SERIBU AKAL

0
530
views

Begitu cerdas, ketika banyak pengunjung melihat si Pungki bergelantungan sambil lambai comot kacang dari genggaman lawan sekaligus teman. Pergi menjauh dengan terus memperhatikan keadaan situasi adu cerdik mungkin juga cerdas.

Kuamati dengan kecermatan semampu mata bergerak tanpa mampu menembus sudut sebelah, namun tetap ku coba menaksir-naksir apa yang kira-kira sedang dia lakukan.

Datang si hely guk, yang membawa konsep anjing menggonggong ku tak peduli apa kata kafilah yang berlalu, abai situasi dan kondisi di situasi saing makin tajam. Siapa bertaji dia yang aman.

Memang, ku tau kalian sama seperti kami tidak pernah merasakan otak yang dikungkung di dalam kelas-kelas kecerdasan. Otak kami bergerak liar di atas rerumputan tanpa tangan-tangan yang mengatur kecuali saat dipandang tidak sedap karena liar memanjang tanpa beraturan.

Kami hanya bisa menunggu tanpa pikir apa yang bisa diperbuat-lakukan terhadap otak-otak liar yang berkeliaran di rerumputan tanpa bisa dibatasi oleh pandangan mata.

Mereka….. Hebat..!! Mereka…. luar biasa… Mereka cerdas..!! Lontaran-lontaran yang sering terdengar ngiang jatuh berserakan terbawa angin sepoi-sepoi yang tidak menghilangkan rasa panas sengatan api panas mereka.

Kami coba menyelami biduk lalu kiambang bertaut, berharap akal tidak lagi liar tanpa kekang kendali. Kami temui wajah-wajah seram menyeringai tampak manis manampakkan gigi untuk unjuk diri.

Memang.. kami tau mereka adalah otak-otak yang telah familiar dengan kelas-kelas yang hebat nan megah dengan gelaran yang menggetarkan langit dan bumi. Langit mendung air runtuh karena grafitasi bumi menjadikan bendungan tidak mampu menampung tangisan langit yang temaram suram… lunglai putus asa.

Mereka menawarkan gelaran otak hebatnya dalam kehidupan yang sesak bernafas diantara kebebasan udara angin berkeliaran menawarkan diri untuk dihirup bebas.

Nafas mereka bukan nafas kami, otak mereka bukan otak kami. Otak merekalah yang telah menerpa nafas kehidupan kami yang menginginkan ketentraman dan kedamaian sejati.

Otak kami masih berkeliaran bebas tanpa kendali melongok takjub sekaligus bingung ragu ada manusia hebat..?? telah meninggalkan nurani Ilahi dengan menawarkan ribuan otak mewujudkan gelaran negeri impian Ilahi.

Begitu berkelas ku dengar celoteh di sana-sini, ku dengar parlente mênénténg kepala ditawarkan sebagai solusi, kami tetap ragu bingung memilih apakah kepala itu juga untuk kami.

Apakah isi dari kepala itu sama dengan yang di usus besarnya yaa…??? Tanda tanya besar menyertai otak kerdil yang berkeliaran di atas tanah berserakan yang ingin menyatu dengan alam yang tidak menjadi orientasi pandangan mereka… jauh sekali..!!

Hely guk menggonggong tiada henti memanggil si tuan yang terus berlari membawa jarahan kemudian mengatakan berbagi.

Gonggongan panggil dikira menakut-nakuti sampai lari kulit ari terkelupas merah kemudian marah pada yang nunggu janji ditepati.

Akhirnya saling menggongong tiada henti, menunggu terkuras lemas tanpa daya siapa yang bertahan pada lingkaran gelang terluar ambeien

Kami tetap berjalan lurus memandang kedepan dengan banyak kedipan dengan harapan menebar cinta kasih yang hanya bisa berharap dengan membuka suku kata se mo ga ……..

Yaah semoga seribu otak yang ditawarkan berada dalam satu siklus kehidupan yang mewujudkan semoga dan semoga………

 

Kyai Tanjung

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here