NEGERI INI HARUS DIPIMPIN OLEH SOSOK HAMBA YANG RABBANI

0
1229
views

Usia kemerdekaan yang telah memakan waktu 61 tahun ternyata masih tetap saja berjalan di tempat. Kalaulah tidak mau dikatakan justru malah amburadul. Yang amburadul adalah semangat dan jiwanya. Mentalnya. Moralnya. Spiritualnya. Tidak hanya amburadul bahkan hancur dan luluh lantak jadi bancakannya nafsu dan watak akunya. Betapa tidak. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa secara nyata telah berubah menjadi keuangan yang maha kuasa. Kemanusiaan yang adil dan beradab berubah menjadi kemanusiaannya manusia yang keropos. Berselingkuh dengan kepura-puraan, kezaliman, dengan kroni, kolusi, korupsi, perselingkuhan, maksiat. Persatuan Indonesia berubah menjadi persatuannya kepentingan-kepentingan sementara. Persatuan semu dan pura-pura. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan berubah menjadi kerakyatan yang dipimpin oleh wacana-wacana, teori-teori, angan-angan kosong, rayuan-rayuan dan tipuan-tipuan. Keadilan sosialnya telah berubah menjadi serakah dan angah-angah dengan kesombongan dan keangkuhan.

Bermacam petaka, silih bergantinya bencana dan bermacam kerusakan dan kehancuran sebagai peringatan dari Yang Maha Kuasa, sama sekali mentah. Siapapun, apa rakyat apa pemimpinnya, cerdik pandainya, teknokratnya, dan semua, tetap berpijak pada tempatnya. Berpijak pada kokohnya nafsu dan watak akunya. Tetap saja nggugu benere dewe-dewe. Ngalap cukup penemune dewe-dewe. Ngendel-ngendelake wicarane dewe-dewe. Wujud jiwa raganya yang oleh Allah dilengkapi dengan akal pikiran dan hati, pendengaran dan penglihatan, sungguh telah menjadi hijab yang gelap dan menggelapkan terhadap mengadanya kebenaran sejati (yang secara murni netes langsung dari Ada dan Wujud DiriNya Ilaahi, yaitu fitrah jati dirinya manusia atau benih ghayb sucinya manusia yang dicipta oleh Allah dari Fitrah DiriNya Yang Maha Suci, disimpan Allah di dalam rasa hati).

Sebagaimana maksud firman Allah dalam QS. Al Hadid ayat 13 bahwa di antara mereka diadakan dinding yaitu berupa wujudnya jiwa raga manusia. Dinding ini mempunyai pintu. Di dalamnya pintu, yakni sirr atau rasa, adalah rahmat (Nya Allah Swt). Tempat bertemunya fitrah manusia dengan FitrahNya Allah Swt. Inilah yang ditutup oleh gelapnya  bagian lahir yang menjadi penyebab azab.

Lahir yang mestinya dipersiapkan dan dikelola supaya menjadi tunggangan yang patuh dan tunduk menuju rahmatNya Allah yang ada di dalam rasa, yaitu kembali kepada fitrah jati diri yang adalah juga kembali bertemu dengan DiriNya Ilaahi Yang Maha Halus dan Maha Terpuji, justru malah melawan dan menentang. Maka hanya azab Allah-lah yang pasti menjadi bagiannya.

DENGAN BERKAH DAN RAHMAT ALLAH YANG MAHA KUASA DAN DENGAN DIDORONGKAN OLEH KEINGINAN  LUHUR

Itulah pernyataan kemerdekaan bangsa Indonesia. Selama ini, telah 61 tahun dan berapa lama lagi, hanya kalimat kosong melompong.

Firman Allah dalam QS. Al A’raf ayat 96 dengan tegas menyatakan bahwa : jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami limpahkan berkah dari langit dan bumi kepada mereka, tetapi (karena ternyata) mereka mendustakan (benarnya beriman dan bertaqwa)  itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya itu.

Sebagaimana telah amat sering dijelaskan bahwa iman itu adalah ma’rifatun wa tashdiqun. Yaitu mengetahui Ada dan Wujud DiriNya Dzat Allah Yang Al-Ghayb, jelas wajib wujudNya. Jelas  dekat sekali dalam rasa hati. Jelas meliputi dan menyertai hamba-hambaNya. Maka jelas sangat mudah dan indah selalu diingat-ingat dan dihayati dalam rasa hati dimana saja, kapan saja dan sedang apa saja.

Mengenali dan mengetahui DiriNya Dzatullah Yang Al-Ghayb dari yang berhak dan sah menunjuki. Maka harus wa tashdiqun. Membenarkan mengadanya sosok hamba Allah yang dikehendaki Allah dengan petunjukNya supaya mewakili tugas dan kewajiban Nabi Muhammad SAW yang hak-haknya tidak boleh putus sama sekali, dalam sebuah rantai silsilah, secara gilir gumanti hanya satu di dunia, hingga kini sampai kiyamat nanti.

Dan taqwallah adalah mujtahidun fi ’ibadatihi bishidqin wa ikhlashin. Yaitu bersungguh-sungguh menunaikan ibadah kepada Allah dengan benar dan ikhlas.

Benarnya ibadah kepada Allah adalah itba’. Itba’ kepada Nabi Muhammad SAW dan atau kepada para wakil-wakilnya, qaulan wa fi’lan, ‘ilman wa ‘amalan, dhahiran wa bathinan, tsumma bimuraqibati wahdati al-wujud tsaniyan. Apabila tidak demikian, sama sekali tidak akan didekatkan oleh Allah kepadaNya. Apalagi ditarik fadhal dan rahmatNya dipertemukan dengan Ada dan Wujud DiriNya Dzat Yang Al-Ghayb Yang Maha Kekal dan Abadi. Selamat dengan rasa bahagia kembali kepadaNya.

Dan ikhlas. Bersih. Tandange panggah nanging ora wani ngaku.

Adapun orang-orang yang putih berseri wajahnya, maka mereka berada dalam rahmat Allah; mereka kekal didalamnya” (QS. Ali Imran 107).

Yang putih berseri adalah hakekat wajahnya. Hakekat wajah manusia adalah rasa yang di dalamnya ada intinya manusia, yaitu Nur Muhammad, Cahaya TerpujiNya Dzatullah yang adalah FitrahNya Allah dan tempat asal fitrah jati diri manusia dicipta oleh Allah. Lalu mencahaya denganNya. Maksudnya rasa hati lalu berusaha terus menerus untuk mengingat-ingat dan menghayati Nur Muhammad yang adalah Wajhullah.

Kullu syaiin halikun illa wajhahu”. Segala sesuatu hancur kecuali wajah Allah.

Maka jika sekiranya terus saja tetap tidak butuh secara yakin dan nyata mengenal dan mengetahui mengadanya Wajhullah yang secara hak dan sah hanya diperoleh dari sosok hamba yang dikehendaki Allah mewakili tugas dan kewajiban Junjungan Nabi Muhammad SAW yang hak-haknya tidak boleh terputus sama sekali sampai kiamat nanti, kehancuran-lah yang pasti diterima oleh siapa saja. Hidupnya di dunia rugi dan sia-sia.

Di akhirat digiring dalam keadaan buta ke tempat sesat selamanya.

SOSOK HAMBA YANG RABBANI

Sosok hamba yang Rabbani adalah hamba yang dikehendaki dengan hidayah oleh Allah ilmunya sempurna. Demikian pula dengan taqwanya.

Ilmu yang sempurna adalah ilmu mengenai Ada dan Wujud DiriNya Dzat Al-Ghayb Yang Maha Sempurna yang menjadi ”inti” manusianya sendiri atau ”butiran iman” yang selalu membutir dalam rasa hati.

Ilmu yang sempurna menjadikan taqwanya sempurna. Yaitu dengan kesadaran yang sangat tinggi jihadunnafsinya selalu dijaga agar kal-mayyitinya di hadapan yang berhak dan sah mensucikan dirinya selalu memperoleh ampunan dan ridhaNya Allah Swt.

Sosok yang hamba Rabbani ini sekaligus pengamal, penjaga dan pembela kebenaran ajaran Allah tentang al-Kitab dan al-Hikmah dan al-Nubuwah.

Yaitu Kitabun Maknun. Kitab yang terpelihara di Lauh Mahfudz. Kitab yang ditulis Allah dengan Nur Muhammad. Ditulis untuk dibaca mengadanya Nur Muhammad supaya dengan mudah selalu diingat-ingat dan dihayati dan dijadikan tujuan tempat kembali. Karena itu tidak akan dapat menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan oleh Allah.

Al Hikmah adalah hidayah Allah yang menjadikan hambaNya pecinta Hak MutlakNya Allah Swt yang berada di dalam kalimah nafi dan itsbat: Laailaaha illallah.

Barang siapa yang diberi hikmah oleh Allah maka ia telah diberi kebajikan yang banyak.

An-Nubuwah adalah Shirathal-mustaqim. Dhahiruhu syareat wa bathinuhu hakekat. Yaitu perintahnya Guru Wasithah mengumpulkan syareat dan hakekat.

Hamba yang cahaya (NUR)NYA BERSINAR DAN YANG DIMATIKAN

Orang-orang yang cahaya (nur)nya bersinar terang dan yang dimatikan cahayanya adalah sebagaimana firman Allah dalam QS. Al Hadid ayat 11-15.

Siapakah yang mau meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik.
Maksudnya wani rekasa, wani kangelan, wani kelangan guna membuktikan lakon dan pitukon.

Maka Allah akan melipat gandakan balasan dari pinjaman itu, dia akan memperoleh kanugrahan yang mulia.
Maksudnya dimuliakan oleh Yang Maha Mulia merasakan tentramnya dan bahagianya didekatkan Allah pada DiriNya.

Yaitu di hari ketika kamu melihat orang mukmin laki-laki dan perempuan dengan cahaya mereka yang bersinar dihadapan mereka dan di sebelah kanan mereka.
Cahaya itu adalah Cahaya TerpujiNya Dzatullah.
Itulah yang menampak nyata di dalam rasa hatinya.

Maka hanya itu (Nur Muhammad) yang selalu diusahakan untuk diingat-ingat, dihayati dalam segala aktifitas hidupnya dan hanya itu pula (Nur-Nya) yang dijadikan tujuan tempat kembali.

Maka hanya itu pula yang ada di sebelah kanannya.
Maksudnya yang selalu diutamakan dalam menjalani hidup dan kehidupannya.

Mereka inilah yang memperoleh dan menerima berita gembira dengan jannah (merasakan indahnya) hidup dengan sungai-sungai dibawahnya.
Maksudnya, sejuk, damai, tentram, merasakan bahagia yang sejati.
Kekal didalamnya. Di dalam pelukan Tuhan.

Dzaalika Huwa al-fauzu al-’adziim.
Itulah Dia (maksudnya Dia-lah Dzat Yang ditetapkan Ada dan WujudNya di dalam rasa hati) Sang Pemberi keberuntungan yang agung.

Pada hari ketika orang-orang  munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang beriman: ”tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebagian dari cahayamu”.
Dikatakan kepada mereka: ”kembalilah kamu ke belakang dan carilah sendiri cahaya itu”.
Lalu diadakan di antara mereka dinding yang mempunyai pintu; di dalam batinnya rahmat dan dibagian lahirnya azab.
Orang-orang munafik itu memanggil orang-orang mukmin seraya berkata:
”Bukankah kami dahulu bersama-sama kamu?”.
Orang-orang beriman yang Cahaya terpujinya bersinar itu menjawab:
”Benar, tetapi kamu mencelakakan dirimu sendiri dan menunggu-nunggu (kehancuran kami) dan kamu ragu-ragu serta ditipu oleh angan-angan kosong sehingga datanglah ketetapan Allah;
Yaitu ketetapan menjadi sesat.
Dan kamu telah ditipu mengenai Allah oleh (nafsumu sendiri) yang amat penipu.

Maka pada hari ini tidak diterima tebusan dari kamu dan tidak pula dari orang-orang kafir. Tempatmu ialah neraka.
Yaitu gambaran tempat sesat merasakan betapa sengsaranya hidup di tempat sesat bersama semua makhuk Allah yang telah nyata-nyata berani menentangNya.
Dia-lah tempat berlindungmu.
Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.

Penjelasan ini adalah Cahaya Ilaahi sendiri.
dariNya dan untukNya.
Menyambut bersinarnya Cahaya TerpujiNya memenuhi jagad raya dan jagad manusia yang ada di dalam dadanya.
Menyapu sebersih-bersihnya semua jalan sesat dan semua yang buta mata hatinya.

Pondok Sufi, awal September 2006

Imam Gerakan Jamaah Lil-Muqorrobin,

 

KH. Muhammad Munawwar Afandi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here