TEKNIK BUDIDAYA BELUT DALAM DRUM BEKAS UNTUK PROGRAM OPTIMALISASI LAHAN SELA DI LINGKUNGAN KELUARGA GUNA KEMANDIRIAN PANGAN

0
1927
views

Lahan sempit atau pekarangan rumah yang sempit sering menjadi kendala untuk menjalankan sebuah usaha, namun seiring dengan perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan di sektor perikanan, peternakan dan perkebunan , kondisi ini sudah bukan menjadi kendala.

Usaha peternakan yang dapat dilakukan di lahan sempit salah satunya adalah budidaya belut. Mengapa kita dapat membudidayakan belut dilahan sempit, karena kita akan menggunakan media drum plastik.

Perlengkapan yang dibutuhkan untuk budidaya adalah sebagai berikut :

  1. Tong / drum, disarankan dari bahan plastik, supaya tidak berkarat. 
  2. Paralon.
  3. Tandon penampungan air.
  4. Ember, serok, cangkul, baskom dan jerigen dll.

 PERSIAPAN DAN TEKNIK BUDIDAYA
Sebelum kita menjalankan budidaya belut dalam drum/ tong, dibutuhkan media pemeliharaan sebagai tempat belut berkembang biak atau pembesaran, media pemeliharaan ini sangat penting mengingat keberhasilan budidaya yang kita lakukan sangat bergantung pada media pemeliharaan ini. Untuk media pembesaran hal yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut :

  1. Drum / Tong.
    Drum/ tong  yang digunakan sebaiknya tidak bocor dan berkarat, lebih baik jika menggunakan drum plastik.

    Cara merakit drum/ tong :

  • Letakkan tong pada posisi mendatar, agar media menjadi lebih luas.
  • Buka bagian tengah drum/ tong, sisakan 5 cm pada sisi kanan dan kiri.
  • Pasanglah alat/ ganjal supaya drum/ tong tidak menggelinding, atau bergerak.
  • Buat saluran pembuangan di bawah tong, letak dapat disesuaikan dengan penampungan limbah pembuangan.
  • Buat peneduh sehingga intensitas panas matahari tidak terlalu tinggi dan terkena langsung ke permukaan drum / tong, bahan bisa dibuat dengan memasang shading net / waring atau bisa juga dengan bahan yang murah dan mudah didapat lainnya.
  1. Media Tanah.
    Tanah yang digunakan sebaiknya tanah yang tidak berpasir, tidak terlalu liat serta masih memiliki kandungan hara, disarankan untuk menggunakan media tanah dari sawah.

    Untuk melakukan pematangan media bila yang digunakan tanah dari pekarangan tahapan yang dilakukan yaitu :

  • Masukkan tanah ke dalam drum/ tong hingga ketinggian 30 – 40 cm. 
  • Masukkan pupuk organik cair Manutta Gold sebanyak 200 ml yang telah dicampur dengan 10 liter air hingga tanah becek namun tidak menggenang . 
  • Aduk tanah sebanyak 2 kali sehari hingga tanah lembut dan gembur. 

Perlakuan tahapan di atas tidak berlaku, apabila menggunakan tanah dari sawah.

  1. Media Bokashi.
    Media ini dibuat diluar drum/ tong yang merupakan campuran bahan utama dan bahan campuran. Penggunaan 100 kg bahan akan menghasilkan 90 kg media bokashi. Setiap drum/ tong ukuran 200 liter dibutuhkan 45 kg bokashi. Bahan utama terdiri atas:
  • Jerami Padi (40 %). 
  • Pupuk Kandang (40 %). 
  • Potongan batang pisang (20% ). 

Bahan campuran terdiri atas :

  • Pupuk Organik Cair Manutta Gold B. 
  • Air sumur. 

Cara membuat Media Bokashi:

  • Cacah jerami dan potongan batang pisang kemudian keringkan. Tanda bahan sudah kering adalah hancur ketika digenggam. 
  • Siapkan air sebanyak 7liter yang telah dicampur dengan pupuk organik cair Manutta Gold B sebanyak 200 ml
  • Campuran bahan tersebut sedikit demi sedikit dikocor dan diaduk hingga merata. 
  • Masukkan media yang tercampur rata ke dalam karung goni dan diikat rapat selama 7 hari
  1. Mencampur Media Point 1 dan 2.
  • Masukkan media bokasi yang telah matang kedalam drum /
  • Setelah itu masukkan tanah di atasnya dan diaduk hingga rata.
  • Masukkan air ke dalam  drum/ tong  hingga ketinggian 5 cm dari permukaan media dan diamkan hingga terdapat plankton  dan cacing (sekitar 1 minggu). Ciri media yang telah jadi adalah jika ditekan menggunakan ranting kemudian dicabut maka air nampak jernih namun jika keluar gelembung udara berarti media belum siap. 
  • Keluarkan air dari drum/ tong dan ganti dengan air baru dengan ketinggian yang sama.
  • Masukkan tumbuhan air yang tidak terlalu besar sebanyak ¾ bagian dan ikan ikan kecil. 

Yang perlu diperhatikan ketinggian seluruh media, kecuali tumbuhan air tidak lebih dari 50 cm.

  1. Memilih bibit belut
    Bibit untuk budidaya belut bisa didapatkan dari hasil tangkapan atau hasil budidaya. Keduanya memiliki keunggulan masing-masing.

    Bibit hasil tangkapan memiliki beberapa kekurangan, seperti ukuran yang tidak seragam dan adanya kemungkinan trauma karena metode penangkapan.

    Kelebihan bibit hasil budidaya ukuran bibit lebih seragam, bisa tersedia dalam jumlah banyak, dan kontinuitasnya terjamin. Selain itu, bibit hasil budidaya memiliki daya tumbuh yang relatif sama karena biasanya berasal dari induk yang seragam.

    Bibit belut hasil budidaya diperoleh dengan cara memijahkan belut jantan dengan betina secara alami.

Bibit yang baik untuk budidaya belut hendaknya memiliki kriteria berikut:

  • Ukurannya seragam, ukuran bibit yang seragam dimaksudkan untuk
  • memudahkan pemeliharaan dan menekan risiko kanibalisme atau saling memangsa.
  • Gerakannya aktif dan lincah, tidak loyo.
  • Tidak cacat atau luka secara fisik.
  • Bebas dari penyakit.

Budidaya belut untuk segmen pembesaran biasanya menggunakan bibit belut berukuran panjang 10-12 cm. Bibit sebesar ini memerlukan waktu pemeliharaan sekitar 3-4 bulan, hingga siap konsumsi.

  1. Masukkan bibit belut.
    Setelah semua media budidaya tersebut siap tahapan selanjutnya menebarkan bibit belut. Bibit yang ditebar sebaiknya sebanyak 2 kg dengan jumlah bibit sebesar 80 – 100 ekor per kg. Sebelum ditebar hendaknya bibit dikarantina terlebih dahulu.

Proses karantina:

  • Siapkan air sebanyak 5 liter yang telah diberi larutan pupuk organik cair Manutta Gold B sebanyak 10 ml (air yang digunakan sebaiknya air sumur atau air PDAM yang telah didiamkan selama 1 malam).
  • Masukkan bibit belut yang telah siap selama kurang lebih 2 jam.

PERAWATAN
Perawatan belut didalam tong drum/ tong relatif lebih mudah karena pemantauan budidaya relatif kecil, namun demikian perawatan tetap harus diperhatikan, antara lain:

  1. Pemberian Pakan.
    Tidak ada aturan baku volume pemberian pakan, namun sebaiknya pakan diberikan 5% dari jumlah bibit yang ditebarkan. Pakan yang sebaiknya diberikan yaitu cacing, kecebong, ikan ikan kecil, dan cacahan keong mas atau bekicot. Pemberian pakan diberikan pada hari ke 3 setelah bibit ditebar dalam drum/ tong. Pemberian pakan dilakukan pada sore hari seperti kebiasaan belut dialam yang makan di sore / malam hari.
  1. Pengaturan Air.
    Pengaturan air sangat diperlukan untuk membuang sisa makanan agar tidak menumpuk dan menimbulkan bibit penyakit. Pengaturan air ini dengan cara mengalirkan air bersih kedalam drum/tong, sebaiknya air yang masuk berupa percikan air untuk melakukan ini digunakan pipa paralon sebagai media aliran. Sedangkan untuk saluran pembuangan dengan membuat lubang pada drum /tong dengan ketinggian 5 cm dari genangan air di media. Selain sebagai pengatur pembuangan sisa kotoran percikan air ini juga berfungsi sebagai penambah oksigen.
  1. Perawatan Tanaman Air.
    Tanaman air ini digunakan sebagai penjaga kelembaban tempat budidaya dan juga menjaga belut dari kepanasan.
  1. Pemberian Pupuk Organik Cair Manutta Gold B.
    Pupuk organik cair Manutta Gold B berfungsi sebagai penetralisir sisa sisa pakan, selain itu juga berfungsi untuk mengurangi bau, diberikan minimal 3 kali sehari dengan dosis ½ sendok makan dilarutkan dalam 1 liter air.
  1. Perawatan Sekitar Lokasi.
    Perawatan sekitar lokasi ini untuk menjaga drum/ tong dari tanaman liar, lumut, dan hama maupun predator pemangsa seperti ayam.

 

PANEN
Panen dilakukan setelah 3 – 4 bulan budidaya dilakukan atau sesuai dengan keinginan kita dan keinginan (permintaan) pasar . Pemanenan untuk media drum / tong tentunya lebih mudah, dan belut hasil budidaya siap dipasarkan. Untuk menunjang budidaya belut yang berkelanjutan sebaiknya juga dipersiapkan bagaimana supply makanan yakni cacing, keong mas, bekicot dan lainnya. Selain itu juga diperhatikan bagaimana kelangsungan bibit setelah panen untuk budidaya berikutnya.

KANDUNGAN GIZI BELUT
Belut dimasukkan ke dalam kelompok ikan sehingga halal untuk dimakan umat muslim. Sama halnya dengan ikan, daging belut memiliki banyak kandungan gizi yang baik untuk tubuh. Daging belut mengandung protein yang tinggi sehingga baik untuk masa pertumbuhan anak. Selain itu belut juga mengandung mineral, vitamin, karbohidrat, kalsium, fosfor dan juga lemak sama halnya seperti ikan. Berikut tabel gizi ikan belut yang kami ambil dari direktorat gizi (Depkes).

Zat Gizi Belut
Kalori (cal)  303
Protein (gr) 14
Lemak (gr)  27
Karbohidrat (g) 0
Fosfor (mg) 200
Kalsium (mg) 20
Zat besi (mg) 20
Vitamin A (SI) 1600
Vitamin B (mg) 0,1
Vitamin C (mg) 2
Air (gr) 58

MANFAAT BELUT
Selain budidaya-nya menguntungkan, memakan daging belut juga akan menimbulkan banyak manfaat bagi tubuh kita. Lalu apa aja sih kandungan yang ada di dalamnya? Mari simak poin-poin berikut.

  1. Mencegah pengeroposan
    Daging belut mengandung fosfor dan kalsium yang baik untuk tulang sehingga mencegah terjadinya pengeroposan tulang atau osteoporosis. Zat besi yang terdapat pada daging belut berfungsi untuk mencegah penyakit anemia atau kurang darah dan membantu pengangkutan oksigen ke seluruh tubuh, sehingga baik dikonsumsi untuk penderita anemia.
  • Sumber Kalori
    Selain itu pada daging belut mengandung kalori yang cukup tinggi yaitu sekitar 330 kilo kalori, yang cukup untuk memenuhi kebutuhan kalori harian, sehingga kamu bisa melakukan segala aktivitas dengan lancar. Kandungan vitamin A pada belut baik untuk kesehatan mata, memperbaiki fungsi jaringan saraf yang rusak serta membantu menormalkan tekanan darah. Nah, jadi makanan ini akan sangat cocok untuk kamu yang punya aktifitas harian yang padat.
  • Protein yang melimpah
    Protein yang ada pada tubuh belut akan sangat bermanfaat bagi perkembangan tubuh manusia. Di setiap 100 gram daging belut, terkandung protein sebesar sekitar 18,4 gram. Angka ini menunjukan bahwa kandungan protein yang dimiliki belut setara dengan kandungan protein yang dimiliki oleh sapi (18,8g/100gram daging). Perotein yang ada, akan membangun semua sel-sel yang rusak dalam tubuh. Selain itu, belut juga sangat aman dikonsumsi oleh semua umur.
  • Meningkatkan kesehatan otot
    Kandungan arigin (asam amino non-esensial) yang ada pada belut akan membantu proses peningkatan kesehatan otot dan mengurangi resiko penumpukan lemak pada tubuh. Yang dimaksud arigin disini ialah hormon yang dapat memengaruhi pertumbuhan manusia atau biasa disebut Human Growth Hormon (HGH). Beberapa penelitian juga menyebutkan bahwa HGH ini dapat menghambat sel-sel kanker payudara.
  • Mencegah anemia
    Selain keempat hal diatas, belut juga memiliki kandungan zat besi yang cukup banyak. Jumlah yang ada pada daging belut melebihi kandungan zat besi yang ada pada daging dan telur. Dengan mengkonsumsi 125 gram belut perhari, mampu mencegah resiko timbulnya penyakit anemia.

HAMA, PENYAKIT & CARA MENANGGULANGINYA
Hama belut merupakan salah satu binatang tingkat tinggi yang mengganggu kehidupan ekosistem belut secara langsung. Seperti berang-berang, ular dan musang air misalnya, mereka kerapkali menjadi hama pada belut saat berada di alam bebas dan kolam terbuka.

Umumnya belut terserang penyakit yang disebabkan oleh organisme tingkat rendah, seperti bakteri, virus, jamur dan protozoa yang berukuran sangat kecil. Namun, bakteri yang paling sering menyerang belut adalah Aeromonas dan Pseudomonas.

Jika belut yang dipelihara sudah terinfeksi oleh bakteri jenis ini, maka akan timbul gejala, seperti bercak-bercak merah pada permukaan belut dan terjadi pendarahan pada bagian organ dalam seperti hati atau limpa. Kedua bakteri ini memang sangat mematikan, jika tidak ditangani dengan cepat maka akan menimbulkan kematian.

Gejala awal yang akan dialami belut ketika terserang bakteri ini biasanya akan ditandai dengan pendarahan hebat dibagian bawah kulit, rongga mulut, insang dan bahkan menjalar ke seluruh bagian tubuh. Selain itu, lendir yang ada pada belut akan berkurang akibat sekresi yang berlebihan.

Sehingga sebagian tubuhnya akan terasa kering dan kasar. Selanjutnya, belut akan mengalami pembekakan pada organ limpa, hati dan empedu. Belut yang sudah terinfeksi akan kehilangan energi dan keseimbangan.

Sehingga, posisi belut akan cenderung diam dan terbalik (punggung dibawah) dan kemungkinan besar akan mati dikemudian hari.

Cara penanggulangan:
Hal yang bisa kamu lakukan untuk menangani berbagai macam gejala diatas adalah membeli obat antibiotik (amoksilin atau ampicilin).

Namun, penggunaan dosis yang salah akan hanya menambah penderitaan sang belut saja. Sebaiknya, jika kamu ingin mendapatkan hasil yang lebih maksimal maka gunakanlah gedebog (batang pohon) pisang yang sudah mengalami pembusukan.

Gedebog pisang adalah media antiseptik alami yang dipercaya mampu meredam pertumbuhan kedua bakteri tersebut. Selain itu, dengan adanya gedebog pisang ini maka akan timbul cacing-cacing kecil yang akan menjadi asupan nutrisi dan protein pada belut.

Hanya saja hati-hati memakainya. Sebelum diaplikasikan kedalam kolam, gedebog pisang yang ada harus diproses terlebih dahulu.

Mengapa demikian? Karena getah yang masih ada pada gedebog pisang baru (segar) akan menyebabkan air kolam menjadi asam. Hal ini akan mempengaruhi kehidupan sang belut nantinya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here