MENTAL atau METAL

0
810
views

Memang semuanya kembali kepada mental, namun bisa diminimalkan melalui sistem pola yang sehat dan amanah.

Pola yang mendasar supaya ada dalam perilaku dalam kesadaran pola “kejadian” perihal diri, baik yang lahiri dan yang batini, sehingga berada dalam perilaku “fungsi”nya masing-masing. Lahir berdunia dengan menjalani tatanan syareat yang tergerak karena “kesadaran fungsi yang batini”. Lahir bekerja dengan berkarya dan berproduktifitas. Sedang yang batin berada di dalam “kedalaman” SESUNGGUHNYA. Mengangkat piring dan gelas biarlah dilakukan oleh organ tubuh karena memang ini pekerjaan duniawi namun, rasa hatinya yang dituju adalah “ISI”nya, esensinya. Pengetahuan mendasar perihal pemetaan dan identifikasi untuk melakukan penataan dan tata kelola yang baik dan benar.

Mengetahui kedudukan dan fungsinya masing-masing dari setiap tugas dan fungsi “kedirian” maka dapat disingkronkan, dikolaborasikan, disimultankan, dikoordinasikan secara eksternal keonektifitas dengan dunia luar diri.

Memang semuanya kembali kepada mental, namun bisa diminimalkan melalui sistem yang sehat.

Seorang pencuri, sesungguhnya tidak ingin melakukan “pekerjaan” mencuri bukan berarti seorang pencuri itu bermental pencuri namun situasi dan kondisi memungkinkan melakukan pencurian. Sekali lagi kalau mentalnya kuat godaan kayak apapun tidak akan goyah, dan tidak akan mencuri (ini memang sangat mudah diucapkan), siapapun bisa berbicara hal seperti ini. Masalahnya berapa persen yang mampu bertahan disituasi untuk memaksa dalam keterpaksaan mencuri.

Maju kena, mundur kena; Maju terjebak, mundur terasing. Tidak ambil bagian ditinggal teman-teman dan saudara serta konektifitas, ambil bagian ‘sadar’ sumbernya tidak jelas. Apakah si pemilik rumah telah “manggakke” untuk mengambil barang yang berada di dalam rumah kok ditinggal begitu saja dan tidak ada pengawasan. Tidak ambil kok semuanya mengambil dengan begitu leluasanya. Tidak ambil kok ada ujaran, “kalau nanti ada masalah diantara kami, maka kamu pasti telah berperan sehingga kami berada didalam masalah akibat “barang-barang” ini..!!, ini halal bro… dari dulu yaa.. begini, telah bertahun-tahun ya begini rumah ini sering tiba-tiba ada barang yang kita butuhkan, walau siapa penghuninya, tidak jelas”.

Keluarga, lingkungan, kelompok, masyarakat luas yang telah berada dalam pola paradigma: pada perilaku sekuler material. Sehingga ada tuntutan “konsumtif” dari luar diri. Kemudian berjalan pelan namun pasti merasuk kedalam pikiran dan pada akhirnya “ditetapkan” didalam hati sanubarinya dan berbisik, “ini halal” didukung dengan situasi yang “memancing” untuk melakukan “pekerjaan” mencuri yang halal tersebut.

Dan pada titik ke-nadzir-annya maka, hati yang murninya, hati yang bisa mencahaya redup, tertutup kabut pikiran-pikiran; tertutup semak-semak nafsu-nafsu kehewanan; tertutup tirai-tirai ke-ego-an kekuatan dan kekuasaan; tertutup hijab “retorika-retorika” kemuliaan-kamuliaan; terhalangi satir-satir kebekuan, kultus dan kekakakuan-kekakuan.

KEMUDIAN PADA AKHIRNYA DISEPAKATI DALAM SEBUAH KONTEKS, “INI MANUSIAWI SEKALIII..!!, WAJAR DAN LUMRAH UNTUK DILAKUKAN..!!”

KEMUDIAN SISTEM APA UNTUK MENDOBRAK..!! INI GARAPAN KITA SEMUA BAGI YANG MENGINGINKAN PERBAIKAN, PERUBAHAN DAN HAL YANG PALING MENDASAR ADALAH BAGI YANG INGIN SELAMAT DAN TERSELAMATKAN..!!!!!

DAN TINDAK LANJUTNYA ADALAH PIKIRAN APA YANG MESTINYA DIBANGUN, DAN YANG MENYERTAI, TINDAKAN APA YANG DIWUJUDKAN DALAM AKSI; KONEKSIFITAS APA YANG MESTI DIBANGUN…

Mikir…..!! kata cak lonthong.

Dari Sang Pendosa

Tanjung Sulaiman

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here