KENGERIAN MENINGGAL DUNIA JIKA RUH KELUAR. DAN ABADI ABADAN DALAM AZAB

0
931
views

Semoga hal ini diterima dengan lapang dada, nyegoro, sebagai kebenaran, paling tidak sebagai tambahan wawasan atau wacana, namun semua tergantung dari pribadi dan isi pikiran masing-masing setiap pribadi. Namun yang jelas dan terang adalah setiap dari diri yang ingin selamat dan diselamatkan memerlukan sikap hati-hati dan waspada. Supaya tidak terjatuh kedalam kedzaliman, kelaliman, dan kejahiliahan serta keprasangkaan. Apalagi sampai pada menghujat, mengolok, jauh dari toleransi, jauh dari perilaku saling menghargai, jauh dari perilaku saling memaklumi.

Jika kita mau terbuka dan membuka diri atas adanya kebenaran Al-Haq min Robbika maka kita akan melihat apakah diri kita berada didalam kebenaran hakiki kebenaran yang sebenarnya (Kebenaran yang berasal dari-Nya); ataukah berada didalam kebenaran konsep; kebenaran retorika, kebenaran prasangka, kebenaran kira-kira; kebenaran katanya dari katanya; kebenaran dari buku-buku (buku dalam Bahasa apapun), yang sering dipersepsikan dan kemudian disakralkan.

Setiap dari diri kita pasti, tidak bisa tidak, pasti meninggal dunia, ada batas masa pakai di dunia, dan saat meninggal hanya akan ada dua penempatan. SELAMAT atau TERSESAT.  Selamat karena mengetahui pintu pulang, mengenali tujuan (ada yang di dzikiri diingat-ingat di dalam hati perihal Al-Ghaybullah) mengenali asal usul kejadian diri; mengetahui Hakekat Fitrah manusianya dan mengetahui sesungguhnya hakekat fitrah manusia dari Fitrah Allah Piyambak. Dan yang tersesat karena buta, tidak mengetahui jalan pulang karena tidak mengetahui pintunya dan tidak mengenali asal-usul kejadian diri, sehingga tidak bisa kembali pulang.

Selama ini mengenai kematian hanya difahami ruh keluar baik, bagi yang meninggal dunia selamat kembali kepada Tuhannya juga bagi mereka yang tersesat tidak kembali kepada Tuhannya. Padahal yang sebenar-benarnya dan yang sesungguhnya bahwa seseorang yang meninggal dunia ada dua pintu. Pintu yang satu menuju kepada keselamatan, selamat pulang kembali kepada asal-usul kejadian, kembali kepada Tuhan-Nya, menyatakan rasa bahagia abadi abadan menyatakan wajah berseri-seri hanya kepada tuhannya melihat (al-ayah); sedang pintu yang satunya lagi adalah pintu kesesatan, tidak kembali kepada asal-asul kejadian, bertempat pada tempat yang telah disediakan bagi mereka yang tidak kembali pulang kepada Tuhannya, dan kejadian ini adalah sangat gegirisi dan mengerikan, dan inipun juga abadi abadan. Sungguh demi Dzat yang memegang mbun-mbunan kepala manusia. Beginilah sesungguhnya.

Maka didalam ayat Firman Allah telah dengan tegas difirmankan:

Pintu pulang didalam dada. 57. Al-Hadid 13

فَضُرِبَ بَيۡنَهُم بِسُورٖ لَّهُۥ بَابُۢ بَاطِنُهُۥ فِيهِ ٱلرَّحۡمَةُ وَظَٰهِرُهُۥ مِن قِبَلِهِ ٱلۡعَذَابُ ١٣

  1. maka diadakan di antara diri mereka sendiri dinding yang mempunyai pintu. Di dalamnya ada (pintu) rahmat (pintu pulang kembali kepada Tuhannya, selamat karena mengetahui pintu pulangnya) dan (jika) keluar (sisi luarnya) dari situ ada siksa.

Di dalam dada ada Ar-Rahmah, pintu pulang bertemu dengan Diri Dzatullah, yang mengetahuinya dengan Ilmu Al-Ghybullah, namun Jika ruh keluar maka terjadi “sakaratul maut”, ruh diusir dipaksa keluar dari dalam tubuh maka siksa dan ini abadi abadan. Sebab pintu pulangnya adalah dadanya sendiri-sendiri.

Jangan katakan dari Allah, ingat sakaratul maut adalah dahsyat. 6. Al-An’am 93

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَىٰ عَلَى اللَّهِ كَذِبًا أَوْ قَالَ أُوحِيَ إِلَيَّ وَلَمْ يُوحَ إِلَيْهِ شَيْءٌ وَمَنْ قَالَ سَأُنْزِلُ مِثْلَ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ ۗ وَلَوْ تَرَىٰ إِذِ الظَّالِمُونَ فِي غَمَرَاتِ الْمَوْتِ وَالْمَلَائِكَةُ بَاسِطُو أَيْدِيهِمْ أَخْرِجُوا أَنْفُسَكُمُ ۖ الْيَوْمَ تُجْزَوْنَ عَذَابَ الْهُونِ بِمَا كُنْتُمْ تَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ غَيْرَ الْحَقِّ وَكُنْتُمْ عَنْ آيَاتِهِ تَسْتَكْبِرُونَ

  1. Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat kedustaan terhadap Allah atau yang berkata: “Telah diwahyukan kepada saya”, padahal tidak ada yang diwahyukan (yang menjadikan dapat menyatakan persaksian) sesuatupun kepadanya (“sesuatu” wahyu = inisiasi methode menunjukkan Keberadaan Diri Al-Ghayb supaya seseorang mengenali Keberadaan Al-GhaybNya, Yang Wajib WujudNya, Yang Allah NamaNya), dan orang yang berkata: “Saya akan menurunkan seperti apa yang diturunkan Allah”. Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim berada dalam tekanan sakratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata): “Keluarkanlah nyawamu” Di hari ini kamu dibalas dengan siksa yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu terhadap ayat-ayat-Nya selalu menyombongkan diri.

Hal ini “mungkin” (tampak) bertentangan dengan yang selama ini difahami. Bertentangan karena selama ini kebanyakan (hampir-hampir semuanya) memahami bahwa orang yang meninggal dunia itu semuanya RUHnya keluar dari tubuh. Padahal petunjuk Guru Kami (Alm) Mbah K.H. M. Munawwar Afandi Abdullah: jika mengetahui pintu pulang dan methodenya pulang mengetahui titik pintu ArRahmah, maka selamat adalah ruh “sirna” kembali kepada yang Maha Sempurna ya Tuhan Sendiri, ini adalah masuk ke dalam yang pintunya adalah dadanya masing-masing, karena Tuhan sangat dekat sekali, bahkan tanpa dengan Dia nyata manusia tidak bisa apa-apa dan tidak ada apa-apanya. Sedang jika ruh keluar dari dalam tubuh, maka tidak pulang, ini namanya tersesat. Inilah kenapa jika ruh telah sampai pada kerongkongan tidak ada taubatnya, karena telah melewati batas pintu. Ini yang sebenarnya dan ini bukan sekedar merubah mindset. Beginilah kenyataannya.

Maka ditegaskan di dalam firman Allah,

Merasa tidak disentuh neraka kecuali hanya beberapa hari saja. Al-Baqarah 80-81

وَقَالُواْ لَن تَمَسَّنَا ٱلنَّارُ إِلَّآ أَيَّامٗا مَّعۡدُودَةٗۚ قُلۡ أَتَّخَذۡتُمۡ عِندَ ٱللَّهِ عَهۡدٗا فَلَن يُخۡلِفَ ٱللَّهُ عَهۡدَهُۥٓۖ أَمۡ تَقُولُونَ عَلَى ٱللَّهِ مَا لَا تَعۡلَمُونَ ٨٠

  1. Dan mereka berkata: “Kami sekali-kali tidak akan disentuh oleh api neraka, kecuali selama beberapa hari saja”. Katakanlah: “Sudahkah kamu menerima janji (perihal persaksian atas mengadaNya Al-Ghaybullah, supaya berada dalam keimanan yang sebenar-benarnya yakni dalam persaksian atas mengadanya Al-Ghyabullah sehingga dapat berdzikir ingat kepada Yang Empu nama dan persaksian atas Keberadaan Nabi Muhammad adalah sebagai Nur-Muhammad) dari Allah (Q.S Al-Fath 10: “siapa yang bai’at kepada kamu (untuk bersaksi dalam persaksian), maka bai’at kapada Allah Piyambak), sehingga Allah tidak akan memungkiri janji-Nya, ataukah kamu hanya mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui? (sehingga diliputi prasangka-prasangka).

بَلَىٰۚ مَن كَسَبَ سَيِّئَةٗ وَأَحَٰطَتۡ بِهِۦ خَطِيٓ‍َٔتُهُۥ فَأُوْلَٰٓئِكَ أَصۡحَٰبُ ٱلنَّارِۖ هُمۡ فِيهَا خَٰلِدُونَ

  1. (yang benar bukan demikian), yang benar: barangsiapa berbuat dosa dan ia telah diliputi oleh dosanya, mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.

Sebab perbuatan dosa besar adalah seseorang yang wujud diaku sebagai wujudnya, dari sini muncul pengakuan, ego, kepentingan-kepentingan, karena tidak mengenali keberadaan Tuhan yang sebenar-benarnya. Sehingga semua hal diaku: diaku pinternya, diaku pandainya, diaku kekuatannya, diaku bisanya, diaku kekuasaannya.

Terperanjat, kemudian mengaku beriman. Keimanan tidak dari tempat yang jauh. Saba’ 51-53.

Sekiranya mereka (yang kafir yakni yang jumud, yang ta’asub, yang kaku, yang beku, yang fanatik, yang membabi buta, merasa telah cukup, merasa diri telah berada didalam jannah-Nya, suka mengolok-ngolok, suka menggunjing, suka menyalah-nyalahkan, suka membid’ah-bid’ahkan, merasa paling suci, merasa paling benar) melihat (fakta kenyataan) orang yang meninggal dunia terperanjat kaget, “jomblak” tidak mengira sama sekali saat kedatangan maut, (faktanya) saat ruh keluar dari tubuh, langsung ditangkap dari tempat yang dekat, ditempatkan pada tempat yang telah disiapkan bagi mereka yang tidak sampai tidak kembali pulang kepadaNya).

وَلَوۡ تَرَىٰٓ إِذۡ فَزِعُواْ فَلَا فَوۡتَ وَأُخِذُواْ مِن مَّكَانٖ قَرِيبٖ ٥١ وَقَالُوٓاْ ءَامَنَّا بِهِۦ وَأَنَّىٰ لَهُمُ ٱلتَّنَاوُشُ مِن مَّكَانِۢ بَعِيدٖ ٥٢ وَقَدۡ كَفَرُواْ بِهِۦ مِن قَبۡلُۖ وَيَقۡذِفُونَ بِٱلۡغَيۡبِ مِن مَّكَانِۢ بَعِيدٖ ٥٣ وَحِيلَ بَيۡنَهُمۡ وَبَيۡنَ مَا يَشۡتَهُونَ كَمَا فُعِلَ بِأَشۡيَاعِهِم مِّن قَبۡلُۚ إِنَّهُمۡ كَانُواْ فِي شَكّٖ مُّرِيبِۢ ٥٤

  1. Dan (alangkah hebatnya) jikalau kamu melihat (kenyataan) ketika mereka (orang-orang kafir = tertutup) terperanjat ketakutan (pada hari kiamat = meninggal dunia); maka mereka tidak dapat melepaskan diri dan mereka ditangkap dari tempat yang dekat (untuk dibawa ke neraka; tempat yang memang telah disiapkan bagi mereka yang tidak kembali)
  2. dan (di waktu itu) mereka berkata: “Kami beriman kepada Allah”, bagaimanakah mereka dapat mencapai (keimanan) dari tempat yang jauh itu. (menaksir-naksir; mengira-ngira; prasangka-prasangka).
  3. Dan sesungguhnya mereka telah mengingkari Allah sebelum itu (saat kehidupan di dunianya); dan mereka menduga-duga (Keberadaan Tuhan) dengan Al-Ghayb dari tempat yang jauh. (Al-nya adalah ism makrifat, Ghayb adalah Mufrod atau tunggal. Sehingga Al-Ghayb adalah Dzat tunggal yang jelas dapat dikenali KeberadaanNya jika ditanyakan kepada Ahlinya yang wenang, hak dan sah menunjukkan perihal alimul Ghaybi was-syahadati)
  4. Dan dihalangi antara mereka dengan apa yang mereka ingini (merubah mindset, pola piker; kebiasaan, keyakinan; merubah kiblat adalah sangat berat bagi nafsu ego dan keakuan) sebagaimana yang dilakukan terhadap orang-orang yang serupa dengan mereka pada masa dahulu. Sesungguhnya mereka dahulu (di dunia) dalam keraguan yang mendalam (karena tidak senyatanya dalam persaksian)

Dalam QS. Al-Hujurat. 49;14, Allah berfirman.

قَالَتِ ٱلۡأَعۡرَابُ ءَامَنَّاۖ قُل لَّمۡ تُؤۡمِنُواْ وَلَٰكِن قُولُوٓاْ أَسۡلَمۡنَا وَلَمَّا يَدۡخُلِ ٱلۡإِيمَٰنُ فِي قُلُوبِكُمۡۖ وَإِن تُطِيعُواْ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ لَا يَلِتۡكُم مِّنۡ أَعۡمَٰلِكُمۡ شَيۡ‍ًٔاۚ إِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٞ رَّحِيمٌ ١٤

  1. Orang-orang Arab (karena memang Nabi Muhammad berada dan hidup di Arab) itu berkata: “Kami telah beriman”. Katakanlah: “Kamu belum beriman, tapi katakanlah ´kami telah tunduk´, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu; dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikitpun pahala amalanmu; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”

Sekali lagi, setiap dari diri kita pasti, tidak bisa tidak, pasti meninggal dunia, ada batas masa pakai di dunia, dan saat meninggal hanya akan ada dua penempatan. SELAMAT atau TERSESAT.  Selamat karena mengetahui pintu pulang mengetahui asal usul kejadia diri; dan tersesat karena buta, tidak mengetahui asal-usul kejadian diri. Maka adalah kemestian bahwa Allah mengutus sebagai Khalifah (wakil Allah di muka bumi, karena Allah tidak menampak maka membuat wakil, yang menunjukkan kepastian dalam persaksian, sebagai pembuka hikmah, pembawa cahaya terang supaya di bumi berjalan, membawa risalah al-kitab, alhikmah dan annubuwah); supaya diikuti jalannya itu, sebab perintah Allah adalah untuk mencari “seseorang” (fungsi kholifah, yang menunjukkan Keberadaan Diri Dzatullah yang Al-Ghayb Yang Allah NamaNya, supaya dapat dikenali keberadaanNya)

Luqman 15

وَٱتَّبِعۡ سَبِيلَ مَنۡ أَنَابَ إِلَيَّۚ ثُمَّ إِلَيَّ مَرۡجِعُكُمۡ فَأُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ ١٥

  1. ….ikutilah jalan orang (man=seseorang) yang (talah menyatakan dengan jelas dan pasti) kembali kepada-Ku (telah menyatakan dan mengetahui persis jalan kembali), kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu (dengan adanya ilmu yang menjadikan didalam persaksian sehingga selalu ingat kepada Tuhan Yang Al-Ghayb tersebut), maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan (bagaimana hidup ini dijalani, untuk apa manusia hidup, dari mana kehidupan berasal dan kemana setelah kehidupan masa pakai jasad habis di dunia ini).

Bagaimana berbuat baik diatas Al-HaqNya, Keberadaan Imam dalam petunjuk dengan sak dermo [21. Al-Anbiya 73]

وَجَعَلۡنَٰهُمۡ أَئِمَّةٗ يَهۡدُونَ بِأَمۡرِنَا وَأَوۡحَيۡنَآ إِلَيۡهِمۡ فِعۡلَ ٱلۡخَيۡرَٰتِ وَإِقَامَ ٱلصَّلَوٰةِ وَإِيتَآءَ ٱلزَّكَوٰةِۖ وَكَانُواْ لَنَا عَٰبِدِينَ ٧٣

  1. Kami telah datangkan kepada mereka imam-imam yang selalu berada didalam petunjuk (dan wenang, hak dan sah menunjukkan perihal Al-Huda dengan (sekedar menjalalankan) perintah Kami (hamung sak dermo) dan telah Kami wahyukan kepada mereka untuk mengerjakan kebajikan, mendirikan sholat, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kamilah mereka selalu menyembah.

Tatanan lahiriyah, tatanan berdunia dengan bersyareat yang mahdhah dan yang ghairu mahdhah atau ammah serta muamalah, adalah kemestian membangun kebersamaan kekeluargaan, keguyubrukunan, saling menolong saling membantu. Ini semua adalah pekerjaan lahiriyah. Perihal iman adalah perihal persaksian atas MengadaNya Diri Tuhan yang Al-Ghayb adalah oleh masing-masing individu setiap dari personel insani, bersifat privasi. TAUHID perihal iman dalam persaksian inilah inti beragama, sehingga Allah mengutus Kholifah (karena Allah tidak menampak di muka bumi maka membuat Utusan). Namun selalu dalam pertentangan.

Semoga kita semua dalam ampunan Allah, dalam maghfirahNya, ditarik fadhal dan RahmatNya, dan semoga kita semua mendaptkan Syafaat Rasulullah.  

Muhammad Sulaiman Kurdi Tanjung Alfaqiri Abdullah

(Kyai Tanjung)

 

SAKSIKAN VIDEO SELENGKAPNYA

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here