AWAL MULA BERAGAMA ADALAH MA’RIFAT

0
729
views

Hanya yang takut kepada Azab yang bisa menerima penjelasan 35. Faathir 18

وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٞ وِزۡرَ أُخۡرَىٰۚ وَإِن تَدۡعُ مُثۡقَلَةٌ إِلَىٰ حِمۡلِهَا لَا يُحۡمَلۡ مِنۡهُ شَيۡءٞ وَلَوۡ كَانَ ذَا قُرۡبَىٰٓۗ إِنَّمَا تُنذِرُ ٱلَّذِينَ يَخۡشَوۡنَ رَبَّهُم بِٱلۡغَيۡبِ وَأَقَامُواْ ٱلصَّلَوٰةَۚ وَمَن تَزَكَّىٰ فَإِنَّمَا يَتَزَكَّىٰ لِنَفۡسِهِۦۚ وَإِلَى ٱللَّهِ ٱلۡمَصِيرُ ١٨

  1. Dan orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Dan jika seseorang yang berat dosanya memanggil (orang lain) untuk memikul dosanya itu tiadalah akan dipikulkan untuknya sedikitpun meskipun (yang dipanggilnya itu) kaum kerabatnya. Sesungguhnya yang dapat kamu beri peringatan Hanya orang-orang yang takut kepada azab Tuhannya; (dan mereka beriman) bersama dengan Al-Ghayb (Keberadaan DiriNya Tuhan), dan mereka mendirikan sholat. dan barangsiapa yang mensucikan dirinya, Sesungguhnya ia mensucikan diri untuk kebaikan dirinya sendiri. dan kepada Allahlah kembali(mu).

Al-Awwaluddin ma’rifatuHu. Pangkal pokok awal ber-addiin adalah makrifat kepada HU, kepada DIA.

Lima rukun islam yang pertama adalah SYAHADAH. Jika salah satu rukun islam yang lima ditinggalkan maka rubuhlah islamnya seseorang, dan yang pertama adalah syahadah, sebagai hal yang mendasar dan fondamental, dari “syahadah” inilah semua rukun baru akan terpenuhi.

Dan disetiap pelaksaan masing-masing rukun Islam setelah syahadah sebagai rukun yang pertama, mestilah terpenuhi terlebih dahulu, sebab semua dilakukan atau dikerjakan harus didalam “koridor” syahadah atau didalam persaksian rasa hati nurani. Berada di dalam ikatan persaksian.

Persaksian atas mengadanya Nabi Muhammad sebagai NurMuhammad dan persaksian atas MengadaNya keberadaan Tuhan Yang Allah NamaNya dengan “ ‘Alimul Ghaybi sehingga Wasy-syahadati “.  Ilmu yang menunjukkan keberadaan Tuhan; Al-nya adalah ism makrifat dan Ghayb-nya adalah mufrod atau tunggal atau satu. Jadi Al-Ghayb adalah Satu perihal Ahad-Nya Diri Tuhan yang Ghayb Mutlak keberadaan Mutlak untuk dikenali di dalam rasa hati nurani dengan “ilmu (Keberadaan) Al-GhaybNya. Sehingga dapatnya diingat-ingat di dalam rasa hati nurani. Dan berfungsilah hati nurani itu.

Dan persaksian bahwa Nabi Muhammad dengan sebenar-benarnya dan sesungguhnya adalah atas mengadanya “NUR-MUHAMMAD”. Keberadaan beliau N. Muhammad SAW adalah mutlak karena Nur-Muhammad sehingga menjadi jelas dan terang serta gamblang atas makna “hidayah” karena keberadaan semua nabi dan Rasul ini adalah “bil-Huda” membawa al-huda, sehingga manusia berada di dalam hidayah Allah. Di dalam cahaya-Nya. Di dalam terang hidup.

Inilah semua Rasul dan Nabi Allah diutus sebelum nabi Muhammad demikian pula nabi Muhammad SAW, supaya umat manusia berada di dalam persaksian senyatanya atas keberadaan INTI DAN ESENSI KEHIDUPAN DALAM PERSAKSIAN RASA HATI NURANI  terhadap Keberadaan DIA yang Al-Ghayb Yang Allah NamaNya.

Sebab Syahadat adalah bersaksi. Ikatan yang terbangun karena dalam penyaksian yang sesungguhnya, bukan “sekedar” ucapan lisan kalimat bersaksi, “asyhadu an laa ilaaha illallahu wa asyhadu anna Muhammadar-Rasulullah”.

Bersaksi atas keberadaan Rabb, Tuhan Yang Allah NamaNya, Yang walau Al-Ghayb, tapi Mutlak keberadaanNya, Mutlak wujudNya, dekat sekali KeberadaanNya bahkan dengan urat nadi yang nempel di leher dan dengan putihnya mata sekalipun masih dekat Tuhan bahkan, tanpa dengan DIA maka nyata manusia tidak bisa apa-apa. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali daya dan kekuatan Tuhan. Maka kenalilah DIA.

Sekali lagi syahadat adalah “BERSAKSI” pernyataan kalimat yang terlisankan akibat telah mengalami persaksian dengan ‘alimul-Ghaibi wasy-sayahadati. Konsekuensi “persaksian” ini adalah ketentraman dan kebahagiaan yang sejati dan yang sesungguhnya. Dan menjadi jelas dan terang; apa dan bagaimana serta siapa yang dituju; apa yang diperjuangkan; apa yang ditegakkan. Apa yang mesti dimerdekakan sehingga supaya merdeka sejati, merdeka lahir dan merdeka batin.

Tanpa persaksian rasa hati nurani atas MengadaNya Al-Ghaybullah maka hanya lisan yang terucap yang digerakkan karena memori akal pikiran, hanya karena konsep-konsep tulisan dan pendapat. Perspektif-perspektif. Aksioma-aksioma, sehingga menjadi Tuhan persepsi. Tuhan konsep. Tuhan katanya karena dari katanya. Tuhan yang dipersepsikan, Tuhan yang dikonsepkan sesuai dangan akal pikiran.

Supaya di dalam persaksian dan supaya hati berada didalam “ingatan” Dzikrullah maka di dalam ayat telah tegas difirmankan,  dalam QS. Al-Fath 1-4:
1. Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu pembuka (hati nurani) dengan pembukaan yang nyata (atas Mengadanya Al-Ghaybullah);
2. Supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan nikmat-Nya atasmu (lahir beraktifitas berdunia dan yang batin mendzikiri Keberadaan-DIA) dan memimpin kamu kepada jalan yang lurus (yang lahir menjalankan ketentuan syareat baik yang mahdhoh dan yang ghoiru mahdhoh, muamalah, termasuk bersosial, bermasyarakat, membagusi akhlak, saling membantu, saling menolong, menjaga, meningkatkan: kesatuan dan persatuan bahkan, bertata negara; dan yang batin yakni yang di dalam rasa hati nurani selalu mengingati keberadaan Diri Tuhan Yang Al-Ghayb Yang Allah NamaNya dan dijadikan tempat tujuan, tempat bergantung, dan tempat kembali; setelah ditanyakan kepada yang berhak dan sah, serta wenang membuka “jati diri” “insun” Innanii Ana Allah, laa ilaaha illa Ana”);
3. Dan supaya Allah menolongmu dengan pertolongan yang kuat (karena selalu dalam kesadaran bersama dengan Dia);
4. Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin (berimannya bersama dengan Al-Ghaybullah) supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (aktifitas yang dilakukan menjadi nilai ibadah). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

Dan menjadi jelaslah bahwa kemutlakan adanya “pembawa Risalah kerasulan yang Dia mengutus utusan-Nya dengan bil-huda. Supaya jelas perihal hujah hidayah, sehingga dengan Al-Huda itu terang didalam cahaya. Sehingga menjalani kehidupan dapat berjalan dalam Cahaya-Nya. Maka carilah keberadaan yang menunjukkan MengadaNya Keberadaan Tuhan walau Al-Ghayb namun dekat sekali KeberadaanNya itu, dapat dikenali di dalam rasa hati nurani jika digurukan kepada Guru yang Haq dan sah serta wenang menunjukkan.

Kesadaran hakekat diri dalam persaksian MengadaNya Ahadiyat Tuhan. Al-A’raf 172

وَإِذۡ أَخَذَ رَبُّكَ مِنۢ بَنِيٓ ءَادَمَ مِن ظُهُورِهِمۡ ذُرِّيَّتَهُمۡ وَأَشۡهَدَهُمۡ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ أَلَسۡتُ بِرَبِّكُمۡۖ قَالُواْ بَلَىٰ شَهِدۡنَآۚ أَن تَقُولُواْ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ إِنَّا كُنَّا عَنۡ هَٰذَا غَٰفِلِينَ ١٧٢

  1. Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”

Itba’ harus dengan Ilmu supaya tidak dalam prasangka. 53. An Najm 28

وَمَا لَهُم بِهِۦ مِنۡ عِلۡمٍۖ إِن يَتَّبِعُونَ إِلَّا ٱلظَّنَّۖ وَإِنَّ ٱلظَّنَّ لَا يُغۡنِي مِنَ ٱلۡحَقِّ شَيۡ‍ٔٗا ٢٨

 

Tanjunganom, 2 Maret 2017 / 2 AnNida’ 04 Mhd

Dari yang hanya sak dermo nuhoni Dhawuh

 

Moh. Sulaiman Kurdi Tanjung Alfaqiri Abdullah

 

VIDEO SELENGKAPNYA

 

Tonton video Kajian AnNbuwwah lainnya pada channel youtube “Jatayu TV”

https://www.youtube.com/channel/UCJbJiufc3P91ySotLnFaHJQ

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here