KAPAN MERDEKA YANG SEJATI AKAN DAPAT TERCAPAI APABILA TERNYATA RASA KEMANUSIAAN TELAH TERJERUMUS DALAM JARINGAN KEGELAPAN

0
1336
views

Berbagai macam berita dan juga kenyataan yang menyedihkan dan memprihatinkan sebenarnya telah melengkapi suasana gelap sebagai akibat kroposnya moral. Telah tak terhitung jumlahnya para pakar dibidangnya masing-masing, berbicara. Adu argumentasi dan bermacam teori sebagai jurus yang akan diandalkan guna mencari jalan keluar dari berbagai krisis, hanya bagaikan buih. Nampak indah dipermukaan, tetapi setelah dipegang, kosong. Persis sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Junjungan Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan Al-Bukhari bahwa akan datang atas manusia suatu zaman yang dizaman itu orang dinyatakan :

“Alangkah pandainya,
alangkah bijaksananya,
alangkah kuatnya,
padahal di dalam hatinya sedikitpun tidak ada butiran imannya”.

Butiran iman yang terasa membutir dalam hati. Yakni Nur Muhammad. Cahaya terpujinya Dzat Yang mutlak WujudNya, yang cahaya dengan DzatNya selalu menyatu menjadi satu bagaikan kertas dan putihnya, asal-usul fitrahnya manusia=rahasia benih ginaibnya manusia. Bagaikan titiknya “Ba” dalam ayat Bismillahirrahmanirrahim yang menjadi “INTI”-nya semua firman Allah dalam Al-Quran.

Akibat watak arogan demi kepentingan telah benar-benar membentuk pandangan manusia yang mengikut perintahnya nafsu sehingga rasa kemanusiaannya samasekali tak tersisa, masuk dalam lubang kegelapan. Karena itu maka, apa yang namanya koreksi diri supaya pandai mengadili diri agar perbuatannya serta semua gerak dan gerik lahirnya dan bathinnya tidak mudah dijajah dan tidak mudah diperintah oleh nafsu dan watak akunya, sama sekali tidak pernah direnungkan.

Apalagi cita-cita reformasi supaya secara benar dapat membentuk kembali kepada yang asli dan murni, supaya merdeka yang sejati wujud menjadi nyata, kandas sama sekali.

Itulah sebabnya mengapa hal besar yang menyangkut kehidupan berbangsa dan bernegara, terabaikan. Meskipun kepandaian akalnya mbengok sekeras-kerasnya dalam menyuarakan pembenaran demi demokrasi, namun kenyataan tidak perlu mbengok dan tidak perlu bersuara.

Hal besar itu adalah pernyataan kemerdekaan yang tertuang dalam pembukaan UUD 1945, “Atas Berkah dan Rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan didorong oleh keinginan luhur, maka bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaannya”

Kenyataan berkata bahwa para pengisi kemerdekaan, kalaulah terlalu kejam apabila dikatakan menghianati, diharapkan mengoreksi diri dan mawas diri atas kesalahan yang dilakukan, wajib disadari, bahwa selama ini ternyata para pengisi kemerdekaan ini sama sekali tidak sejiwa dan juga sama sekali tidak sejalan dengan pernyataan kemerdekaannya sendiri yang dengan berani menetapkan atas berkah dan Rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan didorong oleh keinginan luhur.

Tetapi semua berjalan atas berbagai macam kepentingan yang dikomandani oleh wataknya nafsu bagi kepentingan kekuasaannya, kepentingan golongannya, kepentingan partainya, kepentingan kelompoknya, kepentingan kedudukan, jabatan, dan segala kehormatan dunia, yang dikira membahagiakannya.

Padahal bagaimana mengisi kemerdekaan yang didorong oleh keinginan luhur supaya tetap berada di dalam Berkah dan rahmat Allah Yang Maha Kuasa, dalam Pembukaan UUD 1945 juga telah diberi dasar.

 

Dasar pertama : Ketuhanan Yang Maha Esa.

Sebagai orang awam (dan harus disadari bahwa semua penduduk bumi ini, awam. Seperti apapun kuasanya, sehebat apapun gelar dan kecerdasannya, kedudukan dan jabatannya, siapa saja asal namanya manusia adalah hamba Allah. Dan semua hamba Allah, termasuk manusia, awam. Adalah al-faqir. Tidak ada apa-apanya. Dan apabila hal ini tidak disadari, melampau batas namanya. Sama saja dengan telah memupuk dalam dirinya, watak iblis. Berani ngembari Tuhannya. Sebab hanya iblis yang ditetapkan Allah : Abaa wastakbara. Dan berkata dihadapan Tuhan dengan congkaknya : Ana khairun minhu. Dan apabila tetap saja tidak disadari akan hal ini, maka azab dan bebendu akan silih berganti diturunkan dan bahkan azab yang menghancurkan).

Sebagai orang awam, sederhana dan rendah hati. Kenyataan yang dijadikan pijakan. Begitu halnya dalam memahami dasar Ketuhanan Yang Maha Esa, supaya bertuhannya nyata dalam rasa jiwa, sebagaimana ungkapan berbaju, bersepatu, berjalan, bercermin, demikian pula bertuhan.

Seperti bersepatu, maka harus kenal barangnya, secara benar bisa memakai. Kalau tidak begitu namanya tidak bersepatu. Menipu. Demikian halnya dengan bertuhan harus mengenal DzatNya. Yakni DiriNya Ilahi Dzat Yang Al-Ghaib, Mutlak WujudNya, Allah AsmaNya amat sangat dekat sekali, selalu menyertai dan senantiasa meliputi hamba-hambaNya, karena itu sebenarnya amat sangat mudah diingat-ingat dan dihayati dalam rasa hati (apabila dikehendaki dengan hidayahnya rela meminta petunjuk kepada ahlinya).

Dengan begitu akan dapat selalu bersama dengan Tuhannya dalam segala aktifitas hidup dan kehidupannya. Hingga suasana bathinnya, semangat hidupnya, rasa jiwanya, cita-citanya, selalu berada di dalam Yang Maha Esa (di dalam Celupan Allah=Sibghatallah).

Penjelasan di atas seia sekata dengan maksud firman Allah QS. 35 ayat 15-17:

 يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ (١٥) إِنْ يَشَأْ يُذْهِبْكُمْ وَيَأْتِ بِخَلْقٍ جَدِيدٍ (١٦) وَمَا ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ بِعَزِيزٍ   (١٧)

“Hai manusia, kamu semua adalah al-faqir (apes, hina, tidak bisa apa-apa, tidak punya apa-apa, bahkan sebenarnya kamu semua itu tidak wujud dan tidak ada. Diwujudkan berjiwaraga dengan kehidupan dunia, sengaja sebagai ujian dari Tuhan, diluluskan apa disesatkan, itu hak mutlakNya Allah. Maka seharusnya kamu semua) berkehendak kepada Allah; dan Allah hanya Dia-lah Yang Maha Kaya ( tidak kurang suatu apa dan segala-galanya. Bahkan falillahi al akhiratu wa alula. BagiNya-lah, hakNya-lah, dan milikNya-lah kehidupan akhirat dan kehidupan dunia), maka hanya Dia-lah Dzat Yang Maha Terpuji.

Jika Dia menghendaki, niscaya Dia memusnahkan kamu dan mendatangkan mahluk yang baru (untuk menggantikan kamu yang sama sekali tidak berkehendak kepadanya). Dan yang demikian itu (memusnahkan dan mengganti yang baru) sama sekali tidak sulit bagi Allah”.

Berkehendak kepadaNya sama artinya dengan berniat untuk mengenal dan mengetahui ada dan Wujud DiriNya Yang Al-Ghaib Allah AsmaNya, tempat asal usul fitrah manusianya sendiri, tempat asal benih ginaibnya sendiri, menjadi tempat bergantung dalam menjalani ujian dunia, dengan diwujudkan berjiwaraga, dan dijadikan tujuan sebagai tempat kembali dengan rasa bahagia karena dapat bertemu lagi dengannya.

 

Dasar Kedua : Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab.

Mana mungkin kemanusiaan yang adil dan beradab menjadi nyata, kalau hanya menjadi slogan, hanya menjadi pajangan, yang dipamerkan, apabila keberanian berjihadunnafsinya sama sekali tidak pernah dilakukan.

PERANG TERBESAR.

Junjungan Nabi Besar Muhammad SAW telah berwasiat bahwa memerangi nafsunya sendiri adalah perang terbesar. Artinya tidak ada peperangan apapun di dunia ini yang besarnya melebihi besarnya memerangi nafsunya sendiri. Betapa tidak, nafsu yang wujudnya adalah jiwaraga manusia, berbuat terus menerus mengajak kepada semua hal yang buruk. Dan hal yang buruk adalah semua perbuatan yang dianggap baik, diangap benar, diangap indah, tetapi sama sekali tidak sejalan dengan kehendak Allah. Namun sama sekali tidak disadari.

Contoh kongkritnya adalah perihal perbuatan manusia dunia yang persis bagaikan ungkapan peribahasa Jawa : “mburu uceng kelangan deleg”.

Uceng adalah anak ikan yang sebesar pucuk jarum. Gambaran nikmat pemberian Tuhan yang oleh manusia diburu dan dikejar dengan berbagai macam dan cara habis-habisan. Tetapi kepada deleg (induknya ikan) sebagai gambaran yang Tukang memberi nikmat, sama sekali tidak butuh. Bahkan ternyata, yang terjadi, Tuhan hanya dijadikan alat bagi berbagai kepentingan.

Sifatnya nafsu sama sekali tidak mengerti terhadap satu-satuNya Dzat yang meskipun Al-Ghaib, Mutlak WujudNya, amat sangat dekat sekali dengan hamba-hambaNya, selalu menyertai dan juga meliputi, karena itu (sebenarnya) sangat mudah untuk selalu diingat-ingat dan dihayati dalam rasa hati, apabila dijadikan oleh Allah berjihadunnafsi lalu rela bertanya dan meminta ilmu untuk mengenal dan mengetahui Ada dan WujudNya, kepada ahlinya.

Dan Dzatnya nafsu selalu membantah kepada Tuhannya. Persis seperti mahluk yang berani ablasa kepada Tuhannya lalu oleh Allah dijuluki iblis.

Penjelasan di atas seia sekata dengan maksud firman Allah dalam QS. 36 ayat 77 yang mengingatkan supaya manusia memperhatikan wujud jiwa raganya yang diciptakan Allah dari setetes mani tetapi tiba-tiba hanya menjadi pembantah (membantah Tuhannya dan menjadi musuhnya) yang terang-terangan.

Maka menjadi nyata sekali bahwa memerangi nafsunya sendiri (yang wujudnya nafsu adalah jiwaraganya manusia), adalah perang terbesar. Syahdan dijelaskan oleh Allah, sekiranya tidak (ditarik) dengan Fadhal dan RahmatNya, semua manusia ini pasti mengikuti syaithan, kecuali sedikit (QS. 4 ayat 83). Karena itu betapa dzalimnya manusia yang hamba Allah yang sekiranya tidak berkehendak kepada Tuhannya. Dan itulah nyatanya.

Nafsu yang diperangi ini supaya patuh dan tunduk menjadi tunggangan. Yang nunggangi, hati nurani. Hati yang oleh Allah diciptakan dari cahaya seperti para malaikatNya. Maka wataknya juga seperti para malaikatnya Allah. Karena itu hati nurani ini, rela mengikuti jejak para malaikat (sebagai rukun iman yang nomor 2), yang selalu mengajak kepada perbuatan yang sejalan dengan kehendak Allah. Yakni senang hati berbuat taat kepada perintahNya Allah supaya sujud (patuh dan tunduk) kepada wakilnya Allah di muka bumi. Wakil yang secara benar telah mengenal dan mengetahui Ada dan Wujud DiriNya Sang Muwakkal, yakni DiriNya Ilahi, Dzat yang meskipun Al-Ghaib Mutlak WujudNya. Oleh Tuhannya telah ditarik dengan Fadhal dan RahmatNya dinafikan terhadap semua hijab, termasuk wujud jiwaraganya serta segala hal tentang dunia, hingga yang dirasa wujud dan yang dirasa ada hanyalah DiriNya Dzat Yang Mutlak WujudNya, yang oleh Allah ditugasi mewakili DiriNya (yang karena sama sekali tidak akan pernah menampakkan Diri di muka bumi), supaya menjadi panutan dengan menunjukkan adanya ilmu yang mengenalkan Ada dan Wujud DiriNya Dzat Yang Al-Ghaib (dengan metode tunjuk) serta “jalan lurus” hingga selamat dengan rasa bahagia bertemu Tuhannya.

Membentuk tekad melakukan jihadunnafsi, tanpa kesadaran diri sebagaimana maksud firman Allah: “wafii anfusikum afalaa tunsharun”, dan di dalam dirimu sendiri tersimpan fitrah manusia, tersimpan dengan sangat rapi dan terjaga, di dalam rahasianya rasa, ada hakekat inti manusia yang asalnya dari fitrah-Nya Allah SWT, seharusnya kamu tolong supaya fitrahnya manusiamu sendiri bertemu kembali dengan fitrah-Nya Allah SWT. Dengan cara meminta tolong kepada ahlinya sebab apabila tidak ditolong ( dengan kesadaran dan kerelaan sepenuh hati), maka fitrah manusiamu sendiri yang tidak lain adalah mengadanya Nur-Muhammad, yang selalu dapat mencahaya dengan DiriNya Dzat Al-Ghaib, Allah AsmaNya, maka akan tetap terbelenggu dalam gelap. Sebagaimana firman Allah dalam QS. 17 ayat 72:

وَمَنْ كَانَ فِي هَٰذِهِ أَعْمَىٰ فَهُوَ فِي الْآخِرَةِ أَعْمَىٰ وَأَضَلُّ سَبِيلًا

Barang siapa yang hidupnya dalam dunia sekarang ini buta (mata hatinya tidak mengenali dan tidak mengetahui fitrah manusianya sendiri yang diciptakan Allah dari fitrah-Nya (=fitratallahillati fatharanaasa ‘alaiha (QS 30:30)), maka di akhirat lebih buta dan sesat jalannya.

Sesat jalan karena tidak selamat kembali kepada Tuhan dengan rasa bahagia bertemu lagi dengan-Nya. Tidak “fii maq’adhi sidkin ‘inda malikin muqtadirin”, akan tetapi sesat jalan, nyasar ke tempat yang memang dipersiapkan Allah untuk menyiksa hamba yang membantah kepada-Nya. Satu tempat dengan iblis, jin, syaithan dan segenap wadya-balanya. Hingga penyesalan yang mengerikan yang akan secara abadi dirasakan, dengan azab yang tidak akan pernah diringankan.

Dengan jihadunnafsi yang secara benar karena adanya tuntunan dan petunjuk yang benar dari yang dikehendaki ilaahi sebagai ahlinya, maka kemanusiaan yang adil dan beradab akan menampakkan kokohnya kepribadian. Dengan petunjuk yang jelas, ia akan sadar bagaimana menjaga ilmunya agar benar-benar bermanfaat baginya.

Dan ilmu yang manfaat ialah : “ Huwa maa yu’arrifuka min ‘uyubinnafsika min hubbid dunya wa afaati amalika”. Adalah ilmu yang menjadikan orang yang punya ilmu ini akan dapat senantiasa mengetahui aib dirinya. Mengetahui aibnya til-kumantil dunia (lengketnya hati pada kecintaan dunia). Dan mengetahui betapa hebatnya bencana amal baik yang bisa melalap habis bagaikan api memakan kayu kering. Yaitu:

takabur,
sum’ah,
riya’, dan
‘ujub.

Karena itu ia akan selalu belajar menjadi hamba yang pandai mengadili diri yakni bagaimana supaya segala tingkah laku dan perbuatan lahirnya dan batinnya, jangan sampai mudah dibujuk dan tidak mudah dirayu oleh nafsunya, apalagi hingga sampai dijajah dan diperintah. Perubahan watak akan terjadi karena terjaga oleh usahanya untuk terus menerus membangun akhlaqnya; terus menerus membangun pekertinya dan terus menerus membangun kelakuannya. Terus menerus belajar membeningkan hati, disertai dengan terus belajar membangun potensi pikirnya, bakat dan keahlianya supaya dapat melakukan kereja keras dalam mengelola garapan dunia yang diciptakan Tuhan tidak dengan sia-sia ini, semata-mata demi untuk subhanaka. Di jadikan pancatan yang kokoh pulang kepada Tuhan. Sama sekali tidak terbesit niatan untuk mengumpulkan harta kekayaan, untuk bersenang-senang; apalagi untuk mengumbar hawa nafsu dan syahwat.

Dengan begitu maka sila nomor tiga, Persatuan Indonesia, dengan sendirinya akan terbentuk. Sebab mendarah mendagingnya kesadaran untuk melakukan ta’awanu ‘ala al birri wa at taqwa, amar ma’ruf nahi al munkar, secara nyata ada panutan yang selalu berada ditengah-tengahnya.

Demikian halnya dengan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan /perwakilan, akan dapat seia sekata dan sejiwa dengan berkah dan rahmat Allah yang Maha Kuasa dan didorong oleh keinginan luhur. Sebab kerakyatannya adalah kerakyatannya hati nurani. Bukan kerakyatannya nafsu dan watak akunya. Dan bukan kerakyatannya hati sanubari.

Hati sanubari adalah hati yang letaknya dibawah susu kiri kira-kira dua jari, nempel pada rusuk terakhir, secuil daging, markasnya nafsu lawwamah. nafsu yang wataknya cela mencela, cacat cinacat, memandang diri lebih baik, lebih mengerti dan lebih segalanya dari siapapun. Maka abaa (acuh terhadap kebenaran mutlakNya Tuhan) dan sombong, membanggakan diri, tinggi hati, terus melekat pada watak akunya. Cita-citanya hanya satu, yakni membela nafsu supaya hebat dan terhormat di kehidupan dunia.

Apabila wujudnya nafsu adalah jiwa-raganya manusia, maka hakekatnya dunia adalah nafsu.

Sedang dalam firmanNya, Allah telah menegaskan bahwa:

مَا جَعَلَ اللَّهُ لِرَجُلٍ مِنْ قَلْبَيْنِ فِي جَوْفِهِ

Dia sama sekali tidak akan memfungsikan dua hati dalam rongga dada manusia (QS. 33:4)

Jadi apabila yang berfungsi hati-sanubari, maka hati-nurani yang letaknya tepat di tengah-tengah dada, sama sekali tidak akan berfungsi.

Kerakyatannya hati-nurani inilah yang akan dengan rela taat dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan.

Hikmah adalah pemberian Tuhan. “وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا”. Barang siapa yang diberikan kepadanya al-hikmah maka sesungguhnya ia telah diberi (oleh Allah) kebajikan yang banyak.

Uraian dan penjelasan dalam tulisan ini, adalah pemberian dari Allah, hingga menjadi berhikmah karena nur (cahaya) yang dialirkan Allah lewat akalnya. Dapat menangkap dan mencerna kebenaran mutlakNya Tuhan. Menjadikan hamba yang telah diberikan kepadanya al-hikmah ini lalu mencintai kebenaran, kemudian mendorong tekadnya hati untuk dapat memenuhi kebenaran mutlakNya Tuhan. Hingga kokohlah terhadap: Al-haqqu min Rabbika, falaa takunanna minal mumtarin. Bahwa Al-Haq (= Kebenaran mutlakNya Allah) itu dari Tuhanmu, maka sekali-kali kamu jangan ragu-ragu.

Dengan sendirinya kebijaksanaan sebagai wujud nyata Belas KasihNya Allah akan terus mengalir kepadanya, supaya mejadi panutan.

Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan, sebetulnya menyatu di dalam maksud firman Allah dalam QS. 33 ayat 21. Yakni: “لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ”. Fii rasuulillah adalah isim nakiroh, maksudnya abadi. Karena itu RasulNya selalu mengada ditengah-tengah kaumnya, sebagaiman firman Allah: “وَاعْلَمُوا أَنَّ فِيكُمْ رَسُولَ اللَّهِ”. Ketahuilah bahwa ditengah-tengahmu itu ada Rasulullah.(QS.49:7). Juga firmanNya: “Wafiikum rasuuluhu”. Dan Rasul-Nya pun ada di tenga-tengah kamu. (QS. 3: 101).

Karena itulah apabila Allah, dengan firmanNya, menyatakan perihal RasulNya, bisa dipastikan, apabila tidak dengan fiil mudhari’ (berlaku sekarang dan seterusnya), dengan  fiil amar (= perintah, berarti juga berlaku sekarang). Sebab hal ini adalah hak-hak Junjungan Nabi Muhammad SAW sebagai Rasulullah. Yaitu haknya yang ditugasi Allah untuk memimpin umat sejagad sampai dengan hari kiyamat. Jadi meskipun jasadnya, sebagai layaknya manusia, meninggal, tugas kerasulannya tidak berhenti. Karena itu Allah menyiapkan para pengganti yang secara gilir gumanti, tidak akan pernah terputus sama sekali, hingga kini sampai dengan kiyamat nanti. Yang gilir gumanti hanyalah wujud jasadnya. Sedang yang berfungsi tetap Nabi Muhammad SAW yang hakekatnya adalah Nur-Muhammad. Karena itu keberadaanya harus tetap dapat disaksikan sampai sekarang, bahkan sampai dengan kiyamat. Yakni Wa asyhadu anna Muhammadan Rasulullah.

Apabila memperhatikan firman Allah dalam QS. 33 ayat 21,

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”.

Maka mengadanya Rasul sepertinya hanya buat orang-orang khas. Maksudnya khusus bagi hamba yang niat hidupnya memang untuk mengharap bertemu Tuhannya. Mengelola garapan dunia demi untuk dijadikan pancatan yang kokoh pulang ke akherat dengan selamat dan dengan rasa bahagia bertemu dengan Tuhannya. Karena itu, saking banyaknya, yakni setiap kali masuknya nafas ke dalam dada, selalu dibarengi dengan mengingat-ingat Tuhannya (=mendzikirinya).

Orang-orang demikian, dalam memenuhi petunjuk Tuhannya, selalu bermusyawarah dalam segala urusan (hal-hal dunia). Dan supaya selalu dalam berkahNya dan RahmatNya,  sama   sekali   tidak   akan   meninggalkan   pimpinan  yang  telah  diberikan kepadanya hikmah dan kebijaksanaan. Karena banyaknya jumlah orang dalam wadah sebuah negara, maka perlu ada perwakilan yang mencerminkan aneka ragam bakat dan keahlian.

Maka keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia akan dilimpahkan Tuhan dari langit dan dari bumi.

Pelaku keadilan adalah Tuhan sendiri, maka lalu ada yang meramalkan bahwa Indonesia akan ada zaman Ratu Adil. Hanya karena Dia adalah Dzat yang Al-Ghaib, sama sekali tidak akan pernah ngejawantah di muka bumi, Allah memilih hamba yang dikehendaki mewakili, supaya nyata sebagai panutan dalam kehidupan sosial yang terdiri dari hamba yang juga dijadikan Allah pandai mengadili dirinya sendiri. Karena itulah wujud nyata adil dalam kemakmuran dan kemakmuran dalam keadilan, aman sentosa, guyub rukun, tata-tenteram, menampakkan kehidupan manusia yang sama sekali tidak ada yang mementingkan diri sendiri, hingga bahu-membahunya, saiyeg saeka kaptinya, gotong royongnya, semata-mata sebagai upaya untuk memproses diri mendekat kepada Tuhan sehingga selamat dengan rasa bahagia bertemu dengan Nya Amin.

 Tuhanku, yang menampak jelas dan nyata di mata hatiku
Hanyalah Diri-Mu
Karena itu yang hamba rasakan dalam rasa hatiku
Hanyalah ada dan Wujud-Mu.

Tuhanku, apa saja yang biasa dianggap orang, milikku,
Semua itu adalah milik-Mu
Karena itu semua saja yang dianggap orang, itu semua milikku
Seluruhnya hamba persembahkan demi cita-cita Guruku
Tidak ada sedikitpun yang tersisa dalam hatiku.

Adapun apa yang aku jalani,
Semua karena sak derma nglakoni
Memenuhi perintah Guru yang hak dan sah itu.

 

PONDOK SUFI, Tanjunganom, 21 Agustus 2002

 

IMAM JAMAAH LIL-MUQORROBIEN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here