Puisi Anak Bangsa(t)

0
474
views

Ojok podho kaget karo puisi “intermezo” ‘anak bangsa (t)’ yaa…. Jangan dianggap kotor-misuh, ini dimaksudkan konteks. Wong wujud nafsu jiwa raga “si Penulis” ini  juga sangat “sulit” dikendalikan, maunya juga munclak-munclak. Ternyata benar!!! bahwa nafsu ego keakuan itu berat untuk dikendalikan maunya menang terus, maunya tidak ada yang menghalangi dan maunya semua terpenuhi, maunya semua orang dikuasai, ditundukkan. maunya sombong dan arogan. maunya masih banyak lagi…. teruskan sendiri.

Demi bangsa dan negara mereka dan kami berjuang
Segala iming-iming dikatakan “tidak” sekalipun uang
Mereka punya mau, kami punya kepentingan
Kami berbuat demi negara dan bangsa tanpa halangan

Mereka dan kami berbicara di setiap waktu dan hari
Meraih asa, melontarkan pembicaraan tiada henti
Berharap semoga pemilih “sadar”, kami berarti negeri
Semoga Tuhan mengijabahi.

Aku cari modal ke sana ke mari ke semua
Mencari dukungan yang simpatik kepada kami
Telah pasti kuperoleh dukungan demi bangsa
Kami yakinkan untuk menepati janji-janji

Namun kami juga berharap Tuhan mengabulkan
Karena kami berjuang mereka juga berjuang
Dalam satu kalimat, “kita sama-sama berjuang untuk nagari”
Siapa yang menang berarti itu pasti karena pilihan Tuhan

Sulit kami terima kekalahan
Berbagai cara telah kami tempuh untuk kemenangan
Habis energi dan anggaran yang telah kami tebarkan
Terasa sakit dalam ruang dada dan tidak habis pikiran

Kami mulai menghujat, mengolok dan cari celah kekurangan
Kami munajat “Ya Tuhan, kami kan berjuang untuk negeri”
Kami berteriak, “Kenapa Engkau tidak kabulkan?”
“Padahal telah kami lakukan ibadah siang dan malam”

“Kenapa mereka, lagi-lagi mereka, ada apa dengan mereka”
“Kenapa bukan kami, apa salah dan dosa kami”
Mereka berkata, “untuk bangsa dan negara”
Kami juga demikian adanya!!!
Mana keadilan-Mu yang katanya Kuasa???.

Ohh. Apa benar ini sesungguhnya, mereka dan kami sama saja,  bangsa(t)
Yang telah kami dan mereka kemas menjadi anak bangsa(t)
Padahal kami adalah penca(u)ri keadilan, bangsa (t)
Ternyata kami dan mereka sama saja, bangsa (t)

Kesadaran kami mulai berbicara namun berat terasa, bangsa (t)!!
Akhirnya kami harus manca(u)ri jalan untuk berjuang, bangsa (t)!!
Sampai kapan bangsa(t) ini Engkau pilih
Akhirnya kami berhenti ibadah dan menyembah, bangsa(t)!!

Kenapa kami terasa sulit untuk lapang dada, Bangsa(t)
Kenapa kami menjadi buntu dan tidak bisa berpikir jernih dan murni, bangsa(t)
Kenapa dada ini terasa sesak dan sulit untuk bernapas, bangsa(t)
Kenapa ini, kenapa itu, kenapa begini kenapa begitu, bangsa(t)

Kami sudah tidak peduli neraka atau surga, bangsa(t)
Kami sudah tidak peduli apa itu agama, bangsa(t)
Kami sudah tidak peduli selamat atau tersesat, bangsa(t)
Biarlah bangsa(t) ini terpuruk, jatuh terpelanting
Kami tidak peduli, bangsa(t)

Bangsat…bangsat….bangsat…. karena kepentingan kami tidak tersalurkan..!!!
Bangsat…bangsat….bangsat…. inilah karena kami tidak memperolah kehormatan dan kemuliaan..!!!
Bangsat…bangsat….bangsat…. inilah akhirnya wiridan kami sebagai orang orang yang kalah..!!!

Semua orang melihat kami tegar, kami tegak kami lebih tawadhu’ selalu berpakaian ala kyai dan ulama’ dan bawa tasbih.
Namun mereka tidak mengetahui bahwa yang kami wirid adalah:
bangsat…bangsat…bangsat…bangsat…bangsat…bangsat…bangsat…

Saya yakin, pasti ini bukan yang sekarang membaca!!
Saya yakin ini adanya hanya di legenda
Saya yakin ini adanya di film dan di sinetron karena sutradara.
Saya yakin ini bukan karakter Anda!!
Merdeka!!!

JAPO untuk Nagari

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here