Humanisasi Air Kehidupan….Oh Manusia..!!

0
687
views

Ku menatap air telaga.
Tatap pandang tajam ke dalam,
Namun tetap tidak mau menampakkan rahasia dasarannya.
Aku tidak berputus asa, kuteruskan nyala tatapan dengan harapan terbelah.
Akan tetapi rahasia tetaplah rahasia yang tidak mungkin disibak oleh mata awam seperti halnya pemahaman “dalil” memang manusia lemah dan tidak bisa apa-apa kecuali bisanya hanya membuat salah dan dosa, namun tidak pernah aku bisa mengamalkannya…??

Kembali kutatap melepas tembus hanya pada permukaannya, aku tidak berusaha menatap tembus terawang ke dalam untuk membuka rahasia dasar telaga, mungkin memang rahasia baginya atau mungkin aib jika dibuka, kusadari ini. Butir-butir gelembung bergerak pelan namun hanyut dalam rangkaian sambung tidak terputus dengan pendahulunya yang telah lebih awal bergerak keluar telaga.

Kutanya gelembung butir-butir partikel yang telah bersenyawa sebagai bagian dari alam, “kemana mereka semua akan pergi meninggalkan tempat yang sudah di ketinggian, kenapa menjatuhkan diri di tempat yang akan menjadikan lebih rendah”. Aku hanya dicibir dengan wajah datar tanpa ekspresi, dilirikpun tampaknya sama sekali tidak, aku penasaran, kubertanya kembali, “Apa kalian merasa hebat sehingga berbondong-bondong turun ke bawah yang hanya akan menjadikan diri kalian dicibir terendahkan!!”. Kalian telah meninggalkan ekspektasi kehidupan.

Tiba-tiba mereka menjawab, “Wahai manusia, saya oleh Tuhan tidak disertakan kepala seperti kamu, sehingga saya bergerak lebih jernih walau tidak murni, apa yang kamu lihat dan rasakan, sehingga kamu berprasangka yang bukan-bukan perihal kami, kami bergerak mengikuti alur sunnatullah. Apakah kamu mengira kalau kami semua adalah butir-butir partikel yang sekedar pasangan senyawa dua hidrogen dan satu oksigen, apakah kecerdasan kalian hanya berhenti pada persenyawaan seperti ini. Tidakkah kamu melihat lebih dalam dan lebih luas lagi.

Wahai manusia belum saatnyakah kamu jenuh dengan ketololanmu, yang menjadikan kamu jahil dan lalim, yang hanya berkutat, berputar-putar pada kehidupan yang begitu-begitu saja. Apakah kamu tidak bisa melihat jika kami berkurang dalam dirimu maka kamu akan dehidrasi dan jika tanpa kami, kamu tidak akan hidup. Mati…..!!.

Apakah kamu mengira, diri kamu hebat dengan telah mampu membendung kami, kuasaku kamu kira sehingga kamu menangkapi kami, dan ketotolanmu adalah KuasaKu dan KekuatanKu kamu kira sehingga berprasangka, bahkan ini sungguh bagi kami adalah korupsi terbesar. Demikian pula prasangka kamu, dengan kami terjatuh ke bawah akan terlempar ke lembah kotor dan hina. Kamu salah besar..!!.

Aku bingung dibuatnya, apa maksud pembicaraannya, bukankah memang mereka sedang terjun bebas dari tempat ketinggian terjatuh ke bawah yang dasar telaganya saja kemungkinan besar masih di bawah dengan jatuhnya air, tapi kenapa mereka mengatai-ngatai aku tolol. Ada setitik api terbakar didalam dada – nggondhok!!.

Aku kembali terperanjat, “Hei.. Manusia..!! Kenapa?? Kamu marah saya katakan tolol, apa kamu ingin kami bergerak beraksi membuat makar pada tempat-tempat kalian tinggal sehingga hanyut porak poranda…., kapan kalian akan berhenti berprasangka kepada kami, sedang kalian selalu berprasangka diantara kalian sendiri, apa itu tidak bisa dikatakan tolol bin jahil..!!.

Wahai manusia…!! ini bukan kalimat emosional kami, kami tidak ada rasa dendam dengan kalian, kami tidak ada rasa iri dan dengki kepada kalian, dan kami tidak ada perasaan dan merasa lebih dengan kalian siapapun dan apapun itu.

Butir air melanjutkan kalimatnya, “Saya selalu mendengar celoteh kalian yang tampak hebat di telinga kalian, namun tidak bagi kami..!! Kalian terkagum-kagum di antara kalian sampai pada perilaku kultus dan fanatik. Kami heran, bukankah kalian sama dengan kami, adalah kemakhlukan..!!!”

Jika kalian belum sadar, namun faham itu sudah lumayan baik..!!. Saya akan beritahu kepada kamu, jangan pernah berprasangka kenapa kami turun mengalir ke tempat yang kamu anggap lebih rendah, wahai manusia …..kamu salah besar!!. Inilah akibat kalian selalu melihat dari sisi elemen dan faktor dari gejala-gejala luar dan terlalu sering berprasangka bahkan, terhadap diri kalian sendiri..!!.

Di penampungan ini, kami memang sudah sangat lega kami menerima keadaan ini, kami sabar dan tawakkal dan berserah diri atas ketetapan siapa yang akan mendahului yang bagi pandangan kamu, kami turun ke tempat yang lebih rendah, itu kamu artivisualkan saklek tanpa rasionalitas yang masuk akal tanpa sambung-mengkait dengan sebab-akibat. Itu bukan pilihan kami, kami tidak memilih bukan karena kami tidak ada pilihan. Namun hal demikian adalah ketetapan yang dengan lapang dada kami menerima sebagai kodrat irodat Tuhan kami yang mestinya juga Tuhan kalian… Wahai manusia..!! Wahai manusia, pejamkan mata kamu dan putar pupil untuk melihat ke arah dalam maka kamu akan melihat kebenarannya..!!

Di ketinggian ini, kami dalam tekanan grafitasi yang dibatasi bentang-bentang yang telah kalian buat untuk merekayasa kami, kalian jadikan kami untuk membangun kepentingan-kepentingan kalian, nafsu-nafsu kekuasaan kalian, dan inipun juga kami harus menurutinya karena ini memang sunnah Tuhan bagi kami, perlu kamu ingat ini adalah sunnah Tuhan. Seandainya sunnah Tuhan diperkenankan bergerak masif untuk leluasa mengingatkan, maka sudah kami lakukan sejak awal.

Jika kami bergerak berbondong-bondong menerjang yang di hadapan kami, yang menghalangi kami, maka akan dihancurkan. Bukan kami marah, karena memang kami tidak diciptakan untuk memiliki emosi namun hal demikian karena perilaku pantul dari kalian sendiri.

Kami hanya sekedar (jw. sak dermo) menjalankan perintah, tidak lebih. Kami diperintah berbaris bergerak berbondong-bondong seperti layaknya demontrasi yang kalian lakukan, namun demontrasi kami lebih dahsyat daripada yang kalian lakukan, kalian akan mengatakan kami makar namun tentu ini tidak kami lakukan. Kami bukan ciptaan yang haus akan kekuatan dan kekuasaan, walau menerjang apapun yang di hadapan kami, sehingga bahasa kalian, dikatakan semua hal kami tendang, kami singkirkan semua yang menghalangi laju kami, bahkan kalian katakan kami membinasakan. Hukum kalian tidak akan pernah dapat menyentuh kami sebab seharusnya hukum kalian yang menyesuaikan dengan hukum kami sebagai hukum sunnatullah.

Namun jika kalian mau mendalami jeli, maka pertama kami menjalankan perintah Tuhan kita. Kami diperintah untuk mengingatkan kepada kalian, dengan peringatan mulai dari yang lemah lembut sampai yang keras lagi kasar dan dahsyat serta hebat akibatnya. Kami diperintahkan untuk menggugah yang masih tertidur pulas untuk bangun dan bangkit untuk memiliki kesadaran, demikian pula saudara kami yang di atas dan saudara angin dan saudara-saudara kami yang kalian sebut sebagai alam.

Walau di ketinggian, kami dalam sadar sepenuhnya, bahwa kami harus turun mengalir ke bawah. Kami tidak ingin terbawa arus ego yang tinggi, kami tidak ingin berpecah belah yang merusak kesatuan persatuan kami sebagai keluarga zat cair. Kami turun ke bawah sebagai perilaku sunnatullah, dan kami bergerak sebagai aksi damai: membasahi tanah-tanah yang masih kering supaya basah; mengaliri celah-celah bumi supaya dapat kalian manfaatkan sebagai perilaku rahmatan lil’alamiina dari Tuhan; mengaliri sungai-sungai, sawah-sawah yang akan memberikan kehidupan tanaman-tanaman dan kami tidak pernah membedakan jenis tanaman; hewan, sekalipun hewan yang menjijikkan dan najis sekalipun, tetap kami sapa dan kami persilahkan menggunakan jasa kami, dan kami tidak pernah minta upah sepeserpun.

Wahai manusia..!! Luas mana, telaga dengan laut…??? Tidak usah kamu jawab..!! namun cukup kamu rasakan dan kamu hayati, dan bergeraklah..!!
Tinggi mana telaga dengan awan apalagi langit. Masihkah kamu mengatakan bahwa kami turun menuju ke tempat yang rendah, tidakkah kalian bisa menyesuaikan faham seperti kesadaran kami, bahwa kami turun menuju ke tempat yang lebih atas…. jauh keatas, ke titik yang mustahil dapat kalian daki dan juga muskil kalian sentuh.

Walau kami di tempat ketinggian kami selalu dalam kesadaran sunnatullah, kami tidak sombong, kami tidak arogan, kami tidak berdiri sendiri-sendiri, kami tidak saling menjatuhkan di antara kami, sungguh ini bisa kalian akal rasional dalam berpikir..?? Aliran kami jauh lebih banyak dari aliran-aliran yang kalian ciptakan, namun aliran kami mengalir ke tempat yang sama menuju satu titik “keluasan tanpa batas”, kami tetap sadar sebagai hamba yang feqir, maka kami bergerak mengalir yang tampak mata kalian ke bawah namun sesungguhnya jika kalian cerdas sesungguhnya justru kami menuju tempat yang lebih tinggi, lebih luas tanpa batas, ke tempat yang tidak akan mengubah dzat, sifat, watak dan perilaku menjadi najis walau bangkai dimasukkan ke dalamnya.

Disanalah..!!! Sesungguhnya kemuliaan itu, disanalah sesungguhnya kedamaian itu, disanalah sesungguhnya kemerdekaan yang sejati itu… Wahai manusia sudahkah kamu bisa menyadarinya, bahkan dari sanalah semua sumber kehidupan berada, dan dari sanalah gelombang-gelombang tercipta, sampai pada terbentuknya hujan juga karena dari sana.

Aku mencoba menyela, “namun tidakkah kalian juga bisa langsung menjadi uap sehingga menjadi gas yang langsung bergerak ke atas sebagai mendung dan pyur hujan..!!

“Iya memang bisa, namun tidakkah kamu menginginkan kesempurnaannya, sebab tanpa proses aksi realisasi sunnatullah hanya akan menjadi konsep semata, hanya retorika tiada henti, berbicara dengan berdalil dengan seribu ucap, sejuta kalimat dan semilyar ikhtiyar hanya akan berhenti pada pakaian pemikiran dan pakaian pemujaan, tiada sandaran yang menjadi perilaku ikhlas dan ketawakkalan. Kemudian hujah apa yang akan kami gunakan pada Tuhan kami dan atsar-sujud apa yang akan saya haturkan kepada-Nya”.

Jika hal demikian yang kami lakukan maka telah ada pengingat dari sunnatullah, “mengambil bagian dengan disertai keinginan dari hawa nafsu tanpa adanya perintah itu merupakan pengingkaran dan perpecahan. Sedangkan mengambil bagian tanpa disertainya hawa nafsu itu adalah kesesuaian dan penginfakan, sedangkan meninggalkannya merupakan riya’ (pamer) dan kemunafikan”.
Mungkin bagi kalian hal ini berat selama masih di dalam prasangka hati sanubari yang kemudian direkayasa akal pikiran yang kalian legalkan dengan rumus ilmiyah, walau sebenarnya sederhana dan mudah. Namun terserah kalian bagaimana memilih cara kehidupan kalian. Kami punya kehidupan dan kalian juga punya kehidupan.

“Apa anda tidak bisa melihat, kemudian memahami dan akhirnya menyadari..!! Bahwa telaga tempat kami tinggal ini adalah kenikmatan yang besar bagi kami dan bagi Anda, tidakkah ini mengharuskan untuk menjalankan sunnah-sunnah lainnya yang juga menjadi bagian dari sunnatullah”. Yaitu memberi kehidupan kemaslahatan yang banyak.

“Apakah kamu mengira bahwa tempat ini adalah tempat yang tinggi, dan ini yang ingin kami raih dan Anda berprasangka bahwa kami telah cukup puas dan senang. O… manusia Anda salah, tempat yang tinggi dan yang dimuliakan bukan disini tempatnya, tapi di sana, di tempat kediaman yang aman dan nyaman serta tentram dan bahagia, toh juga akan tetap berperilaku di sini, namun telah dalam kesempurnaanNya”.

Kami tidak akan pernah sempurna… Demikian pula mestinya Anda..?? tanpa dengan-Nya, maka kenapa kami mengalir ke tempat yang lebih tinggi dan luas tanpa batas, walau tampak mata lahir manusia turun mengalir ketempat yang lebih rendah.

Itulah Samudra laut tanpa batas yang akan mengubah “rasa” sehingga dangan rasa itu menjadikan kehidupan ini tidak hambar, hanya karena ada lautlah maka hidup ini tidak hampa namun penuh dengan nilai-nilai yang berada dalam makna.

Maka kenali keberadaanNya, selami nilai-nilainya, tanpa menguraikannya maka tidak mungkin air laut akan menghilangkan “dehidrasi” Anda. Menjadilah bagian dari-Nya maka akan Anda kenali jalan kesempurnaan-Nya.

Kyai Tanjung

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here