗا وَلَا يَهۡتَدُونَ ١٠٤

Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul”. Mereka menjawab: “Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya”. Dan apakah mereka itu akan mengikuti nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk?

Asy Syu’araa’ 73-74

 أَوۡ يَنفَعُونَكُمۡ أَوۡ يَضُرُّونَ ٧٣ قَالُواْ بَلۡ وَجَدۡنَآ ءَابَآءَنَا كَذَٰلِكَ يَفۡعَلُونَ ٧٤

Apakah perilaku keberhalaan kamu (yakni) jumud, kaku, beku, tertutup, gengsi, merasa cukup. Apakah beragama kamu karena nenek moyang, karena kelompok dan golongan dapat memberi manfaat dan kemudharatan dan dapat menolong kamu..??? – 73

Bukan demikian, karena kami melakukan seperti ini, karena selama ini beginilah kami mendapati nenek moyang kami sejak dahulu – 74.

 

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here