Nabi Isa “Diurapi”, Demikian Pula Semua Nabi dan Semua Rasul Allah

0
766
views

Nabi Isa, Nabi Dzulkifli Sang Budha Sidarta Gautama, Nabi Ismail Sang Aji Saka utusan Ibrahim, berarti utusan Allah dan juga nabi Iskak, Nabi-nabi serta Rasul-Rasul sampai pada Nabi Muhammad SAW. Diurapi karena memang digulowentah, dipersiapkan, atas kehendak Allah Sendiri untuk menjadi kholifah Allah di muka bumi, supaya manusia dalam keimanan, sehingga mengerti dan memahami makna hidup dan kehidupan yang dijalani, dan menunjukkan adanya “terang” Cahaya Allah serta menjadi jalan pulang hingga dapatnya selamat jika sewaktu-waktu masa pakai jasad habis di dunia.

Bahkan sampai kepada Imam Mahdi dan Nabi Isa (ditampakkan ajaran AnNubuwah Risalah Kerasulan, Risalah Kenabian, dengan tatanan “Manhaj AnNubuwah” (diwujudkan penghakiman bagi yang lalim dan dzolim karena perilaku umat manusia sendiri pada titik kultimasi – titik balik, sehingga penghakiman oleh kuasa Tuhan Sendiri, bukan hasil akal pikiran manusia dan rekayasa manusia).

Memang Nabi Isa diurapi dan “yang diurapi”, maksudnya yang dipilih saat di zamannya, saat beliau masih sugeng atau masih hidup, dipilih untuk menjadi khalifah, wakil Allah di muka bumi, karena memang keberadaan para utusan ini bagi Allah adalah mutlak, menunjukkan jalan terang dalam hidup supaya di dalam Cahaya persaksian dan kesaksian Mengadanya Tuhan supaya dikenali KeberadaanNya. Tidak bisa tidak. Maka pasti “diurapi” demikian pula semua nabi-nabi dan semua Rasul Allah.

Dan memang setiap Allah menurunkan ajaran risalah kerasulan risalah kenabian, ajaran yang akan membuka “terang” cahaya kehidupan, memang hujah akal pikiran rasionalnya menerima, (dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri-, supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang: Lukas pasal 2, ayat 35), namun akan sangat terasa terlalu berat menerima keberadaan “subyek” utusan Allah, karena memang (tampak) normal sebagai manusia biasa seperti halnya yang lainnya, saat tidak ada kepasrahan dan ketaatan atas adanya ketetapan Tuhan akan sangat berat terasa, bagi nafsu ego keakuannya. Dan keberadaan utusan dengan ajaran yang dinubuatkan bagi keselamatan umat memang, selalu dalam pertentangan yang hebat, selalu disalahpahami dan diprasangkai, semoga di zaman ini semua dalam lindungan-Nya. Karena sudah ketetapan-Nya.

Dan yang dinubuatkan adalah ajaran AnNubuwah (dari kata an-nabwah dan an-naba’) yang berarti atas Kehendak Allah Sendiri, bukan karena kemauan hawa nafsunya, untuk berbicara menyampaikan perihal kebenaran adanya hakekat hidup yang mesti dikenali, hakekat jati diri manusia supaya manusia memiliki orientasi yang jelas dalam terang CahayaNya, sehingga dapat berlaku adil dalam keadilan, pandai mengadili diri sendiri dan dalam kecintaan bi Rouhillah. Manusia yang beriman adalah kemestian (seharusnya) percaya bahkan mengimani akan adanya “utusan” Allah. Pasti Allah membuat wakil sebagai khalifah di muka bumi, sebab Allah tidak menampak ngejowantah di permukaan bumi, maka membuat wakil yang mewakili supaya manusia beragamanya tidak dalam agama budaya karena nenek moyang dan keturunan, dan supaya berTuhannya tidak karena “asumsi-asumsi” yang dibangun oleh pikiran-pikiran dan teks-teks tulisan dan buku-buku.

Sehingga keimanannya dalam kesaksian dengan pasti jelas di dalam Terang Cahaya Allah, karena mengenal Allah dengan sebenar-benarnya. Dan dengan mengenali Keberadaan DIA maka akan menjadi terang dalam hidup, dan kehidupan yang dijalani berada diatas kehendak Tuhan, kemurnian dan kesucian ajaran yang dikenali.

Yohanes pasal 16 ayat 13, “tetapi apabila Ia datang, yaitu roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu kedalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitahukan kepadamu hal-hal yang akan datang (perihal kematian kehidupan setelah kematian yang bersifat abadi)”

Kesadaran Ruhiyah bahwa segala sesuatu ada dan diadakan karena Roh yang berasal dari-Nya. Keberadaan inti eksistensi manusia bukan yang tampak jasad lahir seonggok daging namun karena roh Ilahi ini, maka kenali Keberadaan-Nya, Keberadaan Allah. Hanya jika menganal Sang Utusan. Mutlak. Tidak bisa tidak. Untuk mengenali-Nya.

Sekali lagi, semua Nabi sejak Nabi adam, semuanya mengajarkan hal ini, dan berada dalam satu “alur” pohon kehidupan yang tidak terputus keberadaan para utusan ini sampai nabi Muhammad bahkan sampi kiamat. Inilah yang seharusnya. Masihkan belum “sadar” apa menunggu sampai pada kalimat:
Yang tertera dalam Yohanes pasal 16; ayat (8): dan kalau ia datang, Ia akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman;

(9): akan dosa, karena mereka tetap tidak percaya kepada-Ku (Keberadaan Sang Aku yang dikenali didalam rasa hati)
(10): Akan kebenaran (Al-Haq adalah min robbika – kebenaran adalah mutlak dari Tuhan, karena Aku pergi kepada bapa dan kamu tidak melihat Aku lagi (kehidupan manusia secara fisik jasadiyah ada masa pakai yang dibatasi umur).
(11). akan penghakiman, karena penguasa dunia ini akan dihukum (oleh Allah Sendiri).

Namun hidup ini adalah pilihan. Semua berhak memilih keyakinannya masing-masing, untuk tidak saling menghujat dan mengolok-ngolok, saling menjatuhkan dan saling klaim kebenaran agama yang paling benar. Sebab sesungguhnya kebenaran berTuhan dalam dengan Allah tidak mengotori hati dan pikiran. Dan keimanan tanpa bukti kesaksian Cahaya dari-Nya, sesungguhnya adalah keprasangkaan.

Untuk itu, jauhkanlah dari perilaku klaim-klaim kebenaran – para Nabi sekalipun tidak pernah melakukan klaim, karena memang hanya kedhawuhan, hanya berada di dalam perintah, bukan ‘perasaan’ diperintah tapi memang di dalam kesaksian persaksian yang MEMERINTAH. Sedang watak dan sifat klaim-kalim kebenaran, mengakibatkan perilaku merusak, pertikaian, menghujat, mengolok dst.
Berbicara menyampaikan keyakinan sesuai dengan keyakinan masing-masing… Silahkan!!, namun tidak menutup diri tetap memiliki sikap dan watak terbuka lapang dada dari (kemungkinan) adanya Kebenaran Al-Haq min Rabbika, yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya, supaya tidak di dalam kehancuran.
Paling tidak untuk menjauhkan dari watak, sifat dan perilaku dalam keprasangkaan dan tidak menghujat, mengolok, membid’ah-bid’ahkan kelompok dan golongan yang tidak seagama atau sekeyakinan.

Untuk hal itu mari, kami mengajak kepada diri saya sendiri dan kami dan kepada siapapun, untuk memohon dan berdo’a sesuai dengan keyakinan dan agama masing-masing, ini demi Nusantara Indonesia kita.

Dari pada saling klaim pembenar diri merasa yang paling di dalam kebenaran, dan jika memang kita yakin dan percaya bahwa Allah Maha Mengetahui, Allah Maha Pemutus Perkara, Allah Sang Maha Hakim Agung, Allah yang akan memutuskan, kita serahkan semua kepada-Nya. Mangga… Mari…, berdo’a memohon petunjuk kebenaran, mohon supaya Allah menampakkan penghakimanNya, atau berdo’a adanya keputusan dari-Nya.

“Ya Allah ya Rabbi Ya Tuhan kami, jika yang kami Imani dan kami jalani di dalam keimanan dan memang yang benar dan dibenarkan, dan kami tidak hanya dalam prasangka dalam keimanan dan yang kami yakini dan yang kami jalani selama ini sesuai dengan ajaran para Nabi, para Rasul Engkau, angkat kami pada sisi terbaik di sisi Engkau. Ampuni kami, rengkuh kami, jagalah kami dan Rahmati kami.

Ya Allah Ya Rabbi. Namun, jika keimanan yang kami jalani selama ini ternyata berada di dalam klaim pembenar ego keakuan nafsu yang menyimpang yang menyesatkan, dan tidak di dalam Kebenaran Al-Haq Engkau, tidak sejalan dengan kebenaran ajaran para utusan Engkau, dan keimanan kami hanya dalam angan-angan dan dalam prasangka tidak sesuai dengan ajaran Nabi dan Utusan-Mu, maka ampuni kami, bukalah hati dan pikiran kami. Atau jika kami berlaku tidak dalam “AMPUNAN”, maka singkirkan kami, tenggelamkan kami, bahkan musnahkan kami!!!.

Begitu juga sebaliknya, jika mereka-mereka yang tidak sekeyakinan dan tidak seiman dengan kami dan mereka yang telah melakukan klaim kebenaran, merasa telah benar dalam keprasangkaan mereka dan menyangka telah dalam kebenaran Al-Haq Engkau; dan jika memang mereka sesuai dengan ajaran Nabi dan Rasul Engkau, maka angkatlah mereka, dan dekatkan mereka pada sisi terbaik Engkau. Namun, jika ternyata mereka adalah memang lalim, dzalim, dan dalam perilaku jahiliyah, berlaku merusak dan menghalangi terwujudnya kebanaran Terang Cahaya Allah, dan berTuhan kepada Engkau hanya klaim akal pikiran dalam keprasangkaan keimanan, maka ampuni mereka, lunakkan hati mereka, buka pikiran dan hati mereka untuk menerima kebenaran Ajaran Risalah Engkau dan gerakkan menuju Al-Haq Engkau. Atau jika mereka berlaku tidak dalam “AMPUNAN”, maka singkirkan, tenggelamkan, musnahkan dari permukaan bumi Engkau!!!.

Demikian pula pada kami dan mereka siapapun sebagai apapun dan beragama apapun dan dari latar belakang apapun serta berasal dari manapun, kami dan mereka yang berlaku dzalim dan lalim serta jahiliyah yang memecah-mecah kesatuan dan persatuan berbangsa dan bernegara dan agama, yang menghalangi terwujudnya cita-cita negara yang tata titi tentrem kartaraharjo, negara yang baldatun toyyibatun wa robbun ghafur, negara yang penuh ampunan dan barokah dari langit dan barokah dari bumi, yang merusak dan menghalangi kebenaran Al-Haq-Mu, yang berperilaku dan berwatak kaku, beku, tertutup, fanatik, dan berwatak dalam perilaku ego keakuan, ya Allah… ya Rabbi ampuni kami dan mereka, sadarkan kami dan sadarkan mereka, lunakkan hati kami dan hati mereka, bukalah pikiran dan hati kami dan mereka, atau jika kami berlaku tidak dalam “AMPUNAN” maka singkirkan kami dan mereka, tenggelamkan kami dan mereka, musnahkan kami dan mereka, binasakan kami dan mereka.

Kami memohon kepada Engkau demi terwujudnya Kebenaran AlHaq Engkau, terwujudnya ajaran Kebenaran para Nabi dan para Utusan Engkau; dan terwujudnya cita-cita para leluhur kami, para pejuang-pejuang bangsa dan negara kami, yaitu terwujudnya kemerdekaan sejati, merdeka lahir dan merdeka batin; dan terwujudnya negara yang tata titi tentrem karta raharja, negara yang dipenuhi barakah dari langit dan barakah dari bumi Engkau”.

Amien……….

KYAI TANJUNG

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here