Rencana dan Agenda Kegiatan Menuju Kesungguhan

0
533
views

Kepada…..

Yang terhormat, yang berbahagia, yang dirahmati Allah

Penataan upaya menuju terwujudnya komunitas “BALDATUN TOYYIBATUN WA-RABBUN GHAFUR”

Organisasi dhawuh Guru adalah organisasi yang bergerak atas dasar “keilahiah-an” dengan pola penataan “kerubbubiyah-an” dengan pola dan sisten “keilahiah-an” dipandang sebagai referensi yang bersifat mutlak.

Hal ini tentu dipengaruhi oleh kebiasaan-kebiasaan yang dibuat, melingkupi iklim kerja “aksi” yang ruhnya adalah pada perilaku “peduli operasional”. Semua proses aktifitas dan aksi yang dilakukan perlu memiliki “daya” aksi membangun kesadaran “ibadah”, sehingga instrumen quality control mencangkup internal dan eksternal, lebih bersifat “saling” mengembangkan dan meningkatkan kualitas kesadaran ruhiyah dengan berperilaku syareat pada wilayah lahiriyahnya. Guna membangun sebanyak-banyaknya jiwa-jiwa pejuang yang berjuang demi tegaknya Kebenaran Al-Haq min Robbika.

PROSES LEBIH PENTING DARI HASIL, BUKAN BERARTI MENIADAKAN “ESTIMASINYA”

Perilaku “Pejuang”, yang ber“Aksi”, menuju kemerdekaan sejati dan “Keselamatan” adalah usaha terwujudnya sebuah sistem dan pola yang dapat menghantarkan kedalam gerbang kemerdekaan sejati murni, terwujudnya pola dan sistem yang dijalankan memerlukan sikap yang terbuka, komunikatif, musyawarahan, dengan perilaku respek, tanggap dan peduli serta memperkecil jarak kesenjangan antara harapan dan kenyataan praktek aksi yang dilakukan dan perlu mempertanyakan kesesuaian dengan ranah-ranah yang tersampaikan selama ini.

Dan saat dalam sebuah komunitas semakin sedikit para pejuang-pejuang yang beraksi peduli operasional, semakin sedikit jiwa-jiwa pejuang yang bergerak dan beraksi semakin sedikit yang berkesadaran “penghambaan” pengabdian maka, akan semakin besar menuju dalam keadaan krisis bahkan, terjadinya krisis multi dimensional tinggal menunggu waktu sebagai “bom” yang sewaktu-waktu meledak.

Memang saat dikobarkan perilaku berjuang perlu pemetaan dari hasil identifikasi supaya mengetahui apa yang mesti diperjuangkan supaya tidak gagal faham dan gagap terapan operasional. Kemerdekaan memang mesti diperjuangkan oleh setiap dari individu masing-masing. Perjuangan besar yang dilakukan bersama oleh para pendahulu kita, para leluhur yang telah memperjuangkan bangsa Nusantara negara Indonesia terbebas dari penjajajahan wilayah dalam cakupan negara indonesia adalah masih berhenti pada perjuangan lahiriyah yaitu supaya terbebas dari penjajahan bangsa asing.

Untuk itu sudah semestinya dan seharusnya perjuangan yang “luar biasa” heroiknya oleh para pendahulu kita, yang telah berjuang dengan mengorbankan, harta benda, jiwa raga untuk DITERUSKAN DAN DILANJUTKAN tidak sekedar mengisi kemerdekaan namun, lebih dari itu perjuangan terwujudnya kemerdekaan sejati merdeka lahir dan merdeka batin. Hal ini tidak kalah pentingnya untuk diperjuangkan secara totalitas.

Supaya mengetahui apa yang sesungguhnya diperjuangkan guna mencapai kemerdekaan yang sesungguhnya maka, pengetahuan mengenai “diri” pada anfusnya, pengetahuan mengenai “penciptaan” perihal keberadaan fitrah manusia yang asal fitrah manusia dari Fitrah Allah Sendiri, diperjuangkan sepaya terbebas dari kepentingan-kepentingan nafsu-nafsu ego keakuan. Sehingga makna kemerdekaan terwujud dalam memanusiakan manusia, kebahagaian dan ketentraman yang sejati. Dunia dan akherat !!

Hakekat Fitrah manusia sungguh berasal dari Fitrah Allah Piyambak maka ada perintah dalam firman-Nya, “hadapkanlah wajah (rasa hati nurani) kamu untuk addiin (kehidupan lahir dan batin) kepada Fitrah Allah, yang Fitrah manusia dari Fitrah Allah Sendiri” (Ar Ruum 30). Sebab saat air laut yang dialirkan ke kolam tambak maka tetap tidak bisa dikatakan bahwa tambak itu adalah laut. Demikian pula saat seseorang mengambil air laut dalam gelas juga tidak bisa dikatakan sebagai laut maka, saat seseorang dalam kesadaran (karena telah mengenali keberadaan hakekat fitrah manusia yang asal fitrah manusia dari Fitrah Allah Sendiri, dan hal adalah kemestian yang “mutlak” harus ada yang berhak menunjukkan) maka, kemudian inilah yang diperjuangkan!!!

Diperjuangkan supaya terbebas dari cengkeraman nafsu, cengkeraman kepentingan-kepentingan diri, kelompok dan golongan, cengkeraman pikiran-pikiran dan cengkeraman kemuliaan-kemuliaan duniawi, kehormatan-kehormatan material, dal lain sebagainya, dan seterusnya. Sehingga terwujud kemerdekaan sejati berarti kebahagian dan ketentraman yang sesungguhnya, yang berarti juga keselamatan yang lahir dan keselamatan yang batin, keselamatan dunia sekaligus keselamatan akherat.

Sebab tanpa berperilaku demikian “sesungguhnya” pengusiran penjajahan bangsa asing dari tanah air akan menjadi berlanjut menjadi perebutan “bagi-bagi” oleh sesama anak bangsa. Maka belia Bpk. Soekarno ngendikan, “perjuangan kami mengusir penjajah telah selesai, perjuangan kalian akan lebih berat karena akan melawan bangsa kamu sendiri”.

Sesungguhnya inilah keberadaan para Rasul dan para Utusan Allah di muka bumi sebagai khalifah-nya (khalifah adalah wakil Allah di muka bumi, karena Tuhan tidak menampak “ngejowantah” maka membuat wakil, hanya saja keberadan para rasul sewaktu dizamannya, dan Allah akan menampakkan keberadaannya (terlalu banyak keberadaan Rasul tidak pernah ditampakkan oleh Allah), saat ditampakkan ke permukaan selalu dan selalu ditentang, dimusuhi, diolok, difitnah bahkan, dibunuh). Jadi sesungguhnya khalifah adalah wakil Allah dimuka bumi yang mengetahui persis keberadaan TuhanNya, “seseorang” yang ditunjuk atas kehendak Allah Piyambak, (penduduk bumi, manusia setuju atau menolak). Hanya saja di zaman ini, di zaman setelah nabi Muhammad disebut sebagai kholifatur rasul, sedang sebelum Nabi Muhammad disebut sebagai kholifatullah. Namun hakekatnya adalah sama persis, buah dan manfaatnya adalah sama persis. Keselamatannya adalah sama persis. Inilah beragama dalam makna addiin.

Krisis apapun, berasal dari kesalahan paradigma beragama dalam menjalani kehidupan berdunia. Paradigama yang membentuk mind set sebagai pola pikir yang menyertai tindakan, hal ini memiliki efek terhadap ranah-ranah interaksi sosial, masyarakat dan juga sangat berpengaruh terhadap kondisi batin setiap pelakunya terhadap kondisi ketentraman dan kebahagian batin. Kesenangan dan kebahagian adalah dua hal yang berbeda. Kesenangan bernuansa lahiriyah sedang kebahagian bernuansa batiniyah dan bersifat keabadian: kesenangan media alat ukurnya adalah ragawi dan  ini ada batas waktu masanya. Sedang keselamatan, kebahagian, ketentraman medianya adalah kemakrifatan melalui keberadaan Wakil Allah dimuka bumi. 

Krisis terjadi karena antara harapan dan kenyataan tidak bergerak lurus pada garis linier, terjadi kesenjangan dan terjadi celah yang menganga, semakin besar celah tersebut maka akan semakin krisis yang puncaknya adalah (kemungkinan) chaos untuk revolusi. Saat cangkir kosong – cangkir selalu diidentikkan tempat air kopi – diasumsikan diyakini sebagai kopi maka tidak akan pernah dapat menghilngkan rasa “haus”nya tersebut. Maka gejolak batin (yang kosong) yang akhirnya benturan kepentingan (pasti) terjadi. 

Penempatan paradigma yang salah memiliki efek terhadap bangunan pada semua ranah di semua level dan tingkat elemen masyarakat dan elemen umur serta diskursus baik yang formal pun yang non formal yang tidak menyentuh pada “kemestiannya”.

Paradigma “ilahiah-rubbubiyah” yang terwujud sebagai visi dan misi yang menyertai aksi “fastabiqul khoirot” yang diwujudkan dalam perilaku “atsarus sujud” adalah merupakan kesadaran terwujudnya tatanan “baldatun toyyibatun wa-rabun ghafur’ tatanan tata titi tentrem karta raharja: yang mimpin dan yang dipimpin pandai mengadili diri sendiri, sehingga terwujudnya kemerdekaan sejati.

Sebagai permisalan: “Pendidikan yang kemestiannya adalah membangun kader-kader bangsa yang berketuhanan; yang memanusiakan manusia, yang berakhlak dan beradab; yang sadar sebagai ummat yang satu, secara fakta historis kelahiran dilahirkan di bumi Nusantara ataupun dilahirkan dari rahim orang tua Indonesia; yang egaliter dalam perilaku kerakyatan yang berorientasi pada hikmah kebijaksanaan pada kearifan bangsa; yang memiliki perilaku “ideologi” yang solid, yang sangat memperhatikan khasanah kearifan lokal dan bangsa sendiri, tidak terpenuhi maka terciptanya keadaan dan situasi yang tidak sesuai dengan harapan semakin manampak ke permukaan yang pada titik waktu tertentu akan terjadi kesenjangan, untuk itu kader-kader pejuang mestilah ditumbuhkan, dimunculkan. Kader-kader yang bergerak beraksi menuju terwujudnya kemerdekaan sejati lahir dan merdeka batin. Merdeka yang sesungguhnya.

JATAYU sebagai Komunitas organisasi memerlukan perilaku terorganisir dengan baik, memenuhi kaidah-kaidah manajemen dan administrasi. Yang ruh dari manajemen adalah musyawarah dan ruh dari administrasi adalah komunikasi, sharing, berbagi, dan kepemilikan rasa handerbeni dalam pengertian memiliki tingkat peduli operasional.

Bukankan kemerdekaan bangsa pada tahun 1945 kalimatnya adalah ‘telah sampailah kepada saat yang berbahagia menghantarkan rakyat Negara Indonesia “ke depan” pintu “gerbang” kemerdekaan’. Hal ini berarti merupakan kebutuhan untuk melanjutkan perjuangan para pendahulu kita, supaya masuk ke dalam sehingga “di dalam” gerbang kemerdekaan yang sesungguhnya merdeka lahir dan merdeka batin.

Kemerdekaan akan terproses menuju kemerdekaan yang sejati dan seutuhnya maka yang perlu dibangun adalah bersatu (kesadaran ummatan wakhidah), berdaulat (menyatukan keutuhan berdaulat antara kelahirannya dan kebatinannya); adil (pandai mengadili diri sendiri) dan makmur (memakmurkan bumi Allah).

Kemerdekaan tidak akan mungkin dapat sampai dan terwujudkan jika tidak disertainya perilaku akhlak, adab dan perilaku serta sikap dan komitmen mandiri, berdaulat dan berintegritas, serta penuh dengan tanggungjawab. Hal ini telah terumuskan dalam “ideologi” PANCASILA yang luar biasa.

Demikian pula bangkit tidak akan dapat terwujudkan jika tidak dalam perilaku uswah; darma; budi.

Merdeka sejati akan terwujud seutuhnya menjadi merdeka lahir dan merdeka batin, setelah memiliki pemahaman unsur dan elemen penciptaan baik yang lahir pun yang batin. Pemahaman lahir berarti kesadaran atas “potensi” kelahirannya dan merdeka batin mestilah berada dalam kesadaran “potensi” ranah kebatinannya, keduanya diwujudkan dalam perilaku  penghambaan, sebagai perilaku hamba dengan Al-Makbudnya.

Untuk itu kita mengambil “garis peduli aksi” pada perilaku kemandirian, komitmen, istiqamah, tumakninah. Baru kita berbicara dan bergerak Isu apa yang digunakan untuk “menyadarkan” manusia SAAT KITA MULAI BERBICARA dan bergerak untuk wilayah eksternal kepada masyarakat luas. Kita perlu membangun interaksi yang solid yang saling mengkuatkan dengan berbagai elemen bangsa yang mau diajak berjuang secara utuh dan masif.

Dan semua hal yang diatas untuk dapat terwujudkan menjadi masyarakat yang madani, masyarakat yang tata titi tentrem karta raharja di mulai dari level yang paling kecil yakni diri kita sendiri dan keluarga serta kelompok komunitas internal kita. Tegasnya semua akan dapat terwujudkan dimulai dari pola penataan komunitas keorganisasian kita. Bagaimana membangun “KEMANDIRIAN” kekeluargaan, kebersamaan, keguyubrukunan, gotong royong, kemandirian, kesungguhan, istiqamah dan tumakninah. Terwujudnya perjuangan dalam “aksi” peduli operasional.

Keberadaan kegiatan di dalam pondhok, “berjuang” dalam perilaku pola teladan: dalam memberdayakan diri, teladan dalam merespon dan merespek serta berkepedulian dalam menjalankan dhawuh Guru.

Jatayu bergerak  beraktifitas guna membangun komunitas baldatun toyyibatun wa rabbun ghafur. Komunitas tatanan madani. Komunitas yang memiliki relevansi dengan cita-cita para Imam, Para utusan Allah, para Kekasih Allah, cita-cita luhur dengan penataan pada pola tatanan yang sehat dan amanah. Sebab MengadaNya sosok yang “medar” AnNubuwah ilmu kenabian inilah sebagai pelaku “al-Ulama” adalah pewaris para nabi.

Dari uraian diatas perihal semua hal yang telah teruraikan maka dipandang perlu melakukan “GERAKAN” penataan pada semua level dan bidang pada satuan unit pelaksana teknis untuk melakukan perbaikan-perbaikan.

Yang berfungsi sebagai model atau contoh maka dipandang perlu “mulai” sangat untuk melakukan penataan dan berbenah diri. Mulai dari perencanaan, pelaksanaan, monitoring, evaluasi, pelaporan, dan begitu seterusnya terjadinya siklus aktifitas program.

Fungsi perencanaan dan fungsi monitoring diberlakukan secara bersama dan setingkat dalam level operasional dengan pola “mentoring” yang didalamnya mengandung unsur-unsur perencanaan, monitoring, pelaporan, dan evaluasi.

Monitoring pelaksanaan kegiatan pada setiap UPT adalah kegiatan yang menyertakan proses pengumpulan, penganalisaan, pencatatan, pelaporan dan penggunaan informasi manajemen tentang pelaksaan kegiatan aktifitas. Hal ini semua dilakukan pada maksud koreksi dalam upaya perilaku yang efesien dan efektif.

Tujuan utama monitoring adalah untuk menyajikan informasi tentang pelaksanaan program sebagai umpan balik bagi kita semua, untuk: a) memeriksa kembali strategi pelaksnaan program sebagaimana sudah direncanakan setelah membandingkan dengan kenyataan di lapangan, b) menemukan permasalahan dalam pelaksaan program, c) mengetahui faktor-faktor pendukung dan penghambat penyelenggaraan program, d) menghindari salah faham dan prasangka-prasangka.

Untuk hal tersebut diatas maka, monitoring diberlakukan dalam kerangka:

  • Memelihara dan menyepakati pelaksaan suatu rencana dalam rangka meningkatkan daya guna dan efesiensi pembiayaan. Efisien dan efektif.
  • Mempertahankan dan meningkatkan kualitas yang terarah dan terukur.
  • Guna untuk mengetahui SDM dan perkembangannya, dan pendelegasian tugas serta kebutuhan sumberdaya dan kesesuaian antara pekerjaan dan kebutuhan sumber daya manusia.
  • Untuk mengetahui ketepatan antara perencanaan dan pelaksaan program kesesuaian dengan visi dan misi yang diemban.
  • Monitoring untuk terjadi dan terwujudnya serta kemungkinan untuk dikembangkan, diberdayakan, ditingkatkan, disebarluaskan, didistribusikan.
  • Monitoring untuk terbangun dan terwujudnya integritas, kedaulatan komunikasi dan musyawarahan.
  • Yang akan menjadi resume elemen “penilaian” pelaksanaan program kegiatan.

KEMUDIAN SEMUANYA DIKEMAS DALAM SEBUAH POLA KESATUAN SISTEM “MENTORING MUSYAWARAH” tim pelaksana program kegiatan.

TUJUAN SISTEM EVALUASI DAN MENTORING

  • Penataan (evaluasi dan mentoring)
  • Melaporkan kegiatan (sistem pelaporan sederhana)
  • Membangun perilaku “uswah”; “darma”; “budi”
  • Tertib administrasi (sederhana) dan manajemen
  • Pemberdayaan dan memudahkan dalam pendelegasian dan pendistribusian program.
  • Saling berbagi, saling membantu, saling mendukung dan mensupport.
  • Menganalisa perkembangan-perkembangan untuk fastabiqul khoirot
  • Keterbimbingan dalam menjalankan program-program kegiatan.

Langkah-langkah pokok untuk melakukan mentoring adalah sebagai berikut:

a) menyusun rancangan mentoring, seperti untuk menghimpun data atau informasi tentang pelaksanaan program, berupa permasalahan-permasalah dan kendala serta hambatan yang dihadapi,

b) sasaran atau aspek-aspek mentoring,

c) faktor pendukung dan penghambat pelaksanaan program,

d) pendekatan metode, teknik dan instrumen mentoring,

e) waktu dan jadwal kegiatan mentoring.

Rencana ini didiskusikan untuk kemungkinan adanya masukan bagi penyempurnaannya. hasil penyempurnaan ini dapat disebut program mentoring. Dan menyerahkan laporan mentoring untuk digunakan bagi perbaikan atau pengembangan program. Keterlaksanaan kegiatan yang berkaitan dengan visi dan misi organisasi Dhawuh Guru.

Secara ideal strategi pelaksanaan program kegiatan memilki prinsip-prinsip ideologi yang diwujudkan dalam aktifitas program kegiatan.

Langkah-langkah UPT.

  1. Merencanakan kegiatan mentoring terjadwal (musyawarahan)
  2. Pengumpulan data (pendataan alat, ketenagaan, dan rencana pengembangan)
  3. Mengumpulkan informasi yang bermanfaat bagi perkembangan dan peningkatannya
  4. Pelaporan kegiatan (dari notulensi mentoring musyawarah tim)
  5. Pelaporan perputaran keuangan (pembukuan sederhana)
  6. Almari file dan almari penyimpanan informasi dan berita berkaitan dengan fungsi dan tugasnya
  7. Data SDM kelebihan dan kekurangannya.
  8. Dan data dan aktifitas kegiatan lain yang bermanfaat.

“Terkadang masalah yang kita hadapi dan kita keluhkan sesungguhnya bukanlah masalah, terasa sebagai masalah hanya karena diri kita saja yang sesungguhnya bermasalah”

Seringnya kita mengkambinghitamkan, maka masalah yang kita hadapi akan hanya berhenti pada retorika.

Kita akan berupaya membangun masyarakat madani sesuai dengan apa yang di cita-citakan para Guru kita, para Imam para Nabi Allah. Semoga dengan pangestu Guru wasithah dan dengan lelantaran beliau-beliau Allah Ridhoi kemunculannya menampakkan Al-HaqNya dan terwujudnya Negara Yang “BALDATUN TOYYIBATUN WA-RABBUN GHAFUR. Semoga mendapatkan berberan berkah sawab pangsetu Guru Wasithah dan mendapatkan syafaat Rasulullah SAW…. Aamiin..

Tanjunganom, 13 Al-Qusyasyi 04 Mhd / 13 Pebruari 2017
TTD
Imam Jamaah Jatayu

 

Muhammad Sulaiman Kurdi Tanjung Alfaqiri Abdullah

(Kyai Tanjung)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here