MENGAPA KEBANYAKAN MANUSIA MATINYA SESAT DAN HANYA SEDIKIT YANG SELAMAT?

0
806
views

Walau uqsimu binnafsi al-lawwaamati”: Dan Aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali dirinya sendiri. Adalah firman Allah QS. Al Qiyamah ayat 2 yang menjelaskan bahwa bagi yang matinya selamat saja masih sangat menyesali atas kesembronoannya, kurangnya lakon dan pitukonnya, kurangnya kesungguhannya; apalagi bagi yang sesat. Menyesalnya saja sungguh amat sangat mengerikan sekali, belum lagi siksa yang sama sekali tidak ada keringanannya di tempat sesat selama-lamanya.

Penyebab utamanya karena: Ketahuilah! Sesungguhnya manusia itu benar-benar melampaui batas, karena dia memandang dirinya serba cukup. (QS. Al-‘Alaq: 6-7).
Hingga karena itu sama sekali tidak sadar dan sama sekali tidak insaf, bahwa kesediaannya memikul amanat Allah yang ditawarkan Allah kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, semua menolak karena khawatir akan mengkianatinya.
Dan manusia yang bersedia memikul amanah itu oleh Allah tidak dipuji bahkan divonis innahu kaana zaluman jahula. (QS. Al Ahzab: 72).

Sesungguhnya manusia itu benar-benar sangat zalim dan sangat bodoh. Sangat zalim karena dalam menjalani hidup dan kehidupan dunia hanya habis untuk menzalimi dirinya sendiri. Menganiaya dirinya sendiri.
Hidupnya hanya untuk mencintai dunia dan meninggalkan akherat. (QS. Al Qiyamah: 20-21).
Sehingga sewaktu-waktu mati yang hanya sekali dirasakan. Wajah-wajah mereka bermuram durja, mereka yakin bahwa akan ditimpakan kepadanya malapetaka yang amat dahsyat. (QS. Al Qiyamah: 24-25).

Menzalimi dirinya sendiri karena hidupnya hanya untuk mencintai dunia. Dan hakekat dunia adalah nafsunya manusia.
Dan nafsunya manusia adalah wujud jiwa raganya yang dicipta oleh Allah dari setetes mani akan tetapi ternyata hanya menjadi penentang yang terang-terangan, sama sekali tidak pernah memperoleh perhatian. (QS. Yasin: 77).
Hidupnya lalu seia sekata dengan iblis.
Menentang habis-habisan terhadap ketetapan Allah membuat wakil di bumi yang diutus mewakili Diri-Nya supaya menunjukkan dengan methode tunjuk Ada dan Wujud Diri-Nya Dzat Yang Al-Ghayb Yang dekat sekali di dalam rasa hati supaya dengan mudah diingat-ingat dan dihayati serta dijadikan tujuan tempat kembali.
Ditentang dengan kesombongan yang sangat dan permusuhan yang sengit. (QS. Shaad: 2). Dan berkata: “Kamu tidak lain hanyalah orang yang membuat kepalsuan belaka” (QS. Ar Rum: 58).

Demikian itulah Allah mengunci mati hati orang-orang yang tidak mengetahui (mengadanya ilmu yang seyakinnya dapat mengenal dan mengetahui Ada dan Wujud Diri-Nya Ilaahi Dzat Yang Al-Ghayb, dekat sekali di dalam rasa hati serta meliputi dan menyertai hamba-hamba-Nya). Adalah maksud firman Allah dalam QS. Ar Rum ayat 59.

Orang-orang yang hidupnya hanya habis untuk menzalimi diri justru menyangka bahwa dirinya telah berbuat yang sebaik-baiknya.
Hidupnya hendak membuat maksiat (perbuatan yang sama sekali tidak sejalan dengan kehendak Allah) terus menerus. (QS. Al Qiyamah: 5).

Sangat bodoh.
Divonis Allah sungguh sangat bodoh. Akan tetapi sama sekali tidak pernah disadari.
Akibat watak manusia yang melampaui batas dan memandang dirinya serba cukup.
Sama sekali tidak disadari bahwa hal demikian sama saja dengan menyuburmakmurkan watak iblis di dalam dirinya. Sungguh sangat bodoh.

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isinya jahanam itu kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati tetapi tidak digunakannya untuk mengerti (bahwa di dalam rasa hatinya itu ada fitrah jati dirinya yang dicipta oleh Allah dari Fitrah-Nya), dan mereka mempunyai mata tetapi tidak dipergunakannya untuk memperhatikan (bahwa apa saja yang bisa dlihat oleh mata kepala itu berasal dari Ada dan Wujud Diri-Nya Dzat Al-Ghayb Yang Mutlak Wujud-Nya), dan mereka mempunyai telinga tetapi tidak dipergunakannya untuk mendengarkan seruan Allah dan rasul-Nya. Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat. Mereka itulah orang-orang yang lalai. (QS. Al A’raf: 179).

Fainnaha laa ta’ma al abshaaru walaakin ta’ma qulubu allati fi ashshuduuri. (QS. Al Hajj: 46).
Maka sesungguhnya bukanlah mata kepalanya yang buta akan tetapi yang buta adalah mata hatinya yang ada di dalam dada.

Waman kaana fi hadzihi a’ma fahuwa fi al-akhirati a’ma wa adhallu sabiila”.
Dan barang siapa yang di dunia ini buta (mata hatinya) maka di akherat ia juga buta dan lebih sesat jalannya. (QS. Al Isra’: 72).

Manusia yang divonis Allah sangat bodoh (yang ternyata tidak pernah disadari).
Bodoh karena mata hatinya dibiarkan buta. Dibiarkan tidak mengetahui bahwa di dalam rasa hatinya itu ada fitrah jati dirinya yang dicipta oleh Allah dari Fitrah-Nya Allah sendiri (QS. Ar Rum: 30).
Di dalam rasa hatinya ada titik temunya fitrah jati dirinya atau benih ghayb sucinya dengan Fitrah-Nya Allah Swt. Di dalam rasa hatinya ada “lubang cahaya”.
Yaitu Cahaya Terpuji-Nya Dzat AL-Ghayb Yang Mutlak Wujud-Nya (=Nur Muhammad).
Lubang cahaya itu adalah pintu satu-satunya untuk dapat selamat pulang kembali bertemu dengan Diri-Nya Ilaahi.
Wa fii anfusikum afalaa tubshiruuna? (QS. Adz Dzariyat: 21).
Dan di dalam dirimu (ada hal seperti itu) apakah tidak kamu lihat?

Innahu kaana zaluman jahula.
Sesungguhnya manusia itu sangat zalim dan sangat bodoh.
Adalah orang-orang sebagaimana yang disebutkan oleh firman Allah:
Alladziina khasiruu anfusahum fahum laa yu’minuuna” (QS.Al An’am: 20)
Yaitu orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, maka mereka itulah orang-orang yang tidak beriman.

Tidak beriman kepada Ada dan Wujud Diri-Nya Tuhan Yang Al-Ghayb tempat asal fitrah jati diri manusia diciptakan oleh Allah yang ada di dalam rasanya. Tidak ma’rifatun. Maka juga tidak beriman kepada mengadanya wakil-Nya Allah yang ada di bumi yang diutus oleh Allah supaya menunjukkan dengan metode tunjuk Ada dan Wujud Diri-Nya Yang Al-Ghayb supaya dapat dengan mudah selalu diingat-ingat dan dihayati dalam rasa hati dan dijadikan tujuan tempat kembali. Tidak wa tashdiqun.
Bahkan dengan sombongnya menentang dan mendustakan dengan permusuhan yang sengit.

Mereka itulah orang-orang yang oleh Allah ditetapkan kufur.
Ketika masih berada di dunia hanya menduga-duga saja Ada dan Wujud-Nya Al-Ghayb dari tempat yang jauh. (QS. As Saba’: 53).
Maka mata hati yang ada di dalam rasanya, buta. Ditutup oleh gelapnya nafsu dan watak akunya.
Saat mati yang pasti ditemui dan hanya sekali saja dirasakan sebagaimana yang dijelaskan Allah dalam QS. Saba’ ayat 51:

Dan (alangkah hebatnya) jikalau kamu melihat ketika mereka (orang-orang yang mengingkari Ada dan Wujud Diri-Nya Dzat Tuhan Yang AL-Ghayb itu) terperanjat ketakutan (saat matinya); maka mereka tidak dapat melepaskan diri dan mereka ditangkap dari tempat yang dekat (oleh wadya balanya iblis dibawa ke tempat sesat mereka selama-lamanya).

Kemudian di ayat 54-nya di QS. Saba’ ini Allah sama sekali tidak memenuhi keinginan mereka.
Dan dihalangi antara mereka dengan apa yang mereka ingini (ingin dikembalikan ke dunia untuk meluruskan kekeliruannya) sebagaimana yang dilakukan terhadap orang-orang yang serupa dengan mereka pada masa dahulu.
Sesungguhnya mereka dahulu (ketika masih berada di dunia) dalam keraguan yang mendalam.

SEDIKIT YANG MATINYA SELAMAT.

Karena ternyata memang sedikit sekali yang berjuang untuk mengalahkan nafsunya supaya menjadi patuh dan tunduk dijadikan tunggangannya hati nurani roh dan rasa menuju kepada Tuhannya sehingga sampai.
Yang banyak, nafsu dan watak akunya yang menguasai dan memperalat semua instrumen yang diberikan Allah supaya digunakan untuk berjalan menuju kepada-Nya.

Diperalat dan diperintah nafsu dan watak akunya untuk memenuhi kepentingan-kepentingannya.
Sehingga Nabi Yusuf saja yang nabi-Nya Allah, rasul-Nya dan kekasih-Nya menyatakan di dalam QS. Yusuf ayat 53:
“Dan aku tidak bisa membebaskan diriku dari (jahatnya) nafsuku, karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku”.

Dan nafsu yang diberi rahmat oleh Allah adalah nafsu yang rela patuh dan tunduk mengikuti jejak para malaikat-Nya Allah.
Taat sepenuhnya (tanpa reserfe) sujud, maksudnya menghormati dan patuh kal mayyiti dihadapan wakil-Nya Allah yang ada di bumi untuk disucikan.
Dengan rela memantapkan niatnya untuk meminta petunjuk ilmu yang menunjukkan pintunya mati.
Yang hukumnya meminta petunjuk ilmu yang satu ini lebih wajib meskipun dibandingkan dengan kewajiban-kewajiban yang lain. Meskipun dibandingkan dengan kewajiban salat.
Sebabnya karena kewajiban salat lima kali sehari meskipun fardhu ‘ain dan tiangnya agama, masih bisa dihindari.
Perempuan haid nifas tidak boleh salat.
Kelupaan ketiduran juga tidak berkewajiban.
Tetapi kalau mati meskipun hanya sekali, tidak peduli sedang haid nifas atau kelupaan dan ketiduran.
Disamping itu salat tidak boleh menggunakan benarnya sendiri-sendiri.
Harus memenuhi perintah Allah: wa aqimishshalata lidzikri. (QS. Thaha:14).
Dirikanlah salat untuk mengingat-ingat Aku.
Aku Allah Yang Ada dan Wujud-Ku Al-Ghayb.
Dan pintunya mati adalah menunjukkan dengan methode tunjuk mengenai Diri-Nya Ilaahi Dzat Yang Al-Ghayb itu di dalam rasa hati. Amat sangat dekat sekali serta selalu menyertai dan meliputi semua hamba-Nya.
Karena itu sangat mudah diingat-ingat dan dihayati.

Akhirnya, sebagaimana yang dinyatakan di dalam risalah Mathlabussaliki. Risalah bagi orang-orang yang rela belajar ilmu untuk berjalan menuju kepada Allah sehingga sampai kepada-Nya.
Maka apabila kamu benar-benar percaya kepada Guru yang martabatnya mursyidun, murbiyun, nashihun dan kamilun yang hak dan sah mengajari kamu. Kemudian kamu dijadikan mengerti terhadap tujuan yang harus kamu capai (ma’rifat kepada Allah) Lalu kamu mengamalkannya dengan benar dan ikhlas. Semestinyalah kamu masing-masing oleh Allah dijadikan kekasih-Nya sebagaimana para kekasih Allah yang telah selamat dan sempurna bertemu dengan-Nya.
Sewaktu-waktu mati yang pasti ditemui.
Saking bahagianya merasakan nikmat dan bahagianya mati. Wajahnya berseri-seri, rasa hatinya mencahaya dengan Diri-Nya Ilaahi.
Kepada Tuhannya melihat (melihat dengan mata hati). (QS. Al Qiyamah 22-23).
Matinya: fii maq’adhi shidqin ‘inda malikin  muqtadirin (QS. Al Qamar: 55).
(Pulang kembali) di dalam tempat yang benar lalu merasakan kebahagiaan yang sejati murni selama-lamanya di sisi-Nya Dzat Yang Maha Raja dan Berkuasa.

Inilah ilmu-Nya Allah Swt yang di akhir zaman ini akan digelar rata ke seluruh dunia; dimulai dari Indonesia yang pusatnya di tanah Jawa.
Dan oleh karena Allah adalah Dzat Yang Al-Ghayb. Tidak akan menampakkan Diri di muka bumi. Maka Dia membuat wakil yang diutus mewakili Diri-Nya itu bagaimana seharusnya secara yakin, nyata, benar, ilmu mengenai Ada dan Wujud Diri-Nya Yang Al-Ghayb itu supaya selalu diingat-ingat dan dihayati di dalam rasa hati dan dijadikan tujuan tempat kembali.
Maka bagi siapa yang percaya dan rela mengikuti ajarannya, selamat.
Dan bagi siapa saja yang tidak percaya dan menolak, pasti sesat.
Yang sesat dan pasti batal inilah yang akan dilenyapkan Allah dan dijarah rayah oleh wadya balanya iblis ke tempat sesat mereka.

 

Pondok Sufi, Tanjung, akhir Desember 2006
Imam
Gerakan Jamaah Lil-Muqorrobin,

 

 

M MUNAWWAR AFANDI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here