Kalau Percaya Malaikat Mikail, Maka Berdayakan Diri!!

0
1388
views

Tanjunganom, 9 Februari 2017 M / Al Qusyasi 04 MHD

Letakkan niat untuk hijrah kepada Allah dan utusan-Nya. Niat, apa yang ditetapkan di dalam hati, keberadaan yang dirasa wujud. Yang sesungguhnya wujud (Allah) itu tempat kembali yang menjadi tujuan. Yang dirasakan keberadaan Allah hingga nyata sadar, kita tidak bisa apa-apa tanpa Tuhan. Sadar sebagai hamba, sebab niat yang salah hanya akan mencetak pada pikiran, otak, angka-angka, dan lain-lain.

Tujuannya selamat. Dengan memerangi hawa nafsu sendiri-sendiri sebagai kendaraan. Saat niat dan tujuan tidak pada tempatnya, akan menjadi sambil lalu sehingga yang terekam itu hanya yang cocok dengan pemikirannya sendiri.

Saat niat dan tujuan sudah tepat, maka syukur akan membawa perilaku terbuka dan nyegoro. Sholawat itu nyambung dengan Tuhan. Perintah sholawat bukan hanya berhenti dengan melisankan tapi bersosial masyarakat. Sholawat itu terikat janji dengan rasul (langsung). Maka dari itu sangatlah penting antara niat, tujuan, syukur dan sholawat.

***

Saat ini tingkat kenyamanan di masyarakat semakin menurun dengan adanya berita hoax yang memicu gesekan antar kelompok dan lainnya. Kita bersyukur karena disini dan memiliki ilmu tauhid. Sehingga kita dapat mengembangkan potensi lahir dan batin. Karena lahir dan batin manusia harus diislamkan. ادْخُلُواْ فِي السِّلْمِ كَآفَّةً. Dengan totalnya islam sehingga tidak dalam cakupan wilayah setan. Dapat berorientasi pada niat dan tujuan yang kita lakukan dalam orientasi batin sehingga sewaktu-waktu mati, dapat dengan selamat kembali. Rasa (sir)nya menyatu kembali Tuhan. Sehingga merasakan wajah berseri-seri melihat Tuhannya.

Orang akan sulit malek watek jika masih memiliki pemikiran sendiri. Adanya ilmu dzikir (berfungsinya hati nurani) dengan inisiasi bisik untuk mengetahui diri Tuhan sejati hingga ingat diri Tuhan dalam hati nurani. Kita bisa mendengar dan melihat itu karena Allah. Saat kita ingat diri Tuhan maka membuat kita sadar sebagai hamba. Karena tanpaNya kita tidak bisa apa-apa. Maka jangan jadi orang yang lupa kepada Allah, karena siapa yang melupakan Allah, maka Allah akan melupakan dirinya.

Mayyit dengan lengkapnya organ tidak akan bisa apa-apa tanpa ruh yang ditiupkan oleh Pemilik ruh (Tuhan). Saat kita sadar, telah ditunjukkan oleh sang hak (rasul) maka kita akan sadar bahwa ruh yang ada pada diri kita adalah pinjaman dari Tuhan sehingga hidup ini adalah pilihan (selamat atau tidak selamat). Sadar atau tidak, kita telah mengalami pilihan dan tantangan. Ingin selamat atau tidak selamat?

***

Keberadaan rasul selalu didustakan setelah memberikan info ilmu dzikir supaya apa yang dilakukan tidak sia-sia. Bahkan فَقَدْ كُذِّبَتْ رُسُلٌ مِنْ قَبْلِكَ, maka sungguh rasul-rasul sebelum engkau telah didustakan pula. Mendustakan, menghalangi bahkan memburu Rasul, agar jangan sampai ajaran Rasul berkembang. Cara menghalanginya dengan perilaku dan pengaruh-pengaruh dari luar diri yang sengaja dikemas dan direncanakan agar berbelok dan kepincut. Tegasnya cara perilaku syaithon (perilaku dan pengaruh dari luar diri). Perilaku syaithon, lebih deisebabkan oleh perilaku yang berorientasi lahiriyah, yang dapat memutus keyakinan tentang iman, berfikir dengan baik (tafakur), rasional baik (masuk akal).

Inti agama adalah keberadaaan rasul yang memiliki tugas menunjukkan apa yang harus dikenali (jati diri Tuhan) sehingga hatinya dapat dzikir. Jika kita sakit pasti akan merasakan pahit saat makan. Saat kita diantar ke dokter, pasti juga akan didiagnosa dan diberikan resep obat, akhirnya kita harus membeli obat, yang pahit juga. Tapi jika tidak dipaksa makan, maka kita tidak akan sembuh. Sehingga rasionalnya harus dipaksa.

Allah akan marah jika kita tidak menggunakan rasional dan otak sebagai jembatannya. Posisi batin juga sama, bila nafsu kita tinggi, malas, aras-arasen maka batin kita juga terbilang sakit. Pun saat kita musyawarah namun kita jenuh atau pegel, maka berarti kita lara (sakit).

Akal pikiran difungsikan untuk dapat membantu dalam sholat untuk masuk ke dalam dzikir. Orang yang dikatakan saahuun yang diancam fawailun itu bukan orang yang lupa rakaat sholat, namun lupa tidak berdzikir kepada Tuhan karena tidak punya ilmunya. Lali sholat sama dengan lupa dzikir kepada Tuhan.

Berangkat dari memaksa dengan berfikir rasional. Apa yang kita lakukan karena huw, tanpaNya tidak bisa apa-apa. Ilmu dzikir tidak pernah muncul ke permukaan karena setiap kali keluar, dihantam dengan fitnah dan olokan.

Saat seseorang tidak merasa sebagai hamba yang butuh mendekat kepada Tuhan maka akan sulit memahami ilmu. Karena niatnya pada retorika benda dan uang semata. Wa’bud, semua organ difungsikan karena Allah.  Wa’bud robbaka, hamba memfungsikan organ tubuh karena Allah setingkat mampunya sehingga tidak menjadi robot.

Takut kepada Tuhan pada saat dibacakan ayat tanda-tanda keberadaan Tuhan (ayat untuk bersegera menjalankan perintah Allah). Kita terhanyut mindset selama ini, bahwasanya islam hanya berkutat pada sholat, puasa, zakat, dan lain-lain. Sehingga sulit menerima kebenaran.

Bagi mereka yang beriman pada saat dibacakan ayat-ayat Allah, maka bergetar hatinya. Maksudnya adalah tanggap, respon, respek, peduli. Jadi yang dimaksud taat kepada Allah adalah yang sadar atas potensi, manusia, alam, lingkungan dan membuat lakon pitukon.

Kenapa para pengikut nabi dan rasul itu sedikit (langka)? Kenapa itu selalu terjadi? Itu karena kemuliaan-kemuliaan nabi hanya diukur dari sisi lahir, sehingga mereka hanya mengetahui yang lahir dan berorientasi pada lahiriyah saja.

Iman itu butuh persaksian. Nabi diutus untuk membebaskan dari jahiliyah. Jahiliyah artinya otaknya pintar, namun hatinya kosong. Jangan memperolok orang lain, bisa jadi yang diolok lebih baik dari yang memperolok.

***

Berdunia untuk subhanaka, pancatan kokoh untuk kembali kepada Tuhan. Apapun yang kita lakukan berorientasi pada batin. Bukan pada lahir, karena hanya menjadikan beku, jumud. Gelas kosong jika dibawa kemana-mana pasti kotor (disusupi nafsu). Beda dengan yang sudah punya isi.

Zaman kebodohan (jahiliyyah) manusia pintar tapi hatinya kosong (bodoh). Sehingga nabi Muhammad diutus untuk menghilangkan kebodohan (menyempurnakan dengan ilmu batin). Islam mensyaratkan tidak ego. Pemutus malek wateg, pemutus pembaharuan itu perbaikan diri. Pemutus adalah karakter yang diperlukan.

Al-Anfal ayat 53 : Hal yg kejadian saat ini, ujian cobaan, ketidaknyamanan, kegundahan. Bahwa sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan mengubah sebuah kaum pada saat kaum itu tidak mengubah apa yang di dalam anfusnya (tidak mengenal Diri-Nya). Lebih sesat jalannya daripada hewan. Tidak mungkin mengenal anfus jika tidak mengenal fitrah.

AqimisSholah dzikir dalam keadaan dan semua situasi (nyambung dengan Tuhan dalam semua aktifitas). Tawakkal, bersandar, ‘alallah.

Hal yang mendasar dalam keberadaan agama, adalah keberadaan rasul. Karena manusia mengetahui agama dari kitab yang ditulis para nabi. Umat manusia mencermati kitab yang ditulis oleh nabi mereka di pelajaran. Logikanya karena kitab dari rasul, maka intinya ada pada rasul sendiri.

KhulafaurRasyidin, wakil/ khalifah nabi Muhammad. Yang memberi petunjuk supaya orang dalam proses, supaya orang di dalam terang (di dalam Nur Muhammad) karena perintah Allah, sampai yaumul kiamat.

Ta’ammara adalah orang yang mendapat wewenang hak sah diantara kaumnya, walaupun dia seorang budak. Dan jika tidak mengetahui, maka hidup kaum itu susah, dalam prasangka. Orang yang matinya tidak selamat, kecewanya terus-menerus, menyesal tiada henti.

Kalau kita percaya malaikat Mikail, maka mari kita memberdayakan diri. Jika kita percaya malaikat Jibril, maka menyelami keilmuan dengan baik, dengan menjalankan dawuh. Kita percaya kepada malaikat Israfil, berarti apapun yang dilakukan dalam kepasrahan, ada ketetapan. Percaya kepada malaikat Izrail, maka berlaku sebagai hamba, hati kita selalu dzikir (selalu ingat kepada Tuhan). Semoga senantiasa mendapat berberan berkah shawab dan pangestu Guru Wasithah. Amien.

Oleh :  : Imam JATAYU Jamaah AnNubuwah – Muhammad Sulaiman Kurdi Tanjung Alfaqiri Abdullah (Kyai Tanjung)
Penulis : Uswatun Khasanah
Penyunting : Jarwo 

 

KAJIAN SELENGKAPNYA

Part 1

Part 2

Part 3

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here