Syukur atas Anugerah “butiran” IMAN

0
567
views

Pertama, Allah telah menganugerahkan “mau” (jw. gelem) meminta perihal Ilmu Tauhid, sehingga dalam menjalani kehidupan berada dalam persaksian atas mengadaNya Tuhan Yang Al-Ghayb Yang Allah NamaNya. Dengan bertauhid bi-dzatillah maka dengan sendirinya bertauhid bi-sifatullah, bi-af’alullah. Sehingga dengan demikian menjadi memungkinkan untuk memproses diri kembali kepada Allah dengan perilaku “keselamatan” memungkinkan untuk menjadi Islam Kaafah. Islam lahir dan Islam batin. Dan yang jelas beragama yang saya jalani tidak lagi menjadi hanya retorika euforia angan-angan dan persepsi-persepsi konsep rekayasa akal pikiran dan akademika.
Sehingga dalam menjalani kehidupan berdunia yang penuh dengan perjuangan menjadi jelas dan gamblang, apa yang mesti saya perjuangkan. Kemudian tinggal nafsu, ego, keakuan yang melekat pada badan ini mau tidak untuk dikendalikan dan ditundukkan ‘diproses’ dengan berperilaku selamat. Maka kami selalu mengucap “ihdinash-shiratal mustaqim” tempatkan kami untuk selalu berada diatas hidayah (yang telah ditunjukkan perihal “al-Huda”) shiratal mustaqim, jalan bertempat tinggal (“manggon”) di dalam Al-Haq Engkau. Sehingga istiqamah dan tumakninah dalam dzikrullah yakni untuk dapatnya selalu dzikrullah, ingat kepada “HUWA” Keberadaan Dzat Tuhan Sang Empu Nama Allah dalam keadaan apa saja dimana saja dan dalam situasi dan kondisi bagaimanapun. Lillah-billah-fillah.
Dengan mengenali keberadaan “Butiran” iman perihal imanan pada wilayah kemakrifatan menjadikan jelas apa dan bagaimana kebutuhan berperilaku waspada..!!. Apa yang diwaspadai. Saat dengan jelas dan gamblang serta terang karena mengetahui persis perihal “intan berlian” yang mesti dijaga. Maka saya harus mewaspadai adanya pencuri yang jika lengah dan lalai bisa sewaktu-waktu akan mengambilnya. Saat saya mengetahui persis “barang”nya maka saya bisa berperilaku dalam kewaspadaan serangan dari luar.
Supaya saya bisa pulang dengan selamat maka, saya harus menjaga “dzikir” ‘intan-berlian’ dengan sebaik-baiknya, dan supaya “dzikir” ‘intan-berlian’ itu bisa diterima kepada Sang Pemilik saat sampai tujuan maka, harus dilengkapi legalitas dari yang telah memberikan “amanah” kepada saya (saya hanya sak dermo, sebab menjalankannya karena perintah).
Saya mestilah waspada terhadap sang pencuri; sang perampok; sang koruptor; sang julik dan licik, yang bisa sewaktu-waktu saat terlena maka habislah saya. Egolah sang pencuri itu; nafsulah sang julik dan licik itu; keakuanlah sang rampok dan koruptor itu.
Dan konspirasi-konspirasi licik, nan rendah dan hina yang juga (hampir selalu) dapat menjadikan perilaku terpelanting terbuang dan sia-sia, akibat perilaku sang “sanubari” yang memilik watak dan perilaku membantah, merasa diri paling baik dan merasa paling suci, orientasi kekuasaan dan kekuatan; selalu meminta pengakuan dan selalu mengejar kemuliaan dan kehormatan dunia; dan merasa benar, merasa dirinya yang paling benar sehingga berperilaku salalu menyalah-nyalahkan yang lain. Padahal sekalipun memang telah berada di alam kebenaran maka, bukan berarti kemudian menyalah-nyalahkan yang belum berada didalam kebenaran. Sebab Allah menggelincirkan orang yang telah didalam alam kebenaran dan menarik orang yang di alam “salah” dengan fadhal dan rahmatNya untuk menjadi orang yang benar maka bagi Allah sama sekali tidak sulit, jika Allah kehendaki.
Maka saya bersyukur dengan usaha dan ikhtiyar pada perilaku, sifat dan watak terbuka dan membuka dan lapang dada.
Yang ke-dua, saya juga sangat bersyukur atas keberadaan orang-orang yang berada di sekitar saya, di lingkungan saya, dan komunitas JATAYU, dan juga beliau-beliau piyantun-piyantun agung, orang-orang yang beraksi dan berjuang mewujudkan kemerdekaan sejatinya, meneruskan perjuangan para pendahulu bangsa, supaya terbebas dari penjajahan bangsa dan negara lain, dan meneruskan perjuangan supaya juga terbebas dari perilaku ego, keakuan, nafsu sanubarinya, sehingga terwujud berfungsinya hati nuraninya dalam rasa inti “dzikrullah”. Sebab faham sepenuhnya bahwa bahagia dan tentram hanya dengan dzikr, sangat jelas dan terang dalam firman Allah “ingatlah bahwa hanya dengan Dzikr maka hati menjadi tentram”
Berjuang supaya terbebas dari perilaku ego, dan dari nafsu keakuan, serta dari nafsu sanubarinya dengan membangun perilaku akhlak kepada sesamanya dan adab kepada alam lingkungan dan lingkungan masyarakatnya, membangun, meningkatkan perilaku ‘kemaslahatan’ ummat. Membantu dan menolong kepada sesama walaupun berbeda agama dan keyakinannya apalagi hanya perbedaan suku bangsa. Karena sadar hamba dalam penghambaannya; memanfaatkan waktu kosong dan longgarnya untuk melakukan aktifitas mengisi lahan-lahan sempit dan lahan sela, dan sekaligus dijadikan sebagai alat untuk membangun perilaku gotong royong, kebersamaan dan membangun keluarga dalam kekeluargaan.
Yang ke-tiga, saya bersyukur karena dilahirkan di bumi Nusantara, untuk berbuat dan beraksi bersama dengan orang-orang yang berbuat dan beraksi serta berjuang.
Maka,
Pertama syukur adalah membangun sikap, watak dan perilaku terbuka, membuka dalam perilaku hamba dalam penghambaannya maka, akan Allah buka anugerahNya.
Kedua, shalawat adalah mengkait-sambung, melebur, menyatu; dengan perilaku kesadaran “antumul fuqara ilallah” sadar sebagai hamba yang feqir, kuat kebutuhannya untuk memproses diri dengan perilaku kesalehan-keselamatan rasa hati nurani dengan pembuktian “aksi”: memberdayakan anugerah akal-pikiran, organ dan indera; membangun kemaslahatan, berbuat kebaikan, memakmurkan bumi milik Allah.
Ketiga, islam adalah perilaku selamat dan menyelamtakan: mendamaikan, menyejukkan, menentramkan, serta menyamankan, baik bagi diri, keluarga dan lingkungan serta masyarakatnya. Perilaku kearifan.
Semoga kita semua dalam cakupan ampunan maghfirah-Nya dalam keselamatan lahir dan batin; keselamatan dunia dan akherat.

M. Tanjung Sulaiman Kurdi Abdullah

 

VIDEO SELENGKAPNYA

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here