KEPADA YANG LUPA, APA MASIH BISA MENERIMA PERINGATAN?

0
1173
views

Dengan Diri-Nya Dzat Yang meskipun Al-Ghaib,
Mutlak WujudNya, Allah AsmaNya
Sangat dekat terasa,dalam rasa hati yang merasakan Ada dan WujudNya
Karena itu nyata sekali sangat mudah diingat-ingat dan dihayati
Dia-lah Dzat Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang

Kepada yang lupa,
Apa masih bisa menerima peringatan?
Mengingat FirmanNya yang mengabadikan
Ungkapan kata Nuh AS utusanNya dan kekasihNya
Di QS Huud ayat tiga puluh empatnya :
“Dan tidaklah bermanfaat kepada kamu
nasehat jika aku hendak memberi nasehat kepada kamu,
sekiranya Allah hendak menyesatkan kamu,
Dia adalah Tuhanmu
dan kepadaNya-lah kamu dikembalikan.

Lebih tegas lagi firmanNya, dalam surat yang sama
Pada ayat ke tiga puluh tujuhnya:
“dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku
tentang orang-orang yang zalim itu;
sesungguhnya mereka itu
akan ditenggelamkan.

Kepada yang lupa,
Apa masih bisa menerima peringatan?
Apabila nyata di atas permukaan bumi milikNya
Yang seharusnya dimakmurkan karena manusia diciptakan Tuhan daripadanya
Kemudian bisa tetap sadar sebagai hamba dengan al-faqirnya
Yang sekiranya tidak ditarik dengan fadhal dan rahmatNya
Pasti syaitan yang menjadi teman akrabnya.
Karena itu selalu meminta ampunan kepadaNya
Dengan mengelola bumi yang dimakmurkannya
Semata-mata diniatkan menjadi pancatan
Untuk dapat selamat kembali kepadaNya
Dengan rasa bahagia bertemu denganNya.

Kepada yang lupa,
Apa masih bisa menerima peringatan?
Apabila ternyata sudah tidak yakin lagi terhadap ayat-ayat yang difrmankan
Akibat hidupnya yang telah dikuasai oleh bemacam kepentingan,
Yang ternyata itu pula yang telah dituhankan.

Kepada yang lupa,
lupa kepada jati dirinya; fitrahnya sendiri
Yang itu adalah fitrahNya Dzat Yang Mutlak WujudNya
Tetapi aku nafsunya terlanjur berkibar
Terlanjur menganggap benar
Terlanjur menganggap ngerti
Terlanjur menganggap merasa cukup.

Kepada yang lupa,
Apa masih bisa menerima peringatan
Bahwa Allah dengan Kun FayakunNya
Akan memberlakukan Sunnatu al-awwalin
Sebagaimana yang diberlakukan kepada orang-orang terdahulu
Yaitu turunnya azab dan bebendu
yang menghancurkan dan membinasakan
akibat perbuatan yang mendustakan
Hadirnya seorang yang ditugasi oleh Tuhan
Melanjutkan tugas dan fungsi junjungan Nabi Muhammad SAW sebagai utusan
Supaya memberi peringatan,
Sekaligus membawa ajaran
Dengan ilmu yang seyakinnya supaya mengenali Dirinya Tuhan
Yang meskipun Al-Ghaib, nyata dekatnya
Yang meskipun Al-Ghaib, Mutlak WujudNya
Yang meskipun Al-ghaib, jagad raya dengan segala isinya berada di dalam genggaman tanganNya
Yang meskipun Al-ghaib, keluar masuknya nafas manusia karena dengan Dirinya
Meskipun Al-ghaib,
terasa nyata dalam cerahnya hati nurani yang dibuka olehNya.

Kepada yang lupa,
Apa masih bisa menerima peringatan
Bahwa pemberi peringatan ini
Adalah hamba yang dibentuk Tuhan sendiri
Menjadi penyelamat yang diselamatkan dan menyelamatkan
Supaya menjadi imamnya hamba yang memperoleh hidayah-Nya (Imam Mahdi)
Di akhir zaman ini
Dengan cahaya Tuhan (Nur Muhammad) yang memadangkan
Supaya membumi dalam hati nurani roh dan rasa
Supaya isi dadanya hanyalah DiriNya Rabb Yang berkuasa atas segala
Bukan bisikan jahatnya bangsa jin dan bangsa manusia.

Kepada yang lupa,
karena nyata-nyata telah pangling sama sekali
Terhadap keaslian fitrahnya sendiri
yang benihnya adalah cahaya terpujinya Dzat Al-ghaib yang mutlak wujudnya (Nur MuhammadNya)
yang disimpan Tuhan di dalam rahasia rasanya
Yang setelah berada di dalamnya wujud jiwa raga
sebagai ujian dengan kehidupan dunia
Sama sekali musnah tak tersisa
Digelapkan watak akunya nafsu dan sahwatnya.

Demikian halnya kepada hamba yang ditugasi Ilaahi
Yang diutus mewakili Diri Tuhannya
Supaya membuka pintu rahasianya rasa
Yang mengadanya tidak pernah terputus sama sekali
Sejak dari junjungan Nabi Muhammad SAW hingga kini sampai kiyamat nanti
Juga telah didustakan dengan kesombongan
dan kebencian yang telah menyatu dengan watak akunya.

Kepada yang lupa,
Apa masih bisa menerima peringatan
yang lupanya telah membentuk pikiran-pikiran dan gagasan-gagasan
Yang  pikiran-pikiran dan gagasan-gagasan itu menampakkan diri
dengan anggapan dan pandangan yang menjauhkannya dari hidayahTuhan.
Karena watak akunya telah berani ngembari wajahnya Azza Wajalla
Hingga memandang diri lebih tahu dan lebih mengerti
Dalam mengelola garapan dunia
Meskipun dibandingkan dengan Tuhan yang menciptakannya.

Kepada yang lupa,
Yang sama sekali tidak yakin dengan kebenaran ayat-ayatNya
Yang akan mereka dapatkan adalah
satu teriakan saja (= Kun FayakunNya)
yang dengan itu,
mereka akan hancur sehancur-hancurnya
sedang mereka sibuk bertengkar
Berebut  uceng (= permisalan nikmat yang besarnya hanya sepucuk jarum)
Sedang kepada delegnya (permisalan sang pemberi nikmat = DiriNya Dzat yang apa itu kehidupan dunia dan apa itu kehidupan akherat berada di dalam genggaman TanganNya),
hilang sama sekali
hingga penduduk bumi ini layak dijuluki tergila-gila dengan edannya,
tetapi sama sekali tidak disadari.

Kepada yang lupa
Apa masih bisa menerima peringatan
Lalu kapan warasnya? jawabnya
Menunggu keputusan Tuhan
Apabila perkataan telah jatuh atas mereka
Yaitu perkataan Kun-FayakunNya
Lalu terjadilah masa kehancuran yang membinasakan mereka
Yaitu berupa azab dan bebendu bersama dengan kehancuran alam yang dahsatnya tak terkira
Kemudian yang Maha Kuasa lalu mengeluarkan hamba yang didabbahkan (=disembunyikan dalam buminya)
Yaitu hamba yang kehidupan sehari-harinya selalu berada didalam bumiNya
Dan bumi Yang Maha Kuasa itu adalah
hati nurani, roh dan rasa hamba itu sendiri
Yang karena saking kentalnya rasa cintanya kepada Diri Tuhannya
Maka yang diingat-ingat, dihayati dan yang dirasakan hayalah Ada dan Wujud Diri Satu-satunya Dzat yang Mutlak WujudNya
Dikeluarkan untuk memenuhi kehendakNya
Supaya menjelaskan
Mengapa mereka dibinasakan
Dan harus bagaimana supaya menjadi hamba yang diselamatkan.

Penulis adalah
Hamba Al-faqir yang masih Didabbahkan,

Pondok Sufi, Tanjung, 27  Syawal 1423 H – 30 Januari  2003 M

 

Muhammad Munawwar Afandi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here