TERIAKAN JIWA

0
469
views

Jelas sakit… jiwaku berteriak dalam diam, mereka memandang kilatan mata sambil melirik jelas tertuju penuh penasaran melihat (jasad)ku berdiri tegap bagai patung yang tak pernah takut akan terik matahari dan hujan mengguyur tiada henti.

Kau tatap ringan tanpa debar hati namun menghanyutkan melekat pada siklus kehidupan kaum penanti kemakmuran dan keadilan.

Pernahkan kamu rasakan diantara gemerlap kehidupan yang telah mengungkung jeritan jiwa-mu yang tidak pernah berdiri tegak diantara kebencian dan kecintaan ataukan hanya berdiri sebagai kesenangan fatamorgana akibat tidak pernah mempekerjakan saraf neuron penghubung yang mengkait-sambung rasa, derita penantian jiwa yang terkungkung oleh jeritan nafsu yang semu.

Engkau pekerjakan detak jantung seolah mengikuti irama langkahmu, tinggalkan debar penghanyut yang telah mengamplas kekasarannya sehingga semua larut takjub dalam kesenangan diinjak pada pijakan lahan kehidupan kaum pejuang kemerdekaan sejati.

Caramu sangat istimewa, kau bawa bendera berbilah pedang bermata dua, anjangsana kitar lembah-lembah para penanti-kagum, yang hanya bisa memandang takjub sekaligus bertanya-tanya… ada apa ini..??.

Gerak-aktifitasmu cepat merambat kesemua arah media membicarakanmu selama yang bisa engkau tentukan. Menghalangi sikat tapis ludes tidak tersisa cepat tapi selamat.

Pakaianmu menggetarkan takjub memandang jelas menampakkan kealiman tiada tanding, kekayaanmu dapat menggerakkan pindah-geser jagat bagi mereka yang telah berada dalam tiket siklus kehidupan yang engkau telah genggam.

Lemah lembut dalam caci maki caramu menyampaikan pesan-kesan pengikat seakan engkau mengajarkan sikap malaikat kepada ranah damai dan tentram sehingga terbebas dari luka dalam hati para pengagum materi.

Lihat pakaianmu yang seakan memberikan kesan telah menjawab do’a yang selalu mereka munajatkan, seakan menutup peluang semakin tipis bagi pembebas jiwa-jiwa dalam pencarian kemerdekaan sejatinya.

Kau langkah-i karena sikap abai kepada derajat mulia kaum pembela nurani yang jelas telah mengajarkan sikap malaikat yang mengajarkan mandiri untuk berada di dalam ranah tentram dan damai dan merdeka sejati.

Dari tanah bumimu semua berawal ajaran kebenaran tersampaikan kepada jiwa-jiwa yang terjajah untuk menggapai kebebasannya. Namun dari bumi-mu pula semua kegalauan menerpa umat manusia dalam bersiklus menjalani hidup yang penuh dengan batu sandungan sakit tidak terperi.

Suaranya menggaung didalam ruang-ruang tersembunyi pun yang terbuka, tersembunyi dari mata-mata pembeli amanah namun terbuka bagi mata-mata materi, kekuasaan dan uang.

Pakaianmu tidak pernah basah keringat walau terik matahari menyengat seakan selalu mulus tidak berbekas walaupun telah berlaku kasar dalam bertindak semampumu kau menindas tanpa perantaraan akal sehat dan murni dan tanpa sekat.
Wajar saja pakaianmu tidak pernah berbau bekas basahnya keringat, kau ganti beralih yang baru dengan warna yang tidak berubah, semua mata memandang terbelalak teriak dalam diam…. malaikat..!!.

Jiwa-jiwa menggeliat dalam diam, berteriak-menjerit sontak..!! kembali diam.?? Mencemati keadaan dan situasi menunggu perkembangan.

Menunggu bekas-bekas keringat, menanti bercak-bercak roda berputar, menyorongkan hidung mencari bau-bau yang tersisa.
Telintas dalam pikiran, “keluar dari perut harimau masuk kedalam mulut buaya” namun kami tidak pernah bisa memastikan diantara harimau dan buaya, sekalipun bau desahan nafasnya sekalipun, kami mati rasa.  

Kemeja kamipun sama dari lembaran-lembaran kain yang dipotong dan dijahit seukuran tubuh-badan kami, dan kamipun nyaman dengan berpakaian seperti ini, kamipun juga menyadari bahwa pakaian terbaik adalah pakaian aurad ilahi.

Kemejamu bukan kemajaku, kami tidak memiliki kemeja sebanyak dan sebagus kemejamu, jika itu kemeja kami maka akan kami ajarkan bagaimana cara menggunakan kemeja dan dimana menggunakan kemeja sebagai pakaian hijab kehidupan bagi para pejuang kemerdekaan sejati murni.

Ku yakin ada sangat waktu yang akan menyadarkan kita semua, antara rasa, jiwa, raga, akal, organ dan manusia.

Saat ini kemejamu dan kemeja kami berbeda, baju jiwa yang membungkus aurat kefitrahan ilahi memang berbeda, namun jika maklum, agama bukan budaya, maka akan sama. dan apalah arti perbedaan jika kita sadar-maklum bukan itu orientasi kehidupan itu.  Pijakan kita sama-sama bumi.

Yang akan penuh dengan barokah Tuhan dari langit dan dari bumi jika berada di dalam keimanan dan ketaqwaan yang tidak dibatasi oleh ruang dan waktu serta jarak tempat tinggal.

Jiwa-jiwa kebenaran semakin kuat menggeliat, untuk dibebaskan dari kungkungan keserakahan kekuasaan dan kekuatan, pikiran tajam berpikir akibat keresahan yang silih berganti tiada henti, namun kebebalan jasadiyah yang telah berpakaian kehormatan dan nikmat bergelimang dalam gemerlap dunia masih cukup energi mengendalikan geliat jiwa-jiwa yang terpasung murung dalam keresahan dan kekhawatiran. Sampai kapan begini..!!

Semoga Tuhan segara tampakkan jalan kemerdekaan dan menampakkan Al-HaqNya sebagai kebanaran sejati, semoga kedamaian, ketentraman, kebahagian menyertai kamu, mereka, kami dan kita semua. Dan berada di dalam keselamatan yang sesungguhnya.

 

Kyai Tanjung

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here