KEHIDUPAN ADDIIN

0
796
views

(MENJALANI KEHIDUPAN SEBAGAI APAPUN, SIAPAPUN DAN BAGAIMANAPUN DAN BERAKTIFITAS DIMANA DAN BAGAIMANAPUN), TIDAK BERPECAH BELAH DIDALAMNYA.

Tegaknya Addiin adalah tidak terpecah belah namun, berat bagi yang musrik (orientasi nafsu, ego, jumud, ta’asub dan fanatik). 42.Ash-Shura 13.

أَنۡ أَقِيمُواْ ٱلدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُواْ فِيهِۚ كَبُرَ عَلَى ٱلۡمُشۡرِكِينَ مَا تَدۡعُوهُمۡ إِلَيۡهِۚ ٱللَّهُ يَجۡتَبِيٓ إِلَيۡهِ مَنيَشَآءُ وَيَهۡدِيٓ إِلَيۡهِ مَن يُنِيبُ١٣

(DIA, Dzatullah Yang AlGhayb Yang BerAsma Allah) telah mensyaretkan (aktifitas lahiriyah yang menyertai hati “ingat” dalam maksud dzikrullah pada semua aktifitas kegitan berdunianya kegiatan apapun dan sebagai apapun dan sebagai siapapun, untuk kamu (baik yg mahdhoh dan ghoiru mahdhoh pun yang muamallah); addiin apa, kehidupan apa dan kehidupan bagaimana supaya dalam kesadaran “Ad-dunya Mazro’atul Akhiroh” berdunia sebagai apapun dan sebagai siapapun serta aktifitas dimanapun dan apapun serta membangun akhlak budi pekerti kemaslahatan ummah apapun, dalam keadaan sadar terhadap “inisiasi” kewahyuan dzikrullah sehingga sadar sebagai hamba dalam perilaku penghambaan, itu yang diwahyukan Allah kepada Nabi dan kepada RasulNya dan itulah wasiat utama) dan “SUNGGUH TEGAKNYA (AQIIM:QOOMA, YAQUUMU = langgeng bertempat tinggal damai dan mendamaikan; saling menghormati, menghargai, memaklumi dan tidak berpecah belah (guyub rukun, gotong royong, saling peduli, dan saling memaklumi namun tegas dalam sikap ber addiin). Namun hal demikian berat bagi mereka yang musrik (menuhankan egonya, menuhankan keakuannya; menuhankan kelompok golongan dan partainya serta darah biru keluarganya; iri dengki dan semucinya, dst) berat untuk berADDIIN yang sebenarnya untuk menerima seruan-seruan kebenaran ALHAQ MIN ROBBIKA. Allah menarik (dengan fadhal dan rahmatNYA) supaya ilaihi kembali kepadaNya bagi yang dikehendakiNya dan memasukkan ke dalam HIDAYAH Cahaya terangNya dengannya berjalan menuju kembali selamat bagi mereka yang kembali (hati nuraninya dzikrullah dan lahirnya berikhtiyar berdunia membagusi akhlak budi pekertinya) inilah orang-orang yang kembali. (Kandungan ayat 42: 13)

Manusia sebagai pemelihara 5. Al Maa’idah 32

أَنَّهُۥ مَن قَتَلَ نَفۡسَۢا بِغَيۡرِ نَفۡسٍ أَوۡ فَسَادٖ فِي ٱلۡأَرۡضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ ٱلنَّاسَ جَمِيعٗا وَمَنۡ أَحۡيَاهَا
فَكَأَنَّمَآ أَحۡيَا ٱلنَّاسَ جَمِيعٗاۚ… ٣٢

Sungguh siapa yang membunuh manusia (nyawa, fitnah dsb) bukan karena membunuh dan bukan karena berbuat merusak sama saja telah membunuh manusia seluruhnya. Dan siapa yang menghidupi satu orang manusia maka sama saja telah menghidupi manusia seluruhnya.

Perhatikan hari esok (supaya tetap dalam laku keselamatan), jangan menjadi orang-orang yang lupa (perilaku nafsiyah; sombong, arogan, merasa suci) 59. Al Hasyr 18 – 19

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَلۡتَنظُرۡ نَفۡسٞ مَّا قَدَّمَتۡ لِغَدٖۖ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرُۢ بِمَا تَعۡمَلُونَ ١٨ وَلَا تَكُونُواْ كَٱلَّذِينَ نَسُواْ ٱللَّهَ فَأَنسَىٰهُمۡ أَنفُسَهُمۡۚ أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡفَٰسِقُونَ ١٩

Wahai orang2 yang beriman (yukminuuna bilGhaibi, iman yang benar dan dibenarkan adalah dalam “NYATA” dalam persaksian MengadaNya Diri Tuhan dan persaksian atas mengadanya Nabi Muhammad SAW sebagai (nyata dan fakta dalam kontekstual) sebagai perwujudan NurMuhammad. Bertaqwalah kepada Allah (menjalankan perintah: wabtaghu ilaihi alwasilata (carilah hingga ketemu yang menunjukkan dzikrullah (ahladzdzikr) dan cara pulang dalam keselamatan; berjihaddunnafsi (memerangi nafsu ego keakuan); berbuat kebaikan kemaslahan; memakmurkan bumi Allah; dst dsb) dan perhatikan diri (nafs) kamu (apa saat masuk keluarnya nafas kosong tanpa isi ataukah keluar masuknya nafas disertai ingatan rasa hati nurani atas Keberadaan AlGhaybNya dengan ‘alimulghaiby wasy syahadati), sebab keluar masuknya nafas kosong bagai hewan bahkan lebih sesat jalannya (alayah). Bagaimana akibat hari esok (aktifitas yang akan datang selepas yang sekarang). Sungguh Allah Maha Teliti dan Mengetahui segala sesuatu ( maka berhati-hati dan waspada seharusnya menjadi sandangan). Dan walaa takun; dan semua situasi dan keadaan janganlah seperti perilakunya orang-orang yang lupa (tidak ingat kepada Keberadaan Diri AlGhayb Dzatullah maka lupa kepada diri) pun yang ingat (karena telah memiliki ilmu persaksian) namun masih berlaku nafsiyah ego dan keakuan dan perilaku merusak). Karena berperilaku bagai orang lupa karena memang tiadanya ilmu untuk mengingat maka Allah menjadikan lupa. Itulah orang-orang fasiq.

DAN BANYAK DARI MANUSIA KEBANYAKAN TIDAK MENGETAHUI (BAGAIMANA) BILIQA-I RABBI KARENA TERTUTUP KEJUMUDAN, KEKAKUAN, KEFANATIKAN, DAN SEGALA AKTIFITAS BERORIENTASI LAHIRIYAH.

Cermati “Al-dzahiru Yadullu ‘Ala al-batin”

Anfus adalah inti manusia Qs. Ar-Ruum 7-8

يَعۡلَمُونَ ظَٰهِرٗا مِّنَ ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا وَهُمۡ عَنِ ٱلۡأٓخِرَةِ هُمۡ غَٰفِلُونَ ٧ أَوَ لَمۡ يَتَفَكَّرُواْ فِيٓ أَنفُسِهِمۗ مَّا خَلَقَ ٱللَّهُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ وَمَا بَيۡنَهُمَآ إِلَّا بِٱلۡحَقِّ وَأَجَلٖ مُّسَمّٗىۗ وَإِنَّ كَثِيرٗا مِّنَ ٱلنَّاسِ بِلِقَآيِٕ رَبِّهِمۡ لَكَٰفِرُونَ ٨

 

Sang Pendosa

Kyai Tanjung

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here