MEMBALUNGSUMSUMKAN I’TIQAD ADDIIN-BIAYYAMILLAH AGAR TIDAK BERAGAMA BUDAYA

0
1031
views

Tanjunganom, 26 Januari 2017

Kuatkan dan luruskan niat serta tekad atas segala aktifitas yang dilakukan. Tetapkan dalam hati kita, yaitu kebenaran Al-Haq. Allah telah mendatangkan bukti kebenaran, sehingga dengan beritba’ terhadap bukti kebenaran itu, perjalanan hidupnya tidak sia-sia. Nur adalah datangnya cahaya, karena adanya sumber yang tidak dapat kita jangkau.

Terjaganya niat dan tujuan dengan perilaku pandai bersyukur dan selalu nyambung dengan cahaya terpuji-Nya Tuhan. Nabi Muhammad sebagai penghubung (Al-Washilah). Keberadaan Nabi dan Rasul dalam sejarah selalu diingkari. Pada setiap kedatangannya selalu diolok, difitnah, dimusuhi bahkan sampai dibunuh.

Meyakini sepenuhnya bahwa saat beragama tidak mengenal Rasul atau Imam di zamannya, maka matinya adalah mati dalam keadaan jahiliyah dan perilakunya dipengaruhi oleh perilaku syaithon. Setiap Rasul diutus selalu [bahkan muthlaq] membawa ajaran wahyu. Wahyu adalah bisikan, bisikan yang berkenaan dengan petunjuk yang menunjukkan jati diri Tuhan. Jati diri Tuhan sebagai ahadiyat-tauhid mengantarkan pada keyakinan I’tiqad-aqidah. Keyakinan yang bersifat pribadi bagi mereka yang dalam pencarian dan bersungguh-sungguh memahami serta menyadari adanya Tauhid. Allah yang tidak hanya sekadar nama, tapi Dzat Yang Empu-Nya Nama.

Setelah I’tiqad Aqidah Tauhid terinisiasikan ke dalam diri sehingga mbalung sumsum menjadi perilaku keseharian harus dengan biayyamillah, sebagai implikasi konsekuensi logis adalah kewajiban untuk menyampaikan. Menyampaikan kebenaran dengan tidak mengurangi interaksi lahiriyah, membantu dan mensupport sesama titah, selama pelaku-pelaku tersebut tidak merusak dan memusuhi, untuk mengetahui kemurnian beragama. Bahwa kemurnian beragama hanya dengan beritba’ kepada Nabi Muhammad [yang sezaman] yang telah membentuk wakil-wakilnya dalam rantai silsilah gulawentah hingga saat ini.

Siapa yang ditunjuk sebagi Wakil adalah hak mutlak Allah. Orang tidak pernah bisa memprediksi, mengira-ngira, sehingga dikira mengada-ada. Padahal di dalam Alquran banyak sekali ayat yang menyatakan tentang keberadaan-Nya bahwa Rasul selalu mengada, selalu berlangsung, namun keberadaannya selalu diolok, dimusuhi, difitnah bahkan dikejar-kejar untuk dilenyapkan dalam sejarahnya.

Untuk menerimanya [keberadaan ajaran Rasul yang selalu mengada], maka tidak ada kata lain selain ikhlas. Ikhlas asal katanya dari khalish yang berarti menerima dengan sepenuhnya. Dengan berlaku ikhlas akan mengantarkan sang khalish mengalir ke muara ulul albab. Ulul albab berarti akal katut setelah ada di dalam butiran iman sehingga ingat kepada Allah dimana saja dan kapan saja. Sebagai kelanjutan sang khalis telah membalungsumsumkan keihsanannya sehingga benar-benar memulai berhijrah. Dikatakan hijrah dimulai dari niat, menetapkan hati untuk mengenali, menyatu, bersatu, meleburkan diri dengan Nur Muhammad. Bukti hijrah kepada utusan-Nya adalah dengan menempatkan pada jiwa kefaqiran. Dengan menempatkan pada jiwa Alfaqir maka terbentuk kuat untuk butuh memproses diri sesuai bidang garapnya, untuk kembali kepada Allah.

Seandainya kita sezaman dengan para nabi, apakah kita akan percaya bahwa dia adalah nabi? Tangeh lamun! Untuk itu bersyukur adalah muthlaq direntangkan dalam membuka luas permukaan hati kita, seluas-luasnya. Karena Allah tidak ngejowantah, maka Dia dengan qudrat dan iradatNya menurunkan utusan-Nya. Kebenaran itu Al Haq min Robbik, bukan dari akal. Sehingga pertanyaan sederhana, apakah dengan membaca buku sudah dikatakan berada di dalam kebenaran, sudah menjadi Ahli Surga? Silakan dijawab sendiri. Dan sebaik-baik pakaian adalah taqwa. Taqwa sama dengan pengendalian diri, mengendalikan nafsu. Dalam berdunia ini tidak boleh kadunyan, tapi bukan berarti menjadi pengangguran.

***

Sekarang banyak orang yang menunggu kemunculan, kehadiran dan kedatang Imam Mahdi. Hampir semua yang menunggu Imam Mahdi, setelah kedatangannya berharap untuk keluar dari kesulitan-kesulitan berdunia. Padahal IMAM MAHDI dari akar kata HUDA. Setiap zaman diturunkan imam mahdi, seperti yang sudah dijelaskan pada surat Al Anbiya : 73

(وَجَعَلْنَاهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا وَأَوْحَيْنَا إِلَيْهِمْ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ …..)

Yaitu berlaku fi’lal khoiroot setelah keimanan. Dengan kata lain, apa yang diharapkan para penunggu kehadiran Imam Mahdi dengan rumusan Dhawuh Guru dalam Alanbiya’ ayat 73 diatas sangatlah bertentangan.

Banyak yang mendengar tapi tidak bergerak. Padahal ayatnya/tanda-tandanya/indikasinya jelas mengatakan “Jika kamu mendengar tentang kebenaran keberadaannya lautan api harus kamu seberangi”. Saat dalam pencarian, jika di tengah jalan meninggal dunia, maka akan ditunjukkan jalannya di alam ruh.

Beragama itu cirinya adalah adanya utusan, jika tidak ada maka itu adalah BUDAYA. Banyak orang yang telah bersumpah bahwa telah beriman tapi mereka tidak terikat di dalam ilmu yang menunjukkan jati diri Tuhan, dalam ikatan janji. Janji memerangi hawa nafsu supaya tunduk dalam hal berdunia untuk orientasi dalam shiroothol mustaqim.

Shiroothol mustaqim adalah jalannya orang yang maqom (bertempat tinggal di dzikir). Selalu mengingat Tuhannya.

بَلْ بَدَا لَهُمْ مَا كَانُوا يُخْفُونَ مِنْ قَبْلُ ۖ وَلَوْ رُدُّوا لَعَادُوا لِمَا نُهُوا عَنْهُ وَإِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ

(QS Al Anbiya’ : 28)

Ayat tersebut menjelaskan bahwa mereka sebenarnya mencari dan menunggu utusan-Nya untuk menunjukkan jalan kembali kepada-Nya. Tapi saat Allah menurunkan, mereka berpaling dan menentang. Karena yang diinginkan utusan-Nya itu penuh dengan mukjizat.

***

Pemutus ego adalah ILMU. Dakwah para nabi dan rasul itu tidak pernah memaksa. Setelah Nabi Muhammad, Islam yang bersifat batiniyah bersembunyi karena dimusuhi habis-habisan. Sehingga kemurnian Ad-Diin bersembunyi. Para nabi diutus untuk membawa cahaya, mengingatkan supaya terus di dalam jalan yang dikehendaki oleh Allah jika sewaktu-waktu meninggal, dalam keadaan selamat.

Al-Haq fitroh yang bersifat batiniyah. Ditampakkan dalam kehidupan bermasyarakat. Setiap utusan membawa cahaya mengenal diri-Nya. Kunci ketentraman adalah melatih dzikir. Jasadnya menjalankan tatanan lahiriyah, batinnya dzikir. Rasa ne podho mati. Berjalan tapi mati karena tidak mengenal keberadaan Tuhan. Inilah kenapa Rasul diutus. Sebagai pembeda (Al-Furqon).

Apapun yang dilakukan, supaya tetap dalam rengkuhan Allah maka sadar menjalankan perintah Allah. Jelas dalam persaksian. Keberadaan Nur Muhammad fisiknya ganti, tapi pedomannya adalah gulowentah.

 أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ

Hendaklah kamu bertakwa kepada Allah, dan mendengar serta taat (kepada pemimpin) meskipun ia seorang budak hitam. Dan kalian akan melihat perselisihan yang sangat setelah aku (tiada nanti), maka hendaklah kalian mengikuti sunnahku dan sunnah para khulafa’ rasyidin mahdiyyin (pemimpin yang lurus dan mendapat petunjuk).

Semoga kita selalu dalam bimbingan Cahaya penunjuk dan senantiasa berharap berberan shawab berkah dan pangestu Bapak Kyai Tanjung. Aamiin.


Oleh : Imam JATAYU Jamaah AnNubuwah – Muhammad Sulaiman Kurdi Tanjung Alfaqiri Abdullah (Kyai Tanjung)
Penulis : Wahyudi
Penyunting : Jarwo 
Ilustrator : Bambang Wahyu HD

 


Video Selengkapnya:

PART 1

PART 2

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here