Merdeka? Sudah Merdekakah Saya? Bpk. Soekarno, “Perjuangan Kamu Lebih Berat!!!” Bagian 1

1
1295
views

Penataan upaya menuju terwujudnya komunitas “BALDATUN THOYYIBATUN WA-RABBUN GHAFUR”

Bergetar saat mendengar kalimat Bpk Soekarno, ““perjuangan yang kami lakukan untuk mengusir penjajah telah selesai namun, perjuangan kalian akan lebih berat karena akan melawan bangsa kamu sendiri”.

Perjuangan sebenar-benarnya tidak sekedar mengisi kemerdekaan namun meneruskan perjuangan guna mencapai kemerdekaan sejati, kemerdekaan yang sesungguhnya.

Bukankah kemerdekaan bangsa pada tahun 1945 kalimatnya adalah ‘telah sampailah kepada saat yang berbahagai menghantarkan rakyat Negara Indonesia “ke depan” pintu gerbang kemerdekaan’. Hal ini berarti merupakan kebutuhan untuk melanjutkan perjuangan para pendahulu kita, supaya masuk ke dalam sehingga “di dalam” gerbang kemerdekaan, sebab sesungguhnya kemerdekaan sejati itu tidak berhenti hanya pada kemerdekaan lahiriyah. Kemerdekaan yang mesti diperjuangkan oleh masing-masing pribadi setiap dari diri. Sampai terwujudnya merdeka lahir dan merdeka batin.

Kemerdekaan akan terproses menuju kemerdekaan yang sejati dan memanusiakan manusia seutuhnya maka, yang perlu dibangun adalah bersatu (kesadaran satu bangsa, satu tanah air, satu bahasa, realisasi kesadaran ummatan wahidah), berdaulat (kesatuan persatuan tanpa memperhatikan perbedaan warna kulit, bahasa , adat istiadat bahkan keragaman ini sebagai kekayaan, dan menyatukan keutuhan antara kelahirannya dan kebatinannya); adil (pandai mengadili diri sendiri) dan makmur (memakmurkan bumi Allah: menjaga, melestarikan dan memberdayakan).

Kemerdekaan tidak akan mungkin dapat sampai dan terwujudkan jika tidak disertainya perilaku akhlak, adab dan perilaku serta sikap dan komitmen mandiri, berdaulat dan berintegritas, serta penuh dengan tanggung jawab. Hal ini telah terumuskan dalam “ideologi” PANCASILA yang luar biasa.

Hal ini tentu dipengaruhi oleh kebiasaan-kebiasaan yang dibuat, melingkupi iklim kerja “aksi” yang ruhnya adalah pada perilaku “peduli operasional”. Semua proses aktifitas dan aksi yang dilakukan perlu memiliki “daya” aksi membangun kesadaran “ibadah”, sehingga instrumen quality control mencakup internal dan eksternal, lebih bersifat “saling” mengembangkan dan meningkatkan kualitas kesadaran ruhiyah dengan berperilaku syareat pada wilayah lahiriyahnya. Guna membangun sebanyak-banyaknya jiwa-jiwa pejuang yang berjuang demi tegaknya Kebenaran Al-Haq min Robbika.

Perilaku “Pejuang”, yang ber“Aksi”, menuju kemerdekaan sejati dan “Keselamatan” adalah usaha terwujudnya sebuah sistem dan pola yang dapat menghantarkan ke dalam gerbang kemerdekaan sejati murni, terwujudnya pola dan sistem yang dijalankan memerlukan sikap yang terbuka, komunikatif, musyawarahan, dengan perilaku respek, tanggap dan peduli guna memperkecil jarak kesenjangan antara harapan dan kenyataan dengan praktek aksi yang dilakukan dan perlu kontemplasi atau perenungan terhadap kesesuaian dengan ranah-ranah yang tersampaikan selama ini.

Dan saat dalam sebuah komunitas semakin sedikit para pejuang-pejuang yang beraksi pada perilaku “peduli operasional”, semakin sedikit jiwa-jiwa pejuang yang bergerak dan beraksi semakin sedikit yang berkesadaran “penghambaan-pengabdian” maka, akan semakin besar menuju dalam keadaan krisis bahkan, terjadinya krisis multi dimensional tinggal menunggu waktu sebagai “bom” yang sewaktu-waktu meledak.

Memang saat dikobarkan perilaku berjuang perlu pemetaan dari hasil identifikasi, supaya mengetahui apa yang mesti diperjuangkan supaya tidak gagal faham dan gagap terapan operasional. Kemerdekaan memang mesti diperjuangkan oleh setiap dari individu masing-masing. Perjuangan besar yang dilakukan oleh para pendahulu kita, para leluhur yang telah memperjuangkan bangsa Nusantara untuk berdirinya negara Indonesia dengan mengusir penjajah dari wilayah tanah air Indonesia, tampaknya masih berhenti pada perjuangan lahiriyah yaitu supaya terbebas dari penjajahan bangsa asing. Sehingga beliau, Bpk. Soekarno dengan lantang menyampaikan, “perjuangan yang kami lakukan untuk mengusir penjajah telah selesai, namun perjuangan kalian akan lebih berat karena akan melawan bangsa kamu sendiri”.

Perjuangan yang “luar biasa” heroiknya oleh para pendahulu kita, yang telah berjuang dengan mengorbankan, harta benda, jiwa raga oleh beliau, Bpk. Soekarno masih dikatakan, “perjuanganku belum seberapa, perjuangan kamu lebih besar”. “Deg-getar” untuk DITERUSKAN DAN DILANJUTKAN tidak sekedar mengisi kemerdekaan, namun lebih dari itu perjuangan terwujudnya kemerdekaan sejati merdeka lahir dan merdeka batin. Hal ini tidak kalah pentingnya untuk diperjuangkan secara totalitas.

Supaya mengetahui apa yang sesungguhnya diperjuangkan guna mencapai kemerdekaan yang sesungguhnya maka, pengetahuan mengenai “diri” mengenali hakekat kedirian, perihal eksistensi sesungguhnya manusia adalah “jembatannya”. Hal ini supaya identifikasi elemen dan ranah kemanusiaan dapat direalisasikan. Pengetahuan mengenai “asal” penciptaan perihal keberadaan fitrah manusia yang asal fitrah manusia dari Fitrah Allah Sendiri, diperjuangkan supaya terbebas dari kepentingan-kepentingan nafsu-nafsu ego keakuan. Sehingga makna kemerdekaan terwujud dalam memanusiakan manusia, kebahagaian dan ketentraman yang sejati. Dunia dan akherat.

Hakekat Fitrah manusia sungguh berasal dari Fitrah Allah Piyambak maka ada perintah dalam firman-Nya, “hadapkanlah wajah (rasa hati nurani) kamu untuk addiin (kehidupan lahir dan batin) kepada Fitrah Allah, yang Fitrah manusia dari Fitrah Allah Sendiri” (Ar Ruum 30).

Sebab saat air laut yang dialirkan ke kolam tambak maka tetap tidak bisa dikatakan bahwa tambak itu adalah laut. Demikian pula saat seseorang mengambil air laut dalam gelas juga tidak bisa dikatakan sebagai laut maka, saat seseorang dalam kesadaran (karena telah mengenali keberadaan hakekat fitrah manusia yang asal fitrah manusia dari Fitrah Allah Sendiri, dan hal ini adalah kemestian yang “mutlak” harus ada yang berhak menunjukkan) maka, kemudian inilah yang diperjuangkan!!!

Diperjuangkan supaya terbebas dari cengkeraman nafsu, cengkeraman kepentingan diri, kelompok dan golongan, cengkeraman pikiran dan cengkeraman kemuliaan duniawi dengan segala sifat dan watak kehormatannya. Sehingga terwujud kemerdekaan sejati, keadaan ini berarti kebahagian dan ketentraman yang sesungguhnya, yang berarti juga keselamatan yang lahir dan keselamatan yang batin, keselamatan dunia sekaligus keselamatan akherat.

Untuk hal demikian itu maka, perjuangan mulai dari niat dan tekad mewujudkan ‘aksi’ peduli operasional adalah kemestian membangun kemaslahatan ummat manusia Nusantara Indonesia. Membangun perilaku: pertama, “uswah”, bahwa berbuat kebaikan, menolong, membantu, mendorong, saling memaklumi, saling menghargai adalah ajaran leluhur bangsa ini, juga merupakan ajaran agama-agama yang ada; kedua, “darma”, memiliki sikap dan karakter menjaga mengembangkan dan meningkatkan: peduli sosial masyarakat, pemberdayaan potensi organ dan indera, serta membangun karakter sifat dan perilaku di atas paradigma dan mindset bahwa manusia adalah makhluk ruhiyah yang mesti berperilaku pada kearifan berbangsa dan bernegara dengan perilaku berdunia untuk “subhanaka”, memahasucikan Keberadaan Diri Dzatullah, berdunia untuk pancatan yang kokoh kembali kepada Tuhannya hingga menyatakan selamat. Memerlukan pola pikir yang berpikir dengan jernih, dan murni dari intrik-intrik kenafsuan ego sentris.

Sebab tanpa berperilaku demikian “sesungguhnya” pengusiran penjajahan bangsa asing dari tanah air akan menjadi berlanjut menjadi perebutan “bagi-bagi” oleh sesama anak bangsa. Maka belia Bpk. Soekarno ngendikan, “perjuangan kami mengusir penjajah telah selesai, perjuangan kalian akan lebih berat karena akan melawan bangsa kamu sendiri”.

 

Oleh:

Muhammad Sulaiman Kurdi Tanjung Abdullah

1 KOMENTAR

  1. Kami percaya ini sebagai kebenaran dari tuhan, maka ikutkanlah kami kepada rasulmu, tetapkanlah kami bersama dg orang2 syahid

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here