AnNafs, Magic Formula untuk Mengusung Perubahan

1
816
views

Tanjunganom, 19 Januari 2017 M / Al Arif 04 MHD

Berusaha membuka diri dengan senantiasa mengusahakan bersyukur kepada Diri Dzat Wajibul Wujud yang dengan sistematikanya menyediakan media untuk terhubung melalui pembawa ajaran Alkitab, Alhikmah dan Annubuwah. Selalu berusaha untuk memperbaiki diri terus menerus dengan niat dan tujuan yang menyertai. Karena niat dibarengi tekad dan sikap. Sedangkan tujuan dibarengi dengan metode yang kuat dalam penghambaan.

Seseorang sering mendengar tapi tidak menyimak, melihat tapi tidak mencermati, yang pada akhirnya terjebak dalam konsep dan pamer serta hanya pencitraan. Hal-hal itulah yang sedari dahulu hingga sekarang kasus terbesar yang telah kronis bangsa kita, Indonesia. Banyak orang yang memiliki kognisi yang baik namun tidak ada wujud nyatanya. Maka yang ada hanyalah murka Allah.

Itulah kenapa niat dan tujuan adalah hal yang mendasar, bagi orang yang berkehendak kembali kepada Tuhan (murid). Niat berkaitan dengan tekad dan sikap. Tekad adalah berani melakukan sesuatu dengan sungguh-sungguh. Sedangkan sikap, menunjukkan bagaimana niat tersebut dapat dinyatakan. Bila tujuannya adalah selamat, maka sudah menjadi keniscayaan, sudah menjadi keharusan untuk mengetahui metode-metode selamat. Jika tidak tahu, yaa… bertanya.

Pembiasaan juga butuh dibangun. Ciri berkembangnya seseorang adalah memiliki sikap peduli, memiliki sikap saling menghargai, menghormati, terlebih memaklumi sesama. Tidak ada Magic Formula yang dapat mengusung perubahan, karena perubahan itu berat. Baik perubahan diri, lingkungan maupun budaya. Magic Formula ada di dalam Annafs.

Kuatkan niat dan tujuan! Karena jika tidak ditata, maka sebanyak apapun informasi atau data yang kita dapatkan, tidak akan memiliki efek apapun terhadap diri kita. Sehingga, saat seseorang meletakkan niat dan tujuan yang salah, tidak akan berefek apapun, karena pada dasarnya seseorang sudah mempunyai frame/pikirannya sendiri. Bisa jadi menangkap tapi hanya akan menjadi wawasan dan wacana saja. Resikonya pada saat mental tidak berkembang tapi kognitifnya berkembang maka yang muncul adalah EGO. Untuk itu, kuatkan niat hijrah kepada Allah dan utusanNya! Dimulai dari hal yang sepele, yang sederhana, yang tidak muluk-muluk.

Seseorang atau sebuah lembaga tidak akan berkembang dengan baik (berkemajuan) saat melakukan sesuatu hanya berhenti pada tugas dan fungsinya saja dan tidak mengembangkan potensi yang dimiliki. Jika tidak ada kerelaan untuk melakukan aktifitas di luar yang tertulis, maka akan sulit untuk maju. Demikian pula halnya bila terlalu suka menolong, sampai lalai terhadap tugas pokok yang dimiliki, juga akan menjadi penghalang untuk bergerak lebih baik.

***

Saat ini banyak orang yang saling mengadu, menyebar kalimat kebencian dimana-mana, yang intinya selalu mencari kesalahan orang lain. Sedikit sekali yang melakukan tabayyun untuk meminta penjelasan dari suatu masalah. Yang ada malah mengomentari kesalahan orang lain. Dalam kondisi seperti ini, bagi orang yang berframe kemajuan, sejatinya peluang untuk berbuat kebaikan. Menyikapi hal ini, jangan larut (katut) oleh provokasi dari luar diri yang akan menjadikan kita ikut-ikutan, yang muaranya akan suka mengolok dan sebagainya.

***

Setiap orang memiliki kiblatnya masing-masing. Secara fisik semua menghadap ka’bah (muslim). Tapi kiblat yang sesungguhnya adalah apa yang ada di dalam dadanya masing-masing. Tegasnya niat dan tujuanlah yang menjadi kiblatnya. Itulah kiblatnya (saat melakukan aktifitas, apakah dengan berdzikir atau mengingat yang lain).

Apapun konsep otak dalam keyakinan beragama, atas apa yang dibaca. Kemudian harus mengubah pola yang ada, itu sangatlah berat. Apalagi pada saat Nabi Muhammad melakukan perubahan kiblat, yakni saat persiapan pelanjut terkait ajaran AnNubuwwah setelah nabi Muhammad wafat. Sehingga kebenaran tauhid yang mestinya terjaga itu, terkuya-kuya, terdhalimi, teraniya bahkan hingga terbantai.

حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَىٰ وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ

(QS. Al Baqarah 2:238)

Sholat wustho yang sebenarnya bukanlah sholat yang ditafsirkan sendiri, apakah sholat shubuh atau sholat isya’ yang merupakan sholat wustho. Tapi sholatul wustho adalah sholat berwasithah. Wa quumuu lillaah menuju Dia yang dikenali. Selalu ingat kepada yang dituju (khusyu’). Kuncinya di dalam sholat adalah khusyu’ (syarat mutlaknya harus punya ilmu). Karena sholat mencegah fakhsya’ wal munkar. Tidak ada yang namanya metode agar khusyu’. Khusyu’ itu ilmu, hadirnya hati menghadap kepada Dzat yang dikenali di dalam rasa hati (hati nurani).

Mengaku islam tapi perilakunya merusak, maka mizan (timbangan)nya berbicaralah, ditimbang bagaimana seharusnya dalam bersikap. Sehingga dikatakan dalam firmanNya إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ . Sesungguhnya Kami (Allah) telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Karena intinya manusia adalah rasa(sir). Pada saat sirr-nya mati maka ia tampak bergerak tetapi sesungguhnya mati, كَالأنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ jalannya lebih sesat daripada hewan.

Perilaku syahwat, kekuasaan adalah efek akibat intinya manusia tidak dikenali dengan ilmu. Allah telah menganugerahkan kenikmatan yang luar biasa dengan indera dan akal pikiran. Sehingga memiliki peluang besar untuk membuat amal kebaikan. Dengan tanah yang subur dan otak untuk kreatif. Intinya إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ adalah berfungsinya hati nurani terhadap ingatan kepada diri Tuhan yang dikenali di dalam rasa hati (dzikrullah). Saat itu telah disadari, maka فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ maka batinnya nyambung dengan dzikir dan secara lahir nggawe lakon pitukon, membuat tatanan syaro’a lakum, atau memanfaatkan potensi yang dimiliki. Lirabbika, untuk perilaku rubbubiyyah, berdunia untuk menjadi orang-orang robbaniyyin. Wanhar, berkorbanlah. إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الأبْتَرُ Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus.

Jangan gampang berprasangka kepada orang lain, tahu batasan masing-masing. Tegaknya AdDiin itu tidak terpecah belah. Kalau kita percaya bahwa Allah membuat utusan (kholifah) yang tahu persis terhadap kehendak Allah dan mengetahui metode untuk kembali kepadaNya, maka akan menjadi ringan (hidayah). Bila belum menyatakan, bukti persaksian nyata maka belum iman.

بَلْ هُوَ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ فِي صُدُورِ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ وَمَا يَجْحَدُ بِآيَاتِنَا إِلا الظَّالِمُونَ

(QS. Al Ankabuut: 49)

Huwa yang dimaksud adalah Dia yang dikenali, yang punya nama Allah itu bagi mereka yang telah dimasukkan ke dalam dadanya, ilmu (Al-Ilmu) yang menjadikan mengenal Tuhannya. Dan bagi yang mengingkari keberadaanNya tidak akan memberikan mudhorot sedikitpun. Gulowentah itu mutlak. Ayat nyataNya adalah Huwa. Kita tidak bisa apa-apa tanpaNya, maka membuat lakon pitukon setingkat mampunya masing-masing.

Fasholli itu bersandar dan tawakkaltu ‘alallaah. Berlatih untuk mengendalikan diri dalam penghambaanya. Jadikan sabar dan sholat sebagai penolongmu. Sholatlah di kedua ujung tepi dan di permulaan malam.

Kita butuh pejuang. Maka dari itu hindari perilaku-perilaku bahkan kalimat yang menyepelekan. Ganti dengan kalimat support, kalimat yang mendukung dan menguatkan. Bangun bebarengan, dinyatakan dengan guyub rukun, komunikasi, ilik-kinilikan, puji pinuji, tulung-tinulungan, pinter ngalah, musyawarah, dan lain sebagainya. Semoga kita mendapatkan berberan Shawab Berkah dan Pangestu dari Guru Wasithah. Allahumma Amiin.

==[]==

Oleh :  : Imam JATAYU Jamaah AnNubuwah – Muhammad Sulaiman Kurdi Tanjung Alfaqiri Abdullah (Kyai Tanjung)
Penulis : Uswatun Khasanah
Penyunting : Jarwo 

 

Kajian Selengkapnya

Part 1

Part 2

Part 3

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here